Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S3. Pertunangan


__ADS_3

Pagi tiba.


Azel terbangun lebih lambat dari anaknya. Perempuan itu seperti tidak merasa hal pentingnya hari ini.


“Mami ... Mami ini ‘kan hari spesial Mami, kenapa bangunnya telat ...? Nggak biasa banget. Tumben tau gak!” Abel mengorak-orak maminya yang tampak tak mau beranjak dari kasurnya.


“Memang ada apa sih?” Tanpa membuka mata, perempuan itu seolah dihanyutkan oleh nyenyaknya keempukan kasur.


“Astaga Mami! Serius lupa?”


Seketika Azel terbangun, ia berdiri tegak dan terburu-buru mencari handuk. “Kenapa kau tidak bangunkan mami dari tadi? Mami jadi telat ke kantor. Hari ini ada pertemuan penting!”


Abel menganga. Ternyata jika diukur, kebodohan ia dan maminya lebih parah dia. Melupakan secepat itu, tapi saat mengingat butuh waktu yang tujuh kali tanjakan lima kali belokan. Ya, LEMOT!


Karena merasa capek dengan tingkah maminya, Abel pun seperti merengek, “Aaa ... Mami ini bodoh sekali. Tidak ingatkah hari ini pertunangan Mami?”


Azel terduduk lemas, seketika handuk kimono yang sudah sempat ia jambet tadi langsung jatuh terbengkalai.


“Astaga ... Mami lupa Sayang .... Ternyata benar hari ini ya?”


“Ternyete bener hare ini yeeee mememe ....” Abel meledek. Berucap dengan memblehkan bibirnya seperti mengejeknya. Seolah puncak kejengahannya sudah paling tinggi.


Azel pun memanyunkan bibirnya penuh kekesalan, heran dengan sikap menyebalkan anaknya. ‘Anakku memang tidak jauh dari sifat ayahnya,' rutuk batinnya.


‘Astaga lagi-lagi dia!’


***


Azel menatap dirinya di depan cermin, ia menatap dengan senyum. Siapapun yang melihat senyuman itu pasti mengartikan kebahagiaan, tapi siapa sangka banyak ketidaksiapan di hatinya hanya saja perempuan itu tak menunjukkannya.


‘Mau bagaimana pun aku harus siap!’ tekan batinnya.


Kemudian perempuan itu pun keluar dengan mengangkat gaun super glamornya untuk menghadap di depan orang banyak di luar.


Kini pesta pertunangan di gelar mewah, perpaduan keluarga kalangan atas dengan orang berderajat tinggi. Para pejabat dan investor perusahaan yang pernah bekerjasama tampak hadir berdatangan, ya mereka diundang secara menyeluruh.


Sampai hadir di tengah-tengah dua pasang insan itu satu keluarga yang bergelar Luis. Ya, termasuk sebuah perusahaan yang bisa dibilang paling unggul. Siapa lagi jika bukan Aghafa Luis, sang CEO-Nya.

__ADS_1


‘Dia begitu cantik, sayang bergandengannya bukan denganku,' batin Agha di kala matanya menatap perih dua pasang manusia yang ingin bertukar cincin di sana.


“Nona Azel begitu cantik bukan? Sayang ya, bukan kau yang di sana,” ucap Elena.


‘Astaga sekarang Elena seperti cenayang, dia seperti bisa membaca pikiranku. Baru saja aku berucap, sudah diulang dengannya,' batin Agha merasa jengah.


“Hmm ....”


“Agha kau lihat mereka sudah terikat cincin. Mau aku kasih saran tidak?”


Elena mendekati telinga pria itu. Sementara tangan mereka masing-masing memegang cordial glass berisikan minuman berwarna keunguan. Tangan satu Agha terselip di kantung celana, lantas tatapannya tetap sama. Ya, hanya tertuju ke depan lalu terlihat mendatar.


Elena yang ingin berbisik langsung mencodongkan mulutnya, lalu berbisik, “Ini baru pertunangan Agha. Selagi belum ada ikatan perkawinan, kau masih bisa mendapatkannya. Kejarlah, sebelum kau menyesal duluan.”


Agha sangat mengerti, jika Elena ini sedang memancing gelora semangatnya untuk keluar kembali agar mau berjuang mendapatkan wanita yang sedang bersanding dengan pria di sana.


“Cukup Elena, jangan memancingku. Jika aku memilihmu itu berarti kau pilihanku. Berjuang akan membuang waktu, yang pada akhirnya aku tidak mendapatkan apa-apa!” balas Agha.


