Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S2. Berita Hamil dan Pulang Kampung


__ADS_3

1 Bulan kemudian.


Saat Ini Ina sedang mabuk. Ya, bukan mabuk alkohol tetapi mabuk muntah-muntah. Shireen yang mengetahui jika menantunya itu sedang mengalami morning sickness, selalu siap siaga.


Begitu pun dengan Azriel, pria itu menjadi sangat posesif. Karena istrinya itu tengah hamil muda, ia menjadi suami 24 jam untuk Ina.


Pasalnya, hanya karena Ina mual-muntah ia jadi tidak perduli dengan kantor. Alhasil, sang kakak pun yang menangani.


"Hueek, hueek! Ueee ...."


Ina susah payah mengeluarkan isi di dalam perutnya. Namun, yang keluar lagi-lagi hanya air. Perempuan itu terlihat lemas. Pengalaman hamil di trimester pertama ini membuatnya mudah lelah, hanya karena bolak-balik ke kamar mandi saja.


"Tidak apa-apa, ini biasa dialami ibu hamil. Terlebih, di kehamilan pertama. Nanti saya kasih resep obat pereda mual," ucap dokter setelah memeriksa Ina.


"Mau sampai kapan istriku akan tersiksa seperti ini?" ucap Azriel geram.


"Mas ...." peringat Ina akan suaminya.


Shireen yang melihat anaknya mulai mengeluarkan sifat aslinya, ia bernasehat, "Sayang ... kamu itu terlalu paranoid. Ini wajar!"


"Mungkin selama dua bulan ke depan. Mual-muntah ini akan hilang sendiri, tergantung hormon si ibu hamil."


"Baik Dok terima kasih."


"Ya, saya permisi. Minggu esok saya akan kembali ke sini untuk memeriksa Nona Ina."


***


Di dalam kantor, Azel kembali disibukkan dengan berkas-berkas. Setelah cukup lama tidak berkutik di dunia bisnis, ia juga merasa rindu. Dengan anaknya pun tidak ada kekhawatiran, sebab jika sudah bersama Ina, Abel akan aman baginya.


Sementara saat ini seorang pria menepakkan kakinya di sebuah perusahaan. Berjalan gagah dengan langakahnya yang panjang. Terlihat sorotan matanya bak elang yang kejam.


'Kenapa bisa kebetulan seperti ini? Aku ingin mengunjungi adiknya, tetapi justru kakaknya yang ada. Tidak perlu aku repot mencarinya lagi,' batin Aghafa.


Ya, kedatangan Aghafa ini sangat nekat, walaupun sang ayah melarang keras dan beberapa hari lalu Azriel juga memberikan ancaman.


'Jangan pernah mencari keberadaan kakakku, apalagi menginjakkan kaki di perusahaan hanya sekedar sepikmu untuk mencarinya!'


Ternyata keinginan Agha untuk mendapatkan cinta dari Azel tidak goyah. Ia berjuang dengan tekadnya untuk mendekati Azriel. Namun, dunia seolah mempermudah. Kini justru, Azel yang disuguhkan untuknya.


"Selamat Siang Nona!"


Sontak Azel terperanjat, ia menoleh dengan mata yang membola. "Agha!"


"Sudah lama kita tidak berjumpa."


"Apa maksud kedatanganmu ke sini? Bagaimana jika adikku tahu?"


Tanpa diperintah Aghafa sudah lebih dulu menduduki sofa dengan santai, bahkan pria itu duduk dengan kaki yang terlipat.


"Justru aku ingin menjumpai adikmu, tapi aku beruntung karena kau yang ada di sini, jadi aku tidak perlu beradu argument untuk mencaritahu tentangmu!"


Azel berjalan menghampiri, ia menatap nanar pria itu. "Agha maksudmu apa? Aku tidak ingin mencari masalah dengan adikku, jadi aku mohon pergilah!"


"Aku mencarimu untuk mengetahui di mana anakmu!"


Deg!


Seperti sebuah lemparan batu, sungguh menyesakkan dada. Kala itu, Azel pun tak bisa menahan tangisannya.


"Untuk apa?"


"Aku ingin menemui anak kita!"


***


Di dalam kamar.


Azriel seperti perangko, dirinya tak mau sama sekali beranjak dari pelukan istrinya. Saat jatuh cinta, terlebih sudah sangat menyayangi. Pria ataupun wanita akan seperti orang aneh, bahkan terbilang crazy bukan?


Yang mampu Ina lakukan hanya menghela napas sabar. Menghadapi suami posesifnya ini, memang membutuhkan pasokan oksigen.


"Mas, kamu tidak kasihan dengan Kak Azel? Dia ngurus kantor sendiri lho!"


