
...--oOo--...
Intan memberengut keluar dari kamar mandi. Dirinya sudah mencuci tangan sebanyak dua kali.
Benar-benar menyebalkan suaminya itu. Bisa-bisanya dia bermodus kan untuk pemberian materi mengemudi, tapi malah menyalurkan has*rat nya yang memang sudah lama terpendam selama kehamilannya.
Intan merangkak naik ke atas tempat tidur, Bintang membalikan posisi tubuhnya menyamping hingga menghadap sang istri.
"Ayok, mau lanjut?" wajahnya terlihat menyeringai.
Intan menarik selimut hingga menutupi setengah wajahnya.
"Ogah, aku ngantuk. Mending daftar ke pelatihan mobil berlisensi, dari pada sama kamu. Ang," ucapnya ketus dan memejamkan mata.
Hanya terdengar tawa renyah dari si suami.
"Makasih, Yank. Aku puas, agak ringan nih badan!" katanya sambil memeluk gemas sang istri.
Intan diam, masih memejamkan mata. Dalam hatinya pun dia merasa bersalah, namun trauma keguguran di kehamilan sebelumnya. Membuat dia dan sang suami sangat menjaga betul. Kejadian jatuhnya kemarin pun sebenarnya dia takut, namun berusaha baik-baik saja di depan Bintang.
"Yank ... " Bintang kembali memanggil Intan, dengan nada lembut dan sedikit parau.
Intan membuka matanya, saling pandang dan sedetik kemudian senyuman saling mereka lempar.
"Makasih," ucapnya lagi.
Intan hanya mampu mengangguk dan semakin menenggelamkan wajahnya di dada hangat sang suami.
*
*
Pagi menyapa, malah sudah hampir siang. Dua insan itu masih bergelung di bawah selimut. Bintang yang masih terdengar mendengkur.
Beda hal nya dengan Intan, matanya masih memejam namun terlihat pucat dan terlihat titik-titik keringat di dahi nya.
Intan meringis, perutnya terasa tidak baik-baik saja. Terasa di cengkram kuat. Sakit, semakin terasa saat dia menggerakkan tubuhnya.
"Ang ... " Panggilnya lirih.
"Ang ... " kini di sertai isak tangis, dia sudah tidak kuat menahan rasa sakit.
Bintang yang mendengar suara Intan, langsung terbangun dan terduduk di sebelah istri nya yang masih terbaring.
"Kenapa?"
"Kamu, kenapa?" Bintang terlihat panik saat melihat istri nya merintih kesakitan.
"Perut aku, sakit ... " Intan menjerit kesakitan.
Bintang yang panik langsung loncat dari tempat tidur nya, bergegas memakai celana panjang. Dan langsung menyambar kunci mobil, dia meninggalkan sang istri yang sedang meraung kesakitan.
Setelah mengeluarkan mobilnya ke jalan, Bintang berlari kembali masuk ke dalam rumah. Melangkahkan kakinya cepat menuju kamar.
Bintang semakin panik mana kala melihat istrinya semakin meraung kesakitan.
"Ang ... " Kembali Intan memanggil suaminya di sertai isak tangis.
Bintang langsung menyambar cardigan yang menggantung di belakang pintu. Dia membantu Intan bangun dan melilitkan nya pada bahu sang istri.
Saat selimut yang menutupi tubuh sang istri Bintang singkirkan. Matanya memaku pada noda darah yang meluas membasahi tempat yang di duduki Intan.
__ADS_1
"Yank ... " Suaranya tercekat, dadanya seakan di hantam sesuatu yang berat. Paru-paru nya seolah lupa cara bernafas.
Intan semakin histeris saat melihat apa yang suaminya lihat.
"Ang... "
"Shhtttt ... " Bintang memotong ucapan Intan dan langsung meraup tubuh lemas itu ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan pun, Bintang sebisa mungkin menahan rasa takutnya. Sesekali menenangkan Intan yang terus menangis.
Bintang semakin pucat saat melihat betis putih istri nya di aliri cairan merah.
Batinnya ingin berterik kencang, ingin ikut menangis. Rasa-rasanya dia ingin memberhentikan mobil karena kepalanya pusing, perutnya mual, nafas juga seakan tercekik. Demi apapun tubuhnya lemas seolah tak bertulang.
"Sayang. Sabar, sebentar lagi sampai." Dia mencoba memberikan kekuatan penuh pada sang istri.
Memberhentikan mobilnya tepat di depan lobby IGD rumah sakit yang tak terlalu jauh dari rumah mereka.
Bintang berteriak meminta pertolongan. Wajah pucat dan bergetar panik itu berusaha mengeluarkan tubuh Intan yang semakin lemas dari dalam mobil.
"Angg .... " Suara itu semakin lemah, dan Bintang semakin gemetar ketakutan. Segala hal buruk berdesakan di dalam kepalanya. Mencoba menepis, namun dia meyakini ini tidak akan baik-baik saja.
"Ngga apa-apa," Bintang mengusap pipi pucat dan berkeringat istrinya, sambil mengangguk kecil membalas tatapan satu mata Intan.
*
*
Bintang terus gelisah di depan pintu kamar ruangan IGD di mana istrinya tengah di rawat.
Tak lama suara langkah kaki terdengar mendekat. Bintang menoleh ke arah suara, terlihat Mentari dan Langit. Kakak juga adiknya. Ya Tuhan.. Demi apapun dia ingin mendapatkan sebuah pelukan menenangkan. Dari siapapun yang tulus, dan sudah pasti keluarga.