Adegan bisik-berbisik itu ternyata disaksikan oleh Azel. Perempuan itu salah fokus, matanya terus melirik ke arah dua sejoli yang sedang berbisik mesra menurutnya. Sedangkan, jari manisnya yang sudah disematkan cincin berlian berwarna putih itu, baru ia sadari jika sudah benda itu telah masuk di jarinya.


‘Agha, ada dia. Ternyata Azel tidak fokus karena dia ada di sana,' batin Xander yang menyadari ketidakfokusan tunangannya itu.


“Azel berganti, pasangkan aku juga!” pinta Xander pelan. Namun, tak membuat wanitanya itu sadar justru tatapannya terlihat semakin sinis ke arah mereka.


“Azel!” panggilnya sedikit tegas.


“Ah iya Mas!”


Azel tersentak kecil, lalu dengan lembut ia juga menyempatkan cincin yang sama di salah satu jari Xander.


“Kau resmi menjadi tunanganku!” ucap Xander tersenyum saat cincin itu terpasang sempurna.


Seketika sorak-sorai mulai terdengar, tepuk tangan bergemuruh, hingga siulan sudah terdengar bersahut-sahutan. Seakan mereka yang menyaksikan, tampak ikut bahagia.


Namun tidak dengan pria ini. Agha masih terlihat tidak rela, sedang Elena selalu tahu itu. ‘Lelaki munafik!’ sungut batinnya.


Abel sedang melangkah, menghampiri sang ayah dengan penuh riang.

__ADS_1


“Ayah lihat Mami, dia begitu cantik bukan?” ujar Abel saat sudah berada di pelukan ayahnya.


“Iya, Sayang persis sekali sepertimu,” balas Agha dengan menoel hidungnya.


“Kau tidak mengatakan aku juga cantik? Heyy gadis ghemoy, aku akan menjadi mami keduamu nanti,” sahut Elena.


“Hay Tante cantik ... tapi .....” Mendengar kata ‘tapi’ sekedar memudarkan senyum cerah Elena.


‘Aku tahu apa setelah ini,' batinnya.


“Tapi cantikan akulah wlee ... Tante cantiknya kalau dilihat dari ujung menara Eiffel pake sedotan ... HAHA!”


‘Tuh ‘kan!’


Benar-benar terlihat full raut wajah teduh Elena. Agha yang merasa itu leluconan, tampak menahan tawa.


“Anakmu tak jauh berbeda dengan kau. Sama-sama menyebalkan!” cetus Elena.


“Siapa dulu ayahnya!” ucap Agha bangga, lalu ia terkekeh.


“Tante cantik kok, tapi tidak cocok dengan ayahku. Tante lebih cocok dengan Om Gafin!”


Gafin yang memang ikut menghadiri, tiba-tiba tersedak di meja bangku sana. Merasa namanya disebut, pria itu menatap bertanya.


Namun Abel dan Agha justru tertawa geli. “Astaga tidak mungkin aku cocok dengan musuhku. Dia akan menjadi calon babuku juga nanti!” ketus Elena.


“Sayang ... Tante Elen ini akan benar-benar menjadi mamimu nanti. Ayah harap ada persetujuan darimu, jika ayah dan Tante Elen juga akan menyusul mamimu nanti,” ujar Agha.


“Ah ya, dengarkan itu gadis nakal!” timpal Elena.


Seketika Abel menatap ayahnya dengan intens. Namun, tiba-tiba datang dua pasang yang baru saja mengikat hubungan suci tahap pertama tadi. Ucapan Agha ternyata dapat didengar oleh Azel barusan.


“Daritadi aku salah fokus dengan meja bagian ini. Tampaknya begitu ramai, ada keseruan apa sih? Sampai kalian lupa memberiku ucapan selamat!” sahut Xander.


Agha menjabat tangannya sembari memeluk bertemu punggung ke punggung, lalu ia berkata, “Aku tidak akan pernah lupa untuk itu! Selamat brother, akhirnya statusmu akan berubah!” ucap Agha.


“Terima kasih kawan. Aku ingin menyusul kau yang sudah berstatus ayah. Aku akan ambil perhatian anakmu nanti, tapi entah mengambil hati ibunya kembali bisa lagi atau tidak. Tampaknya ada sedikit kepudaran,” balas Xander.

__ADS_1


‘Apa sih maksud Xander, dia akhir-akhir ini tampak aneh,' ucap hati Azel.


__ADS_2