Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S3. Seperti Keluarga yang Lengkap


__ADS_3

"Mau kemana?"


Azel menegur kala ia masuk mendapati anaknya sedang menyiapkan baju dan perlengkapan seperti orang mau pergi.


"Abel mau siapkan baju. Nanti malam Abel ingin jalan dengan ayah Abel. Mami gak boleh larang yaaa, 'kan udah janji!" cerocos Abel sibuk merapikan pakaiannya.


"Mana bisa seperti itu? Mami tidak akan beri izin!"


"Mami ...." Gadis remaja itu mulai merengek, bahkan dia sampai membuang baju yang dipegangnya secara kasar, bahkan gadis itu sudah hampir ingin menangis.


"Dengar dulu dong ... maksud mami, tidak diberi izin jika kamu perginya tidak bersama mami!"


"Berarti Mami mau ikut?"


"Sebenarnya si tidak, hanya saja mami takut kamu diapa-apakan dengan dia!"


Abel menyentil sedikit air mata yang hampir jatuh tadi, lalu ia menghampiri maminya dengan senyum konyol. “Masabodo elakan Mami, yang terpenting nanti mami ikut yeayy! Pasti ayah sangat senang.”


Abel menegakkan badannya, lalu bersedekap dada dibarengi dengan tekukan wajahnya dan ia berkata, “Lagipula ayah Abel itu orang baik-baik, jika ayah jahat mungkin Abel sudah tidak ada saat ini. Sudahlah, jika Mami seperti itu terus nanti bisa saja jodoh. Karena kebanyakan seseorang yang mempunyai sifat overtaking kepada orang lain, bisa di katakan jodoh, sebab mau bagaimana pun Mami memikirkan tentangnya!”


“Heyy bocah, dapat artikel dari mana kau?”


***


Di tempat lain. Gafin sedang menelisik, mencari-cari letak kebohongan dari wajah paman bosnya itu. Namun ternyata tidak ada, Zex begitu jabar menjelaskan hingga akhirnya Gafin mengerti, tetapi ia belum mampu menyimpulkan.


“Tapi, jangan pernah sekali-kali kau mencari tahu hal ini dengan pemuda itu. Kuasa dia di mana-mana, Azriel termasuk orang-orang kejam. Menurutku dia itu licik, banyak orang bawaan bahkan dulu sebelum lumpuh, ia pernah menciptakan organisasi mafia.”


“Lumpuh? Bagaimana bisa? Apa yang dialaminya?” Gafin bertanya-tanya banyak, pertemuan ini benar-benar akan membawa oleh-oleh informasi untuk pulang nanti.


“Ya, dia pernah lumpuh sampai menjadi pemuda yang hanya bisa berdiam di dalam kamar selama bertahun-tahun. Untuk kejadiannya aku tidak tahu, tetapi beberapa tahun lalu ia telah sembuh.”


“Tapi Paman aku masih sangat penasaran, sebenarnya ada rahasia besar apa yang belum aku tahu tentang tuan Agha? Kenapa harus bersangkutan dengan Pak Azriel? Setahuku pria itu sangat baik bahkan dulu pernah bekerjasama dengan perusahaan Pak Abran,” ucap Gafin. Tampak pria itu menggali informasi lebih dalam karena rasa keingintahuannya.


“Kau belum tahu dibalik semua itu. Dia pernah menjatuhkan harga diriku di depan rekan-rekan bisnisku beberapa tahun silam. Sebenarnya aku sangat dendam, tetapi karena dia orang yang berbahaya aku hanya bisa diam.”


‘Pasti semua itu ada sebabnya, pria tua ini ‘kan selalu mencari keributan, dan sangat pintar mengakali seseorang,' batin Gafin.


“Untuk rahasia besarnya bagaimana Paman? Bisa Paman jelaskan?”


“Tidak. Sebelum kakakku meninggal, dia hanya berpesan jika semua hal tentang Agha di simpan oleh Azriel. Tidak ingin mencari masalah, aku pun hanya bisa mengiyakan saja. Mungkin, semua fakta kepribadian Agha hanya pria itu yang dapat mengetahuinya. Namun, lagi-lagi aku tekankan, jangan coba-coba untuk mendatanginya terlebih kau hanya ingin menanyakan hal kepribadian Agha. Jika kau tahu, Agha adalah musuh yang terlupakan,” jelas Zex.


