Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S2. Tidak Ada Malam Pertama


__ADS_3

Kerlap-kerlip lampu hias menerangi kamar, diiringi dengan pantulan cahaya nionnya. Terlihat taburan bunga mengisi lantai, seolah membentuk jalan.


Indahnya cahaya bulan yang memantul, menjadi saksi kelabunya dua pesang insan yang baru saja menikah ini.


"Biar aku bantu."


"Tidak perlu!"


Terasa asing di antara mereka, sedingin angin malam yang menembus kencang menggelitik kulit. Canggung dan tentunya ini adalah hal yang baru bagi mereka.


Azriel mengurungkan niatnya, kala ia ingin membantu sang istri yang terlihat kesusahan membuka pernak-pernik perhiasan pengantin yang dikenakannya. Kini yang dapat dilihatnya, lagi-lagi air mata.


'Aku tidak bisa melihatnya terus menangis seperti itu,' batin Azriel.


'Nasibku miris sekali, aku terjerat pernikahan tanpa cinta dengan seorang pria tempramen,' batin Ina.


Pada hakikatnya seorang pengantin itu bahagia, dan melakukan malam pertama setelah pernikahan. Namun, tidak berlaku bagi mereka. Ikatan ini seperti sebuah settingan yang dirangkai untuk pemecah suatu masalah.


***


"Nyonya, Tuan. Saya titip anak saya. Jaga dia untuk kami," ucap Liana sang ibu Ina.


"Kami berharap putri kita diperlakukan baik di keluarga ini," ujar sang ayah, yaitu Tian.


Shireen memeluk Liana itu dengan hangat lalu berucap, "Kami akan memperlakukan Ina sebagaimana kita memperlakukan anak kita sendiri."


"Kalian tenang saja, Ina akan hidup baik di sini. Datang kembali kapanpun kalian mau. Kita sedang menunggu calon cucu kita lahir," timpal Samuel.


"Terima kasih."


Inah berujar, "Tuan, Nyonya. Aku titip kembali cucuku, hikkss!" Sembari menangis.


"Bibik tenang saja, dia akan baik-baik di sini," ucap Shireen.


"Sudahlah Ibu, anakku sudah berada di keluarga yang tepat," ucap Liana merengkuh ibunya. Satu keluarga berasal dari desa itu pun, kembali ke kampung halamannya.


***


Kembali ke dalam kamar pengantin baru.


"Tidurlah di atas ranjang, tenang saja aku tidak akan melakukan apapun!" tegur Azriel, kala ia melihat istrinya itu.


Namun, Ina sama sekali tidak memperdulikan ucapannya. Ia nyaman meringkuk di atas sofa dengan satu kain tipis yang menyelimutinya. Azriel hanya bisa menghela napas. Menahan marah dengan rasa sabar.


'Esok aku akan buat pengakuan, demi memulihkan kesucian gadis itu. Yang terpenting, sekarang aku sudah menikahinya dan menghindari perjodohan itu,' batin Azriel.


Pria itu berjalan menghampiri istrinya dengan membawakan selimut tebal yang ia ambil dari atas kasur. Membuang kain tipis yang membalut tubuhnya, lalu ia mengganti dengan selimut itu.

__ADS_1


'Seumur hidup tidak pernah terbayangkan jika aku memiliki takdir sama seperti Daddy,' batinnya berucap.


Menikahi pembantu. Ya, menikah dengan pembantu adalah takdir yang sama bagi Azriel. Hanya saja peran Mommynya berbeda dengan istrinya.


Keesokan paginya.


Ina terbangun dari mimpinya, entahlah tidur seakan melupakan dan melenyapkan ingatan permasalahan dalam hidupnya.


"Selimut!" gumamnya.


'Pantas saja aku sangat nyaman, dan tidak merasa dingin,' batinnya.


Ia melihat ke arah ranjang, ternyata suaminya masih terpulas tidur terlentang tanpa ada yang menutupi tubuhnya.


'Seharusnya jika dia memberikanku selimut, ambil di atas lemari untuknya juga. Pemalas,' gerutunya.


Gadis itu beranjak bangun. Ingat, masih gadis yaaa ... walaupun sudah menikah tetapi Ina adalah wanita segel. Ya, ia bangun dan segera menyiapkan kebutuhan suaminya.


Pernikahan ini memang tidak diinginkan dalam hidupnya. Namun, jika status sudah menjadi seorang istri, dia tahu cara memperbarui hidup dan keharusan seorang istri pun dia mengerti.


Setelah mandi ia memakai baju ganti yang biasa ia gunakan. Hal bodoh yang Ina lakukan, adalah memakai seragam pembantu yang biasa ia pakai.


