
...🦋🦋🦋🦋🦋...
Bintang tengah menikmati semua yang istrinya lakukan padanya.
Gerakan itu di tambah bibir mereka yang saling bertautan, rasanya dia akan mencapai puncak dalam beberapa detik ke depan.
Saat Intan tersentak dan melepaskan bibirnya yang sedang dia sesap, lalu tangannya yang menghentikan gerakan yang sedang begitu di puja suaminya.
"Sayang ... " Bintang mengerang karena kegiatan itu terhenti.
Intan bangun dan bergegas membenarkan kembali handuknya, dia berlari ke arah kamar mandi.
"Yang ... " Bintang sedikit berteriak kesal.
"Sebentar, aku belum pake roti Jepang nanti yang merah kemana-mana," jawabnya sebelum menutup pintu kamar mandi.
Bintang menggeram kesal, dia sudah sakit menahan ketegangan itu sedari malam, padahal sesaat tadi dia yakin akan segera mencapai puncaknya. Namun dengan sangat tiba-tiba istrinya itu seolah menariknya turun hingga ke dasar sumur.
Bintang berguling di atas kasur, kakinya menendang-nendang angin.
Lalu saat merasa si pyton kembali melunak. Dia menunduk. "Sorry ya. Ton, duh lu harus kena php lagi," ucapnya pada si pyton yang kembali tertidur.
Lalu dia menarik kembali celana yang sudah turun tadi. Kemudian berjalan keluar kamar.
*
*
Intan keluar dari kamar mandi setelah selesai dengan semua.
Wanita itu memegangi dadanya, "syukur udah nggak ada," dia terkikik geli lalu pandangan nya melihat beberapa lipatan baju di atas tempat tidur.
Dia mendekat dan melihat-lihat, sepertinya itu adalah baju milik adik iparnya.
Setelah selesai memakai nya. Dia langsung keluar kamar dengan perasaan canggung. Sekarang rumah besar itu adalah rumah mertuanya.
Menuruni tangga dia melihat suaminya duduk di teras belakang dengan asap rokok yang mengepul di sekelilingnya.
Intan berdecak kesal jika melihat suaminya yang begitu kuat dengan rokok nya.
"Sayang ... " Bunda yang baru keluar dari kamar melihat Intan yang mematung di bawah tangga.
"Iya, Bun." jawabnya.
Bintang yang mendengar suara istrinya langsung menoleh, tatapan mereka bertemu. Bintang pun berjalan mendekati.
"Yuk, sarapan!" ajaknya.
"Sarapan, jam 11!" sindir Bunda.
"Dari tadi ngapain sih? mentang-mentang pengantin baru, ngunyeng-unyeng aja di kamar!" omel wanita tua ber daster itu.
"Unyeng-unyeng juga nggak bun, dia lagi PMI."
Intan melipat bibirnya menahan tawanya sambil menatap Bunda.
Seketika Bunda terbahak sambil menepuk punggung putranya.
"Kasian, anak Bunda." ucapnya tapi sambil terkekeh menertawakan.
Bintang hanya melengos malas, sambil tangannya memeluk pinggang istrinya yang tengah menahan tawa.
Mereka sudah duduk di meja makan.
"Kamu mau makan sama apa?" tanya Intan yang sedang mengisi nasi ke dalam piring yang di pegang Bintang.
"Pengen makan kamu," bisiknya tanpa mengindahkan sang Bunda yang sedang mengupas jeruk di depan nya.
Intan langsung mencubit lengan atas suaminya.
"Aw, Bun. Liat dia udah KDRT," Bintang mengadu.
"Bagus lah, sesuai sama kelakuan. Makanya nggak usah usil nggak semua orang suka ntar kamu di takol baru tau rasa," Cibir nya.
"Yang sabar ya sayang," ucapnya lembut pada sang menantu.
Intan mengangguk sembari tersenyum, terdengar helaan nafas suaminya.
__ADS_1
Acara makan pagi menuju siang itu, di isi juga dengan pembicaraan rencana-rencana resepsi yang tinggal beberapa hari lagi.
Saat mereka tengah berbincang, suara riuh terdengar di depan rumah.
