Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S3. Sisi Baik Elena


__ADS_3

‘Sepertinya pria ini kenal dekat dengan pak Azriel,' batin Gafin.


“Apa kabar bro!”


“Aku baik sekali!”


“Bagaimana saat ini? Apa istrimu masih satu?”


“Haha anakku sudah bertambah, tapi istriku belum, haha ....”


Gafin masih mengamati wajahnya. Saat ini ia hanya menyaksikan dua sahabat yang sedang menyalur rindu itu.


“Oh ya, ini dia adik iparku. Sebenarnya dia tampan, hanya saja soal perempuan dia seperti tidak minat. Aku hanya berwaspada saja, aku takut dia kelainan hormon. Bisa jadi tidak normal,” ucap Darren menunjukkan Gafin.


‘Sialan nih suami kakak!’ sungut Gafin dalam hati.


“Perkenalkan aku Gerald.” Pria itu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan. Dengan senyum hangat Gafin, ia pun menyambutnya.


“Salam kenal Pak Gerald, saya Gafin!”


“Prihal wanita akulah gudangnya, kau tenang saja Gafin. Ada uang, wanita tidak akan kehabisan. Tinggal kau tunjuk saja wanita di clubku. Bukan sembarang tempat, di sana wanita seharga nyawa dan tentunya masih bersegel,” ucap pria bule itu sembari terkekeh.


“Ah, jangan dengarkan kakak iparku ini Pak. Faktor menikah muda memang seperti itu, jadi melihat bujang seperti saya merasa heran,” sindir Gafin.


“Usiamu yang sudah beranjak kepala tiga, sudah seharusnya menikah. Kau mau menjadi seperti bosmu?” papar Darren.


“Memang dia tidak bekerja denganmu Dar?”


“Tidak, dia bekerja dengan kenalan ayahnya. Mertuaku,” jelas Darren.


“Apa nama perusahaannya?”


“Sonya Group.”


Gerald tampak sekali menunjukkan keterkejutannya, bahkan Gafin merasa terheran dengan ekspresinya itu. “Sonya Group?” Sampai ia mengulangi pertanyaannya. “Siapa pemiliknya?” tanyanya lagi.


“Aghafa Luis.”


***

__ADS_1


Hari ini Elbrio, sang ayah Elena memberi tuntutan kepada Agha untuk menjelaskan semalam. Pertemuan yang sudah terencanakan seperti tak ada harganya, bagi Elbrio itu membuatnya diberi harapan palsu.


Agha melihat kesibukan asistennya dari sofa di ruangannya, lalu ia memanggil, “Gaf ....”


“Baik Tuan.”


“Bisa kau jemput anakku? Supirnya masih pulang kampung, sementara aku dipanggil paman Brio untuk menjumpainya, sepertinya akan ada masalah prihal semalam.”


“Baik Tuan, tapi bukankah sebelumnya kita sudah memberikan alasan sebelum acara itu?”


Agha mengedikkan bahunya, ia acuh dengan prihal sepele macam ini. Baginya, paksaan bukanlah jalan keluar yang benar. Menurut pria itu, tidak ada yang berhak memaksanya dalam hal apapun. Jika ia menentangnya, adalah hal yang wajar.


“Aku sudah lelah berpura-pura seolah aku harapan menjadi menantunya, agar dia tidak berharap lebih jauh lagi aku ingin jelaskan hari ini juga. Lagipula Elena itu perempuan labil, antara serius dan main-main masih dianggap biasa dan sama!”


“Baiklah Tuan, jika perlu sesuatu nanti hubungi saya. Setelah menjemput nona manis, saya akan menyusul!”


Setelah menepuk punggung asistennya itu, Agha tersenyum lalu mengangguk. Ia pun pergi. Sementara Gafin segera melaksanakan tugasnya.


Sampainya di sekolah.


Gafin menatap ke arah gerbang. Ternyata sudah ada gadis yang ingin ia jemput sedang menunggu. Pria itu segera keluar untuk menghampirinya.


“Om asisten ... Belajar Abel seperti biasa Om. Oh iya ayah Agha kemana?”


“Dia sedang ada urusan. Yuk kita pulang sekarang!”


Karena Abel sudah sangat mengenal asisten ayah angkatnya ini, ia tidak lagi merasa canggung ataupun terbesit perasaan takut.


Kini mereka mulai memasuki mobil. Selama perjalanan Abel terus merengek meminta untuk dibawa menjumpai ayahnya, tapi karena Gafin memberikan alasan yang jelas untuk melarang, akhirnya Abel menurut bahkan gadis itu lebih memilih untuk tidur di dalam mobil, dibanding harus berceloteh.