"Kau selalu ingin aku bekerja, padahal aku ingin memberikanmu perhatian penuh!" cetus Azriel.


'Perhatian apa? Yang kudapat, hanya sikap manjamu!' batinnya.


"Mas, aku ingin pulang ke desa. Aku rindu dengan nenek, ibu dan ayah," ucapnya.


"Kenapa tidak mereka saja yang ke sini Sayang? Nanti biar aku jemput!"


"Aku rindu kampung juga, Mas ...."


Azriel tampak berpikir, sementara ingin memohon. Azriel paham apa permintaan istrinya itu. "Aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendiri, terlebih kau sedang hamil," balas Azriel.


"Kenapa Mas tidak ikut saja?" tanya Ina.


Lagi-lagi Azriel tampak berpikir. "Sayang ... kondisimu saat ini, sangat rentan. Kau hamil di usia yang masih terbilang remaja, aku tidak mau mau dan anak kita kenapa-kenapa nantinya," ujar Azriel berasalan.


"Ini baru awal kehamilan Mas, tidak masalah. Ayolah, ini permintaan anakmu lho, kalau tidak dituruti mau anaknya ngeces?"


"Apa permintaan ini termasuk ngidam?" tanya Samuel polos.


Ina tersenyum menatap ke bawah, yang di mana sang suami sedang tiduran di atas pangkuannya. Mendusel-dusel perut, hingga terasa geli karena kumis-kumis tipis menusuk sampai menembus perutnya.


"Ya, ngidam itu bukan semua tentang makanan Mas, tapi banyak ragamnya yang intinya dari keinginan," jawab Ina dengan asal.


"Hmm, kapan kita berangkat?"


'Haha pria ini ternyata bisa polos juga. Mungkin saja dia tidak mau anaknya ngeces,' batin Ina.


"Aku mau berangkat besok ya Mas!"


"Baiklah ...."


Cup.


Ina mengecup bibir suaminya, tanda terima kasih. Lantas Azriel pun meminta lebih, dan sudah tahu pasti apa yang terjadi selanjutnya.


Keesokan paginya.


"Ibu Ayah, aku izin pulang ke kampung. Mungkin beberapa hari aku menginap di sana," pamit Ina.

__ADS_1


"Ya, titip salamku pada ibu, ayah dan nenekmu ya!" balas Samuel.


"Baik, Ayah."


"Jangan lupa selalu siap siaga untuk istrimu ya Sayang ...." peringat Shireen.


"Ya, Mom tenang saja!"


Setelahnya pun mereka segera bergegas menuju tujuan mereka. Sehabis kepergian mereka, tiba-tiba Abel datang dengan Iren.


"Omah, Akek Om ana?" tanya gadis polos itu.


"Om pergi Sayang, nanti juga kembali lagi." Wanita itu langsung mendudukkan cucunya di pangkuan.


"Pergi ke mana Mom?" tanya Iren.


"Ke desa kak Ina," jawab Shireen.


Tiba-tiba Iren berdecak kesal. "Kenapa gak ajak Iren?"


"Tidak penting!" sahut sang Daddy, tetapi pria itu tetap terlihat fokus dengan ponselnya.


"Daddy jahat. Pokoknya nanti malam Iren mau tidur sama Mommy, biar Daddy gak bisa iya-iya dengan Mommy!" Gadis itu pun pergi.


Samuel yang mendapat ucapan itu mulai ketar-ketir. "Aryan apa kau yang mengajari adikmu seperti itu?" sarkasnya menegur.


"Kok aku? Memang anak Daddy semua 'kan keturunan Daddy yang miring!"


"Astaga anak-anakku sialan sekali!"


"Sudahlah ... semuanya memang kenyataan!" sahut Shireen.


***


Setelah menempuh perjalanan yang cukup menguras energi, kini mereka telah tiba di sebuah desa.


"Udara di sini sangat segar," ucap Azriel sembari ia hirup udara di kampung ini.


"Ya, walaupun penduduk di sini tidak seramai di kota, tapi dengan begitu lingkungan jadi tetap bersih, walaupun namanya kampung," balas Ina.


Mereka ingin turun dari mobil, terlihat sebuah rumah minimalis yang elegan dan terlihat sangat tradisional. Ya, sebuah rumah kayu jati yang besarnya cukup luas.


Terlihat pohon-pohon rindang mengelilinginya, begitu juga dengan bunga-bunga segar yang merata di setiap sudut.


"Astaga, bunga-bunga itu sangat cantik Sayang."


Mata Azriel berbinar, ia suka sekali melihat pohon hias dan bunga-bunga cantik di sana.


"Itu tanaman sepupuku!"


"Hebat bisa terawat seperti itu, aku ingin belajar dengannya!"


