Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S2. Kondisi Azriel Saat Ini


__ADS_3

Saat ini Shireen sedang berbicara dengan Inah. Ketua pelayan itu masih menetap bekerja di rumah ini. Namun, sepertinya usia akan membuatnya pensiun dari pekerjaannya.


"Nyonya sepertinya saya akan resign, biar Ella yang menggantikan saya," ucap Inah.


Mendengar itu atensi Shireen beralih kepadanya. Sedikit terkejut, tapi tiba-tiba ia merasa sangat sedih.


"Bibik, ada apa? Bagaimana jika Bibik pergi, aku tidak akan bisa tanpa Bibik." Shireen sampai menghentikan aktivitas memotong sayurannya.


Inah tersenyum. "Saya sudah tua Nyonya, sudah waktunya menikmati masa ini bersama dengan cucu-cucu saya," balasnya.


"Bertahun-tahun Bibik bekerja di sini, bukan hanya aku yang merasa kehilangan tapi semua orang rumah pasti sulit menerimanya. Tundalah beberapa tahun lagi," pinta Shireen.


Lagi-lagi Inah hanya bisa tersenyum, "Hmm, sepertinya sudah tidak mampu Nyonya. Saya ingin menikmati masa tua saya di kampung," katanya.


"Baiklah, jika semua itu keputusan Bibik dengan berat hati kami harus menerimanya. Tapi, bagaimana dengan anakku? Azriel tidak akan mau diurus pelayan lain selain Bibik dan Kakaknya."


"Saya akan mengirim cucu saya ke sini. Cucu saya baru saja lulus SMA. Sebenarnya dia ingin kuliah ke luar negeri, tapi ayahnya melarang. Dan, sekarang hanya membantu ibunya di rumah."


Tiba-tiba Shireen tersenyum. Apa ini adalah ide bagus? Ya, dengan cara ini Azriel pasti tidak akan menolak untuk mempunyai pengurus baru.


"Dia perempuan atau laki-laki?" tanya Shireen.


"Perempuan. Namanya Inaya, dia gadis bungsu dari putri kedua saya, Nyonya."


"Biasanya anak perempuan itu lebih telaten. Baiklah Bik, nanti aku akan bicarakan lagi dengan mas Samuel."


***


"Om, Abel cedih."


"Kenapa Sayang?"


Saat Azel di kantor, Abel hanya menghabiskan waktu dengan Azriel. Karena hanya Azriel yang mau menemaninya bermain. Kini bocah imut itu sedang berada di pangkuannya.


"Abel dak ditemen, gala-gala Abel dak nya ayah."


Mendengar itu hati Azriel bagaikan teriris, ia merasa tak terima keponakan tersayangnya itu di hina. Tangannya mengepal kuat, seakan ingin memberikan pelajaran untuk seseorang yang mengatakan itu.


"Kata meleka, Abel anak ga iyas."


"Sayang ... Om ini 'kan ayah kamu. Bilang sama mereka, kalau Abel cantik itu punya ayah!"

__ADS_1


"Becok Abel biyang!"


"Tapi, Om mau kau jangan mengadu dengan Mamimu, oke!"


"Oce!"


Azriel tersenyum, lalu ia memberikan kecupan sayangnya. Percayalah, yang mampu melihat senyuman Azriel hanya Abel, selainnya semua orang pun tahu jika Azriel itu sangat dingin yang tak pernah mengeluarkan ekspresi selain wajah datar kalemnya.


Uhuk uhuk! Uhuk ....


Tiba-tiba Azriel terbatuk-batuk, Abel sigap turun dari pangkuannya. Bocah itu sangat lincah, ia berjalan keluar dengan sangat cepat dan tak lama lagi ia kembali dengan membawa segelas air putih untuk Azriel.


"Mum Om!" Abel memberikan air putih itu. Kemudian, ia naik ke pangkuan Azriel kembali untuk membantu mengusap tengkuk leher Azriel.


Azriel segera meminumnya, setelah merasa tenggorokannya sudah lebih baik, Abel merebut gelas itu lalu ia yang menaruhnya.


Inilah, mengapa ia sangat menyayangi keponakannya itu bagaikan ia mencintai anaknya sendiri. Hanya Abel penyemangat hidupnya, hanya bocah itu yang selalu siap siaga membantunya. Bahkan tanpa perintah Abel melakukan sendiri, bagaikan pengasuh kecilnya. Maka dari itu, Azriel sangat menyayanginya lebih dari apapun.


