
Shireen benar-benar mengikuti kemauan ibu mertuanya itu. Ia melakukan perawatan wajah, rambut sampai kukunya. Lihatlah, wajahnya sangat bersih dan tampak lebih segar, sedangkan rambutnya berwarna baru, dan jari-jari lentiknya pun sudah terpasang nail art yang bisa diprediksi harganya seharga motor.
"Astaga Nyonya Yuri, kau hebat bisa mendapatkan lagi menantu secantik ini? Anakmu sungguh beruntung bisa dapat daun muda. And, you so beautiful setelah menetap lama di Amerika," puji seorang perempuan seumuran Yuri yang terlihat begitu cetar dengan make-upnya.
"Ya ampun Fia, terima kasih. Usaha salonmu semakin berkembang yah, skilmu dari dulu memang tidak bisa diragukan lagi," balas Yuri.
"Ya, yaa semuanya aku rintis dari nol. By the way, sudah punya cucu berapa?"
"Cucuku sudah tiga."
"Dari si cantik ini?"
"Belum dapat, aku sih berharap banyak. Karena anakku membutuhkan bibit penerusnya, tapi sudah hampir 2 bulan pernikahannya dia belum ada tanda-tanda hamil. Padahal waktu dengan mantan istri dulu, begitu subur. Baru satu Minggu dia sudah positif hamil."
Jleb.
'Jelaslah, Leona udah hamil duluan sebelum menikah. Huh, kenapa bahas kayak gini? Anak gk bisa datang semau gue, tapi itu urusan Tuhan. Mungkin, ini juga yang diharapkan mas Samuel. Maafin aku mas,' batin Shireen.
Sudah banyak yang ia tahu tentang masa lalu suaminya, bahkan yang baru saja hatinya katakan. Ya, Samuel sudah sangat terbukti dengan istrinya.
Dengan santainya ia menjalani pernikahan dengan Samuel, bukan berarti tak ada kekhawatiran di hati akan tak kunjungnya sosok malaikat kecil yang belum tumbuh di rahimnya. Memang belum waktunya juga dikaruniai. Namun, Shireen berpikir 2 bulan itu waktu yang singkat, masih banyak waktu panjang untuk ia bisa hamil.
"Sabar ya Sayang, nanti Tante kasih tips untuk subur," ucap pemilik salon itu. Shireen bisa simpulkan bahwa wanita itu adalah orang baik.
"Terima kasih Tante."
***
Sehabis memanjakan tubuh, Yuri beranjak untuk memanjakan matanya di mall. Banyak sekali barang-barang mahal yang ingin bdibelinya. Shireen hanya bisa dibuat tercengang. Sudah kaget melihat jumlah pengeluaran di salon tadi, kini ia dibuat mati jengkang melihat aksi mertuanya itu.
Satu kata yang terlontar di hati Shireen, 'Boros!'
Sebenarnya ia juga selalu dikasih jatah uang yang jumlahnya melebihi belanjaan Yuri. Namun Shireen tak seboros itu, justru uang yang diberi suaminya ia tabung.
"Pilihlah apapun yang kau mau, aku lagi berbaik hati hari ini. Karena kau mau menemaniku," ucap Yuri.
"Tidak Mami, terim kasih."
"Halah, jangan sok malu. Padahal kau ingin 'kan?"
"Tidak Mami, justru barang-barang di sini sudah Shireen punya semua di rumah."
"Ya, aku lupa jika suamimu itu anakku! Sudah pasti kau bosan dengan barang-barang di sini. Anakku Sam seorang miliarder, yang sudah pasti memberikan fasilitas mewah denganmu."
"Ya, maka dari aku selalu bersyukur bisa menjadi istrinya."
"Tapi aku yang tidak bersyukur mempunyai menantu sepertimu! Sudah jelas kuduga memang awalnya kau menikah dengan anakku, karena harta dan kedudukannya bukan?"
__ADS_1
'Astaga sabar Reen. Habis ini, beli lagi stok kesabaran.'
***
Selesai sudah Shireen menemani Mami mertuanya itu shopping. Kini hanya tinggal lelahnya saja.
Shireen menarik napasnya, lalu membuangnya secara perlahan. Ia mengusap dahinya yang tak ada peluh sama sekali. Itu hanya meredakan rasa letih saja.
"Bagaimana? Lelah? Haha, itulah kenapa banyak orang yang tak mau menemaniku shopping dan perawatan," ucapnya tanpa merasa dosa.
Shireen ingin sekali memaki, tetapi tak ada dayanya untuk melakukan itu. Hanya umpatan, gerutuan, ujaran kesal yang dikeluarkan dalam hati.
"Ini, minumlah. Itu minuman hangat untuk merilekskan tubuh."
