Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S3. Rencana Pertunangan Azel dan Xander


__ADS_3

Malam hari.


Terdapat seorang wanita sedang menghiasi wajah anaknya dengan senyum cerah.


“Cantik!”


“Mami juga!”


Abel tersenyum tulus, sang mami pun hangat melihat senyumannya itu.


Abel tampak cantik mengenakan gaun yang berwarna terang itu, sama seperti yang dikenakan oleh maminya. Malam ini Abel menunjukkan wajah cerianya, ia tidak boleh egois. Mau bagaimana pun malam ini adalah malam terindah sang mami.


[Sayang keluarga Xander sudah tiba, cepatlah ke sini]


Azel membaca pesan dari sang mommy. “Sayang ... mereka sudah sampai, ayo kita berangkat!”


“Come on!”


***


Azel dan Abel sudah tiba di tempat yang di mana menjadi pertemuan pertama antara keluarga Xander dan Azel. Kini dapat perempuan itu lihat, ada sejumlah orang yang duduk di sana sedang menantinya.


“Selamat malam Sayang ....” ucap Shireen sang mommy menyambut.


Azel tersenyum, setelah mengecup mesra pipi sang mommy sebagai tanda balas sapaannya. Kini ia menatap dua wajah asing di samping calon tunangannya.


Azel menatap dua orang bule itu. Sungguh keturunan Xander memang sangat kental dari Amerika. Tampak dari kedua orangtua Xander yang begitu putih seperti khas ras orang barat.


“Sayang ini papa dan mamaku, dan perkenalan ini calon istriku Pah Mah!” ujar Xander memperkenalkan.


Azel tersenyum hangat, dibalas juga dengan senyum ramah dari mereka. “Ternyata, calon menantu kita begitu cantik Pah. Tidak terlihat seperti sudah mempunyai anak,” ujar Bellezia. Ya, dia adalah sang mama Xander.


Christensen, sang papah Xander tampak menyukai perempuan itu juga. Wajah keibuan Azel membuat dia yakin, bahwa perempuan itu adalah yang terbaik untuk anaknya.


“Pantas anakku begitu tergila-gila, ternyata perempuannya ini sangat manis,” ucapnya.


Azel mengulurkan tangannya, saat itu juga perempuan itu menjabat tangan kedua calon mertuanya.

__ADS_1


“Terima kasih Tante Om!”


“Tapi, siapa gadis yang menggemaskan itu?” tanya Christensen kala perhatiannya tercuri oleh pesona gadis yang begitu cantik malam ini.


“Kenalkan Pah dia calon anakku. Jika kalian tahu anak ini lebih dewasa dari ibunya,” ujar Xander seolah menggoda sang calon istri.


Benar saja sudah tampak terlihat wajah tidak mengenakan dari Azel. Prianya seperti membuka kepribadiannya, jika ia terkadang suka manja lebih seperti anak kecil dari putrinya.


“Sayang ... sapa dong Omah dan Eyangnya!” titah Azel. Seketika Gadis itu yang tadinya melongok, kini tersenyum lebar sembari menyapa ...


“Hallo Eyang, Hallo Omah!” sapa gadis itu sembari menyalimi tangan mereka satu persatu.


“Ah dia tembam sekali,” gemas Bellezia dengan menoel pipi Abel.


“Belum apa-apa, aku sudah mempunyai cucu. Cantik pulak!” ujar Christensen mengembangkan senyumannya.


Kenapa kedua orang bernegara barat ini, begitu fasih berbahasa Indonesia? Ya, sebelumnya mereka pernah menetap lama di negara ini. Semenjak Xander merintis usaha di negara asalnya, barulah mereka terbang kembali ke negaranya.


Syukurlah ternyata kedua keluarga mereka saling menerima. Xander merasa lega, kedua orang tuanya telah menerima Azel terlebih dengan statusnya. Begitu pula dengan Azel, ia senang karena keluarga dari calon suaminya ini bisa memberi kehangatan, dan menerimanya tanpa memandang apapun.


“Baiklah Pak Samuel, langsung saja. Esok aku akan buat pertunangan. Sepertinya aku ini sudah tidak sabar, untuk mengubah statusnya. Jika jika sudah terikat cincin suci, maka kita hanya menentukan tanggalnya saja,” ucap Christensen, saat itu juga Azel menunjukkan wajah katerkejutannya.


