Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Aki-aki


__ADS_3

...----oOo----...


Bintang bingung , sudah hampir siang dan Intan tidak beranjak dari kamar nya.


Dia berjalan gelisah mondar-mandir seperti cacing kepanasan. Dari ruang tamu, teras, kolam ikan dan lorong menuju kamar gadis yang marah padanya.


Dengan memberanikan diri dia berjalan ke arah kamar Intan.


"Tan... Intan, maafin bibir gue ya?"


"Tan... Intan, lu sakit lagi?"


"Gue cariin pisang buat makan obat mau?"


"Tan... gue cari pisang sekarang ya... "


Klekk (suara gagang pintu di buka dari dalam)


Intan keluar dari dalam kamar dengan wajah sembab, Bintang melihat itu semua. Hatinya ngilu sendiri merasa bersalah atas nama bibir nya.


"Tan, atas nama bibir gue yang seksi. Gue minta maaf ya? Lu mau apa? pisang? atau beli obat syrup aja ya kalo nggak bisa makan obat!" Bintang mengekori Intan menuju ruang cuci di dekat kolam ikan.


"Tan... "


"Apa sih pak? saya udah biasa kalo soal di bentak atau di hina, tapi bapak jangan nuduh saya yang enggak-enggak. Saya sakit hati, lebih baik bapak marahin saya kaya biasa. Dari pada bapak nuduh saya nggak jelas, sok tau banget dengan hidup saya."


"Ohhhh.... jadi kamu lebih milih saya marah dan bentak kamu?" Bintang berkata dengan kerasnya.


"Ya, udah... bikinin saya kopi sebelum saya pulang."


Titahnya dengan membentak.


Intan hanya menggeleng sambil menutup kuping, itu mah bukan ngebentak, lari nya malah jadi kayak yang budek. Gumamnya tapi masih jelas di dengar Bintang yang berjalan belum terlalu jauh.


"Heh... kan kamu yang bilang lebih baik di bentak saya, dari pada di kira bunting!"


Intan yang sedang memasukan pakaian Bintang pada ember bersabun, seketika mendongak.


"Pak... "


Bintang yang sedang berjalan ke arah ruang TV menoleh.


"Kenapa bapak terus mikir saya hamil?"


"Ya, feeling aja."


"Bapak siapa? dukun beranak? atau mesin USG? sok tau banget! Kalo pun saya hamil pasti gara-gara tidur sama bapak!" Intan setengah melempar dan menginjak-injak baju Bintang yang berada di ember agar noda muntahnya lepas.


"Heh... kalo dengan cara tidur bareng bisa langsung hamil, gue sering tidur ama kucing nya Mentari. Kagak bunting tuh! lu polos apa emang bego sih?"


Intan diam sesaat lalu tersenyum sinis.


"Kenapa lu?"


"Nggak nyangka Bapak suka nya sama kucing."


"Ck, kok jadi gue yang kayak bego sih. Maksud gue kalo cuma tidur doang tanpa nyatu anu nya ya nggak akan hamil." Bintang mendengus kesal bagaimana caranya menerangkan ke gadis cungkring itu, cara pembuahan yang benar dan tepat.


Lelaki itu menghampiri Intan yang sedang menginjak-injak pakaiannya dalam ember.


"Apa sih, Pak?" Intan meronta saat tangannya di tarik.


"Pak... pak... panggil gue, Mas, abang, kakak, atau oppa gitu!" Cebiknya sambil menarik tangan Intan.


"Lepas... aki-aki... " Intan masih berusaha melepaskan genggaman tangan Bintang.


Bintang menghentikan langkahnya dan otomatis Intan menabrak punggungnya.


"Apa? aki-aki?" Dia melotot marah.


"Katanya tadi si suruh manggil oppa? kita di Bandung Pak, jadi oppa itu aki-aki!" Terang Intan dengan wajah polos nya.

__ADS_1


"Kamu... beneran, bikin Tensi, asam urat, kolesterol saya naik!" Geramnya. sambil menekan rahang Intan.


"Tuh kan bener aki-aki, penyakitnya juga dah kayak aki-aki." Intan menepis tangan Bintang yang berada di rahangnya.


Gadis itu kembali di tarik, tapi bukan ke kamarnya melainkan ke kamar tamu, Bintang yang memakai celana Dafa yang sedikit longgar, berjalan sambil tangan nya menahan celana bagian atas agar tidak melorot.


"Mau ngapain? saya teriak nih Ki... " Intan mencoba mengancam lelaki yang sedang menariknya masuk ke dalam kamar.


*


*


Intan sedikit di dorong masuk ke dalam kamar.


Tubuh nya terduduk di kasur busa yang di simpan tanpa ranjang.


"Ki... aki-aki, mau ngapain saya?" Intan beringsut ke pojokan kasur menyilangkan tangannya.


"Mau tidur siang bareng. Kita liat lu hamil nggak 2×24 jam." Bintang merebahkan tubuhnya di sebelah Intan.


"Dasar gilaaa... aki-aki sengklek."


"Tan... cukup, lebih baik balik lagi, ke Bapak. Umur 28 gue terasa di cabik-cabik sama panggilan Aki."


Ucapnya memelas.


"28? bapak usia segitu? kenapa nggak dewasa kayak pak Dafa yang kebapakan?"


Bintang mendengus dengan wajah angker, "Ya karena dia udah bapak-bapak dua anak!" Gertaknya tak Terima di bandingkan.


