Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S2. Cintai Adikku Juga Ya!


__ADS_3

Ina yang mendapat panggilan dari suaminya seperti melihat pembunuh di ponsel. Ya, hanya mengangkat telepon ia merasa ketar-ketir.


"Oke Ina tenangkan dirimu, ini hanya telepon! Astaga lebay sekali aku."


Semaksimal mungkin ia menetralkan jantungnya, berusaha menghilangkan detak jantung dan napasnya yang tersengal-sengal. 'Padahal aku berdekatan dengannya berhari-hari saja tidak separno ini, dan ini hanya telepon. Apa aku mulai ... ah tidak mungkin!'


Karena terlalu lama berpikir, panggilan di ponselnya itu tiba-tiba hilang. "Yahhhh mati!"


'Hah kenapa aku sedih?'


Drttt ... drrrrttt ....


Terdengar kembali, dan kali ini ia sangat respek mengangkatnya.


'Apa kau sedang bersama pria lain? Mengangkat telepon saja kau begitu lama!'


Mendengar ocehan yang terdengar keras itu, refleks Ina menjauhi ponselnya dari telinga.


"Maaf ak--"


"Eughh Ante ...." Tiba-tiba Abel menggeliat dengan meracau.


"Susssttt ... tidur lagi ya Sayang ...." Abel pun terpejam kembali. Ternyata gadis kecil itu hanya mengigau.


'Apa Abel bersamamu?'


"Ya, aku bersama Abel."


'Aku akan alihkan ke panggilan video. Aku ingin melihat keponakanku!'


"Ehh tap--"


Saat Azriel mengalihkan panggilannya, tanpa sengaja ia langsung menerima dan itu seperti bencana untuknya. Pasalnya gadis itu hanya mengenakan kaus cangklik. Sesegera mungkin ia alihkan ke wajah Abel.


'Bodohnya aku ....' rutuknya dalam hati.


Naas sekali, Azriel sudah dapat menyaksikan bagian dadanya. Kini ia bisa melihat wajah sumringah Azriel saat melihat keponakannya sedang tidur.


'Astaga aku sangat rindu dengan gadis kecilku.'


"Kapan kamu akan pulang?"


'Astaga mulut sialan, bodoh sekali mengucapkan kata itu. Jika aku langsung mematikan panggilan ini, konsekuensinya akan aku terima di kala ia pulang esok.' Lagi-lagi Ina merutuki dirinya, sebab pertanyaan bodoh yang ia lontarkan.


'Hahaha rupanya kau merindukanku ya?'


Ina mengigitnya bibirnya dalam-dalam. "Aku hanya menanyakan kapan kamu pulang, bukan berarti aku merindukanmu. Abel yang sangat mengharapkanmu cepat pulang, dia selalu menangis menanyakanmu!"


'Aku tahu kau pun mengharapkan juga 'kan? Sekarang alihkan ke wajahmu!'


"Tidak mau!"

__ADS_1


'Sebentar saja, aku sudah melihatnya tadi. Tidak perlu malu, lagipun malam itu semua yang kau tutupi aku sudah tahu!'


Tut ...


Dengan kesal Ina memutuskan sambungan itu secara sepihak. Ia meleparkan ponselnya ke sembarang tempat. Ia tahu, suaminya itu pasti sedang menggerutunya di sebrang sana.


"Menyebalkan."


Gadis itu pun memilih untuk tidur bersama dengan Abel. Memikirkan kekonyolan suaminya, membuatnya tak berselera dengan segala hal.


Saat melirik Abel yang sangat tenang saat tertidur, Ina lagi-lagi gemas dengannya karena pipi gembul gadis kecil itu. "Kenapa kau sangat cantik? Aku ingin mempunyai anak seperti gadis kecil ini," gumamnya asik memainkan pipinya.


'Apa anak? Tidak, kenapa pikiranku seketika tertuju ke sana.'


Ya, Ina sedang membayangkan jika mempunyai anak yang menggemaskan seperti Abel. Namun, ia langsung tertuju kepada suaminya. Apakah ia akan memberikan seluruh tubuhnya untuk suaminya? Sementara gadis itu belum bisa menerima pernikahan ini.


'Sebenarnya aku masih bingung dengan pernikahan ini. Jujur, aku belum bisa menerima takdir, tetapi bagaimana aku memulai semuanya? Sedangkan, hatiku saja belum bisa mencintainya. Aku memaafkannya, tetapi bukan berarti aku bisa memberikannya cinta,' tutur batinnya.


"Arggh ... sudahlah Ina jangan memikirkan anak dulu. Ingat, pernikahan asing ini hanya ketidaksengajaan bagimu!"


Tiba-tiba pintu terbuka, memperlihatkan sosok Azel yang baru saja masuk. Ina terkejut, ya karena mereka tidak percaya diri dengan penampilannya ini, sementara tangannya masih repot memangku Abel.


"Hmm, Nona Azel."


