Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
Kehancuran Hati Leona


__ADS_3

Liyu menatap Shireen dengan penuh malu dan rasa bersalah. Ia ingin sekali memeluk dan meminta maaf kepada perempuan yang sedang hamil itu. Namun, ia merasa dirinya telah hina untuk bersentuhan dengan perempuan baik sepertinya.


"Shireen maafkan aku. Jangan salahkan suamimu, ini semua kesalahanku karena aku dan sebabku kau harus menyaksikan hal yang menjijikkan. Maaf, sekali lagi aku minta maaf," ucap Liyu. Ia berusaha untuk menggapai tangan Shireen. Pirasat tidak akan diterima, tapi justru Shireen memeluknya.


"Aku maafkan. Hati-hati untuk perjalanan pulang kalian," balas Shireen.


"Kau memang wanita baik. Terima kasih."


***


Setelah kepulangan Liyu dan Daniel Leona merasa sangat tenang. Namun, semua orang rumah justru merasa kesepian. Ya, perginya Diksel tak ada lagi sosok pelawak.


Kini seperti biasa. Saat suami sudah pulang, Shireen akan menjadi ibu yang mengurus bayinya. Berbedanya, bayinya itu bayi besar.


"Siapin makanan, habis itu suapin suami. Aduh Nak, Mommy pingin kamu cepet keluar deh, biar Daddymu itu mandiri!" gerutu Shireen. Berada di dapur sendirian, perempuan itu terus berceloteh.


"Bagaimana perasaanmu setelah melihat suami sendiri sedang bercumbu kasih? Sakit bukan?" Tiba-tiba Shireen menangkap sosok Leona yang mengenakan piyama tipis.


"Perasaan cemburu, sakit dan perih berkecamuk. Aku tahu rasanya, karena itu yang aku rasakan di saat milikku telah direnggut seseorang."


Shireen lebih memilih bungkam. Untungnya, perempuan itu sudah terbiasa dengan sebuah pancingan. Semenjak belajar banyak kesabaran, Shireen menjadi seorang yang tak perdulian dengan omongan.


"Nona Shireen, sainganku sudah pergi. Aku adalah saingan terberatmu. Setelah merasa berhasil menyingkirkan Liyu, apa kau berniat menyingkirkanku juga?"


Shireen terkekeh pelan, lalu ia berucap, "Bukankah aku saingan terberatmu? Nona Leo, apa perlu aku rekomendasikan pria-pria yang lebih tampan dan kaya diluaran sana? Yang jelas lebih cocok untukmu," balas Shireen.


"Aku hanya menginginkan seseorang yang dulu menjadi milikku, yaitu suamimu!"


"Itulah penyesalan Anda. Ya, penyesalan terbesar karena telah meninggalkan seseorang yang dulu pernah menjadi milikmu, dan sekarang mencarinya kembali. Namun, ternyata dia sudah menjadi milik orang lain."


"Sialan. Kau bukan wanita baik, kau hanya pengasuh yang menaikkan derajat diri sendiri!"


"Ya, aku memang pengasuh. Tapi pengasuh lebih berderajat dari seorang ibu yang tega meninggalkan anaknya di saat membutuhkan!" Shireen tak mau mendengarkan apapun lagi, ia lebih memilih untuk segera pergi. Bagi Shireen melayani ucapan Leona tidak akan ada habisnya.


"Kau belum mengenal betul siapa aku. Aku bisa berbuat sesuatu yang akan kau sesali nanti!" tegas Leona. Shireen mendengar itu, tapi ia tidak mau menghentikan langkahnya.


Leona mendengus kesal. Ya, memancing emosi Shireen begitu sulit, tapi justru ia yang terpancing. Semua ucapannya selalu menjadi kebalikannya, bahkan respon Shireen sangatlah santai. Lagi-lagi ia yang merasa kalah.


"Calon anakmu tidak boleh hadir!"


***


Di kamar.


Setelah makan malam untuk suaminya sudah siap, kini hanya menunggu Samuel keluar dari kamar mandi.


Jika bertanya soal dua anak tirinya. Ya, mereka sudah tertidur saat ini. Karena keaktifan bermainnya tadi siang, di saat malam pun tinggal kelelehan hingga mudah cepat tertidur.


"Sayang ... bisa kau ambilkan handukku?"

__ADS_1


Shireen yang baru saja membuka ponselnya, tiba-tiba mendengar suara teriakan suaminya, berdecak jengah.


"Kebiasaan banget!"


Ia mengambil satu handuk kimono untuk suaminya. Segera menghantar ke kamar mandi, dan ternyata Samuel masih berada di dalam bathtup sedang asik merokok.


"Mas!" Kesalnya. Shireen sangat membenci jika suaminya itu merokok.


Samuel segera membuang jauh-jauh sisa putung rokoknya. Kemudian ia mencuci mulut.


"Kemarilah!" serunya.


"Masih bau rokok, gak mau!"


