
"Bagaimana aku bisa tidur dengan pakaian seperti ini?"
Setelah dua bocah pengganggu sudah pergi sehabis menggantikannya baju dengan pakaian yang mengundang hasrat itu, kini bergilir Azriel datang dengan membawakan banyak makanan dan bahan dapur.
Ina belum mau keluar dari kamar mandi, ia masih meratapi dirinya yang berpenampilan seperti itu.
Sementara Azriel yang melihat ranjang kosong, ia mencari-cari keberadaan istrinya. "Kemana istriku?"
"Sayang ...."
Di dalam kamar mandi Ina hampir berteriak mendengar panggilan itu. Ina merasakan sesuatu yang aneh di dalam hati. 'Astaga panggilan itu ....'
"Sayang ...."
Kembali lagi terdengar suara panggilan itu, Ina semakin ketar-ketir di dalam kamar mandi. Ingin keluar, tetapi keadaan tubuhnya tidak memungkinkan. Namun, tidak mungkin juga dia akan menetap lama di dalam kamar mandi.
"Kenapa dengan bodohnya aku tidak menolak dua anak itu. Sekarang, aku yang menanggung sendiri. Di sini tidak ada baju sama sekali untuk mengganti ...."
Dengan sekuat hati Ina memberanikan diri akhirnya. Gadis itu hanya takut jika suaminya menjadi cemas berlebih. Kini ia mulai membuka pintu, dan menghampiri Azriel.
"Kenapa Mas?"
Ina berdiri kaku di hadapan suaminya, dengan tangan yang menyatu. Azriel sadar apa yang berbeda dari istrinya. Mata coklat itu menyusuri dari kaki hingga ke atas kepalanya.
Entah kenapa pria itu menjadi gugup sendiri. "Eh-hee mmm aku mencarimu daritadi, kau kemana saja?" Azriel menggaruk-garuk kepalanya, padahal tak terasa gatal.
"Aku habis dari kamar mandi."
'Astaga, kenapa dia berpakaian seperti itu? Aku jadi tidak bisa tidur jika seperti ini,' batin Azriel.
"Ya sudah mari kita tidur!" ajak Azriel.
Tiba-tiba Ina menggandeng tangan suaminya menuju kasur, ia menuntun Azriel untuk duduk. Dalam hatinya terus berkata, 'Ayo Ina tunjukan cintamu, ini adalah hak yang di mana seorang suami harus mendapatkannya. Aku siap!'
Gadis itu terus menguatkan niat dan batinnya. "Mas, malam ini aku ingin menyerahkan semuanya. Kamu sudah menjadi suamiku, sudah seharusnya kamu mendapatkan hakmu sebagai suami. Aku siap!"
Ina menggenggam erat tangan suaminya, ia menatap tulus mata Azriel sampai terlihat memohon. "Siapa yang memaksamu? Pasti Sle dan Iren!"
Ina menunduk. Semua itu memang benar, tetapi apakah suaminya itu ingin mengendurkan niatnya.
"Memang, tapi apa aku salah jika ingin menjadi seorang istri seutuhnya untukmu?"
"Ina, kau tahu? Aku selalu menahan hasrat demi menjaga hatimu, aku tidak pernah memaksa. Aku tahu, di hati terdalammu kau itu masih berat. Aku tetap menjadi suamimu walaupun pun kau belum menyerahkan hakku. Kutunggu sampai benar-benar kau siap," ujar Azriel. Pria itu membelai sebelah pipi istrinya dengan lembut.
Namun, Ina tidak merasa putus niat setelah mendengar ucapan suaminya ia mendekat dan menempel tubuhnya. Bukan agresif, tapi ia harus mengalahkan ego demi keharusannya.
Gadis itu maju semakin mendekat. Entah ada ide dari mana, ia menyobek renda tipis di badannya. Kini hanya menyisakan satu buah dalaman yang masih menyangkut di dadanya.
"Lakukanlah, ini hakmu!"
"Ina ... ak--"
Cup!
Dengan keberanian yang cukup besar, Ina melakukan hal pertama dalam hidupnya. Ia mencium suaminya terlebih dahulu. Setelah itu, ia naik ke atas pangkuan Azriel. Wanita itu mulai beraksi dengan tingkah keberaniannya.
'Baru pertama kali aku melihat istri pendiamku ini bergerak agresif. Aku tidak mau menyakitinya, tetapi aku tidak munafik jika aku menginginkannya juga,' batin Azriel.
"Lakukanlah, waktumu sampai dini hari. Kau bebas melakukan apa saja!"
