Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S3. Mabuk


__ADS_3

Setelah Agha banyak bercerita prihal kisah cintanya, dengan Gerald. Kini sudah tampak mereka sama-sama mabuk. Gerald terlihat sudah beberapa kali membanting badannya di sandaran sofa dengan tawa yang semakin terdengar tidak jelas, sementara Agha terlihat mengatupkan kepalanya di atas meja bar. Sesekali pria itu meracau dengan nada yang sangat konyol.


Karena terbawanya pengaruh alkohol, pikiran mereka sudah tidak bisa kendalikan. Banyak celotehan konyol yang keluar dari mulut masing-masing akan tetapi terkadang mereka juga sadar. Gerald sang pemilik tempat pun ikut terpengaruh, padahal niatnya hanya ingin menghampiri saja sebab malam ini ia harus pulang dalam kondisi sadar.


Namun, karena Agha terus menyodorkan minuman yang mampu memperdaya akal sehat itu, membuat ia terpancing. Bahkan, berkali-kali Agha menuangkannya untuk Gerald, sampai sang pemilik itu justru lebih parah mabuknya ketimbang dia.


“Kenapa kau begitu mencintai Azel? Padahal semasa SMA dulu kau sangat membencinya, karena sifat manjanya itu,” racau Gerald kembali tertawa sendiri.


Untuk Branden, jangan ditanyakan lagi keadaan pria itu. Ia sudah terkapar tak sadarkan diri, dengan kepala yang mengatup di atas meja. Seperti halnya dengan Agha.


“Ah, aku hanya menikmatinya saja, tapi jujur kenapa aku justru berbalik cinta? Bodoh tidak si?” Ya, Agha pun sudah sama gilanya. Celotehan konyol terdengar dengan seiring nada ia berbicara.


“Kau tidak bodoh, hanya saja kau yang terlalu bodoh!” balas Gerald, lagi mengencangkan tawanya.


Sudah jelas terdengar, mereka memang sudah mabuk berat. Sesekali mereka tertawa karena tingkah kekonyolan mereka.


Di sekeliling mereka, masih banyak yang berjoget ria. Banyak pula para pendatang baru. Kini Agha sudah mulai jenuh. Ia berniat untuk pulang dan membiarkan dua temannya itu mabuk dengan keadaan yang sudah terkapar lemas.


Dalam keadaan setengah sadar, pria itu berusaha untuk menghubungi asistennya. Walaupun ia sudah mabuk, pria itu masih bisa berpikir jika dia tidak akan bisa mengendarai dalam kondisi seperti ini.


“Gafin jemput aku ....”


[Anda di mana Tuan?]


“Apa? Tidak bisa? Baiklah ... biar aku pulang sendiri.”


[Maks—Tu-Tuan!]


Blup.


Mungkin karena suara bising perpaduan ricuhnya pengunjung dengan dentuman musik dugem, membuat telinga Agha tidak sinkron dengan apa yang didengarnya. Terdengar tidak nyambung, bahkan bisa dikatakan tuli. Perkataan yang tak sama didengar membuat ia mengambil keputusan sepihak. Menurutnya, kalau Gafin tidak bisa menjemput.


Agha kembali merileksasikan rasa pusing kepalanya. Kunci mobil sudah ada di tangan, kini ia mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya.


Setelah dirasa sudah lebih baik, pria itu nekat pulang dalam kondisi mabuk. Walaupun rasa pusing di kepalanya terus menyengat, seperti tusukan beribu jarum besar. Ia juga kerap kali limbung, tidak bisa menyeimbangkan bobot tubuhnya karena rasa pusing itu.


Dalam perjalanan pulang Agha terus mengucek matanya, guna mengedarkan pandangannya agar jelas, akan tetapi semakin ia usap semakin buram.


“Astaga ....”


Ckitttt ....


DARRR!!

__ADS_1


Agha merasakan rasa sakit yang begitu dahsyat, tubuhnya serasa melayang lalu dijatuhkan dengan tiba-tiba. Dalam kesadaran yang sudah menipis, Agha mulai mendengar suara ricuh banyak orang yang terdengar seperti kabur-kaburan.


Pandangannya mulai memudar, matanya mulai meredup, sekujur tubuh mulai mati rasa. Detik itu juga pria itu menutup mata.


Namun, sebelum itu ia berucap dengan menyebut nama anaknya, “ABEL ....” Dengan lirih terlebih dahulu.