"Terima kasih. Om sangat menyayangimu, jangan pernah meninggalkanku!" Ia memeluk Abel sangat kencang.


"Abel juga cayang Om, jangan atuk-atuk agi Abel cemas ...."


Kini yang Azriel cemaskan, jika anak itu akan sekolah. Beberapa tahun lagi, Abel harus melakukan pendidikan awalnya. Azriel yang berpikir tak bisa menjaganya, sangat cemas di dunia luar untuk keponakannya itu.


Terdengar suara pintunya terbuka, ia menoleh lalu mendapati adik lelakinya yang datang.


"Kakak!" Aryan baru saja pulang dari kampusnya, ia menyempatkan diri untuk melihat sang kakak di kamar.


"Kenapa?" tanya Azriel melihat adiknya yang berjongkok.


"Aryan punya kekasih, dia cantik tapi sulit sekali didapati. Semoga setelah mendapat restu dari Kakak, dia mau menerima ungkapan cintaku," ucap Aryan. Setiap anak lelaki itu ingin berpacaran, pasti ia lebih dulu meminta izin kepada kakaknya.


"Masih anaknya paman Tansoon?"


"Kok Kakak tau?"


"Jika dia mau silahkan, tapi jangan sampai kau merusaknya!"


Sudah biasa bagi Azriel dalam menerima izin dari adik-adiknya. Karena bagi mereka melakukan sesuatu tanpa izin dari Azriel seakan ada yang kurang.


"Tenang saja, Aryan masih tau batasan kok. Besok ada Paman Tansoon dengan Bibi Fania berkunjung, semoga saja wanitaku tidak jatuh cinta dengan Kakak, tidak seperti waktu itu!"

__ADS_1


"Tidak akan ada yang mau dengan pemuda cacat sepertiku!"


"Aku benci kata-kata pesimis Kakak!"


"Tapi itu kenyataan."


"Kakak adalah seorang pemimpin keluarga kita, setelah Daddy. Harapan kita ada di Kakak. Namun, melihat keputusaan Kakak, Aryan menilai Kakak tidak memiliki jiwa pemimpin!"


"Jika ingin membicarakan hal itu, sebaiknya kau keluar saja. Aku ingin tidur!"


Aryan menghela napasnya. Semua orang tahu, jika berbicara dengan Azriel harus berakhir dengan rasa kesabaran dan helaan napas.


Setelah Aryan keluar, kini bergantian dengan adik perempuannya.


"Kenapa lagi?" Azriel langsung melontarkan pertanyaan kepada adiknya yang saat itu sedang menangis.


"Kakak, Iren gak suka di sekolah baru hikkss ... Iren selalu dibully. Izinin Iren pindah di sekolah baru ...." ucapnya mengadu.


"Apa alasan mereka membullymu?" 


"Katanya Iren gak pantes sekolah di sana, sebab Iren sok cantik, jadi perebut pacar mereka. Padahal Iren gak ngerasa rebut pacar mereka, tapi pacar mereka sendiri yang hampiri Iren hikkss!"


'Jika aku sehat, sudah kutindak lanjuti kasus ini. Aku akan memberikan pelajaran kepada siapapun yang menyakiti adik-adikku. Namun, rasanya tidak mampu untuk aku yang sekarang ini,' batin Azriel.


"Percayalah, mereka yang menghinamu itu karena mereka iri dengan kecantikanmu. Tetap bertahan di sekolah itu, pada akhirnya mereka akan menjadi temanmu nanti, itu pasti!"


"Gak mungkin, yang ada aku kena cemooh tiap hari. Kakak, aku mau pindah ke sekolah Daddy aja ...." rengeknya.


"Iren dengarkan Kakak! Jika kau pindah sekolah di yayasan milik Daddy, kau akan semau-maunya belajar karena kau pikir itu sekolah milik sendiri. Kau yang awalnya dibully, pasti akan menjadi pembully di sana! Kakak tidak suka anak yang manja, belajarlah dewasa dan mandiri!"


Iren menunduk, ia mengusap air matanya kemudian berkata pasrah, "Baiklah ...."


Ia berdiri, lalu Azriel mencium keningnya. "Maafkan Kakak, itu yang terbaik untuk kau. Aku menyayangimu!"


***


Shireen berada di dapur, ia sedang membicarakan sesuatu dengan Inah.


"Bik, aku mau cucu Bibik besok langsung ke sini. Biar suamiku tahu nanti," ucap Shireen.


"Baik, Nyonya. Saya akan segera menelponnya!"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2