"Kak?" Mentari langsung berlari memeluknya, usia kehamilan nya yang sudah 6 bulan itu membuat perutnya sedikit merenggang dari posisi pelukan yang seharusnya.
"Gimana?" Kini suara Langit sang abang yang terdengar.
Pelukan itu mengurai, Bintang kembali duduk di kursi panjang tepat di depan pintu ruangan yang tengah di huni sang istri.
"Masih, di dalem. Ngga tau, gimananya." Bintang menundukkan kepalanya yang dia jambak sesekali.
"Sabar, Kak."
"Kok bisa?" Tanya Mentari.
Bintang menggeleng kan kepalanya, tanda dia tidak tau. Bahkan jika mulutnya tidak di rem mungkin dia akan menceritakan kegiatan nya dini hari tadi bersama sang istri.
" Ada insiden atau mungkin kegiatan yang membuat Teh Intan capek?" Kembali Mentari bertanya.
Bintang langsung diam, teringat insiden jatuh kemarin saat di Panti. Mungkin itu penyebab pendarahan istrinya.
Saat sedang sibuk berpikir segala kemungkinan dan penyebab. Pintu ruangan terbuka. Bintang, Langit dan Mentari langsung berdiri dan menghampiri.
Seorang dokter dan dua orang perawat keluar dari ruangan di depannya.
Pendarahan nya sudah dapat kami atasi, namun maaf, untuk janin ... Tidak bisa kami selamatkan.
Bintang yang tadi berdiri seketika tubuhnya merosot di lantai. Tubuhnya lemas, hatinya sakit. Mengapa untuk kedua kalinya dia harus merasakan kehilangan calon buah hati mereka.
Dan tangis pun pecah dia tak sanggup untuk menahannya lebih lama. Menangis dengan posisi terduduk di lantai, kepalanya yang tertunduk dengan kepalan tangan yang sesekali memukul-mukuli dadanya yang terasa sesak.
Mentari langsung ikut berjongkok dan memeluk kakaknya dengan hati yang sama pedihnya, dia hampir mengalami hal yang kini sedang di rasakan kakak iparnya.
__ADS_1
"Sabar, Kak. Belum rejeki kalian, harus kuat demi Teh Intan." Mentari mencoba menenangkan dan mencoba menguatkan kakaknya. Meski dia yakin ini akan sulit untuk kakak dan iparnya itu.
Sedetik kemudian, ponsel Bintang berdering.
Dia merogoh nya dari saku celana karena terus berdering.
"Ya?"
"... "
"Ada apa?"
"... '
Matanya membola dan tubuhnya menegang.
Musibah apa lagi yang di kirim untuknya, bahunya tidak sekuat yang orang-orang kira, dia rapuh.Di balik sikap slengean nya itu dia seorang lelaki melankolis dan cemen. Sungguh jika bertubi-tubi seperti ini dia pun tidak akan kuat.
"Kenapa bisa?"
"... "
Bintang memejamkan matanya, tubuh, pikiran, dan hatinya sudah dalam tahap lelah. Dia tidak bertenaga dan sudah ingin segera meledakkan tangis, emosi, dan amarah.
Telepon pun berakhir.
Mentari yang masih berjongkok di dekatnya menatap dengan mata penuh tanya.
"Titip bini gue bentar ya, gue mau lihat kedai." Dia bangun dengan langkah gontai dia berjalan menjauh dari ruangan yang sedang di tempati Intan.
Langit yang merasa bingung, langsung mengejar adiknya.
"Tang?" panggilnya sambil merangkul pundak adiknya itu.
"Kenapa?" tanyanya cemas.
"Titip bini gue, Bang."
"Lu, harus tunggu dia dulu. Seenggaknya sampai dia sadar yang dia lihat pas buka mata, lu. Sebagai suaminya, orang terdekat dia!" Langit tak suka cara Bintang yang pergi begitu saja. Meninggalkan istrinya demi melihat kedai makannya.
Bintang menghentikan langkahnya berbalik menatap Abangnya.
"Gue takut emosi liat dia!"
Langit yang tidak tau apa-apa, langsung melayangkan sebuah tamparan untuk adiknya yang dia nilai kurang ajar. Di kala seorang istri tengah terpuruk akibat kehilangan calon bayi yang di kandung. Bisa-bisanya Bintang berkata tentang emosi.
Bintang memegangi pipi nya yang mendapatkan tamparan dari Langit.
"Lu, ngga tau apa-apa. Bang," Bentaknya dan berlari keluar dari rumah sakit menuju area parkir.
Langit terdiam di tempat nya dengan nafas terengah menahan kesal. Bagaimana dia bisa tau jika adiknya itu tidak menjelaskannya.
Dan dia pun berbalik menuju ruangan di mana iparnya di rawat.
Bersambung π₯°π₯°
Minal aidzin wal faidzin π₯° mohon maaf lahir dan batinπ₯°π₯°ππ.
Maafkan otak dan jempol aku yang suci ini π€ππ
Pokoknya sayang kalian semuaππ. Makasih dukungan setianya ππ, aku udah naik level jadi silver tanpa kalian itu nggak akan pernah terjadi lohπ₯°π₯°. Makasih banyak2 pokoknya ππ
__ADS_1
Eh yang punya f***o aku ada di sana ya. Judulnya laki-laki terbaik. Nama pena nya Siti Sartika. Nama asli se aslinya π€£π€£. Aku tunggu di sana ya, sambil berdoa semoga kalian suka dan aku tunggu komen nya di sanaπ₯°π₯°.
Sayang kalian semuaπππ