Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S2. Bimbingan Ina 24 Jam Untuk Azriel


__ADS_3

Dalam satu Minggu.


Hari kedua.


"Aku ingin menyerah, ini sungguh berat!"


"Pasti bisa!"


Hari Ketiga.


"Sudah-sudah! Aku capek!"


"Belum waktunya istirahat Tuan."


Hari keempat.


"Kakiku masih tidak terasa apa-apa!"


"Maka dari itu jangan terlalu banyak istirahat Tuan!"


Hari kelima.


"Lihatlah, aku sudah berhasil bertindak 5 langkah!"


"Ya bagus, lebih semangat lagi Tuan!"


Hari keenam.


"Aku akan targetkan untuk kali ini, aku bertindak 15 langkah tanpa bantuanmu!"


"Bagus Tuan, lebih bagus jika sampai 25 langkah!"


Dan tepat hari ini hari ketujuh.


"Aku sudah mulai merasakan kakiku!"


"Saya sangat senang mendengarnya Tuan."


Ina tersenyum, ia sudah melihat rasa semangat sesungguhnya di dalam diri Azriel.


Tahap perjuangan Azriel terlihat lumayan bagus, walaupun keluhan setiap hari selalu ada. Namun, ini suatu misi keberhasilan Ina dalam menaklukkan hati Azriel untuk berjuang sembuh.


"Baru satu Minggu, tapi perkembangannya sudah sangat bagus," ucap dokter Harlond. Ya, hari ke-7 ini adalah waktu kunjungannya melihat perkembangan Azriel.


Kini dokter itu sedang memeriksa kaki Azriel. Posisi pria itu saat ini sudah kembali ke kursi rodanya.


"Apa Anda sudah bisa merasakan tangan saya?" tanya dokter itu dengan menempelkan tangan di pergelangan kaki Azriel.


"Sedikit terasa."


"Baiklah. Rutin lagi meminum obat yang saya kasih, dan jangan lupa untuk selalu olahraga. Contohnya seperti melakukan aktivitas berlatih seperti itu setiap hari," pesan dokter.


"Baik Dok, terima kasih," ucap Ina.

__ADS_1


Tiba-tiba datang Samuel dan Shireen saat dokter Harlond sudah pamit.


"Kata Dokter perkembanganmu sudah sangat bagus Sayang, dan kau harus berterimakasih kepada Ina karena katanya yang membantumu itu sangat respek," ucap Shireen.


"Itu karena usahaku, dia hanya berkata semangat sampai telingaku jengah mendengarnya!" cetus Azriel. Pria angkuh itu langsung mengayuh kursi rodanya dengan sendiri.


"Terima kasih Nak," ucap Samuel akhirnya mewakili.


"Bukan hal yang besar Tuan, ini memang sudah menjadi pekerjaan," jawab Ina tersenyum.


Di lain tempat.


Azel sedang makan siang di restoran bersama dengan pria yang menjadi teman bisnis untuk kerjasamanya. Ya, dia adalah Aghafa.


Hubungan mereka kian dekat seiring waktu yang menyatukan. Terkadang, di saat rapat atau meeting bersama, dan sampai istirahat pun seperti ini yang mereka lakukan.


"Bisa kita bahas di luar pekerjaan? Ayolah Nona Azel, kita sudah di jam istirahat, jadi lupakan dulu tentang pekerjaan," ucap Agha.


"Oh, baiklah Pak Agha."


"Panggil saja aku Agha. Waktu formal ada tempatnya bukan? Dan seperti ini kita biasa saja, anggap saja seperti berteman. Itulah profesional," ucap Agha.


"Ya, Agha."


"Aku boleh bertanya seputar pribadi?"


"Silahkan!"


Deg ...


Hati Azel seketika seperti terhantam batu. Kenyataan pahit dalam hidupnya, sulit untuk ia bagi dengan orang lain.


'Aku melihat wajahmu saja selalu membuatku teringat masa lalu yang kelam. Apalagi aku bercerita tentang kisah hidupku,' batin Azel.


Sebelum menjawab Azel terlebih dahulu memberikan sebuah senyuman, "Hmm masih jadi pertanyaan."


"Unik, tapi aku tidak paham."


"Ya, statusku saat ini tidak jelas."


"Kenapa?"


"Aku diperkosa seseorang yang tidak bertanggungjawab dan tidak tahu dari mana asal usulnya. Sampai aku hamil dan melahirkan anak, dia tidak memunculkan diri," jelas Azel.


Tentu saja Agha merasa sangat kaget dengan hal yang baru diketahuinya itu.


'Melihat wajahmu itu aku selalu teringat akan kebencianku padanya,' lirih batin Azel.