"Memang masih sempat mengurus tanaman? Sedangkan keseharianmu saja di kantor, jika libur pun kamu adanya di paha aku!" cetus Ina.


"Selalu menyepelekanku!"


"KAKAK INA!"


Ina berlari menghampiri seorang perempuan tanggungan yang berusia 14 tahun. Dia adalah keponakan Ina.


"Kenapa tidak beri kabar kalau ingin pulang?" tanya Tia.


"Kakak ingin beri kejutan saja dengan orang rumah. Oh ya, Tia ini suami kakak!"


"Astaga, tampan sekali!" decak bocah itu.


Azriel menyapanya, "Hai!"


"Hallo Kak, aku Tia!"


"Ya, aku suami kakakmu yang cantik itu. Hmm, apa kau yang menanam semua ini?" tanya Azriel.


"Ya, hehe!"


"Hebat sekali. Kebetulan aku sangat menyukai bunga, nanti aku minta rahasia untuk merawat bunga ya!" Tia si gadis manis, langsung mengacungkan jempolnya.


"Mas, ayo kita temui nenek!"


Azriel dituntun untuk masuk. Sebelum itu ia cukup kagum, karena rumah yang terkesan antik ini ternyata memiliki nuansa yang khas. Walaupun saat masuk ia hampir mentok dengan ujung pintu, tetapi ia akui rumah ini cukup unik dan terlihat sangat rapi. Bahkan, ia sudah sangat nyaman.


"Kenapa aku lebih simpulkan jika rumahmu ini seperti vila, bukan perumahan di desa!"


"Ini desain kakekku, sebelum ia meninggal. Sangat klasik bukan?"


"Ya, aku nyaman!"


"Sayang, cucuku!"


"Nenek!" Ina memeluk sang nenek yang sudah cukup lama ia terpisah.


"Bagaimana kabarmu Sayang?" tanya Inah.


Namun belum sempat Ina menjawab, tiba-tiba sang ayah dan ibunya ikut kaget melihat kepulangan putrinya itu.


"Ina!"


"Ayah, Ibu!"


Ina beranjak memeluk mereka. Azriel pun sigap menyalimi tangan mereka masing-masing.


"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya sang ayah.


"Ina sangat baik Yah, dan tentu saja Ina bawa kasih kabar bahagia. Jika saat ini Ina sedang hamil!"


"Astaga cucu nenek sudah ingin menjadi ibu!"


"Syukurlah ...." ucap mereka bersamaan. Tampak sekali wajah bahagia mereka.


Sebelumnya, keluarga Ina sudah diberitahu dengan drama konyol yang Azriel buat. Mereka tidak mempermasalahkan, toh ya anaknya juga sudah terlanjur menikah. Bagi mereka mendengar kebahagiaan Ina, sudah sangat senang dan merasa putrinya sudah jatuh ke tangan pria yang baik.


Kini kabar gembira kembali dihadiahi oleh mereka, dengan kepulangan ini.


"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Inah.

__ADS_1


"Aku baik, sangat baik!"


Inah tersenyum dengan anak yang sudah diangkatnya sebagai putra sendiri itu. "Akhirnya, aku mempunyai cicit dari seorang putra yang dulu aku rawat dan kutimang-timang."


"Kau sudah menjadi ibu sekaligus nenekku. Terima kasih. Datanglah kembali ke rumah, Mommy dengan Daddy sangat merindukan sosokmu."


"Jika cicitku lahir akulah yang pertama datang ke sana," ucapnya tersenyum.


Azriel pun terkekeh.


***


Sementara di sisi lain.


Seorang pria sedang mengekor di belakang Azel. Pria itu seperti penguntil. Azel menyadari, tetapi ia berusaha untuk tetap menahan emosi.


"Aku bisa teriak penjahat, jika kau masih mengikutiku!"


"Silahkan, bahkan jika aku dipukuli pasti kau juga orang pertama yang cemas!"


Azel baru menyadari, bahwa pria yang terlihat sangat mirip dengan ayah dari anaknya itu, sangat menyebalkan.


Indentitas yang sebenarnya, Azel memang tidak mengetahui siapa sosok Aghafa. Karena, sang adik sangat melarang untuknya berhubungan lagi dengan pria itu.


"Aku bisa adukan dengan adikku, dulunya dia seorang pembunuh berdarah dingin!"


"Justru aku ingin menemui adikmu. Aku sangat ingin menikmati kopi hangat dengannya berdua." Lagi-lagi Agha membalasnya dengan sangat santai.


Azel menghentikan langkahnya, lalu ia berbalik saat itu juga ia menatap wajah Aghafa yang tampak konyol.


"Maumu apa?!"


"Ingin menjadi suamimu!"


Bughh!


