
23 years later.
"Aku akan menembaknya. Rasakan bagaimana kehancuran kakakku yang telah kau renggut kesuciannya!"
"Jangan gegabah Tuan, ini bisa membahayakan kita juga!" Sedangkan teman di sebelahnya memberikan aba-aba untuk tetap tenang dan bersabar.
Ya, kini di sebuah jalan yang sepi penduduk, terlihat seseorang berada di dalam mobil, menatap elang sebuah pengendara motor yang di mana ditaiki oleh seorang pria.
Pria itu tak mendengar ucapan pria di sebelahnya. Ia tetap menodongkan sebuah pistol ke arah sasarannya. Dalam kondisi itu, dia masih menyetir dengan kecepatan tinggi. Ya, untuk mengejar dan menyeimbangi pengendara motor itu.
Dorr!
Satu peluru lepas landas mengenai punggung pria pengendara motor itu. Seorang pria di dalam mobil yang menembaknya tersenyum, karena senapannya tepat pada objek sehingga pria itu terjatuh ke sebuah jurang. Namun, tanpa ia sadari mobilnya telah berada di tepi jurang hingga oleng. Ia pun menyaksikan sendiri bagaimana dalamnya jurang di bawah sana.
"Tidak, tidak!"
"Tidak ....!!!"
Huh huh huh .....
Tampak sosok lelaki tampan yang sedang terengah-engah karena baru saja mengalami mimpi buruknya.
"Arrghhhh!" Ia mengusap wajahnya dengan mengerang kecil, lalu menetralkan kesadaran.
Tiba-tiba sosok perempuan cantik datang menghampiri.
"Mimpi buruk lagi?"
Azriel hanya menghela napasnya, bersamaan dengan memejamkan mata lalu mengangguk. Perempuan itu mengambil segelas air putih, kemudian ia memberikan kepada adiknya. Setelah itu ia mengelap keringat Azriel.
"Membaca doa sebelum tidur itu sangat penting!"
"Kakak di mana, Abel?" tanya Azriel kepada saudara kembarnya. Ya, perempuan cantik itu adalah Azel.
Jika kalian mengenal Azel dan Azriel yang dulunya sangat menggemaskan. Tidak lagi sekarang, kini semuanya sudah berubah sebab termakan usia. Kedua saudara yang memiliki paras sama itu, kini telah tumbuh besar. Menjadi seorang perempuan yang cantik dan anggun, serta pria tampan yang gagah. Usia mereka sama, tapi kedewasaan dan pola pikir mereka yang membedakan.
"Anakku sudah tidur di kamarnya, semalaman tadi dia terus menanyakanmu. Lagipula tumben sekali kau tidur sore-sore?"
"Hmm, bisa antar aku ke kamar Abel?Aku tidak bisa tidur jika belum memeluknya."
"Baiklah, tapi jangan sampai membuat dia terbangun karena aku yang akan repot nanti!" Azriel hanya membalas dengan sebuah anggukan.
Azel mulai membantu adiknya itu untuk duduk di kursi roda, setelahnya ia mendorong roda itu untuk menghantar ke dalam kamar putrinya.
__ADS_1
Jika bertanya kenapa dengan kondisi Azriel? Ya, pria tampan itu mengalami kelumpuhan selama 4 tahun sehingga selama itu Azriel hidup dalam dorongan kursi roda. Dokter mengatakan bahwa Azriel mengalami kelumpuhan permanen, tapi Dokter ahli neurologi mengatakan bahwa Azriel bisa sembuh jika melakukan terapi secara rutin.
Azriel memiliki watak batu, yang di mana ia sangat keras kepala dan gigih tidak mau lagi untuk ditangani Dokter. Ia mengatakan bahwa hidupnya akan seperti ini selamanya, karena semua usaha penyembuhan akan sia-sia jika pada akhirnya tidak ada hasil yang efektif. Seakan, tak ada semangat lagi untuk ia bisa sembuh.
Semua itu telah terjadi akibat kecelakaan naas yang menimpanya, sampai masa hidup bebasnya terenggut. Kelumpuhan itu menyebabkan Azriel tak bisa berjalan, karena saraf otot-otot dikakinya sudah tidak berfungsi. Dan, inilah hidupnya saat ini, hanya bisa berdiam diri di dalam kamar tanpa seseorang yang berani mengganggu terkecuali keluarganya.
Sesampainya di dalam kamar bernuansa biru langit yang sangat khas. Azel segera membantu adiknya itu untuk tidur bersama dengan keponakannya. Susah payah ia membantu adiknya, demi Azriel yang ingin tidur bersama sang putri.
"Huffhh ... sepertinya memang sudah waktunya kau harus mempunyai pengasuh khusus!" ucap Azel.
Mendengar perkataan sang kakak, Azriel menatapnya. "Kakak tahu sendiri bagaimana aku."