“Baiklah, jika begitu Azel dan Xander. Siapkan diri kalian untuk pertunangan besok!”


‘Astaga, besok? Aku kira pertemuan ini hanya makan malam saja, ternyata ini menentuan pertunanganku. Kenapa cepat sekali, aku masih merasa tidak siap,' batin Azel.


“Siap Pah, bahkan aku selalu menanti-nantikan ini!” sahut Xander.


Azriel yang ikut dalam pertemuan makan malam ini, dia merasa sangat senang. “Ya, lebih cepat memang lebih bagus!” sambarnya.


‘Ikatan pernikahan kalian, akan membuat pria itu sadar. Jika kakakku sangat tidak layak dengannya, dengan begitu dia akan menjauh dan terus menjauh. Dia memang ayah kandung keponakanku, tapi itu bukan berarti ia harus menjadi suami kakakku,' batin pria itu.


“Baiklah sepakat!” ucap Samuel finish.


Mereka pun saling berjabat tangan tanda kesepakatan mereka. Perasaan senang mereka berbagai ragam, dari itu ditunjukkan dengan senyum ataupun tangan ucapan batin. Namun begitu janggal terlihat dari wajah Azel, pasalnya perempuan itu sama sekali tidak menunjukkan raut kebahagiaannya.


‘Wajah Mami begitu terlihat cemas, ada apa dengan perasaan mami? Seharusnya malam ini hal membuatnya senang. Agaknya, kami sedang membohongi dirinya.’ Ya, Abel pun dapat menyadari itu.

__ADS_1


***


Semalaman tidur Azel seperti tidak tenang, pikirannya selalu bekerja bagaimana hari esok. Padahal ini hanya baru pertunangan belum resepsinya.


Namun Ia baru saja mendapatkan suatu kabar yang membuat hatinya merasa begitu lega. Ya, Xander baru saja mengabarinya jika acara pertunangannya akan diundur dua hari lebih lambat.


Ternyata pernyataan orang tuanya semalam terlalu mendadak. Ia teringat, jika belum ada persiapan apapun untuk semuanya. Hari ini niatnya mereka akan menyempatkan untuk mendatangi toko perhiasan dan beberapa butik.


[Sore nanti aku jemput untuk fitting baju sekaligus mencari perhiasan yang kau mau]


Setelah membaca pesan itu seketika Azel menghela napas jengah. “Astaga lebay sekali. Bukankah itu semua dipersiapkan untuk pernikahan nanti? Aku kira pertunangan hanya bertukar cincin saja,” gumamnya.


Perempuan itu tidak menyadari perasaannya. Sebelumnya ia tidak pernah mempermasalahkan, akan tetapi ia merasa ada suatu yang janggal dengan semuanya. Ya, entah kenapa perasaan wanita itu perlahan tiba-tiba memudar. Namun, ia terlalu bodoh untuk menyadarinya.


Benar apa yang dikatakan oleh Abel, jika maminya itu sedang membohongi perasaannya sendiri.


Sampai di sore hari.


Azel melihat mobil Xander sudah tertepi di depan rumahnya. Ia sedang berada di atas balkon, langsung turun dan segera menghampiri.


Azel keluar hanya dengan mengenakan celana pendek dan kaus caklek. Ia terlalu santai, sampai terlupa janji dengan calon suaminya.


“Astaga Mas, kamu kenapa kabari aku lagi? Aku belum siap-siap!”


“Sayang ... Apa kau tidak membaca pesanku tadi?”


Seketika Azel menepuk jidatnya. Hari free bekerjanya ini membuat ia terlalu menikmati hari.


“Aku lupa!”


“Tidak apa, aku tunggu kau bersiap!”


“Baiklah. Kau mau masuk atau tunggu di sini?”


Tiba-tiba ide jahil merasuki otak Xander. Sebenarnya dari tadi ia salah fokus terus dengan keadaan kekasihnya itu saat ini.


“Aku takut khilaf Azel, kau begitu menggoda!” godanya dengan memepet posisi perempuan itu. Seketika Azel kikuk, dan baru benar-benar tersadar akan penampilannya saat ini.

__ADS_1


‘Astaga!’


__ADS_2