Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S3. Memanfaatkan Keadaan


__ADS_3

Agha mencoba untuk mengikis jarak, ia mendekati perempuan di sampingnya itu dengan perlahan. Namun, bukan berarti Azel tidak menyadarinya.


“Jangan mencari-cari kesempatan!”


“Ah tidak. Aku hanya ingin kehangatan saja, sepertinya berdekatanmu selalu membuatku nyaman,” elak Agha.


“Modal dusta!” ketus Azel.


Tiba-tiba perempuan itu menguap, menunjukkan rasa kantuknya. Benar baginya jam segini memang sudah sangat malam, terbukti dari matanya yang tak kuat tahan lama.


Sedangkan Agha hanya bisa menatap, ia memandangi wajah Azel yang sudah ingin tumbang. Sedikit tersenyum, karena wanita itu membuatnya gemas.


‘Lucu,' batinnya.


Azel terhenyak, tatkala rasa kantuknya menyerang. Sebenarnya ingin sekali ia mengusir lelaki ini dengan kasar, akan tetapi tampaknya Agha yang konyol itu justru akan menguras tenaganya saja. Alhasil, ia pun pasrah dan kini ia tidak bisa mengendalikan rasa kantuknya demi menemani pria ini.


“Hoaamm ... astaga kenapa ngantuk sekali mataku.” Azel berusaha untuk menepis rasa kantuknya. Semacam cara apapun ia lakukan untuk mengusir rasa itu, tetapi terasa sangat sulit.


Sementara Agha sendiri memang sedang menunggu detik-detik Azel tertidur, dan ya benar saja perempuan itu sudah tidak bisa lagi menahan matanya yang berat, sehingga ia benar-benar tumbang tepat di punggung Agha.


‘Aku menantikan ini,' batinnya senang.


Ia diamkan selama beberapa menit Azel dalam posisi itu, sampai perempuan beranak satu ini benar-benar pulas. Keadaan seolah mendukung, Agha tampak senang bisa berduaan lama seperti ini.


“Aku memang brengsek, mengambil kesempatan dalam kehangatan. Yaa setidaknya, ini tidak merugikan orang-orang,” gumamnya terkekeh.


Setelah memastikan jika Azel sudah benar-benar pulas, Agha mencoba untuk membenarkan posisinya. Tak sampai membangunkan, hanya saja perempuan itu sedikit menggeliat kemudian melanjutkan tidurnya kembali.


Agha memposisikan Azel di samping sebelahnya, yang di mana ia berada di bawah sofa. Tak lupa juga ia mengganjal kepala perempuan itu dengan bantal. Kini tampaklah wajah Azel yang sudah terlelap.


“Heranku sebatas mengaguminya, kenapa masih terlihat cantik saja?” gumamnya terkekeh sendiri.


Tiba-tiba Azel mengubah posisinya setelah menggeliat, tapi posisi kali ini sangat lebih menguntungkan untuknya. Azel meringkuk dengan menyangga wajahnya menggunakan kedua tangan. Lagi-lagi itu membuat Agha leluasa menatapnya.


Pria itu merogoh kantung celana, lalu ia mengambil benda pipih miliknya. Agha memanfaatkan momen ini, untuk mengambil gambar dari wajah Azel. Bukan hanya itu, ia juga memotret dengan gaya selfi berdua. Sungguh, terlihat seperti anak muda yang sedang kasmaran.


“Ah lucu sekali, Abel harus tahu ini!” Ia merasa bangga dengan hasil jepretannya. Namun, kenapa ia selalu salah fokus dengan benda kecil yang berwarna seperti Cherry itu?

__ADS_1


Agha meneguk salivanya, bersusah payah ia menahan rasa yang menjalari tubuhnya. Ia bermimpi untuk merasakan benda itu lagi. Namun, bukankah dia pantas di cap lelaki brengsek yang selalu memanfaatkan kesempatan? Ini keadaan yang bagus, tapi tidak dengan pikirannya.


‘Tampak manis sekali,' batinnya.


“Astaga, buang pikiranmu itu. Brengsek sekali kau. Ah benar kata orang-orang, berduaan itu memang tidak bagus untuk kesehatan otak,” gumamnya.


Di pikirannya saat ini seperti di kelilingi dua anak jin, yang satu berkata di sebelah kiri, ‘Tapi itu sayang jika dianggurin, kapan lagi?’ Sementara di sebelah kanan sebaliknya, ‘Jangan itu berbahaya, tahan dirimu.’


“Huhh ...”


Setelah menghela napas, Agha mengacak-acak rambutnya sendiri. Merasa pusing dengan pilihan itu. Tidak munafik, jika ia benar-benar sangat ingin hal ini.


Hingga rasa itu tak bisa ia bendung lagi. Agha mencuri ciuman yang dilakukan tanpa sadar dari sang empunya.