"Azriel, kakak tidak bisa selamanya melayanimu. Kakak punya anak, keseharian kakak di kantor, dan lagi kegiatan lainnya. Coba kau mengerti. Percayalah, keinginan kakak dan keluarga itu selalu yang terbaik untukmu," ucap Azel menasehati.
"Aku mau tidur, kakak bisa keluar!"
Lagi-lagi Azel hanya bisa menghela napas. Benar-benar adiknya itu sangat keras kepala. Ia pun mengalah, dan segera keluar dari kamar anaknya.
"Tidur yang nyenyak!" Azel menyelimuti tubuh adiknya, lalu ia bergegas keluar kamar.
Kini pusat perhatian Azriel mengarah kepada sosok gadis kecil yang sedang tertidur sangat pulas di sampingnya. Ia tersenyum, lalu mengecup anak itu berkali-kali.
Abella Raymond. Ya, hanya gadis mungil itu yang mampu membuatnya tersenyum, pertahanan hidupnya hanya di semangati oleh gadis yang baru berusia 4 tahun itu.
***
Pagi harinya.
Seorang wanita cantik siap dengan penampilan formalnya, ia sedang menyiapkan sarapan.
"Bangunkan anakmu saja, biar sarapan Daddy Mommy yang siapkan!" ucap Shireen. Lihatlah perempuan itu, seakan tidak ada perubahan walaupun usianya sudah tak terbilang muda lagi, tapi parasnya masih tetap sama seperti dulu.
Sementara Samuel, pria itu kini sudah menjadi kakek. Rambut hitamnya pun mulai berubah warna menjadi putih. Namun, pria itu tetap tampan karena aura kharismanya yang masih terpancar.
"Suruh adikmu sarapan bersama, bilang ada yang ingin Daddy bicarakan dengannya," ucap Samuel.
"Baik Mommy, Baik Daddy."
Jika membicarakan prihal di mana Eyang dan Omahnya. Beberapa tahun silam, Dika telah meninggal dunia karena mengalami penyakit jantung. Sementara Yuri mengalami kecelakaan saat ingin pergi ke Amerika untuk menjenguk anaknya. Sebenarnya Yuri yang lebih dulu meninggalkan dunia, dan karena sebab itu Dika syok akhirnya terkena serangan jantung.
Lia dan Lisa pun saat ini sudah mempunyai keluarga kecil masing-masing.
Setelah membangunkan adik dan anaknya, Azel kembali ke meja. Ia membawa putri cantiknya untuk ikut sarapan bersama.
__ADS_1
"Agi Akek, Agi Oma!"
"Morning Sayang ... gimana tidurnya cucu Omah? Nyenyak?" balas Shireen.
"Sini sama Kakek!" Samuel memangku cucunya itu.
"Enyak Oma, malam-malam ada Om Azil yang pewuk Abel!"
Tiba-tiba datang seorang pria muda yang sangat tampan bersama dengan gadis remaja yang cantik. Irene dan Aryando. Ya mereka adalah anak ketiga dan keempat Samuel merupakan anak dari Shireen.
"Pagi Mommy, Daddy, Kakak!" Mereka menyapa bersama.
"Pagi!"
Aryan, dia adalah anak yang bertarung nyawa antara ibunya masa itu. Kini telah besar, menjadi pemuda yang tampan. Aryan masih kuliah, sedangkan Iren, gadis itu kini baru saja memasuki sekolah menengah atas.
Datang Azriel yang sedang mengayun kursi roda dengan menggunakan tangannya sendiri. Sepertinya pria baru saja selesai mandi.
"Tumben sekali Kakak ikut sarapan bersama," gumam Aryan.
"Ada apa Dad?" Tiba-tiba Azriel langsung melontarkan pertanyaannya.
"Sarapanlah dulu, nanti akan kita bicarakan!" balas Samuel.
Kali ini memang momen yang jarang mereka rasakan, di mana Azriel mau ikut sarapan bersama. Biasanya Azriel selalu menolak setiap makan bersama seperti ini.
Setelah menikmati sarapan dengan khidmat. Samuel mulai menatap Azriel.
"Nanti malam Daddy akan membawa Dokter dari Jerman untuk membicarakan tentang terapi kakimu," ucap Samuel.
"Untuk apa? Akan membuang waktu pada akhirnya. Lebih baik aku menghabiskan waktuku dengan bermain bersama Abel!" jawab Azriel.
"Azriel, bisa kau dengarkan Daddy kali ini saja?!" tegas Azel.
"Aku sudah kenyang." Azriel memutar balikkan kursi rodanya, ia mengayun roda dua itu menuju ke kamar.
"Mau sampai kapan hidupmu akan seperti itu?" sahut Samuel seketika menghentikan Azriel.
Bersambung .....
Semoga suka yaaa ...
Masih setia komen+like?
__ADS_1