Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
pengenalan


__ADS_3

...🦋🦋🦋🦋🦋...


Mereka tiba di depan pintu kamar apartemen.


Bintang menurunkan Intan dengan sangat hati-hati.


Mereka pun duduk di sofa depan meja TV, Intan membongkar belanjaan mereka, bahan makanan dia masukan ke kulkas di ujung dapur. Sementara beberapa cemilan dia simpan di meja depan sofa.


Intan duduk saat Bintang tengah berjongkok memilah beberapa kaset film.


"Mau nonton apa?" Tanya Bintang.


"Apa ajalah,"


"Eh ini ada judul yang baru, baru selesai di bioskop." Bintang mengacungkan sebuah cd.


"Judulnya apa?" Intan membuka sebuah keripik kentang.


Sudah hapal kalo Bintang tidak kuat pedas semua cemilan dia pilih rasa yang bisa di makan bersama.


"Poci dan kunta jadian," ucapnya sambil memasukan kaset itu.


"Ah, horor ya? takut ah, yang lain aja!" Intan sudah parno duluan.


"Ck, ini siang. Lagian ada aku, tapi kayaknya lucu deh," Bintang duduk di sebelah nya.


Intan mendekat kan tubuhnya pada Bintang.


Lalu film pun di mulai, di awal memang terlihat biasa saja. Intan masih sanggup sambil memakan cemilannya juga sesekali tertawa.


Namun saat si poci dan si kunta sedang di pergoki si jambrong yang wajahnya seram, Intan menjerit hingga kepalanya menelusup di belakang punggung Bintang.


Intan ketakutan dan ngomel-ngomel di balik tubuh Bintang.


Lelaki itu hanya tertawa, karena merasa berhasil dengan misi nya. Melihat tangan Intan yang melingkari perutnya dan dada yang sesekali menekan empuk di bagian tubuh nya. Membuat tubuhnya sedikit menegang. Dia beberapa kali menelan salivanya dengan susah payah.


"Tan ... "


"Apa?"


"Liat aku!"


"Matiin dulu filmnya, baru aku mau liat." Ketusnya.


Bintang mengambil remot TV dan mematikannya.


Intan merasa aman dari suara kunta yang cekikikan, lalu mulai menggerakan kepalanya menatap Bintang.


🌺


🌺


Mata itu saling pandang dengan jarak dekat.


Bintang menjatuhkan pandangannya pada bibir tipis itu yang semakin hari semakin berani menantangnya.


Tangannya meraih tengkuk itu, dan menariknya perlahan agar mendekat. Bintang mema*gutnya pelan, lembut penuh penghayatan


Intan terlihat bisa mengimbangi tidak sekaku pertama kali. Tangannya yang memang berada di pinggang Bintang, semakin naik ke dada lelaki itu.


Bintang semakin keras dan liar menye*sap bibir itu. Hingga terdengar decakan dari peraduan kedua bibir mereka.


Sesuatu dalam dirinya seolah menggeliat bangun.


Sesekali suara desa*an Intan semakin membuatnya menggila, Bintang seolah akan menyerang wanita itu sekarang juga. Masa bodoh dengan pikiran Intan terhadap nya.


Bintang mere*mat kuat pinggang Intan. Dia tarik Intan agar duduk di pangkuannya. Tanpa melepaskan pautan itu


Dua sejoli yang di mabuk cinta dan otw halal itu semakin nakal dan liar. Intan mengalungkan tangannya di leher Bintang, dan sebelah nya lagi dia gunakan untuk mencengkram sandaran sofa.


Saat keduanya masih bergelut dengan aktivitas memabukan itu, yang semakin menjadi. Ponsel Bintang berdering di saku celananya.


Kegiatan mereka terhenti, dan Intan langsung turun dari pangkuan calon suaminya itu dengan wajah malu-malu.


Bintang mendengus kesal saat menerima panggilan.


"Iya, Bun?" jawabnya agak ketus.

__ADS_1


"Kamu ngapain?"


"Hah?"


"Kenapa suaranya gitu?"


"Ehm ... lagi di toilet, di pom Bun, sakit perut." alasannya.


"Kata Ayah kalo pulang ntar beliin mochi, Bunda titip asinan."


"Iya, ntar kakak beliin. Udah dulu Bun, ngga fokus."


"Kak, awas loh jangan macem-macem. Sisain buat malam pengantin," Bunda kembali mengingatkan.


"Apa sih, Bun?"


"Pokoknya, kamu jaga untuk malam pengantin. Nanti nggak ada gregetnya. Lagian dosa, bunda kutuk nanti kamu ," ancamnya.


"Iya, Bunda cerewet." ucapnya kesal.


Panggilan pun berakhir, ponselnya dia lempar begitu saja. Dan pandangan nya tertuju pada Intan yang ternyata sedang memandangi nya juga.


"Bohong, bilang sakit perut ke Bunda!" cibir nya.


"Emang kan sakit perut di pukulin temen-temen kakang kamu," ucapnya berdalih.


Intan meringis kecil, lalu mencubit pinggang Bintang.


"Ada yang lebih sakit." Katanya.


Intan menatap dengan serius.


"Apa?" tanyanya panik.


"Di bawah perut, ada pusar ke bawah lagi. Nah itu yang lagi sakit dari tadi bengkak," Bintang berkata dengan serius.


