Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S2. Perjuangan Ina


__ADS_3

'Pantas sekali Tuan Azriel sangat menyayanginya, didikan ibunya sangat bagus. Aku suka gadis kecil ini,' batin Ina.


"Ante maaf ya, Abel buat apek."


Ina tersenyum, lalu ia menyerahkan beberapa sebuah berlian mainan dari kantongnya kepada Abel.


"Ini untukmu, karena sudah mau membantuku. Terima kasih ya," ucap Ina.


"Ini benelan uat Abel?" Ina tersenyum dengan mengangguk. Seketika Abel tersenyum berbinar, karena merasa senang mendapatkan mainan langka baginya. Padahal, itu hanya sebuah gantungan berlian mainan yang dibentuk kecil-kecil, tapi Abel seperti mendapatkan mainan mewah.


"Maacih Ante!" Dengan tiba-tiba Abel mengecup pipi Ina, hingga membuat gadis itu terkejut.


Sementara Azriel merasa cemburu melihat keponakannya itu mulai dekat dengan orang lain.


"Om, lihat! Cantiw 'kan?"


Azriel hanya terdiam, ia memangku Abel kembali. "Kau bisa keluar sekarang!"


"Baik Tuan!"


***


Malam hari.


Ina sedang duduk di dalam dapur, ia terus saja mengamati benda yang pernah di kasih oleh Tuannya. Namun, sedaritadi ia sangat bosan karena benda itu sama sekali tidak berbunyi.


"Huhh ... rasanya aku ingin langsung masuk tanpa benda ini berbunyi, aku ingin sekali mengeceknya!" geramnya. Alhasil gadis itu hanya bisa menghela napas lagi.


Tiba-tiba datang seorang perempuan, Ina refleks berdiri lalu menunduk dihadapannya. "Ada yang bisa dibantu Nona?"


"Duduklah!" Azel mempersilahkan untuk duduk, sementara ia sudah duduk di samping kursi yang diduduki oleh Ina tadi.


"Bagaimana dengan adikku? Kau pasti terheran bukan?" ucap Azel tersenyum tulus. Ina membalasnya hanya dengan senyum yang terlihat sangat canggung.


"Apa kau sudah mendapat penjelasan dari Bik Inah tentangnya?" tanya Azel.


"Sudah Nona."


"Ya, aku sangat berharap kau orang yang bertahan lama mengurusnya. Adikku sangat keras kepala, semua kejadian yang dialami seakan membuatnya tak mau hidup normal lagi. Aku menyewakannya seorang pengasuh bukan karena aku tidak ingin mengurusnya, tapi aku sangat sulit untuk membagi waktu," tutur Azel.


Ina pun masih menyimak.

__ADS_1


"Aku mempunyai anak, dan pekerjaannya dulu kini aku yang menggantikan. Aku sibuk di kantor bersama Daddyku, sedangkan dia hanya ingin aku yang mengurusnya. Bisa kau gantikan posisiku? Mungkin akan terasa sulit, tapi entah kenapa aku merasa kau memiliki rasa sabar yang tinggi."


"Saya akan usahakan Nona. Kata Nenek, Tuan Azriel itu sebenarnya mempunyai hati yang lembut, tapi karena keadaan yang membuatnya berubah. Selain bekerja, saya juga ingin membantunya untuk bangkit lagi," balas Ina.


Azel tersenyum simpul, lalu membatin, 'Benar kata Mommy, sepertinya gadis ini sangat tepat.'


"Jika kau tahu, adikku itu sangat pintar. Dia mempunyai macam cara untuk menyingkirkan orang yang tak disukainya. Aku dengar kata Mommy, kau sempat disakiti oleh adikku?"


"Sudah hal yang wajar, bagi saya itu pantas karena Tuan Azriel tidak terbiasa dengan orang baru."


Azel mengusap helai rambut Ina, lalu ia berkata, "Kau gadis yang baik, aku percaya padamu."


'Ternyata sikap baik Nona Azel sangat menurun kepada anaknya, pantas saja Abel sangat sopan, dia mempunyai ibu yang sangat baik dan cantik. Pasti kelembutannya membuat orang selalu nyaman,' batin Ina.


***


Kali ini Ina langsung sigap saat remote desktop berbunyi. Ia menghampiri kamar Azriel. Bisa ditebak, jika Azriel sangat kesusahan ingin naik ke ranjangnya.


"Bantu aku!"


Dengan cekatan yang bagus, Ina membantu Azriel untuk beranjak dari kursi rodanya. Kali ini Azriel tidak marah saat Ina menyentuhnya.