Dengan kasar Azel melempar tasnya ke perut sixpack pria itu.


"Berhenti mengikuti, jika tidak aku benar-benar menelpon adikku!"


Ancaman itu seperti sebuah gelitikkan untuk Aghafa. "Nona manis, kau ini seorang kakak mana pantas mengadu dengan adik? Lagipula aku dan adikmu sama-sama manusia, jadi buat apa aku takut dengannya?" Pria itu seolah meledek.


"Menyebalkan!"


Azriel berbalik melangkah. Namun ia tidak menyadari di depannya ada sebuah batu semen yang bertengger. Alhasil ia terpeladuk, dan ingin jatuh.


"Hap, untung saja!"


Aghafa sigap menangkap perutnya, hingga pria itu memeluk pinggang Azel dari belakang.


***


"Sejak kapan kau pandai menanam bunga seperti ini?" tanya Azriel di kala ia mengamati Tia yang sedang mengajarinya menanam bunga.


"Sejak kecil Kak, dulu ibu dan ayahku selalu mengajarkanku bercocok tanam agar menjadi wanita kreatif," ucap Tia.


"Kreatif?"


"Ya, karena setelah bunga ini tumbuh mekar dan panen, aku akan mengolahnya menjadi sebuah kerajinan tangan. Lumayan, bisa aku jual untuk jajan sekolahku."


"Hebat, mana ibu dan ayah yang selalu mengajarkanmu?"


Tiba-tiba senyuman Tia melebar. Matanya tersirat pancaran cahaya dengan genangan sedikit air di matanya. Wajahnya yang nanar tersirat kesedihan. "Ibu aku sudah tiada, dan ayahku ... Entahlah, sampai saat ini aku tidak tahu sosoknya bagaimana, karena dia meninggalkanku sejak dalam kandungan. Nenek bilang, ayah pergi jauh ke luar negeri."


"Apa alasan ayahmu pergi?"


"Kata nenek, karena dia tidak mau tanggung jawab."


"Apa kau tahu, nasibmu sangat sama denganku, bedanya aku masih mempunyai ayah yang baik."


"Beruntung, tapi aku juga tidak pernah merasa sedih. Ada bibi dan paman yang selalu ada buat aku. Sedari kecil aku dirawat oleh mereka," ucap Tia menghilangkan sedihnya.


"Ya kau anak yang tangguh. Jika aku lihat, kau itu sangat mirip dengan istriku padahal kalian hanya sepupuan. Bahkan sebelumnya aku mengira kau itu adik kandungnya."


"Entahlah, banyak orang juga berkata seperti itu. Padahal, kak Ina itu anak terakhir."


"Hmm, apa aku boleh tahu tentang Ina?"


Tiba-tiba Tia tersenyum dengan menunjukkan gigi gingsulnya. "Sangat lucu dengan kisah hidup kak Ina."


"Kenapa?"


"Dia selalu takut dengan juragan tampan."


"Juragan? Apa itu?"


"Ya, juragan itu orang yang memiliki sawah banyak dengan berhektar-hektar di sini. Bisa disebut juragan padi. Orang terkaya di kampung. Anaknya pak Darto seorang pria tampan tapi lebih tampan kakak. Dia yang menyukai kak Ina!" Mendengar cerita itu, Azriel tertarik untuk mengorek tentang kisah hidup istrinya selama di kampung.


"Lalu?"


"Dia sangat menyukai kak Ina, tetapi kak Ina sama sekali tidak menyukainya. Bahkan dia pernah datang untuk melamar, tapi secara tidak langsung kak Ina menolaknya."


"Ancaman?"


"Karena paman dan bibi petani yang mengurus di sawahnya, dia mengancam untuk memberhentikan mereka untuk kuli di sawahnya. Bibi pun terpaksa untuk memaksa kak Ina, tapi untungnya kak Ina langsung dipanggil ke kota oleh nenek, jadi dia bisa mengelak lamaran itu deh. Bukan hanya dia, di sini banyak sekali yang merayu-rayu bibi agar mendapat restu untuk mengencani kak Ina."


'Ternyata istriku seorang bunga desa,' batin Azriel.


"Mas ...."


Tiba-tiba Ina datang dengan membawakan makanan di sebuah nampan. "Berhenti dulu, sini makan kue!"


"Wahh buatan Kak Ina!"


"Iya, kamu pasti rindukkan?"


Mereka segera membersihkan tangan, untuk ikut bergabung dengan Ina di atas bangku lebar.


"Rindu banget! Hmm, Kak Ina ajak Kak Azriel jalan-jalan dong, biar dia tahu kampung kita!"


Bersambung ....


MAAF GAK SEMPET UPDATE TADI, JADI DOUBLE BAB DENG.

__ADS_1


__ADS_2