
...---oOo---...
Bintang berhasil merebahkan tubuh Intan yang tak sadar.
Dia kebingungan, namun otaknya buntu.
Mondar-mandir pun tak menghasilkan ide yang bagus, hanya ide memberikan nafas buatan yang melintasi otaknya.
Saat Bintang menunduk mendekatkan dirinya tepat di depan wajah manis Intan, ketika bibirnya menempel, bukannya memberikan nafas buatan Bintang malah menyesapnya.
"Anjir... gue malah nyipok... " Dia menarik bibirnya saat sadar metode pemberian nafas buatan itu salah dan dia malah melu*mat bibir Intan. Bibir yang terasa panas namun bukan main lembut dan begitu kenyal.
"Gila... kenyal banget kayak permen yupa lope. Manis kenyal... Eits, jangan ge-er dulu Tan, bibir Naya juga nggak kalah sama kamu... " Dia berbicara dengan orang yang sedang tidak sadar.
Saat dia kembali akan melakukan metode pemberian nafas buatan, tangannya memencet hidung mungil itu lalu otomatis mulut Intan sedikit terbuka, dan konyolnya Bintang malah bengong menatap bibir itu bukannya memberikan nafasnya.
Intan yang di jepit hidungnya, tersadar dan meronta karena hidungnya tidak bisa bernafas. Dan matanya membola saat Bintang berada di depan wajahnya.
Plak...
Satu buah tamparan Intan layangkan pada pipi kiri Bintang, "bapak ngapain?kenapa ada di kamar saya?" Intan menatapnya dengan wajah nyalang.
Begitu banyak kekesalan di hari itu, bangun tidur bermimpi almarhum calon suaminya Mas Dani yang begitu dia rindukan namun hanya tersenyum tak berkata sepatah katapun. Lalu bertemu dengan kakangnya yang menyuruhnya bekerja di sebuah tempat pijat yang dia bilang gajinya lebih besar dari pada di tempat Mentari.
Jujur dia juga menginginkan pekerjaan lebih baik, mengingat berapa beratnya perjuangan Ibu nya dulu untuk menyekolahkan nya hingga berhasil menyandang gelar sarjana Ekonomi, namun bukan lebih besar gaji tapi dengan pekerjaan yang membuatnya bak perempuan liar sebagai, 'pemijat para lelaki hidung belang'. Kakangnya benar-benar membuatnya murka, hanya karena dia di kejar-kejar hutang yang mengatasnamakan pengobatan Ibu nya dulu.
"L-lu pingsan Tan, gue coba bangunin lu. Tapi lu malah nabok!" jelasnya
"Bangunin saya? tapi dengan cara Bapak memencet hidung saya dan kehilangan nafas?" sungut nya kesal.
Bintang tidak membantah nya, memang dirinya yang belum sempat memberikan nya nafas karena terbuai dengan keindahan bibirnya.
"Maaf... lu panas lagi, gue bawa ke dokter ya!"
"Nggak usah... " Intan membalikkan tubuh nya menghadap dinding dan memunggungi Bintang.
Bintang merasa kikuk dan malu, entah kemana keberanian mulut lemes nya di bentak dan di tuduh oleh wanita kurus yang sering dia bully itu.
Dia perlahan menarik selimut dan membentangkan di atas tubuh Intan yang meringkuk. Lalu dia beranjak keluar menutup pintu dengan sangat hati-hati.
Bintang berjalan ke arah dapur mencari pisang yang dia berikan semalam.
"Dimana dia nyimpen cau nya?" Bintang masih celingukan di sekitar dapur, namun masih belum menemukan satu sisir besar pisang yang dia beli semalam.
Dirinya membuat kopi sachet lalu duduk di meja makan, saat dia buka tutup tudung saji terhidang kue bolu yang masih utuh.
"Weh... cocok sama kopi," lalu dia bangun mencari pisau untuk memotong bolu itu.
__ADS_1
Saat suapan pertama dia terdiam, "Enak... enak banget," katanya meneruskan suapan suapan berikutnya, hingga dia terus mengecap rasa bolu itu.
"Gusti... di beliin cau buat makan obat, malah di bikin bolu pisang," ucapnya yang baru sadar bolu itu berperasa pisang. Dan dia meyakini pisang yang dia bawa semalam menjadi bolu pisang.
Tak terasa hampir setengah lingkaran bolu pisang itu, pindah ke perutnya. Dia menyandarkan punggung nya di sofa ruang TV. Merasa bosan tapi tak ingin pergi dari sana, dia mengirim pesan pada Naya.
Ternyata Naya seperti sedang punya masalah, perempuan itu membalas pesannya dengan sangat singkat.
"Kamu kenapa?" Akhirnya tak tahan Bintang memutuskan menelponnya.
"Aku lagi ada sedikit masalah, aku di pecat karena salah memberikan obat dan berakibat si pasien keracunan." Terdengar helaan nafas berat di sebrang sana.
Bintang mendengarkan semua keluhan kekasihnya itu. Lalu dia berkata akan ke sana untuk menghibur kekasihnya. Panggilan pun terputus.
*
*
Bintang hendak pamit pada Intan, saat berada di depan pintu kamar Intan dan tangannya hampir menyentuh handle pintu. Intan keluar kamar sedikit berlari ke arah kamar mandi dengan mulut yang di bekap tangannya sendiri.
Lelaki itu ikut panik mengikutinya dari belakang.
Saat hampir mencapai pintu kamar mandi, dia melihat Intan berjongkok di atas closet memuntahkan isi perutnya.