"Buruan tidur! kita liat lu hamil nggak?"


"Terus aja yang di bahas hamil!" Intan hendak bangkit tapi tangannya di tahan oleh Bintang.


"Aduuh, lu masih panas... udah istirahat aja! ntar ngerepotin gue lagi minta di peluk kayak malem." ujarnya.


Intan mengerlingkan mata jengah.


"Teori apa?" Intan yang masih di ujung kasur menatapnya heran.


"Teori tidur bareng bisa bikin bunting. Gue bayangin anak-anak yang kemping pada bisa hamil, atau mungkin bersentuhan pori-pori bisa bikin hamil" Bintang terbahak saat menoleh si cungkring itu sedang melipat kulit keningnya seperti lipatan gorden.


"Tau ah," Intan pun merebahkan tubuhnya yang memang kembali terasa meriang. Posisinya yang jauh dari Bintang, malah seperti menempel pada dinding malah membuat emosi Bintang terpancing.


"Hehh... tan, kek cicak lu! nemplok di dinding!" Bintang menyentuh pundak Intan agar mau berbalik padanya.


Kek gue najis bin menjijikan, jauh banget nggak mau deket. Gumamnya.


"Tan... "


Hening tidak ada sautan, Bintang mengintip pada wajah Intan yang hampir menempel di dinding.


"Tan, lu belajar buat di bawah kubur ya? nempelin muka di tembok sebelum nempelin muka di tanah." Bintang menatap paras manis itu.


"Eh, jangan dulu deh. Seenggaknya lu ngerasain dulu yang berwarna, biar nggak polos banget. Ck... kek gue udah ngerasain aja." Bintang terkikik pelan.


Lalu tak lama dia ikut tertidur dengan menopang kepala nya tangan menghadap Intan yang tertidur memunggunginya sambil memeluk guling.


...******...


Tak terasa waktu berjalan dengan cepat.


Sore itu suara gaduh terdengar bersautan, di dalam kamar tamu itu.


Pasangan yang selalu bertengkar masih pulas.


Namun suara drumband di perut Intan, dan suara konser rock di perut Bintang saling berkumandang dan menyadarkan kesadaran mereka sedikit demi sedikit.


Intan mengerjap saat tubuhnya seperti memeluk sesuatu yang bergerak.


Matanya membola dan lagi-lagi kakinya siap untuk menendang.

__ADS_1


Dengan sigap Bintang menahan kaki jenjang itu yang siap untuk menendang nya.


"Apa?"


"Mau nendang gue lagi? lu yang peluk gue seperti biasa!"


"Seperti biasa?" Intan membeo.


"Iya, kan udah berulang kali lu meluk gue pas tidur!"


Bintang membuatnya bungkam.


"Tapi, tadi saya meluk guling bukan bapak!" katanya membela diri.


"Iya, gue juga guling tapi idup, ada lagi malah versi mini nya, bukan guling deng cakue." Bintang masih memegang kaki Intan.


Intan menggerakan kakinya yang masih di tahan di atas tubuh Bintang.


Bergerak namun tak juga di lepaskan.


"Tan, ngapain sih lu? kayak yang lagi nyelah motor. Lu kira gue motor yang udah lu timpa sekarang coba nge hidupin. Nggak usah capek-capek dah idup." Bintang berkata ambigu agar tak di mengerti Intan si polos bak kacang sukro.


"Ngomong apa sih ki?"


"Tan.... " Bintang menggeram kesal.


"Iya, maaf Pak. " Intan membenahi kakinya yang telah di lepas Bintang


Mereka telah duduk di ujung ranjang dengan kaki menekuk seperti sedang menaiki angkot.


"Gue laper... Bikinin makanan sebelum gue pulang."


Intan menoleh sesaat sambil membenarkan ikatan rambut nya.


Bintang memandang leher kuning langsat itu.


Duh lehernya dah seputih itu, gimana yang..... Anjirrr otak gue... Bintang mengalihkan pandangannya


Terdengar Intan berdecak kesal.


"Dari kemarin kalo minta sesuatu pasti bilangnya sebelum pulang, tapi nggak pulang-pulang." Gerutunya pelan sambil berjalan menuju pintu kamar.


"Ck, pak... kuncinya!"


Bintang langsung menjatuhkan tubuhnya.


"Duh Tan, nggak kuat aku lemes banget kelaparan. Nggak ada tenaga buat ngambil kunci di saku." Modusnya.


"Kalo ada orang Africa yang kelaparan, pasti kamu di sidang karena membiarkan orang kelaparan padahal di rumahnya banyak makanan."


Intan berjalan ke ujung kamar mengambil sebuah sapu dan membalikkan posisi gagang dan injuknya.


"Ngapain lu?"


"Mau ngambil kunci, dari saku Bapak."


"Lu mau nyodok gue, pake gagang sapu? kagak usah gue punya gagang sendiri, lebih gede dari gagang sapu yang lu pegang." Bintang merogoh saku nya mengambil kunci kamar itu.


Lalu melemparkan nya ke dekat Intan.


"Tuh kan bisa gerak tangannya." Intan mengambil kunci itu dan setelah berhasil membuka pintu dia melenggang ke luar kamar menuju dapur.


Bintang mendengus


"Udah mulai jalan akal dia." senyum tipis terlihat di ujung bibir Bintang.


Bersambung ❤❤❤


Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naik🤣🤣🤣


Sehat dan bahagia kawan-kawan 😘😘

__ADS_1


__ADS_2