
Seharian ini Ina sama sekali tidak keluar dari kamarnya, bahkan gadis itu belum makan. Semua orang cemas akan keadaannya di dalam, pasalnya ia mengunci pintu seharian penuh.
"Ina, tolong buka pintunya ya. Ini mbak Ella!"
Di dalam kamar Ina hanya merenung, ia memikirkan bagaimana jika dirinya benar akan dinikahi oleh tuannya. Gadis itu sama sekali tidak mau mendengar ketukan pintu bahkan teriakan dari luar.
Ina melakukan itu hanya takut jika Azriel yang akan masuk ke kamarnya. Sungguh dirinya trauma akan kejadian semalam, sampai bertatap wajah dengan Azriel saja adalah hal yang sangat ditakutinya.
Sementara semua pembantu yang datang, selalu menghela napas sehingga Shireen lah yang turun tangan.
"Ina aku mohon makanlah sedikit, tenang saja tidak ada Azriel di sini!" bujuk Shireen. Namun lagi-lagi ia tak mendapat respon dari dalam.
"Sepertinya dia tidur Nyonya," ucap Ella.
"Aku hanya khawatir, dia belum makan sama sekali dari semalam," imbuh Shireen.
***
Di kantor.
Azriel pun tak bisa fokus dengan pekerjaannya, karena pikiran pria itu terus tertuju dengan gadisnya.
Kini ia ditemani oleh Gerald. Dia adalah teman semasa SMA-Nya dulu. Sebenarnya Azriel mempunyai tiga orang sahabat. Namun, keduanya telah berubah menjadi musuh dan sampai saat ini hanya Gerald lah yang bertahan menjadi sahabatnya.
Siapa dua orang sahabatnya lagi? Dia adalah pria yang menjadi pelaku pemerkosa Azel, dan satu lagi temannya yang terbunuh oleh Azriel. Awalnya berteman, tetapi bermusuhan sampai saling membalas dendam.
"Caraku memang salah, tapi hanya itu jalan satu-satunya agar aku terhindar dari perjodohan Daddy," gumam Azriel.
"Kau itu sebenarnya cinta Azriel, hanya berkedok ingin menghindari perjodohan. Padahal apa salahnya jika kau berkata cinta dan ingin menikahi gadis itu. Aku yakin Daddymu pasti mau membatalkannya. Huh ... sikap angkuhmu sudah menembus kegengsian!" celoteh Gerald. Pria beranak satu itu tak habis pikir dengan sikap sahabatnya.
"Mana mungkin aku mencintainya!"
"Mungkin! Kau tidak menyadari karena kau itu angkuh dan gengsi. Aku jadi kasihan dengan gadis itu, istilahnya seperti ini. Dia menolong anj*ng yang terjepit, sudah ditolong dia justru digigit! Ya, kau anj*ngnya!"
"Sialan kau!" Azriel menodongkan serpihan kaca bekas pecahan vas bunganya ke arah sang sahabat.
"Ohoo ayolah kawan, baru saja kau sembuh, sudah mau jadi pembunuh saja. Tenang brother, aku mempunyai satu anak dan istri, kasihan nasib mereka!"
"Takdir nikah muda!" celetuk Azriel remeh.
"Daripada kau, perjaka tua. Joni aman?"
"Astaga sialan sekali kau ....!" Azriel sudah ancang-ancang membuka sepatunya. Namun, Gerald sudah berhasil keluar sebelum sepatu mahal itu melayang.
"Astaga bercerita atau tidak itu sama saja, sama-sama membuatku semakin pusing!" Ia mengacak-acak rambutnya dengan sangat frustrasi.
__ADS_1
'Maafkan aku Ina, mungkin semua orang benar sikapku itu terbentuk karena rasa cinta. Namun, dengan bodoh saat ini aku baru menyadari bahwa aku memang mencintaimu,' lirih batinnya.
***
Malam hari.
Inah baru saja tiba di mansion, wanita paruh baya itu sudah sangat cemas dengan keadaan cucunya setelah mendapat kabar dari sang mantan majikan.
Kini Shireen sedang bersamanya untuk membujuk agar Ina membuka pintu. "Sayang ... bukalah, ini Nenek!"
Seharian ini Ina tak henti-hentinya menangis, sampai mata gadis itu terlihat sangat sembab.
Mendengar suara sang Nenek dari luar, Ina kaget dan segera berlari untuk membuka pintu. "NENEK!"
Gadis itu memeluk erat sang nenek yang baru saja datang. Ia lagi-lagi menumpahkan semua air matanya.