Cup.


“Maafkan aku Azel.”


Rasa manis itu ia resapi, hingga rasanya menagih. Setan telah menguasai nafsunya, pria itu menjadi lelaki bajing yang memanfaatkan waktu, dan keadaan.


Sampai ia mencoba lagi dan lagi. Pria itu tidak puas jika hanya mengecup, ia melunjak untuk mencoba lebih. Ya, ia ******* bahkan dengan jahilnya sedikit membasahi bibir perempuan ini dengan menggunakan lidahnya.


Sampai puas dengan itu, akhirnya ia sudahi dengan mengecup kening. Pria itu menggendong perempuan yang masih sangat pulas ini. Karena Agha juga tidak mungkin membiarkan Azel untuk tidur sendirian di ruang tengah seperti ini, jadi ingin ia pindahkan ke dalam kamar.


Sampai sudah di atas ranjang, Agha merebahkan tubuh Azel, menyelimuti dan lagi-lagi mengecup keningnya. Setelahnya ia pergi, untuk kembali.


***


Pagi hari telah tiba, terbitlah cahaya matahari yang indah.


Azel terbangun karena memang sudah waktunya. Kemudian, ia melihat jam di tangannya, ternyata ia agak sedikit telat bangun.


Wanita itu bangun dengan menggerak-gerakkan tubuhnya, lalu melihat kondisi sekitar sejenak. Baru ia sadari sesuatu.


“Oh astaga aku di kamar, berarti semalam ....?”


Azel buru-buru mengecek kondisi tubuhnya saat ini. Pakaian utuh, rasa pun tak ada yang aneh, dan ya berarti Agha hanya memindahkannya saja.

__ADS_1


“Huh, kukira pria itu akan berbuat sesuatu padaku. Lagipula mana mau dia denganku, yang sudah mempunyai anak gadis seperti ini,” gumamnya.


Sedetik kemudian, ia teringat hal lain. “Tapi, kenapa aku bisa mimpi berciuman dengan pria yang sangat tampan ya? Ah, aku lupa dengan wajahnya. Begitu terasa, bahkan seperti nyata.”


Azel sedang flashback mimpi yang semalam datang ke dalam tidur nyenyaknya.


“Mungkin ini karena rasa rinduku kepada Xander. Siang nanti aku sempatkan waktu untuk berteleponan dengannya.”


****


Tiga hari telah berlalu. Semenjak malam itu, Agha tidak lagi mengunjungi rumah Azel. Baginya ia akan menjadi setan jika berduaan dengan perempuan itu. Azel memang sangat berbahaya untuk ketenangan nafsu birahinya.


Tampaknya perempuan itu memang sangat menggoda. Tak bisa dipungkiri, berdekatan dengan Azel selalu membuat dirinya berhasrat tinggi.


Akhir-akhir ini Agha sangat disibukkan dengan urusan kantor, sampai ia belum menyempatkan untuk bertanya keadaan sang putri yang masih bertualang di luar sana.


Tiba-tiba datang sang asisten. Wajah pria itu sulit sekali ditebak, agaknya seperti ada yang ingin dibicarakan oleh pemuda itu.


“Kenapa Gaf?”


“Tuan ada kabar buruk. Hari ini kepulangan semua siswa-siswi SMP Pelita Bangsa dari kegiatan camping itu ....”


“Langsung ke intinya saja!” ucap Agha masih menyibukkan diri dengan kertas-kertas di atas mejanya.


“Nona Abel hilang Tuan, dia ketinggalan rombongan dari regu teman-temannya dan sepertinya anak buah yang Anda kirim untuk menjaga, tidak bekerja dengan baik. Mereka lengah, sampai kehilangan jejak Nona Abel,” jelasnya.


Agha refleks melepaskan semua berkas-berkasnya. Ia berdiri dengan tegak, dan menatap Gafin penuh keterkejutannya.


“Siapkan yang lain untuk mencari anakku, dan beri hukuman untuk mereka yang lalai menjaga Abel!”


“Baik Tuan!”


“Azel pasti sudah tahu tentang ini. Tolong handle sebentar pekerjaanku. Aku ingin menghampirinya.” Gafin hanya mengangguk patuh. Agha pun berjalan meninggalkan kantor.


Sementara di dalam rumah.


Azel tengah menangis dengan kelimpungan sendiri.

__ADS_1


“Hikss, hikkss ... tidak mungkin aku bilang Daddy dan Azriel jika Abel hilang. Saat ini mereka sedang di luar negeri, aku takut membuat mereka cemas, terlebih ini karena kelalaianku,” gumamnya menangis dengan sendu.


Hingga ide menghubungi sang kekasih terselampir di benaknya. “Semoga Xander bisa membantuku.”


__ADS_2