Semua yang ada di meja makan langsung menoleh, ternyata semua keluarga datang. Mulai dari Ayah dan langit, juga Mentari dan Dafa dengan menggendong anak-anaknya.
"Apaan? pada pulang?" Bintang bertanya merasa heran di hari kerja keluarga nya kumpul.
"Mau liat pengantin anyar," goda sang Ayah.
Bintang hanya terkikik geli, wajahnya merona malu. Begitu juga dengan sang istri.
"Gimana? ukuran udah uji coba?" kini Langit yang berbicara.
" Masih, diperboden." Bunda menjawab sambil bangun hendak membawa minuman kesehatan untuk suaminya.
Semua orang yang ada di sana tertawa dengan begitu puasnya.
Intan bangun mengikuti Bunda untuk menghindari pembicaraan para lelaki.
"Tenang, banyak jalan menuju puncak." Dafa ikut menimpali, disaat para wanita semua sudah tidak ada di ruang makan.
Bintang hanya mendengus , "ah... banyak gangguan," gerutunya kesal.
"Lu, kira gue dapetin adek lu gampang? belibet mana dia banyak iklan," bisik Dafa di telinga Bintang.
"Njir, karma nya gue yang nanggung si chaca. Asemmm emang, gue juga dari malem down berkali-kali. "
"Mengasingkan diri dulu, biar bebas." ucap Langit yang berada di sebelah nya.
Ayah yang baru duduk langsung memotong pembicaraan putra dan menantunya.
"Mau hadiah apa dari Ayah?" katanya
Bintang yang sedang memakan jeruk langsung tersedak. Dan menghebohkan seisi rumah.
"Uhukkk .... Uhukkk ... " Bintang terus terbatuk-batuk.
Langit dan Dafa berusaha menepuk-nepuk punggung Bintang.
Bunda dan Intan datang dari arah dapur, Mentari yang menggendong Shera muncul dari arah ruang keluarga.
"Keselek ... keselek biji jeruk!" kata Bintang saat batuknya sudah reda.
Semua orang terdiam, namun sesaat terbahak.
"Baru biji jeruk, gimana biji salak?" Bunda berkata sambil menyimpan minuman kesehatan untuk suaminya.
Anak-anak dan menantunya serentak menatap wanita tua namun masih sangat segar dan cantik itu.
"A-apa?" Bunda terlihat kikuk.
"Bunn ... " Ayah tertawa melihat wajah istrinya yang merona.
Bintang menggelengkan kepalanya. "Kukira cupu ternyata suhu," ucapnya takjub.
Langit dan Dafa tak berani menimpali, bahaya Bunda adalah ibu Suri di rumah itu.
"Heh ... kalo nggak suhu, kalian bertiga di keluarin dari bersin emang?" Ayah membela Istrinya.
Bintang langsung terdiam melihat rekasi Ayah dan wajah malu Bunda.
"Lagian, nggak ada kerjaan biji salak di makan!" dia menggumam pelan namun masih dapat di dengar Ayah nya.
Ayah menoleh langsung, "Bun ambil cobek, kayaknya geprek bibir enak, pedes nampol!" Ayah mengeluarkan kalimat sindiran penuh pengancaman.
Bintang langsung bangun dari duduknya dan langsung menarik tangan istrinya yang berdiri di dekat nya.
*
*
Di kamar
"Kalo ngomong, nggak boleh gitu ih. Mereka orang tua, di saring dikit. Aku udah mulai terbiasa, tapi denger becandaan kamu sama orang tua rasanya nggak pantas. Aku inget dulu kalo Mamah nyuruh dan aku nolak, langsung Bapak marah, katanya ibu seolah wakil dari Tuhan. Apa-apa yang membuat ibu marah Tuhan ikut murka, apa-apa yang membuat ibu bahagia Tuhan meridhoi nya." Intan berkata sambil duduk di tepi ranjang.
Bintang yang merebahkan tubuhnya di tempat tidur langsung bangun membenarkan tubuhnya menghadap Intan
__ADS_1
"Luar biasa, istriku. Nggak salah aku pilih kamu!" ucapnya bangga sambil menyandarkan kepalanya ke dada istrinya.
me: modus maneh tang 🙄🙄 pen bersandar di yang menul-menul.