"Nenek tolong Ina, hikkss!"
"Nyonya bisa kasih waktu untuk aku dan cucuku?"
"Yasudah, nanti Bibik tolong datangi ke ruangan suamiku yah!"
"Baik Nyonya."
Inah membawa cucunya untuk mengobrol berdua. Saat itu Ina seakan tidak bisa bersuara untuk berkata.
"Nek ...."
"Katakanlah!"
"Tuan Azriel jahat, dia membuat pengakuan yang salah. Nek, Nenek percayakan sama Ina? Dia hampir saja memperkosa Ina, tapi tidak sampai terjadi hikks!"
"Nenek percaya padamu Sayang ... tenanglah." Ina kembali merengkuh cucunya.
"Nek, kenapa Tuan Azriel melakukan itu pada Ina. Semua orang mengira jika Ina benar-benar melakukan padanya. Ina tidak mau dinikahi Tuan Azriel, Nek hikkss!"
'Aku tidak tahu bagaimana motif kejadiannya, tapi aku selalu mempercayai cucuku. Dia tidak mungkin berbohong,' batin Inah.
"Nek Ina takut jika Nyonya dan Tuan besar benar menikahi aku dengan Tuan Azriel hikkss ... Mereka tidak mempercayai ucapan Ina Nek. Bagaimana jika ibu dan ayah tahu? Ina mau pulang sekarang!"
Inah hanya melamun, ia merasa kasihan dengan cucunya itu. "Maafkan Nenek Sayang ... memang tidak seharusnya dari awal Nenek memanggilmu untuk datang ke sini."
***
Kini Inah sedang menghadap Samuel.
__ADS_1
"Inah sebelumnya aku minta maaf atas perbuatan Azriel. Biarkan dia tanggungjawab untuk menikahi cucumu," ucap Samuel.
"Tuan, sepertinya di sini ada kesalahpahaman. Cucu saya mengaku jika dia tak sampai melakukan itu dengan Tuan muda Azriel," balas Inah.
"Kita semua saksinya. Ina sudah terlihat bugil saat kita hampiri, dan memang kita akui itu kesalahan Azriel yang terus memaksanya. Aku paham bagaimana perasaan Ina, dia pasti syok dan tidak bisa menerima semuanya. Tapi, mau bagaimana pun Ina akan melahirkan anak Azriel," papar Shireen.
"Bawa keluarganya esok, kita langsungkan pernikahan."
'Bagaimana ini? Ina, maafkan Nenek karena tidak bisa menolongmu,' batin Inah.
"Baiklah Tuan, Nyonya!"
***
"Nek!"
Mendengar semua perkataan sang Nenek, Ina tak dapat lagi tersenyum. Mungkin ini adalah suatu penyesalannya.
"Aku tidak hamil anaknya Nek, hikkss ... aku tidak melakukan apapun dengannya. Nenek ... Ina tidak mau menikah dengan pria itu!"
'Aku sangat menyesal telah masuk dalam keluarga ini, jika pada akhirnya justru aku yang terjebak!'
"Maafkan Nenek Sayang ... lagi-lagi ini semua keputusan mereka. Nenek tidak bisa menolong, karena Nenek tidak mempunyai bukti untuk membuat mereka percaya, terlebih Nenek tidak ada dalam kejadian itu. Terimalah Nak ...."
Syok berat, bahkan sang nenek seakan percaya dan angkat tangan untuk mengajukan kebenaran.
'Jika aku buktikan, tapi kejadian ini sangat menjijikkan!'
***
Keesokan harinya.
Di depan meja rias.
Seorang wanita sedang memoles wajah putri cantik yang terus saja menangis. Air mata seorang gadis ayu dari desa itu, terus bernitikkan.
'Sungguh takdir hidupku sangat miris. Cita-citaku ingin menjadi seorang wanita karir, dan membanggakan kedua orang tua serta orang tersayang. Tapi, justru aku berakhir di pelaminan bersama seorang pria brengsek. Bahkan memandang diriku saja layaknya seorang pel*cur yang disewa untuk menghasilkan anak.'
"Sudah sangat cantik, tapi sayang air matamu terus menghapus make-up yang aku poles," ucap seorang MUA.
"Perwakilan kesedihanku," gumam Ina membalasnya.
"Heyy, kau akan menikah Nona. Bukan tempatnya kau bersedih. Ini adalah hari bahagia yang dirasakan satu kali dalam seumur hidup!"
"Tapi ini bukan kebahagiaan yang kuinginkan selama hidupku, hikkss!"
__ADS_1
Bersambung ....