"Sungguh aku tidak tahu dan baru kali ini aku mengetahui statusmu. Kenapa miris sekali? Padahal, aku mengira kau masih seorang gadis," ucap Agha.


Azel hanya memberikan senyum terpaksanya. "Takdir."


"Bagaimana jika aku saja yang menjadi ayah untuk anakmu?" Tiba-tiba ucapan itu terlontar dari mulut Agha.

__ADS_1


"Astaga, maaf Agha melihat wajahmu saja aku sangat benci bahkan waktu yang selalu mempertemukan kita berdua itu suatu keterpaksaan untukku. Jika bukan karena ayahmu, aku tidak akan mau bekerjasama dengan kau!" Azel tak kuasa menahan air matanya. Ia sudah merasa cukup menahan kesedihan yang dikoyak kembali oleh Agha.


Agha yang mendapat perkataan seperti itu, merasa heran dengan Azel. "Tenangkan dirimu Nona, minumlah dulu!" Agha memberikan botol yang berisi air putih, lalu Azel pun meminumnya. Setelah itu tangisan Azel berhenti.


Azel merogoh tasnya, ia mengeluarkan ponsel kemudian menunjukkan sesuatu kepada Agha, "Kau lihat! Wajah ini sangat aku benci, dia yang telah memperkosaku dan membuat adikku lumpuh!"


Sementara Agha langsung melototkan matanya saat melihat potret seseorang yang ditunjukkan Azel. "Astaga, kenapa wajah itu sangat mirip denganku?"


"Maafkan aku Agha, karena bersikap seperti ini kepadamu. Aku hany--"


"Susssttt ... tidak perlu dibahas, aku mengerti!" Tiba-tiba Agha merengkuh tubuhnya Azel, ia mengusap-usap kepala Azel untuk menenangkan ibu satu anak itu.


'Ya Tuhan, kenapa dadaku selalu berdetak seperti ini? Jika dia memang bukan pria itu, izinkan aku menutup luka hati dengannya. Namun di sisi lain, aku masih ingat kebencianku akan wajahnya,' batin Azel.


"Maafkan aku Nona, karena wajahku ini membuatmu mengingat masa yang kelam. Tapi, sungguh aku masih tidak percaya dengan seseorang yang sangat mirip denganku itu, aku tidak pernah berfose seperti itu. Aku anak tunggal di keluargaku tidak mungkin aku memiliki saudara kembar," ucap Agha.


"Hmm, mungkin karena pikiranku saja. Sekali lagi aku minta maaf, padahal kau sama sekali tak bersangkutan dan kenapa aku harus benci. Jelas-jelas kau berbeda dengannya," ucap Azel.


Tiba-tiba Agha menggenggam tangan Azel. "Nona Azel, jujur belakangan ini aku sering memikirkanmu bahkan di saat aku selalu bersamamu. Apa aku salah jika aku mencintaimu? Sedangkan wajahku ini mengingatkan kebencianmu akan seseorang." Pernyataan itu membuat Azel kembali menangis.


***


Malam hari.


Tiba-tiba Azriel keluar kamar. Para penghuni rumah pun terheran. Tidak ada badai hujan, tidak ada angin ribut, tidak ada gempa bumi. Suatu penomena langka bukan? Bahkan, para pelayan pun terheran.


"Pantas saja remote ini tidak berfungsi, ternyata gadis itu sedang bertukar cerita dengan adikku, heh!" gumam Azriel dengan wajah berekspresi remeh.


Saat menjumpai Ella, Azriel tiba-tiba bertanya, "Di mana kamar gadis itu?"


"Hmm, siapa Tuan?"


"Ina."


"Oh, dia menempati kamar Mbak Inah Tuan. Perlu saya hantar?"


"Tidak. Urus saja pelayan yang lain agar melakukan pekerjaannya dengan baik. Itu sudah tanggungjawab ketua!"


Azriel segera mendorong kursi rodanya sendiri menuju kamar yang letaknya sangat ia hafal. Sementara Ella merasa heran.


"Lho Ina di sana, sementara Tuan memasuki kamarnya? Ahh, aku jadi semakin pusing. Kukira menjadi kepala pelayan itu menyenangkan, eh tahunya malah menyedihkan. Mereka yang berbuat kesalahan, tapi aku yang disalahkan. Hmm, dunia ini ribet!"


***


Azriel masih menyaksikan obrolan adik dan pengasuhnya di luar sana yang terlihat semakin asik.


Namun terlihat mereka sudah bubar mengakhiri pembicaraan mereka, Azriel pun masih menyaksikan itu.


Beberapa saat kemudian, Ina datang memasuki kamarnya.


"Di mana remotemu? Bukankah aku selalu bilang harus kau genggam setiap waktu?"


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2