Saat sudah berada di atas kasur, Ina juga membantunya untuk berselimut. Di kala ia sedang menyelimuti, Azriel tiba-tiba membuka baju dan celana boxernya. Refleks gadis itu membuang pandangannya ke arah lain.


'Biasanya wanita itu cepat risih,' batin Azriel menyeringai.


Azriel menyerahkan bajunya kepada Ina, lalu ia menenggelamkan badannya dalam selimut. "Aku mau kau sendiri yang mencuci bajuku, tanpa mesin! Karena aku tidak mau baju baruku rusak dan tidak bersih!" serunya.


"Baik Tuan. Tunggu sebentar, saya akan membuatkan susu!" Ina berjalan cepat menuju dapur, kemudian beberapa saat ia membuatkan susu gadis itu kembali ke kamarnya.


"Minumlah, jika habis saya akan keluar!"


'Heh, berucap seperti kakakku!' batin Azriel meremeh.


Azriel menerimanya, ia benar-benar menghabiskan susu itu. Memang kebiasaannya, sebelum pria itu tidur harus menenggak susu terlebih dahulu.


"Kau bisa keluar!"


"Baik, jika ingin sesuatu segera meminta bantuan. 24 jam saya siap melayani Tuan!"


"Hmm."

__ADS_1


Ina pun keluar dari kamarnya, hati Azriel kembali berbicara, 'Sepertinya untuk kali ini sulit, gadis itu sangat gigih sehingga aku sulit membuatnya tidak betah.'


"Karena dia, Kakak dan Bik Inah jarang masuk kamarku lagi!" gerutunya.


Krekekkk ...


Tiba-tiba terdengar seseorang membuka pintu, ternyata itu sang kakak yang datang.


"Belum tidur?"


Azriel langsung menenggelamkan seluruh tubuhnya dengan selimut. Jujur dia sangat kecewa dengan tindakan keluarganya yang mencarikan seorang pengurus untuknya, dan itu sebab sang kakak.


"Kakak tahu kau sedang memikirkan cara untuk mengusirnya 'kan? Jika bukan karena dia cucunya Bik Inah, kau pasti sudah memecatnya bukan?" Azel menggoda adiknya, ia tahu bahwa Azriel sedang marah dengannya.


"Aku mengantuk, jangan ganggu waktu tidurku!"


"Azriel, semuanya ingin selalu yang terbaik untukmu. Kakak sangat berharap kau bisa menerimanya. Anggap saja dia seperti kakak dan Abel. Sekarang jangan menunggu untuk kakak datang setiap saat ke kamarmu, begitupun dengan yang lainnya. Kita semua memiliki kesibukan masing-masing, kau juga sudah mempunyai pengasuh sendiri. Mau tidak mau, kau hanya bisa meminta bantuan kepadanya."


Azriel terdiam, dia mendengar ucapan kakaknya tapi matanya berusaha untuk ia pejamkan. "Terima dia dengan baik. Tidur yang nyenyak. Selamat malam!" Azel berbisik, kemudian gadis itu memberikan kecupan di pelipis samping kepala adiknya.


Setelahnya pun Azel keluar.


'Aku tidak terbiasa dengan orang asing. Aku sangat membenci pendatang baru!'


Malam larut.


"Hufffhhh ...." Mendengar suara di remote itu, tiba-tiba Ina terlonjak.


Ternyata ucapannya tadi malam benar dianggap serius. Azriel menghubungi remote itu untuk meminta bantuannya, dan saat ini sudah pukul dini hari. Ina yang menganggap bahwa Azriel sangat membutuhkannya, gadis itu langsung segar dan berlari menuju kamar Tuannya.


"Apa yang bisa saya bantu Tuan?"


"Ambilkan remote AC di sana, aku sangat gerah!" Azriel mencoba menggapai sebuah benda kecil yang jauh di atas nakas jauh di sana.


"Ini Tuan!"


"Bisa kau buatkan makanan untukku? Jam segini memang biasanya aku lapar,"  pinta Azriel.


Dengan patuh, Ina mengiyakannya. Gadis itu berlari ke dapur, lalu membuat makanan.


"Hoampphh ... astaga aku ngantuk!"

__ADS_1


Berkali-kali gadis itu menguap, tetapi ia kembali lagi dengan semangat. "Oke semangat Ina. Kamu lawan rasa kantuk. Aku akan minum kopi untuk bergadang malam ini."


Bersambung ....


__ADS_2