Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
Kecelakaan


__ADS_3

Shireen menganga membaca pesan itu. Ia mendekap mulutnya tidak percaya. Semua pikiran buruknya terjawab sudah.


Gadis itu berlari, kencang sembari tangisnya yang pecah keluar. Air matanya berjatuhan seiring laju cepat langkah kakinya.


Flashback on.


Samuel tengah mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Pria itu terus tersenyum membayangkan bagaimana indahnya malam tadi tidur mendekap tubuh wanita yang dicintainya.


"Andai aku bisa mendapatkan maafmu, mungkin cinta darimu akan menghampiriku," gumamnya.


Ia melihat ponselnya, ternyata banyak sekali notif yang dikirim oleh Shireen.


Karena Shireen sedang menunggunya, ia tak mau gadis itu kecewa karena dirinya yang tidak tepat waktu. Akhirnya Samuel menambah kecepatan laju mobilnya. Namun, tiba-tiba ia oleng, terlebih ada sebuah truk besar menghadang jalannya.


Brakhhh.


Mobil besar pengangkut tanah itu, menghantam mobilnya.


"Akkhhh, maafkan aku Shireen ...." Suaranya melirih, matanya mulai meredup dan akhirnya terpejam. Darah segar mengalir, membasahi aspal. Seketika jalan menjadi macet.


Mobilnya terbakar habis, sedangkan truk yang diketahui mengalami rem blong, sudah terguling menumbangkan satu pohon di sana.


Orang-orang mulai berdatangan, melihat keadaan sosok pria yang sudah keluar dari dalam mobilnya. Mungkin jika ia tak terpental, pria itu akan hangus bersamaan dengan mobilnya.


'Ya ampun kasihan banget.'


'Aku tak kuat melihat darahnya.'


'Sebaiknya dibawa ke rumah sakit. Dia masih bernapas, dan nadinya pun masih berdenyut.'


Saat yang kebetulan Lia dan Lisa yang terjebak macet karena kecelakaan itu. Mereka merasa penasaran dan ingin melihatnya. Saat mereka keluar mobil, mereka terkejut melihat mobil hangus yang diyakini mobil mewah sang kakak.


Mereka menangis menjerit, saat melihat kondisi Samuel yang mengenaskan terpapar di jalanan dengan banyaknya darah yang keluar berceceran. Hati mereka tersayat melihat keadaan sang kakak saat ini.


"Kakak ...!!"


Flashback off.


***


Di rumah sakit.


Shireen masih menangis menghampiri Lia dan Lisa yang tengah duduk sedih di ruang tunggu.


"Shireen ...."


Mereka memeluk Shireen dengan erat. Shireen pun menumpahkan banyak air mata di sana.


"Maaf, ini semua gara-gara gue yang minta jemput. Gue minta maaf, hiksss," sesal Shireen dengan rasa bersalahnya.


"Ini udah takdir Reen. Gue yakin, kak Sam baik-baik aja," balas Lisa.

__ADS_1


"Lebih baik kita doain buat keselamatannya," timpal Lia.


"Tapi gimana bisa kayak gini? Apa Om ngebut naik mobilnya?" tanya Shireen.


"Kita juga gak tau. Kita abis ngampus dan mau pulang, tiba-tiba kita temui kakak di jalan, dengan bersimbah darah," jelas Lisa.


"Reen gue harap setelah ini lo mau maafin kak Sam, dia cinta banget sama lo," ujar Lia.


Belum sempat Shireen menjawab, tiba-tiba sang dokter keluar dari ruangan.


"Gimana keadaan kakak saya, Dok?" tanya Lisa.


"Kondisi pasien masih memburuk. Pendarahannya sangat hebat. Kami pun masih membutuhkan satu kantong darah lagi, jika berkenan dari kalian ada yang mau mendonorkan? Nanti kita tes untuk kecocokannya," ucap dokter itu.


"Cek darah saya Dok! Saya mau mendonorkan!" ucap Shireen lantang. Memungkas ucapan Lisa yang ingin mengajukan diri.


"Reen, gue gak mau lo kenapa-napa!"


"Lebih baik kita aja, yang udah pasti cocok sama golongan darah kakak!"


"Gak, biar gue aja. Jaga aja vit tubuh kalian. Kalo kalian yang donorin, gue gak bisa balas kebaikan Om. Mau bagaimana pun kecelakaan ini gara-gara gue!"


Akhirnya Shireen yang dibawa untuk tes kecocokan darah, dengan dokter. Kedua adik kembar Samuel tak mampu melawan Shireen yang keras kepala.


Beberapa jam kemudian.