Gafin menatap gadis itu dengan tersenyum. Pantas saja, siapa yang tidak gemas anak ini, saat tertidur saja masih terlihat tembam dan cantik. Pria itu terpaku sejenak memandangi.


‘Jika aku pria jahat sudah kulahap anak ini, sayangnya aku baik. Jadi, untuk sekedar mencubit pipinya mungkin tidak apa-apa kali ya,' ucap hatinya.


Tangannya bergerak, tetapi sangat disayangkan sekali, Abel justru melengos dan mengganti posisi wajahnya membelakangi.


Gafin menarik napas. Ia tersadar, betapa iseng dirinya ingin menoel pipi bulat itu. Entah kenapa rasa keinginan itu tiba-tiba datang, tanpa berpikir siapa gadis ini.


“Baiklah sepertinya sukma tuan Agha mengikutiku, dan ini adalah ulahnya agar tidak kusentuh gadis kesayangannya ini.”

__ADS_1


Pria itupun terkekeh sendiri. Namun, sekelebat ide datang menghantui pikirannya.


‘Kenapa rasa ingin mencoba tes DNA membuatku selalu kepikiran? Hatiku berkata, jika tuan dan nona Abel memang memiliki hubungan darah.’


Gafin berpikir lagi dan lagi, sampai mobilnya itu terparkir tidak jelas di luar gerbang rumah Azel.


“Sepertinya mencoba tidak akan menjadi masalah,” gumamnya. Pria itu mengambil sebuah gunting, lalu dengan sangat perlahan dan hati-hati mencoba untuk mengambil beberapa helai rambut Abel. Ya, ia memotong sedikit poni Abel.


***


Sementara di rumah.


Azel terus saja bersin-bersin, sedari malam gejala ini seakan menyerangnya. Ia sudah mengira jika dirinya akan flu dan demam.


“Astaga badanku tidak enak sekali. Menyesal mengikuti mereka semalam. Pekerjaanku jadi terbengkalai hari ini,” gumamnya.


Perempuan itu menggulum tubuhnya dengan berbagai macam selimut, dari yang tipis, tebal ataupun yang biasa saja. Ah sudahlah tidak penting yang jelas saat ini badan wanita itu sedang menggigil.


Sementara di tempat lain, Agha sedang berhadapan dengan sang ayah Elena.


“Baiklah lupakan hal semalam. Kini yang aku ingin bicarakan, bagaimana keputusan final darimu? Putriku sudah cukup menunggu Agha,” ucap Elbrio.


“Maafkan aku Paman, aku tidak mencintai putrimu. Aku memang belum memiliki gadis lain, tapi rasa cinta tidak bisa dipaksakan. Aku tak ingin membohongi perasaanku,” balas Agha menatap lekat-lekat iris mata pria paruh baya itu.


Ia juga berbicara langsung dihadapan Elena, dan ya saat itu juga perempuan nyentrik itu terdiam dari biasanya. Hal yang aneh bukan?


“Paman sedikit kecewa Agha, padahal aku dan orang tuamu mengenal begitu dekat bahkan sudah terencana untuk menjodohkan kalian. Kebahagiaanku ada di putri kesayanganku, dan rasa bahagianya hanya bisa menikah denganmu Nak,” papar sang ayah Elena.


“Ini bukan tentang ayahku Paman, tapi perasaan. Seperti yang kau ucapkan itu, apapun yang menjadi kebahagiaan seorang anak, orangtua pun akan senang. Aku rasa ayahku di sana pasti setuju, jika itu menyangkut kebahagiaan anaknya.”


“Lagipula siapa yang bilang bahagia jika aku menikah denganya Dad? Dia sangat menyebalkan, aku juga ingin membatal rencana perjodohan yang kalian buat! Elen sudah punya lelaki lain Daddy ....”


“Elena kau tidak bercanda dengan ucapanmu itu?”


“Buat apa Elen berbohong Dad. Benar cinta tidak bisa dipaksakan bukan? Elena sudah menganggap Agha itu saudara laki-laki Elen. Untuk perasaan, itu sudah hilang dari kemarin-kemarin.”


Agha tidak percaya dengan ucapan perempuan lenjeh ini, bisa ia katakan ada sisi dewasa di hati Elena.


‘Terima kasih Elena,' ucap hati Agha dengan mata yang terus memandangi. Senyumannya pun terhias indah, untuk Elena.

__ADS_1


__ADS_2