Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
Pertarungan Nyawa Antara Ibu dan Anak


__ADS_3

Mendengar ucapan dari sang Dokter, Samuel merasa lemas saat ini. Ia terduduk, lalu ia mengacak-acak rambutnya dengan gusar, Lia pun sigap memeluknya.


Bagaikan hantaman batu meremukkan hati, di mana ia diharuskan untuk memilih seseorang yang sangat berperan penting dalam hidupnya.


"Apapun keputusan Kakak, Lia yakin itu yang terbaik. Percayalah!" Lia terus menguatkan.


Samuel memejamkan matanya, mengeratkan pelukannya dengan Lia. "Selamatkan istriku!" putusnya.


Tanpa terasa pria itu menitikkan air matanya. Ia harus merelakan bayi yang selama 9 bulan ini dijaga serta ditunggu-tunggu ia dan juga keluarganya.


"Tidak apa Kak. Seorang anak akan bisa hadir kembali, tetapi tanpa seorang ibu anak tidak akan bisa lahir ke dunia. Lia yakin akan ada sosok pengganti setelah ini," ucap Lia. Sungguh tak tega ia melihat keterpurukan kakaknya yang berada di dalam situasi pertentangan hidup yang sangat berat.


Sang Dokter yang berat hati pun, merasa tak tega. Pertarungan nyawa antara ibu dan anak ini, memang sangat berat bagi siapapun yang mengalami. Namun, itulah yang dinamakan takdir.


Sementara saat ini Dika dan Tansoon sedang menunggu di ruang lain.


"Semoga Bibi Yuri baik-baik saja, begitupun dengan Rico."


"Ya, semoga saja."


Setelah melihat Dokter keluar dari ruangan, mereka tergesa-gesa untuk menanyakan keadaan Yuri dan Rico.


"Bagaimana dengan keadaan mereka?" tanya Dika.


"Pasien perempuan masih dalam keadaan tidak sadar, tapi kita sudah menjahit luka tusuknya. Nasib baik, luka tusuknya tidak terlalu dalam," jelas Dokter.


"Lalu bagaimana keadaan pasien lelakinya?" tanya Tansoon.


"Mohon maaf, kami tidak bisa menyelamatkannya. Karena, saat pasien dibawa ke sini keadaannya sudah tidak bernyawa. Yang saya lihat, peluru di dalam tubuhnya sudah merusak rongga dada hingga jantung pasien."


Dika merasa lemas mendengar pernyataan itu. Ia kehilangan sosok orang yang telah menyelamatkannya keluarganya, dan sangat penting bagi urusan pekerjaan. Rico adalah pria berjasa walaupun belum lama kedatangannya.


"Rico ... maafkan Paman, Nak." Saat Dika sudah ingin jatuh, tiba-tiba Tansoon membantunya.


"Terima kasih Dok," ucap Tansoon.


"Baiklah saya permisi dulu!"


Kini Tansoon menuntun Dika untuk duduk, ia menguatkan pria paruh baya yang sedang syok itu.


"Rico orang baik, dia pasti sudah tenang di sisi Tuhan. Biar aku yang akanĀ  mengurus pemakamannya."

__ADS_1


Kembali lagi dengan Samuel. Kini, pria itu sedang menunggu bersama adiknya. Lia tampak sedih melihat sang kakak yang terus mondar-mandir dengan rasa kekhawatiran, berulang kali pria itu juga mengintip sebuah pintu yang transparan. Ya, hanya untuk memastikan bagaimana keadaan di dalam.


Tiba-tiba datang Dika dan Tansoon. Seketika Lia langsung memeluk Papinya.


"Bagaimana keadaan Kakak iparmu?" tanya Dika.


"Papi, istri Kakak sedang dioperasi untuk persalinannya. Tapi ..." Lia seakan tak sanggup untuk menjelaskan. Melihat sang kakak yang begitu hancur, membuat hatinya pilu dalam membahas masalah yang dihadapi kakaknya.


"Tapi kenapa?"


"Kakak merelakan anaknya demi menyelamatkan Shireen. Kata Dokter, dia tidak bisa menyelamatkan Shireen dan bayinya, melainkan salah satu diantaranya. Jadi, Kakak memilih Shireen untuk tetap bertahan hidup," jelas Lia. Gadis itu sudah bercucuran air mata saat menjelaskan kepada sang ayah.


"Astaga ...." Dika mengusap wajahnya dengan gusar. Masalah yang datang di dalam keluarganya, tak tanggung-tanggung sampai merenggut orang-orang yang sangat berarti dalam hidupnya.


"Lia iba lihat Kakak. Dia sangat cemas dengan Shireen, hikks! Papi berilah Kakak ketenangan, hikkss ...."


Tansoon beralih memeluk Lia yang terus saja menangis, sedangkan Dika menghampiri anaknya.