Shireen keluar dengan kondisi wajah yang pucat pasi. Tubuhnya terus terhuyung, karena banyak darah yang ia sumbangkan.


"Gue baik-baik aja kok, gue pingin liat Om."


"Udah, lebih baik lo istirahat dulu yang di ruang inap. Nanti, kalo udah waktunya, kita bakal bisa liat kak Sam," ujar Lia.


***


Sementara di cafe. Sheila sangat cemas karena Shireen tak kunjung datang.


"Duh, Shireen kamu kok cari mati sih, sama nih manager baru," gumamnya gelisah dengan terus memandangi pintu masuk cafe.


Tiba-tiba seorang pria tegap dengan kacamata yang bertengger, menghampiri Sheila.


"Mana lagi satu karyawan yang belum datang?" tanya sang manager dengan dingin.


"Hmm, saya juga gak tau Pak. Biasanya Shireen kalo gak masuk pasti izin, tapi saya gak dapet kabar dari dia," balas Sheila sedikit ketakutan.


"Karyawan seperti itu, hanya menyampahi cafe, kita bisa mencari penggantinya. Tentu, yang lebih giat dan rajin serta disiplin!" cetusnya.


"Hmm, sebaiknya jangan mudah mengambil keputusan Pak. Kita lihat dulu  bagaimana nanti!" ketus Sheila memberanikan diri.


Tiba-tiba ada sebuah notif di ponselnya.


'Kak maaf aku izin. Tuan Samuel pemilik caffe, kecelakaan.'

__ADS_1


"Saya baru mendapat kabar, bahwa Shireen tak masuk karena pak Samuel kecelakaan," ucap Sheila.


"Pak Sam kecelakaan? Hmm, lantas apa hubungannya dengan karyawan itu?"


Sheila membaca kembali isi pesannya.


'Shireen gak sengaja nemui di jalan, dia kehabisan darah. Karena darah Shireen yang cocok, jadi aku donorin buat dia.'


"Jadi, kecelakaan yang dialami pak Samuel sangat parah, hingga dia kehabisan banyak darah. Saya diberitahu, jika Shireen saat ini tengah mendonorkan darah untuknya," jelas Sheila.


'Apa hubungan spesial gadis itu dengan Tuan Samuel?' batin sang manager.


Kembali ke rumah sakit.


Shireen sudah boleh menjenguk dan melihat keadaan Samuel. Kini gadis itu tengah berjalan lemas memasuki ruangan yang di mana terdapat Samuel yang terbaring lemah.


Ia sungguh merasa aneh seorang pria kekar nan gagah, kini terlihat memejamkan mata dengan banyak selang yang melilitnya. Gadis itu sungguh miris melihat pria yang ada di hadapannya.


"Om, maafkan aku hikkss. Ini salah Shireen, Shireen udah buat Om kayak gini hikkss. Maaf, maaf, maaf ...."


Tangisnya pecah. Ia memeluk pria yang berada di atas brankar, begitu erat.


Shireen menggenggam tangan yang berurat itu, gadis itu menitikkan air matanya hingga jatuh ke tangan Samuel. Ia mengecup, dengan terus berucap kata maaf.


"Shireen janji, setelah Om bangun Shireen mau maafin Om. Asal Om mau maafin Shireen juga. Bangun Om, Shireen minta maaf, hikksss ...."


***


Malam hari.


Azel dan Azriel terus saja menangis memanggil Daddy-nya. Hubungan batin mereka begitu kuat terhadap ayahnya. Mereka merasa ditinggal jauh oleh Daddy-nya.


"Hikkss, Onty di mana Daddy?"


"Onty Daddy kenapa belum pulang? Azel lindu Daddy, hikkss!"


Lia dan Lisa serta Inah semakin bingung bagaimana cara menenangkan mereka. Mereka juga merasa gelisah dengan kondisi Samuel.


Tiba-tiba pintu terbuka, dan menampilkan sosok Shireen dengan mata sembabnya.


"Mama!"


Kedua anak kembar itu berlari menghampiri Shireen yang sudah berjongkok menyambut pelukan mereka.


"Mama, kenapa Daddy belum pulang? Hmm huhu hikkss!" Azel mengusap air mata dengan jari mungilnya sendiri. Gadis kecil itu menangis sendu membuat hati Shireen perih melihatnya.


"Kemana Daddy Mama? Tadi Daddy janji mau beliin lobot buat Azil, hikkss!"


Shireen mengusap air matanya, berusaha untuk tak memperlihatkan kesedihannya.


"Sayang anak Mama, kalian gak boleh nangis. Malam ini Daddy lembur bekerja di kantor. Kalian bobo ya, sama Mama. Ini sudah malam."

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2