Mendengar itu Azriel tidak bisa menahan lagi. Bukankah ini suatu peluang? Walaupun akan menyakiti istrinya, tapi bagi Azriel kesempatan itu seperti sebuah uang. Sungguh enggan jika menyia-nyiakannya bukan?
"Kau sudah memberikannya, aku akan melakukan hal yang dari dulu aku tahan. Namun, aku tidak bisa melakukan hal yang tercipta dari keterpaksaan!"
"Aku siap, cepat lakukanlah. Waktumu terbatas sampai dini hari!"
Lagi-lagi Azriel dibuat bimbang, seakan dikejar waktu oleh keadaan.
Sretttt ....
"Aku tidak mau menanggung jika kau menyesal!"
Azriel berhasil melucuti pakaian istrinya, ia pun membuka bajunya dengan sangat terburu-buru. Pria itu tampak seperti singa kelaparan. Sementara Ina sudah sangat pasrah dan hanya bisa mengikuti permainan Azriel.
'Walaupun terpaksa tapi aku rela,' batin Ina. Gadis itu mengakui bahwa ia belum siap dalam hatinya, tetapi ia tidak bisa mencegah hak suaminya.
Azriel sudah mencumbu habis-habisan seluruh tubuh Ina. Mereka hanyut dalam kesunyian malam yang mereka buat menjadi suatu scene.
Azriel sudah tidak bisa menahan hasrat yang bergejolak. Kini mereka sudah sama-sama bugil, tetapi Ina tiba-tiba mengeluarkan air matanya membuat pria itu tak sampai hati.
"Sudahlah, aku tidak bisa melakukannya. Masih banyak malam panjang kita, lebih baik kita tidur sekarang!"
Namun Ina mencegah, ia menahan Azriel saat ingin merebahkan tubuhnya bersama. Di bawah kukungan badan suaminya, Ina berkata, "Abaikan air mataku. Lakukanlah, kumohon!"
Dengan deraian air mata, ia terus memaksa Azriel. Ya, sebab ia tak mau mengecewakan suaminya, terlebih ia tahu jika Azriel sangat menginginkan ini.
"Ina sudahlah ...."
"Mas ingat waktumu!"
Azriel tidak bisa menolak lagi, kuat-kuat hati ia berusaha untuk tidak iba dengan gadisnya. Ah, tidak, sudah menjadi wanitanya saat ini.
Azriel kembali mencumbui istrinya, ia menerobos benteng pertahanan Ina selama pernikahan.
"Eughh, sakit!"
"Maaf, maafkan aku!"
'Rasanya sangat sakit,' batin Ina. Air matanya pun kembali bercucuran. Sedangkan, Azriel seolah membutakan matanya karena tidak ingin melihat air mata istrinya itu.
Mahkota suci sudah direnggutnya, kini Ina sudah menjadi perempuan milik Azriel satu-satunya.
__ADS_1
Perlahan permainan Azriel semakin lembut, semakin lembut semakin terbuai dan karena terbuai hasrat di tubuh Ina pun timbul. Awalnya begitu sakit, tetapi lambat laun Ina merasa suatu kenikmatan dunia.
"Emm, Mas eughh...."
Azriel tahu jika Ina berusaha menahan lenguhannya, ya perempuan itu tidak berani mengeluarkan suara cantiknya.
"Keluarkan saja suaramu Sayang, dan sebut terus panggilan itu!"
Ina tidak dapat menahan suara merdunya, akhirnya suara seksi dari mulutnya pun terlepas. "Ahh, Mas ...."
"Aku mencintaimu, terima kasih untuk malam ini!"
***
Pagi hari.
Ina terbangun dengan rasa pegal-pegal di sekujur tubuhnya. Azriel benar-benar tak menyia-nyiakan kesempatan yang dia beri. Pria itu menggempur habis-habisan, sampai dini hari.
"Astaga pegal sekali seluruh tubuhku."
Saat ingin bangun, tiba-tiba ia merintih, "Ssrhhhh ah aw!" Ya, ia merasakan nyeri di area intimnya. Mungkin ini efek pergulatan sekarang.
'Kenapa rasanya sangat nyeri?'
Ina menoleh ke arah samping, ternyata wajah tampan suaminya sudah terpampang jelas sedang menatapnya.
"Morning. Hmm, apa masih sakit? Mau aku gendong?"
Mendengar itu, Ina merasa malu sendiri. Seluruh tubuhnya memang sudah di lihat oleh Azriel. Namun, jika hal seperti ini yang ia bahas entah kenapa rasanya sangat memalukan.
"Tidak perlu, aku bisa sendri."
"Apa rasanya begitu sakit?"
'Arrggghhh dengan sangat polosnya dia semakin membahas, aku menjadi sangat malu!"