Dengan memberanikan diri, Bintang memegang tengkuk Intan dan memijat nya lembut.
"Sialan, ngapain lu berubah jadi kobra, ton?" gerutunya dalam hati pandangan nya turun ke arah si pyton yang mulai bangun dan membuat celana chinos crem nya terlihat mengembung.
Intan bangkit dan membasuh wajahnya, perutnya belum selesai, dia masih merasakan mual hebat.
"Tan... lu nggak apa-apa? lu bener hamil kayaknya." Bintang memandang gadis di depannya dari pantulan cermin di atas wastafel.
Lagi-lagi kata-kata hamil itu keluar dari mulut Bintang. Intan murka jelas saja, lalu dia membalikan tubuhnya berhadapan dengan Bintang.
"Pak, bisa keluar nggak? saya lagi bener-bener nggak mood ngedenger ocehan bapak, saya lagi nggak ada tenaga buat mencerna semua kata-kata sampah yang keluar dari mulut bapak." Intan mendorong tubuh Bintang agar keluar dari kamar mandi, lalu dia banting pintu kamar mandi itu.
Perutnya lagi-lagi bergejolak saat dirinya benar-benar marah dengan Bintang. Dia kembali menundukkan tubuhnya dan kembali memuntahkan isi perutnya yang bahkan hanya berisi cairan pahit karena dirinya belum memakan apapun dari pagi.
Mood nya langsung ancur saat dia bermimpi tentang Almarhum lelaki yang di cintai nya. Intan langsung membuat bolu pisang kesukaan Dani.
Kekasihnya itu paling senang dengan bolu pisang buatannya dalam seminggu sekali pasti dia meminta Intan untuk membuatkannya.
Namun harinya semakin hancur, saat kakangnya yang datang menyuruhnya bekerja di tempat pijat. Sungguh kurang ajar pemikiran dari seorang kakangnya itu. Bisa-bisanya dia menjerumuskan adiknya agar bekerja di tempat hina seperti itu.
*
*
__ADS_1
Bintang terduduk di sofa, hatinya kembali mencelos. Merasa bersalah atas ucapan bibir seksinya.
"Lu lemes, lu kekar, " ucapnya pada bibir dan barang gagang nya yang memang tidak tau diri jika berdekatan dengan Intan. Mulutnya seolah menggelinding sendiri seperti ada rodanya. Tak tertahan mengeluarkan unek-unek begitu saja, tanpa memikirkan akibatnya. Sedangkan si pyton sudah beberapa kali bereaksi ketika dirinya berdekatan dengan Intan.
Dia masih berpikir saat pintu kamar mandi itu terbuka, memperlihatkan sosok Intan keluar dengan wajah pucat rambut yang di gulung asal dengan bagian poni yang terlihat basah. Mungkin karena dia membasuh wajahnya. Jangan ketinggalan bibir permen yupa nya.
Intan berjalan ke arah meja makan, matanya kembali sinis saat mendapati bolu pisangnya tinggal setengah.
"Bapak makan bolu pisang saya?" Intan berkata dengan suara sedikit keras karena menahan kesal terhadap lelaki yang tak lain, kakak majikannya itu.
"I-iya, Tan bolu pisang lu enak banget. Lagian kenapa malah buat bikin bolu bukannya buat makan obat." Bintang bertanya sambil berjalan mendekat.
Intan duduk lesu menutup wajahnya, dia kesal sekali dengan lelaki di depannya itu.
"Bapak lancang, itu bolu untuk calon suami saya." Tangisnya pecah.
Bintang yang panik langsung ikut duduk dan mencoba membuka tangan Intan yang menutupi wajahnya.
"Sorry.... sorry Tan, Gue nggak tau!"
"Terus sisanya mana? masa abis semua?" tanyanya karena masih merasakan suhu tubuh Intan yang panas.
"Itu bukan pisang buat di makan langsung... itu buat di olah lagi," sungut nya berkata.
Bintang mengangguk paham sambil menggaruk kepala nya yang tak gatal.
"Sisanya saya angin-anginkan di luar, soalnya belum mateng," katanya lagi.
Bintang bangun dari duduknya.
"Aku beliin lagi pisang, buat lu minum obat. Pisang apa yang harus gue beli, mumpung masih siang. Itu kan pisang gue beli malem2 jadi nggak terlalu jelas," ucapnya, bagaimana dengan perjuangan nya mengejar tukang cau itu Bintang ingin marah namun tak tega melihat wajah gadis di depannya yang sedang lesu.
"Cariin pisang raja bulu," kata Intan tanpa melihat ke arah Bintang.
Bintang sedikit memutar kata-kata Intan barusan, "pisang apa?" tanyanya ingin lebih jelas.
"Pisang raja bulu, bilang gitu aja ke pedagang nya!" Intan menundukkan kepala nya di atas tangannya yang terlipat di atas meja.
Bintang mengangguk paham lalu keluar dari rumah adiknya dengan memutar-mutar kunci mobilnya.
"Pisang raja bulu, anjir... gondrong cau na?" Dia tertawa dengan bayangan otaknya yang membayangkan pisang yang mempunyai bulu, hingga di sebut raja bulu.
Lalu mobil pun melaju, dia sampai lupa akan janjinya menemui Naya, demi sebuah pisang raja bulu, alat bantu minum obat cewek cungkring. Dia tak sadar sudah menjadi budak perempuan yang sering dia hina itu.
Bersambung ❤❤❤
Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naik🤣🤣🤣
__ADS_1
Sehat dan bahagia kawan-kawan 😘😘