Setelah itu ia menyiapkan air hangat, dan baju kantor untuk suaminya. Sembari menunggu sang suami bangun, Ina menyempatkan untuk membuat sarapan. Namun, saat ia keluar dari kamar ingin menuju dapur tiba-tiba Azriel datang menghadangnya.


"Apa yang kau kenakan itu?"


Ina hanya menggeleng. Rasanya berbicara lagi dengan suaminya ini sangat berat, hingga terasa lidahnya itu kelu.


"Tap--"


"Mau aku yang mengganti, atau kau sendiri hmm?" Mendengar itu Ina langsung ngacir bergegas ke ruang ganti. Melihat wajah istrinya, Azriel justru tersenyum.


'Menggemaskan!'


***


Di meja dapur.


Ina sedang membantu Ella untuk membuat sarapan. Namun, Ella sepertinya sibuk mengatur para pelayan untuk bekerja dengan baik.


Sementara Ina hanya fokus dengan kegiatannya. Di tengah-tengah kegiatan, tibalah sang mertua datang. Ya, terasa tidak sangka orang-orang yang sangat ia segani kini menjadi keluarganya. Berawal dari majikan berubah menjadi mertua.


"Kamu mau buat sarapan ya?"


"Iya, Nyonya."


"Eh, kok Nyonya sih ... panggil Mommy dong Sayang ... aku 'kan sudah menjadi ibu mertuamu," ujar Shireen.

__ADS_1


"Hmm, saya tidak terbiasa."


"Biasakan yah. Kalau kamu merasa tidak terbiasa dengan sebutan itu, panggil saja aku ibu. Anggap saja sepertimu memanggil ibumu sendiri," ucap Shireen.


"Baik Buk."


Shireen mengelus helai rambut menantunya itu dan berkata, "Tidak perlu canggung ataupun kaku. Kamu harus terbiasa, karena kehadiranmu di sini sudah menjadi bagian keluarga kita. Terlebih, akan datang sosok calon bayi Azriel."


"Ta-tapi Buk ...."


"Susssttt gak usah dibahas. Maafkan aku, karena menguak kesedihanmu. Tapi, percayalah kita semua tidak memberatkan hal itu, justru ini adalah anugrah," potong Shireen.


"SAYANG PAKAIKAN AKU DASI!"


"MOMMY SISIRI RAMBUT AKU!"


"MOMMY KAUS KAKI KAKAK DIMANA!"


Samuel, Iren dan Aryan berteriak dengan saling bersahutan, tampak sang mommy berdecak jengah dengan suami dan anak-anaknya itu.


Iren datang dengan kondisi rambut yang semrawut seperti gulali. Sedangkan, Aryan berjalan hanya dengan mengenakan kaus kaki sebelah.


"Astaga, mana yang harus aku tangani dulu?" Shireen tampak pusing dengan anak-anaknya.


"Kakak cari kaus kaki di jemuran belakang. Tanya Bik Risa, dia yang mencuci kemarin. Lagipula, kamu punya kaus kaki bukan satu atau dua saja!" omel Shireen.


"Mom itu kaus kaki kesayangan kakak. Jika aku memakai kaus kaki itu, aku tampak lebih keren!" balas Aryan berjalan ke arah belakang dapur untuk menemui sang bibik.


"Apa yang terlihat dari kaus kaki yang keberadaannya hanya di dalam kakimu?!" Lagi-lagi Shireen berdecak.


Saat ini ia menangani putri bungsunya yang tak terbiasa mengurus dirinya sendiri. "Kamu lagi, sudah SMA hanya menyisir rambut sendiri saja belum bisa!" gerutunya.


Namun tiba-tiba kembali terdengar ....


"SAYANG!"


"Astaga ....!!" Ibu muda itu terlihat geram. Ia melepaskan sisir yang menyangkut di rambut anaknya dengan begitu saja, lalu meninggalkan anaknya untuk sang suami yang  sangat bawel.


"Aaa ... Mommy ...." lenguh Iren.


"Bentar, Mommy layani Daddymu dulu!"


Iren pun berdecak kesal. Sementara Ina tersenyum melihat drama pagi ini. 'Apa 20 tahun ke depan aku akan seperti ini?' batinnya.


"Mommy jahat! Aku yang perlu, justru milih melayani bayi bagongnya!" celetuk Shireen.


"Mau aku bantu?" tawar Ina.

__ADS_1


"Tidak mau!" acuh Iren melengoskan pandangannya, lalu ia melipat kedua tangannya di atas dada.


"Kenapa?"


__ADS_2