Beberapa saat kemudian.
Karena tidak berani untuk bergerak, akhirnya Ina memilih untuk tidur kembali. Azriel pun mulai bermanja dengan istrinya.
"Apa hanya malam tadi, aku bisa melakukan itu padamu?"
"Tidak, semau kau dan aku selalu siap,' balas Ina.
"Lalu kenapa kau memberikanku waktu semalam? Seolah-olah hanya malam itu kesempatanku."
"Aku hanya memberikanmu dorongan!"
Wajah Azriel berada di atas wajah Ina, sementara Ina yang tak luput dari tatapan suaminya hanya bisa menundukkan kelopak mata, sesekali ia juga memandangi wajah suaminya.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak ingin mengecewakanmu."
Pria itu kembali menempelkan bibirnya, mereka mulai hanyut lagi dengan aksi. Namun, sepertinya keadaan yang mewaspadai.
"Stop Mas, nanti kalau adik-adikmu lihat bagaimana? Sekarang aku mau mandi, waktu juga sudah semakin siang."
Namun, Azriel seakan enggan beranjak dari tubuh istrinya. "Pintu itu dikunci Sayang ... mereka tidak akan bisa membuka!"
"Yaaa tapi kita harus mandi!"
"Kita? Berarti mandi berdua ya?"
"Ah, bukan seperti maksudku!"
"Ayo mandi bersama!"
Ina langsung ngacir ke kamar mandi dengan tergopoh-gopoh, walaupun berkali-kali tersandung karena selimut tebalnya, perempuan ayu itu tetap lanjut berjalan.
Azriel tertawa konyol. Kepuasan hatinya telah mencapai puncak saat melihat wajah Ina yang pucat. "Siapa lagi jika bukan istriku untuk menjadi bahan hiburan, haha sangat lucu!"
Setelah beberapa lamanya Ina mendam di dalam kamar mandi, ia pun keluar dengan wangi sabun yang semerbak.
Sementara Azriel tampak tersenyum-senyum melihat sprei.
"Kenapa dipandangi saja?" tegur Ina.
"Momen, ini adalah tanda bahagianya aku semalam."
'Memalukan sekali!' batin Ina.
Ya, ia melihat suaminya itu sedang memandangi bekas bercak merah yang tercetak jelas di sprei. Itu adalah tanda hilangnya keperawanan Ina.
"Aku mau cuci, sebelum pegawai yang membersihkan. Kamu mandi, dan pindahlah dulu dari tempat tidur!"
"Tidak usah, kau ini masih saja berperan sebagai seorang pembantu. Ingat, kau itu seorang istri Azriel Raymond!"
Ina mendengus jengah, dengan gerakan tangan dia menarik sprei itu. Alhasil Azriel menyingkir dari ranjang.
"Sayang ... biarlah pegawai hotel yang berkerja!" Ina tetap bergeming. Ia tak menggubris dan tetap sibuk dengan kegiatannya.
"Kamu mandi, setelah itu aku akan buat sarapan, jadi jangan bawel!" omelnya.
'Astaga dia sudah menjadi istri yang galak!'
***
Siang hari.
Tiba-tiba Iren dan Ainsley serta Aryan datang menjumpai kamar pengantin yang baru mekar itu.
__ADS_1
"Kakak, ayo kita keluar!"
"Malas, aku mau menghabiskan waktu berdua dengan istriku, jadi kalian pergilah!" usir Azriel.
"Kak ... honeymoon memang waktu santai berdua. Tapi, tidak semestinya hanya berdiam di dalam kamar saja, jika seperti itu untuk apa kau berlibur kalau pada akhirnya hanya ada di kamar. Kenapa tidak di rumah saja?" ujar Aryan mengumpati kakaknya.
"Kakak ayolah kita jalan-jalan!" bujuk Iren.
"Benar kata Kak Aryan. Lagipula, honeymoon bukan selalu urusan ranjang!" sahut Ainsley.
"Astaga berisik sekali kalian!"
Tiba-tiba Ina menyahut, "Kalian mau mengunjungi wisata apa?"
"Kakak mau ikut? Kita ingin ke pantai Kuta, Kak!"
"Iya abaikan kakakmu, kita saja yang pergi," balas Ina tersenyum, lalu ia melirik ke arah suaminya yang sedang menyumpal telinganya dengan bantal.
"Sayang ...." lenguhan itu terdengar dari mulut Azriel.
'Menggelikan sekali. Ini bukan seperti kakakku,' batin Aryan.
"Ya sudah, kita tinggalkan saja pria malas itu. Bilang saja takut matahari!" cemooh Ainsley.