Shireen tercengang. Apa benar yang ia saksikan ini? Sungguh di luar nalar rasanya.
"Terima kasih Mami," ucap Shireen.
"Sebenarnya aku ini tidak selalu jahat, ada waktunya aku baik juga, hanya ketika waktunya saja. Karena kau hari menjadi babuku, akan ada hati baik yang kutunjukan," ucap Yuri.
"Hmm, gak semua sikap Mami Shireen anggap buruk. Pada kenyataannya Mami itu baik sebenarnya," ucap Shireen.
"Jadi, kau selama ini menduga aku berbuat buruk selalu?"
"Eh, gak gitu Mami ...."
'Salah lagi aja gue.'
Di dalam mobil.
Karena tak sampai ingat waktu, tanpa terasa Shireen menemani mertuanya itu hingga malam hari. Mungkin saat ini suaminya sudah pulang. Nasib baiknya, tadi ia sempat meminta izin, hanya agar tak ada kecemasan saja.
"Jalannya sepi Mih," ucap Shireen. Entah kenapa di hatinya terselip rasa kekhawatiran.
"Ya, aku salah jalan. Tapi aku yakin, ini jalan pintas agar lebih cepat sampai ke rumah," balas Yuri.
Jalanan yang dilewati mereka memang sangat sepi, bahkan hanya ada satu atau dua orang saja yang melintas. Shireen pernah mendengar, banyak korban pembunuhan di sini atau aksi begal yang mencegat setiap pengendara lewat.
"Kau takut? Jaman sekarang masih percaya hal gaib?" ucap Yuri, dia masih santai mengemudikan mobilnya.
"Tidak, bukan itu tapi ...."
Ckitttt ....
Akkhhh!
Ada suara orang kesakitan di luar sana. "Astaga, aku menabrak?"
__ADS_1
Tiba-tiba ada segerombolan orang berjaket hitam, sambil berteriak, "Woy keluar lo, ada orang yang lo tabrak sampe mati!"
"Ya, ampun!" Saat ingin keluar, tiba-tiba Yuri ditahan oleh Shireen.
"Jangan keluar Mami, mereka orang jahat!"
"Bodoh, aku menabrak seseorang. Kita harus tanggungjawab!"
"Mami tidak menabrak, tapi itu cuma akal-akalan mereka. Itu genk perampok, mafia pemberantas!"
"Terus apa yang kit-akkhhh!"
"Keluar lo, atau gua pecahin kaca mobil lo!!" Shireen melihat pria di luar sana membawa sebuah kampak. Khawatir akan kaca yang dipecahkan oleh pria itu, akan mengenai mami mertuanya. Maka sebelum mereka melakukan, akhirnya Shireen memutuskan untuk keluar.
"Mami jangan keluar, diam di sini."
"Jangan sok jago, kau bisa mati di tangan mereka. Nanti bagaimana aku menjawab pertanyaan suamimu, jika kau mati karena aku?!"
Shireen tak mendengar celotehan Yuri lagi, ia harus menangani beberapa orang ini.
"Mana orang yang tadi ketabrak?"
Tiba-tiba beberapa pria itu tersenyum menyeringai. "Kita orangnya, jadi lo harus tanggungjawab serahin mobil ini dan barang yang lo punya!"
"Cari uang kok gak mau capek!" sindir Shireen menantang.
"Astaga, dia meremehkan kita Bos!"
"Stop, jangan berlaku kasar dengan wanita. Jika dia ingin mobilnya aman, hmm kenapa tidak dia saja? Kita bergiliran." Seorang pria yang terlihat cukup tampan seumuran suaminya, tampak tertarik dengan Shireen. Ya, tubuh molek Shireen yang menjadi incarannya.
Shireen merasa jijik, bahkan tatapan pria itu selalu mengarah pada dadanya. Sementara di dalam mobil, Yuri terus saja cemas.
"Aku memang tidak menginginkan kehadirannya, tapi jika dia mati aku yang pasti lelah disalahkan orang rumah," gumamnya gelisah.
Bughh!
"Akhhh!"
Tiba-tiba sebuah hantaman keras serta pekikan seseorang terdengar. Yuri bergidik ngeri, dia berpikir bahwa itu suara menantunya.
"Dulu gue juara taekwondo, jadi jangan diremehin!"
"Astaga, Shireen!"
Bersambung ...
SEMOGA MASIH ADA YANG BACA.
__ADS_1
OKE UNTUK MENGEJAR TARGET KATA, AY AKAN UP 2 BAB SEHARI. TETAP STAY DAN HADIRKAN DIRI KALIAN DI KOLOM KOMENTAR, JANGAN LUPA UNTUK LIKE JUGA.