Samuel memutar bola matanya dengan jengah. Kemudian, pria itu melempar kotak rokok dan korek api ke sembarang arah. Barulah Shireen memajukan dirinya.


Shireen duduk di tepi bak besar itu, menatap suaminya dengan cemberut. "Gak suka liat Mas ngerokok!"


"Bukankah dulu kau perokok?"


Jika memflasback tentang kenakalan Shireen di masa lalu, sungguh penyesalan terbesarnya adalah masa itu. Namun, kini hanya ada Shireen si perempuan baik dan lembut.


"Itu dulu, jangan samakan sekarang!"


Samuel menggapai tengkuk istrinya, setelah tersenyum ia meraup bibir Shireen. Serasa hangat memenuhi mulut perempuan itu, Shireen merasa nyaman dalam lum*tan yang suaminya memberikan. Tak ada lagi bau rokok, yang ia rasakan hanya wangi mint.


Setelah melepaskan pagutannya, Samuel beralih mencium perut istrinya yang mulai terlihat menonjol.


"Mas, gak mau!"


"Sayang, ibu hamil itu harus banyak mandi!"


"Kata siapa?"


"Kata aku barusan!"


Dan akhirnya Shireen menyerah. Mereka berendam bersama di malam hari seperti ini. Dan, percayalah mereka bukan hanya sekedar mandi bersama. Hmm, sudah paham bukan apa yang terjadi setelahnya?


Bercinta!


***


Pagi harinya.


Di meja makan.


"Shireen kau ikut Mami nanti, kita konsultasi kandungan," ucap Yuri langsung mencuri perhatian semua penghuni meja.


"Uhukk!"

__ADS_1


Bahkan, Lia sampai tersedak roti.


"Tidak ada yang akan mengambil rotimu. Kenapa makannya terburu-buru. Rotimu nyangkut di paru-paru, besar dadamu baru tau rasa!" Yuri menegur anaknya.


"Maaf, tapi Mami serius mau ajak Shireen cek kandungan?" tanyanya merasa tidak percaya.


"Baik sedikit saja aku diherankan, apa aku seburuk itu bagi pandangan kalian? Semua yang kulakukan hanya demi calon cucuku!"


"Sayang ... kau sangat baik, Omah yang selalu perdulian. Aku berharap kau segera memberikan restu kepada menantu kita itu," ucap Dika.


"Acieee, sayang ... Lia mau punya adik baru lagi nggak?" goda Lisa.


"Gak mau!" tolak Lia.


"Hishh, lagian kamu ini ada-ada aja si. Pokoknya setelah sarapan, aku akan menghubungi Dokter Stevie. Kita harus ke rumah sakitnya!"


"Baik Mami," jawab Shireen.


Diam-diam ia tersenyum karena merasa bahagia, sementara Leona merasa tertekan dalam situasi pembicaraan ini. Sekuat hati ia menahan rasa kecemburuannya.


'Tidak, aku tidak rela jika Mami juga mulai mengakuinya. Tidak, lagi-lagi perempuan itu bisa mengambil hati seseorang yang sangat dekat denganku,' batin Leona.


Tiba-tiba Azel dan Azriel datang. Kedua bocah kembar itu terlihat murung. Ya karena saat terbangun ia tak mendapati Diksel di kamar.


"Kemana Om Dikcel, hikkss!" tanya Azel yang sudah berlinang air mata.


"Sini sama Mami Sayang ...." ajak Leona merentangkan kedua tangannya. Namun, Azel justru berlari ke pangkuan Shireen.


"Anak Mommy jangan nangis ya. Om Dikcelnya pelgi, nanti kita susul oke!" bujuk Shireen.


Hati seorang ibu mana yang tidak sakit, di kala anaknya lebih memilih jatuh ke pelukan hangat ibu tirinya yang terbilang itu adalah orang lain. Namun kini sebaliknya, justru ibu kandung yang terasingkan. Leona sama sekali tak dianggap oleh kedua anaknya.


"Benal Mommy?" tanya Azriel. Ia juga lebih memilih menghampiri Shireen.


"Iya Sayang."


***


"Aaaaaaa!" Leona berteriak dengan menjambak rambutnya. Ia seperti perempuan gila yang sedang membutuhkan penanganan.


"Lagi-lagi wanita sialan itu! Bocah tengik yang sudah membuatku kehilangan segala hal. Kau harus mati Shireen!"


Prangg ...


Prakkk ....


Ia membanting semua barang yang ada. Beruntung kamarnya kedap suara. Jika tidak, mungkin semua orang yang mendengar suaranya akan berbondong-bondong memasuki kamar.


"Kau dan bayimu harus mati, hikkss!" Perempuan itu terduduk lemas dengan bercucuran air mata. Rambutnya menandakan bahwa dirinya terlihat begitu hancur.

__ADS_1


"Aku ingin kembali merasakan di posisi itu. Aku ingin kau kembalikan semua yang kupunya. Suamiku, anakku bahkan kedua mertuaku kau rampas! Aku akan segera membunuh bayi dan dirimu!"


Bersambung ....


__ADS_2