Lagi dan lagi menciptakan pertanyaan. Sudah paham, tapi entah kenapa ucapan pria paruh baya ini membuat teka-teki yang berbeda-beda. Ini terlalu rumit, namun bukan berarti Gafin lemah pengetahuan. Rasa penasaranlah yang membuatnya apa saja tahu, yaaa apapun itu yang bersangkutan dengan orang-orang terpentingnya ia akan berusaha untuk memecahkan semuanya.


‘Bukan diriku jika belum mengetahui apa yang belum aku tahu. Ini menyangkut tuan, apapun akanku lakukan agar rasa penasaranku terusaikan,' batinnya.


Zex telah menceritakan banyak hal tentang Agha, dan Gafin menyadari jika bosnya itu belum bisa terbuka luas dengannya. Bahkan, mengetahui Agha adalah anak pungut dari Abran saja ia baru ketahui dari orang lain, karena tuannya itu tidak pernah cerita apapun tentang jati dirinya.


Zex juga menjelaskan kronologi penemuan Agha, menjelaskan bagaimana Agha bisa amnesia. Lagi-lagi fakta jika tuannya amnesia yang tidak pernah teringat kembali, baru ia ketahui. Setidaknya kini sudah ia pahami. Bahwa, Agha bukanlah anak kandung Abran, sementara ia hanya lah pria asing yang ditemukan dengan banyak pertanyaan.


Hanya satu. Hal apa lagi yang belum ia ketahui tentang bosnya itu, dan sialnya harus berurusan dengan pria angkuh itu terlebih dahulu. Ya, Azriel baginya hanya angkuh bukan berarti ia berpikir dia kejam.


‘Aku hanya menunggu waktu yang pas, untuk menanyakan soal ini. Sepertinya aku juga harus ada mental dan fisik yang kuat, untuk berhadapan dengan pria itu nanti,' batinnya.


“Sebenarnya aku sangat ingin Agha menikah dengan putriku, dengan begitu hartanya bisa jatuh kepadanya ataupun cucuku nanti. Walaupun anakku baru berumur 18, tapi aku rasa Agha bukanlah pria yang memandang usia. Sayangnya ini akan sangat sulit, karena semua orang hanya tahu jika mereka sepupu, tidak etis jika didengar sepupu menikah. Mencorengkan nama baikku!” ujar Zex, lagi-lagi dengan bahasanya yang melangit.


“Untuk itu bisa dirahasiakan, masalah tuan mau tidak? Sepertinya dugaan Paman salah, tuan bukanlah pria yang menyukai gadis kecil, dia lebih suka perempuan dewasa,” balas Gafin.


‘Kakek-kakek gila harta,' batinnya.


“Ya, maka dari itu hanya Elena yang bisa menikahinya. Sampai kapan bosmu itu akan terus melajang, sepantarannya sudah mempunyai anak dua-tiga. Tapi, lihatlah pria itu masih saja asik bekerja. Nanti malam aku akan resmikan hubungan mereka, agar keponakanku itu bisa cepat menikah. Ini demi amanah kakakku sebelum beliau meninggal,” ungkapnya.


“Baiklah atur saja Paman, saya akan usahakan untuk membuat pertemuan antar kalian. Tapi, tidak bisa janji, karena tuan Agha sedang sibuk membagi waktu dengan anak angkatnya.”


“Anak angkat? What?!”


***


Malam hari.


Suara ketukan pintu terdengar. Tampak sosok gadis remaja dengan mengenakan baju overall dengan dalaman kaus pendek, terlihat sangat cocok di tubuh gempalnya.

__ADS_1


“Ayah ayo masuk dulu!”


“Apa kau sudah izin dengan mamimu?” bisik Agha, tak ingin suaranya terdengar sampai dalam.


“Kita tunggu mami berdandan. Mami Abel mau ikut, Ayah ....” lapor Abel begitu riang.


“Wah benarkah?”


Abel segera menarik tangan pria itu, hingga ia benar-benar masuk. Dan, saat yang kebetulan Azel keluar dengan mengenakan pakaian lucu yang serupa dengan Abel.



'Astaga dia cantik sekali. Pantas, anak ini selalu dibilang seperti kakak adik dengan maminya, nyatanya Azel memang memiliki fisik yang awet,' batin Agha terpaku.


“Kenapa? Bukankah pakaikan ini cocok untuk bersantai? Kita hanya ke pasar malam 'kan?” ujarnya saat ditatap oleh Agha yang terlihat ternganga.


“Baju kita samaan Mami? Ini baru cocok, yeay Abel seperti merasakan mempunyai keluarga yang lengkap.”


Deg ...


Agha merasa jantungnya tidak berdenyut normal, pria itu seolah merasakan sesuatu yang aneh menjalari tubuhnya.