Intan yang baru menyadari apa yang di tujuan Bintang langsung melengos malas, dan bangkit dari duduknya.


"Mau kemana?"


Bintang hanya menghela nafasnya, dia kira akan bisa melanjutkan kegiatan panas nya tadi.


*


*


Intan keluar dengan bathrobe yang dia kenakan sedikit mengeluarkan kepala nya di pintu kamar.


"Mas... "


"Iya, aku di dapur." Saut Bintang yang memang sedang menggoreng sosis di dapur.


"Ehm, aku boleh pinjem baju ibunya Helen nggak?"


"Pake aja, banyak kan di lemari?"


Intan lalu kembali menutup pintu.


Hampir setengah jam Intan masih belum keluar dari kamar, Bintang telah selesai dengan aktivitas nya menggoreng nuget dan sosis jumbo.


Dia menyimpan di atas meja lalu mengetuk pintu kamar yang masih setia menutup itu.


"Tan, sayang ... Lama banget!" panggil nya di balik pintu.


Intan melongokkan kepalanya, "Baju nya pada gede, yang masuk ini aja." Intan memperlihatkan tubuhnya yang hanya berbalut kaos dan celana tidur pendek. Tubuh Mentari memang sedikit berisi setelah melahirkan Helen, itu adalah baju awal-awal lahiran Helen. Jadi sangat di maklum kalo kebesaran di tubuh Intan yang kurus.


"Biarin itu aja,"


"Mas, kapan mandinya?"


"Barusan di kamar sebelah, ada beberapa baju aku sengaja simpan di sini," jawabnya.


Intan mengangguk.


"Kaki kamu masih sakit?"


"Sedikit," Intan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.

__ADS_1


Melihat dua piring berisikan sosis jumbo dan nuget tanpa nasi, Intan langsung menoleh.


"Lupa beli beras, kita cemilin aja ya? nanti malem kita masak mie!" ujarnya.


"Atau mau pesen makanan?"


"Nggak usah, ini aja. Sosisnya juga jumbo kenyang pasti," Intan langsung menusuk sosis jumbo itu dengan garpu.


Intan memberikan mayones di atas sosis itu sebelum dia makan.


Bintang yang otaknya memang sudah tercemar, melihat Intan menji*lati mayones di atas sosis itu. seolah membuat pyton nya mengeras, sesekali dia menelan salivanya yang terasa banyak.


"Ah .. " desa*nya


Intan yang sibuk dengan TV tidak menghiraukan, dia sibuk menji*lati mayones yang hampir menetes itu.


Saat Intan menggigit ujung sosis, Bintang malah menge*rang dan mengaduh.


"Kenapa?" tanyanya dengan mulut penuh.


Bintang langsung menarik Bantal yang sedang Intan pangku untuk menutupi pahanya.


Bintang dilema, antara menutupi pyton nya yang terlihat menggelembung, tapi melihat paha itu semakin membuatnya tidak kuat.


Atau menutupi paha itu, tapi Intan akan melihat kekarnya sang pyton kebanggaan nya.


"Sini in, bantalnya." Intan menyimpan sosis yang sudah dia gigit itu untuk merebut bantal yang di ambil paksa Bintang.


Mereka berebut bantal sofa itu, hingga Intan. terjungkal membuat tubuhnya tertimpa Bintang.


Pandangan mereka kembali beradu, Bintang semakin tidak kuat saat melihat dada di bawahnya kembang kempis.


Bintang kembali menautkan bibir itu, yang berada di bawah tubuhnya. Kedua tangannya menopang di kedua sisi.


Intan yang berada di bawahnya tidak bisa mengelak, dan menerima dengan suka hati. Toh lelaki di depannya akan menjadi suaminya, tapi untuk melepaskan segel rasanya dia masih takut.


Bintang semakin liar, bagian tubuhnya mengetat sempurna, dia tekankan pada Intan.


Agar perempuan itu ikut merasakan.


"Pegang!" Ucapnya lirih saat melepaskan bibir itu untuk bernafas.


Intan menggeleng, malu dan takut menjadi satu.


Kita kan mau menikah, pegang aja. Buat pengenalan," Pintanya lagi.


Bintang menahan bobot tubuhnya dengan siku sebelah kiri, tangan kanannya mengambil tangan Intan dan mengarahkannya pada sang pyton yang masih berada di sarangnya.


Matanya memejam, saat Intan akhirnya mau menye*tuhnya.


"Iya," ucapnya parau. Dia kembali mengecupi wajah Intan dan sesekali menyesap kulit leher jenjang calon istri nya itu.


"Gerakin tangan kamu, tan... "


Intan menurut saja, asal dia tidak di minta untuk hubungan yang sesungguhnya.


"Tan... " Bintang menelusup ke ceruk leher itu.


Dia tengah menikmati usapan Intan.


"Aduh ... aku nggak tahan," Bintang menarik tangan Intan yang sedang bermain mengusap pyton nya.


Bintang menekankan miliknya sambil bergerak tak karuan, bibirnya kembali menyesap bibir Intan.


Dan sebuah era*ngan di sertai desa*an keluar begitu saja dari mulut Bintang.


Intan hanya merasakan ada yang berdenyut di bawah sana, dan paha nya terasa basah.


Bersambung ❤❤


like


komen


favoritnya.


kaborr🏃‍♀🏃‍♀🏃‍♀🏃‍♀ jangan bully 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2