"Santai saja, aku hanya mencari anakku ternyata dia di sini!" ucap Azel.


"Duduklah Nona. Setelah bermain tadi Abel tertidur," ucapnya.


Ina hanya membalasnya dengan senyuman canggung. Ia merasa risih dengan kondisi tubuhnya sendiri.


"Jangan memanggilku seperti itu lagi. Sekarang aku kakakmu jadi panggillah aku dengan sebutan itu," imbuh Azel.


"Baik Kak."


Azel melirik anaknya, ternyata putrinya itu tampak nyaman sekali tertidur di dalam dekapan Ina. Azel tersenyum. "Sepertinya anakku sudah sangat nyaman denganmu. Bisa kau menjaganya dulu? Aku akan keluar sebentar," titip Azel.


"Tentu saja, biarkan dia bersamaku Kak," balas Ina.


"Terima kasih. Hmm, apa kau sudah menghubungi suamimu?"


"Baru saja dia menelponku."


"Apa yang dia katakan?"


"Hmm, hanya merindukan Abel."


"Ah, baiklah. Kukira dia akan bilang merindukanmu, karena rasa cintanya," pancing Azel seolah ingin menggait pembicaraan.


"Aku rasa itu sangat tidak mungkin," balas Ina terkekeh.


"Sangat memungkinkan, karena adikku sudah jatuh cinta denganmu," ungkap Azel dengan tersenyum merekah.

__ADS_1


Ina tersenyum sembari menaikkan alisnya, "Astaga mustahil Kak!"


"Percayalah Ina, adikku sudah mengungkapkannya di depan kita semua. Namun sayangnya saat itu kau tidak ada. Dan, apa kau tahu yang dia katakan juga? Dia terpaksa berbohong untuk menghindari perjodohan dari Daddy, agar dinikahi denganmu gadis yang dicintainya," jelas Azel.


Lagi-lagi membuat Ina tidak paham, dan merasa tidak percaya. "Kak ... mas Azriel tidak pernah mengungkapkan semua itu."


"Ina, adikku itu bukan tipe pria yang romantis. Dia sangat bodoh dalam hal percintaan. Mengungkapkan isi hati saja dia tidak pernah berani, tapi percayalah aku sangat mengenal adikku, jika dia menyayangi satu orang saja dia akan mencintainya dengan tulus."


'Hmm benarkah? Aku merasa hal itu tidak ada dalam diri suamiku, tapi jika itu memang benar mungkin aku juga sudah waktunya untuk membuka hati. Aku akan belajar mencintainya juga,' batin Ina.


"Cintai adikku juga yah!" Azel mengusap rambut Ina, kemudian ia berdiri dan kembali berucap, "Aku titip anakku!"


Ina tersenyum, lalu mengangguk. Ibu satu anak itu pun melangkah keluar.


Sementara Ina tiba-tiba pikirannya dilibatkan dengan ucapan kakak iparnya itu. 'Jika dia benar mencintaiku, akan kutunggu ungkapannya.'


***


Tepat di hari Minggu.


Ina mendengar pembicaraan ibu mertuanya, ia mendapat info bahwa hari ini suaminya akan pulang.


Entah kenapa hatinya berdesir, diam-diam bibirnya pun membentuk senyum. Tidak bisa dipungkiri bahwa hatinya merasa bahagia.


"Mamih, Abey au ainan aru cekalang!"


"Sayang ... mainan kamu berserakan di kamar. Nanti saja ya, minta sama Om Azil!"


"Huaaaa ...."


Mendengar perdebatan antara anak dan ibu itu, Ina mencoba untuk hampiri mereka. Ia melihat Abel yang sedang merengek di bawah kaki ibunya.


"Huhh, Abel Mami sangat malas keluar. Oke, beli mainannya di online saja ya?"


Abel menggeleng dengan bergelimang air mata, ia sangat memohon untuk diajak berbelanja di luar. "Au ego oko!"


"Aduh, Lego banyak Sayang di online. Oke Mami pesan ya?" Lagi-lagi anak itu menggeleng. Karena kesal dengan maminya, Abel berguling-guling di lantai dengan menangis kencang.


Ina langsung menangani gadis kecil itu. "Sama Ante ya?"


"Kak biar aku saja yang mengajaknya ke toko mainannya, kebetulan aku mau keluar membeli sesuatu," ucap Ina.


"Ya, baiklah anak itu sebenarnya hanya ingin jalan-jalan. Kepalaku pusing, ajak saja kemana pun dia mau," balas Azel.


***


Akhirnya Ina menuruti permintaan keponakan suaminya itu, ia mengajak ke toko mainan yang Abel minta.


Setelah sampai.


Tiba-tiba ia melihat seseorang yang sangat ia kenal di toko itu. Matanya memicing tajam. 'Astaga Mas Azriel? Apa aku salah lihat? Dia bersama perempuan, siapa dia?'

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2