Sementara tatapan Azel tak terlepas dari dua bola mata Agha, hingga mereka saling menatap satu sama lain, sampai akhirnya Abel pun menghentikan keheningan yang sesaat itu.


“Come on, guys .... Abel takut kehabisan tiket korselnya nanti!”


****


Setelah sampai di tempat biasa, yaitu pasar malam yang menjadi tempat bermain Abel saat jenuh. Namun, kini adalah malam spesial baginya, karena ia seperti membawa kedua orangtua yang lengkap.


Biasanya sesaat ia mengunjungi tempat ini hanya bersama maminya, dan kini seolah lengkap sudah. Baginya ini adalah kebahagiaan yang tiadatara.


“Abel mau jelajahi semua wahana, gak mau ada larangan!” tegas Abel.


“Ya!”


“Tidak!”


“Tidak Sayang ... tidak semua permainan di sini aman, cari yang biasa-biasa saja. Ah, atau kita karokean saja? Kau ‘kan suka menyanyi, walau suaramu tidak enak mami dengarkan kok nanti,” ujar Azel berintonasi rendah.


“Bisakah dia bermain bebas untuk malam ini saja? Kau tidak perlu mengekangnya. Selagi dalam pengawasan kita, dia akan aman!” sahut Agha merasa tidak setuju dengan permintaan Azel terhadap anaknya.


Dua orang dewasa ini, saling berhadapan saling menatap nyalang bahkan Azel sudah melipat tangannya.


“Dia anakku, aku tahu mana yang baik dan mana yang buruk untuknya!”


“Aku hanya ingin dia bahagia Azel! Beri dia kebebasan. Suatu kekangan akan membuatnya terus memberontak!”


“Kau ini siapa? Dia anakku, aku yang berhak mengaturnya!”


“Tapi Azel. Biarkan Abel ... astaga Abel, Abel mana?” Agha menyadari mereka terlalu hanyut berdua, sampai tak sadar jika anak nakal mereka sudah berada di wahana korsel yang ia taiki di sana.


“Abel ... dasar anak itu ....!” Azel geram, sudah ingin dia menghampiri dengan tampang galaknya. Namun, Agha justru menahan.


“Biarkan. Lihat putri kita, apa kau tidak suka melihat senyum dan tawa bahagia anakmu?”


“Dia hanya anakku!”


Agha menghela napasnya, sedangkan Azel masih menatap Abel yang sedang asik tertawa bahagia menikmati wahana itu. Sesekali Abel bersiul seakan meledek maminya, wajah Azel pun semakin ditekuk.


Agha melipat kemajanya sebatas siku, menampilkan pesonanya sendiri. Banyak yang menatap ke arah mereka, karena pria blasteran ini tampak beda dari yang lain. Namun, Agha merasa dia hanya semut dibalik banyaknya orang-orang di sini.


“Duduk sini!” Agha menarik lengan Azel, lalu ia berujar, “Masih bisa ‘kan memantau anak itu?”


“Hmm ....”


“Tunggu di sini!”


Agha berjalan, menuju ke arah tempat penjual di sana. Sementara mata Azel tak terlepas memantau anaknya. Ternyata, anaknya itu masih anteng bermain di sana.


Merasa aman, Azel menyempatkan untuk membuka aplikasi chattingnya. Seketika senyumnya terbit, tatkala seseorang yang amat ia rindukan mengirimkan sebuah pose lucu yang memperlihatkan kondisinya kala itu.

__ADS_1


[Buat kamu, calon ibu bayiku]


Kata-kata itu mampu menggantikan mood buruknya, hingga perasaan Azel sudah lebih baik. Azel menanggapinya dengan emoticon tertawa terbahak-bahak, ternyata kekasihnya itu aktif beberapa menit yang lalu.


Tanpa terasa, aksi senyum-senyum sendirinya itu dipertontonkan oleh Agha. Menyadari kedatangannya, Azel tersentak.


“Sejak kapan di situ?”


“Sejak kau tersenyum seperti wanita yang hilang dari RSJ,” balas Agha asal. Ia ikut duduk bersampingan dengan Azel, lalu ia sodorkan satu gelas plastik minuman dingin.


Bukan hanya itu, Agha juga membawa makanan manis yang terlihat seperti awan berwarna pink dan hijau. “Jangan takut gendut. Abel yang gempal saja sangat terlihat menggemaskan, apalagi kau!” ucapnya sembari menyodorkan gulalinya.