"Udah, awas. Kamu berat banget, banyak dosa kayaknya!" Intan sedikit menggeliat agar suaminya mengubah posisi.
"Aduh, Yang ... kalo ngomong, suka nyelekit. Belajar dari mana sih?"
"Kamu lah, si mulut rombeng. Nggak enak kan kalo di gituin, dulu kamu sering banget bikin aku sakit hati," keluhnya.
"Maaf, sayang. Aku akan menebus itu semua sepanjang umurku,"
"Hadeuh, gombal. Pasti rayuan pulau kelapa," Intan mencebik.
Bintang tertawa melihat reaksi sang istri, "kita bobo siang yuk?"
"Iya, kepala aku agak pusing," Intan menimpali
Bintang langsung memegang kening Intan.
"Kenapa? masuk angin mungkin!" Bintang panik.
Intan menggeleng, "kalo dateng bulan aku kayak yang sakit, kepala pusing perut melilit banget. Pinggang panas. Jadi kamu sabar ya, kondisi aku sebenarnya lagi nggak enak," ucapnya sambil mengusap rahang sang suami.
Bintang langsung diam, pikiran yang tadi terlintas di kepalanya langsung sirna terus delete.
"Iya, istirahat aja. Tapi, kalo boleh aku minta dp boleh?"
"Dp?" Intan membeo
Bintang langsung menarik tengkuk istrinya dan menyesap lembut belahan mungil kesukaan nya itu.
Kini dia merasa candu untuk terus melakukan nya.
Tangannya merayap di pinggang istrinya, mengusap lembut sambil merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur. Kecupan itu turun ke ceruk leher istrinya.
"Mas... "
"Please, aku kerjain sendiri ini. Dari malem pegel nahan yang tegak berdiri kek yang upacara nggak beres-beres." mohonnya sambil terus mengecup leher istrinya.
Intan yang berada di bawah tubuhnya hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan suaminya itu.
Suara parau Bintang dan deru nafasnya yang terdengar berat menerpa kulit leher dan dada atasnya.
Intan sedikit menjambak rambut suaminya saat Bintang menemukan puncak bakpao nya.
"Eghhhhh ... " Intan mele*nguh saat Bintang terus mengusapkan lidah panas dan basah nya di puncak bakpao miliknya.
"Tan ... aduh, bentar lagi." Bintang ikut menge*rang di atas tubuh kurus itu, pinggul nya bergerak tak karuan.
"Aghhh .... " tak lama Bintang mencapai puncak kli*aks kw nya itu. "Makasih sayang, DP nya aja udah enak banget," puji nya sambil mengecup kening Intan.
"Kamu jangan mikir aku nggak per*kasa ya? ini sebentar karena aku kasian ke kamu yang lagi nggak enak badan. Ini aku percepat, nanti yang aslinya aku yakin lama, ini paket kilat," Bintang berkata seolah pembelaan.
"Paket kilat katanya, kayak pegawai ekspedisi aja," gerutunya menimpali ucapan sang suami.
Intan merasa kesal sekaligus ingin tertawa melihat wajah Bintang saat pele*pasan itu, yang terlihat lucu, kepala mendongak dengan mata terpejam, dan mulut menganga.
"Awas, paha aku basah lagi ini." gerutunya
Bintang terkikik lalu mengangkat tubuhnya yang hanya di lapisi boxer rumahan berbahan katun.
"Mandi, ah.. terus bobo." Bintang tertawa sambil melenggang masuk ke kamar mandi.
Intan hanya menggelengkan kepala dengan kelakuan suaminya yang semakin ke sini mulai biasa dia lihat.
Bersambung
like
komen
favoritnya
Maaf ya belum bisa up dua kali sehari, ini ntah lah bocil kok lagi belibet manjahhhh 🤣🤣🤣.
Mah ... mah... aja terus, jadi konsentrasi otak ku yang cetek mudah ambyar. Yang nunggu unboxing sabarr ... aku lagi nyari ilham🤣🤣 tapi nggak dapet2, malah ngakak pasti nih bikin malu🤣🤣
__ADS_1
nih yg sering bikin konsentrasi pecahh 🤣🤣