"Sam!"


"Papi, anakku!" Samuel langsung merengkuh tubuh ayahnya.


Kini Tansoon, yang menenangkan Lia. "Sudah diam, doakan saja. Oh ya, di mana dua keponakanmu?" ucapnya bertanya. Ia lupa, jika keadaan dua anak kembar sahabatnya. Mungkin karena sibuk dengan mengurus kejadian tadi, ia tak ingat keberadaan mereka.


"Azel dan Azriel ada di rumah tetangga, nanti Lia mau ambil mereka."


"Astaga ... aku panik, beruntung mereka tidak ada di rumah saat kejadian tadi."


Oeekk oeeekkk ...


Tiba-tiba terdengar samar-samar suara bayi dari dalam ruangan. Lia dan Tansoon tersentak. Jangan ditanyakan pula dengan Dika dan Samuel. Tentu saja itu menjadi suatu keterkejutan mereka.


"Suara bayi!"


"Papi, apakah itu anakku? Lantas bagaimana dengan istriku?" Terdengar geram dari suara Samuel. Ia berpikir bahwa Dokter telah menyelamatkan nyawa anaknya, dibandingkan dengan Shireen sang istri.


"Tenanglah dulu, tunggu Dokter keluar."


Rasanya Samuel sudah ingin mendobrak pintu ruangan itu, kini ia masih berusaha mengintip dari kaca pintunya.


Tiba-tiba Dokter keluar dengan diikuti suster yang sedang membawa bayi dalam balutan kain.

__ADS_1


Baru saja ingin memaki sang Dokter. Namun, Dokter itu sudah memberikan sebuah senyuman terlebih dahulu, lalu kemudian ia berucap, "Suatu keajaiban yang baik, anak Anda selamat begitupun dengan ibunya."


Tak ada kata lagi saat ini, hanya ucapan syukur yang keluar dari mulutnya. Betapa bahagianya Samuel, begitu pula dengan Dika. Mereka sangat terharu. Ternyata, semua permainan takdir itu tidak selalu buruk.


"Papi!" Samuel menitikkan air mata kala mendengar penjelasan itu. Mereka saling memeluk dengan keharuan.


"Selamat Nak, atas kedatangan juniormu ke dunia!"


"Jadi keponokan aku selamat? Aaa ... seneng banget!" Lia langsung memeluk Kakaknya dengan melompat-lompat kecil.


Akhirnya Tansoon pun tersenyum dengan perasaan lega, saat melihat kebahagiaan mereka. "Terima kasih Rico, kau berkorban demi kebahagiaan mereka. Semoga kau selalu tenang dalam sisi Tuhan," gumamnya.


Ia menghampiri sahabatnya, lalu menepuk pundak Samuel. "Selamat brother, kau sudah menjadi ayah anak tiga!" Samuel memberikan senyum dan pelukan persahabatannya.


Datanglah sang suster dengan membawa bayi bule di tangannya. "Bayinya lelaki, tolong segera susui dengan ibunya!" ucapnya menyerahkan bayi mungil kepada Samuel.


Samuel tersenyum dan gemas dengan memberikan banyak kecupan di wajah malaikat kecilnya itu. "Selamat datang Son, kau anak Daddy yang tampan!" bisiknya.


"Aaa ... cute!" Rasanya Lia tidak sabar untuk menoel pipi bulat keponakannya itu.


Kini Samuel ingin menghampiri Shireen, dan saat yang kebetulan juga istrinya sudah sadarkan diri. Ibu muda itu tampak menangis haru kala melihat suaminya masuk dengan menggendong bayi.


"Sayang ... lihat, sangat tampan bukan? Dia bayi kita. Terima kasih telah berjuang untuknya, kau wanita yang hebat!" ucap Samuel mengecup kening Shireen.


"Dia sangat mirip dengan Mas."


"Tentunya lebih tampan dariku."


Shireen mengambil anaknya, ia segera memberikan ASI. Satu kebahagiaan lagi, Samuel telah mendapatkannya dari keajaiban takdir kali ini. Berupa pertahanan hidup sang istri, dan hadirnya sang buah hati.


Tiba-tiba datang Yuri, dengan posisi duduk di atas kursi. "Lihat, cucu yang kau inginkan sudah lahir," ucap Dika menunjuk Shireen yang sedang menyusui bayinya.


Yuri lagi-lagi menangis, ia merasa bahagia atas kelahiran cucunya itu. "Aku ingin melihat cucuku!"


"Mami!"


Bersambung ...


Oke Ay mau kasih tahu satu part lagi ending ya ...


Eittsss! Jangan ngeluh dulu, karena setelah ini tamat ada kelanjutan yang lebih seru lagi! Terima kasih untuk kalian yang masih setia membaca .... salam love sayang dari Ay. Muachh!

__ADS_1


__ADS_2