Azel menerima makanan manis itu, lalu ia comot kecil-kecil dan memakannya. “Aku bukan wanita yang selalu mementingkan penampilan! Lagipula, tidak semua makanan manis membuat gendut, terlebih baru ini lagi aku memakannya,” balas Azel.


Agha pun hanya manggut-manggut mengiyakan. Tiba-tiba keheningan tercipta sampai beberapa saat. Rasa canggung di antara keduanya, membuat mereka sulit untuk berkomunikasi.


Namun, Agha tidak ingin berlarut terlalu lama dalam keheningan ini, hingga ia sendiri yang memulai pembicaraan, “Sudah ingin mencetak undangan kah?” tanyanya.


Seketika perhatian Azel beralih penuh dengan pria itu. “Masih lama,” balasnya dengan kembali mengalihkan kepalanya seperti semula.


“Apa masih ada kesempatan untuk aku merebutmu darinya?”


Lagi-lagi Azel menoleh, menatap wajah Agha seperti tak ada arti. Agha pun mulai terkekeh, “Bercanda ... aku hanya bergurau, agar malam ini tidak kita nikmati hanya dengan saling berdiam-diaman,” ujarnya.


“Kau ucap seperti itu, sementara kekasihmu seakan tak kau anggap. Tega sekali, untung saja aku tidak tertarik denganmu lagi!” ketus Azel.


“Kekasihku yang mana?”


Azel terkekeh, ia tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya, “Astaga Agha ... Agha ... perubahanmu sangat pesat. Dulu paman Abran pernah bilang, jika kau itu lelaki introvert. Nyatanya kau itu lelaki kadal, bisa-bisanya kau bertanya seperti itu. Begitu banyakkah kekasihmu?” sindirnya.


“Astaga kau salah mengartikan pertanyaanku. Pasalnya aku sama sekali tidak memiliki kekasih, wajar saja aku bingung dengan pertanyaanmu juga,” balas Agha.


“Wanita seksi di bandara itu?”


“Dia bukan wanitaku, dia hanya sahabatku.”


Mau berbohong tapi seperti berkata jujur. Ya jelas tidak? Jika dirinya dengan Elena memang tidak memiliki hubungan. Lantas, menganggap sahabat apa itu salah?


“Jujur sampai saat ini perasaanku masih tetap sama, aku belum bisa membuka hati untuk wanita lain. Aku juga terheran, kenapa melupakanmu itu sangat sulit,” ujar Agha terkekeh pelan.


“Kau terlalu sibuk bekerja Agha, sebenarnya banyak sekali wanita yang mengantri menjadi istrimu, yang jauh lebih baik dariku. Kau sudah pantas kepala tiga, Agha. Carilah pendamping hidup, mau bagaimana pun kau harus mempunyai pewaris,” ujar Azel. Kali ini perempuan itu berani menatap pria yang berhadapannya ini.


“Sulit!”


Dapat terdengar suara jengah Azel, sampai ia menarik napas sepanjang mungkin. Namun, pembicaraan pun terputus sampai di situ.


“Eh kok hujan?”


Setitik demi setetes, air mulai berjatuhan dari langit. Mereka menatap sekeliling, banyak orang yang sudah kocar-kacir.


“Abel di mana?” tanya Azel cemas kala ia tak mendapati anaknya di wahana yang ia taiki tadi.


“Cepat kembali ke mobil, biar aku yang mencari Abel!” teriak Agha terdengar samar-samar karena suara bising hujan, ditambah langit sudah mengeluarkan suara gunturnya.


“Tidak, aku mau ikut. Anakku di mana!”


“MAMI, AYAH!”


Tiba-tiba suara Abel berlari dari kejauhan terdengar. Gadis remaja itu tampak basah karena hujan semakin deras. Dengan sigap Agha berlari, dan langsung menggendongnya. Mereka pun segera kembali ke mobil.


Sampai di dalam mobil.


Agha terus mengelap tubuh Abel yang begitu basah terkena hujan. Sedikit rasa cemas dari keduanya, karena anak itu terlihat menggigil.


“Ayah dingin ....”


“Sini Nak sama Mami!” Azel segera mengambil alih. Ia memangku anaknya, lalu kepala Abel ia letakkan di dadanya guna memberi kehangatan.


“Agha tolong carikan tempat berteduh dulu. Membawa mobil dalam kondisi hujan lebat seperti ini berbahaya!”


“Di sekitar sini ada apartemenku, kita mampir sejenak di sana ya!”

__ADS_1


Agha pun langsung menancap gasnya, melawan lebatnya hujan yang mulai terlihat seperti kabut. Hingga, ia benar-benar sampai di sebuah apartemen.


__ADS_2