Mereka pun bergegas. Namun, Azriel menahan istrinya. "Sayang ... tidak usah ikut-ikutan anak-anak sialan itu!"
Mereka bertiga tampak kesal, dengan kasar Iren dan Ainsley menarik tangan Ina. "Kalau tidak mau ikut, jangan ngajak-ngajak dong!" sungut Ainsley.
Seketika Azriel beranjak dari tempat tidurnya, lalu ia memakai kausnya dan langsung menggandeng istrinya. Wajah pria itu tampak tidak bersahabat. Sangat teduh, dengan penuh kekesalan.
Namun bagi mereka bertiga, merasa puas hati. Ya, Azriel memang hanya ingin menikmati waktu berdua saja dengan istrinya, tetapi pengganggu pasti selalu ada. Niatnya berlibur pun lagi-lagi hanya ingin menikmati masa berduanya.
***
Mereka berjalan menuju pantai Kuta. Ya, pantai yang menjadi salah satu ikon di pulau Dewata ini. Pesona dan keeksotisan pantai ini tidak diragukan lagi, maka dari itulah selalu banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun asing.
"Wahh indah sekali ...." Baju dan rambut Ina terlihat berterbangan, karena angin yang bersemilir terus menerpanya.
Azriel tersenyum melihatnya. "Sangat cantik!"
Pria itu mendekati istrinya dari belakang. Pinggang Ina direngkuhnya, sementara ia menyandarkan kepala di ceruk istrinya.
"Sangat indah bukan?" tanya Ina.
"Karena ada kau di sini," balas Azriel.
'Astaga sejak kapan dia pandai membuat hatiku terbawa perasaan?'
"Ya, maka dari itulah menikmati hari di luar itu sangat menyenangkan dibanding dengan berdiam di kamar," tuturnya.
Melihat adegan itu, Aryan yang kebetulan membawa sebuah kamera diam-diam memotret momen itu dari kejauhan.
"Pokoknya bulan depan aku mau menikah juga dengan Fatia!" gumamnya.
"Iren duluan Kak!"
"Kau mau melangkahiku?"
"Tidak apa-apa, nanti Iren minta sama Mommy dan Daddy!"
"Oyy mikirin nasib yang jomblo dong!" sahut Ainsley.
***
Setelah dari pantai Kuta, mereka kembali ke hotel karena cahaya di luar sudah mulai menyengat.
Kini mereka sudah berada di dalam kamar. Azriel berniat untuk berenang di siang hari dengan mengajak istrinya. Namun, Ina tidak mau. Ya, karena pria itu meminta Ina untuk memakai bikini.
"Ayolah Sayang ... di balkon tidak ada yang bisa melihat, hanya kita berdua saja!"
Ina masih kekeh menolak. "Tidak Mas ... aku dingin. Apalagi harus pakai baju seperti itu!"
"Sayang ... please, kita habiskan waktu berdua saja. Mumpung adik-adik sialanku sedang di luar!"
"Huh takut sekali diganggu. Lagipula kenapa aku harus pakai pakaian seperti itu?"
Azriel menyeringai, lalu ia mendekat mengecup leher istrinya, "Aku ingin melihat tubuh seksimu di kolam!"
Ina menghela napasnya, dengan berat hati gadis itu pun mau mengganti baju dengan pakaian yang diberi oleh suaminya. 'Kenapa suamiku menjadi sangat mesum?'
Ina berjalan menuju kamar mandi, setelah beberapa menit keluar dengan menggunakan bikini, ia menghampiri suaminya.
Azriel terpesona, tiba-tiba tubuhnya bergelinjang panas. Ia mengusap-usap tengkuk lehernya. Sementara di bawah sana ada yang sedang meminta tolong untuk dilepaskan.
'Tahan-tahan, kau sendiri yang meminta kau sendiri yang menanggung.'
"Sangat seksi!"
"Mas, di luar sangat terbuka. Udaranya juga cukup dingin ...."
Azriel menarik pinggang polos istrinya, kulit putih nan lembut mereka saling menyatu. "Kau sudah mirip wanita bule yang di pinggir pantai sana."
"Ishhh, jangan samakan aku dengan mereka!"
Azriel ******* bibir istrinya, kemudian ia menggendong tubuh Ina. Perempuan itu merasa risih dengan dirinya sendiri. Namun ia menyadari, terbuka dengan suami bukanlah suatu yang hina.
Kini mereka sudah menepi di kolam. Sama-sama merendam tubuh di air yang sangat biru itu.
"Bercinta di kolam sepertinya hal belum pernah aku alami."
Bersambung ....
__ADS_1
...DOUBLE BAB LAGI....