***


“AYAH!!”


Huh ...


Huh ...


Huh ...


Azel yang kebetulan malam ini tidur bersama anaknya, merasa kaget karena tiba-tiba putrinya itu berteriak. Deru napas anak itu tidak terkontrol, seperti banyak pasokan oksigen yang terbanyak ia tahan.


“Kamu kenapa?”


Keringat dingin membanjiri sekujur tubuh Azel, sedangkan matanya masih menatap ke depan dengan masih napas yang terengah-engah. Sepertinya gadis ini baru saja mengalami mimpi buruknya.


“Mami ... ayah dijahati orang hikksss ....” Tiba-tiba Abel langsung terisak menangis. “Banyak darah ....” Ia kembali lagi menangis.


“Abel jadi ingin ketemu Ayah ....”


“Ah ini yang kamu rasakan rupanya. Mungkin karena seharian tadi kamu tidak bertemu dengan ayahmu, jadi membuat rindu sampai kebawa mimpi!”


“Iya, mungkin Mi. Tapi, Abel ingin lihat ayah Mami ....”


“Sudahlah ini sudah malam, kita sambung lagi tidur kita!” Akhirnya Abel menurut, ia kembali merebahkan tubuhnya di samping sang mami dengan tak terputusnya pelukan mereka.


Sedikit kepikiran tentang ayahnya, ada perasaan tak enak juga di hati, sampai ia diam-diam mencoba mengetik pesan di tengah malam saat maminya sudah kembali pulas.


Namun, sayang. Tak ada jawaban, dan rasa resah di hatinya hanya bisa terpendam.


Hingga di keesokan harinya.


Azel sedang menyiapkan sarapan, sementara di kamar anaknya belum sempat ia bangunkan.


Berhubung waktu yang masih terlalu pagi, jadi Azel membiarkan dulu anaknya itu. Kini ia yang telah siap segera sarapan langsung, agar ketika anaknya bangun dia hanya melayaninya saja.


Di sela-sela kegiatan sarapannya, Azel iseng-iseng membuka ponsel. Ternyata banyak pesan masuk, bukan hanya dari orang-orang pentingnya. Akan tetapi, satu nomor baru yang tak dikenal menyepamnya.

__ADS_1


“Siapa ini?” gumamnya.


[Nona]


[Nona tolong datanglah ke rumah sakit]


[Nona tolonglah, sempatkan sedikit waktu Anda untuk Tuan Agha]


[Saat ini dia berada di rumah sakit. Tolong kabari Abel juga, jika ayahnya mengalami kecelakaan semalam]


Masih banyak lagi pesan dan panggilan yang tak terjawab, dan pesan itu dikirim semalam. Namun, nomor itu kembali mengirim pesan lagi dan itu baru saja Azel lihat.


[Tuan Agha koma, masih adakah hati nuranimu untuk membesuknya?]


“Astaga!”


‘Ternyata mimpi Abel semalam pertanda seperti sebuah isyarat untuk memberi kabar. Bodohnya aku tidak membuka ponsel. Ikatan batin anakku begitu kuat dengan pria itu]


Azel tersentak saat membacai satu persatu pesan itu, ia tak tahu untuk hal ini.


Azel segera berjalan cepat menuju kamar, ia berniat untuk membangunkan putrinya. Lagi-lagi kondisi hatinya dilanda kecemasan. Ia tak terbayangkan bagaimana ekspresi anaknya nanti, jika mengetahui ini.


“Sayang ... bangunlah ....”


“Masih ngantuk Mami ....”


“Ayahmu ada di rumah sakit!”


“APA? AYAH?”


Abel refleks tegak, ia tak mengucek matanya lagi karena kedua bola matanya sudah terbuka lebar setelah mendengar informasi yang maminya ucapkan barusan.


“Kenapa dengan ayah Mami?” Suara serak Abel mulai terdengar, gadis itu gemataran seolah benar-benar kaget.


Azel yang tak kuasa menahan tangisnya, akhirnya ia keluarkan juga di hadapan sang anak.


“Ayahmu kecelakaan!”


***


Di sebuah ruangan, terdapat seorang pria sedang terbaring lemah dengan berbagai macam selang yang mengikat tubuhnya.


Terlihat juga sosok seorang pria sedang menunggu, menantinya untuk sadar. “Ini yang disesali semalam. Aku bodoh, tidak menyusulnya.”

__ADS_1


“AYAH ....”


__ADS_2