
...--oOo--...
Seminggu berlalu.
Intan benar-benar di landa mabuk hamil parah, selama seminggu setelah di ketahui hamil. Tidak ada yang bisa masuk ke dalam perutnya kecuali teh manis panas. Selebihnya walau hanya segigit roti pasti akan muntah hebat.
Bintang yang bingung dengan keadaan yang baru pertama mereka alami itu. Benar-benar cemas dan merasa kelimpungan. Selain khawatir akan nutrisi untuk si buah hati, dirinya juga mengasihani sang istri yang hanya sanggup duduk sebentar di sandaran tempat tidur, selebihnya pasti akan mengeluhkan pusing dan lemas.
Bunda beberapa kali datang untuk membantu menunggui istrinya jika dia ada meeting penting di market Ayah yang tidak bisa di wakilkan.
*
*
"Yank ... Apa kita ke dokter lagi?" Bintang sedang memijat lembut punggung Intan, yang baru saja kembali memuntahkan isi perutnya hanya karena sepotong biskuit.
Intan hanya menggeleng pelan, sambil menutupi mulutnya dengan selimut yang dia peluk.
"Tapi, kamu gini banget. Aku cemas sama keadaan kalian, mana nggak ada makanan yang bisa di makan. Yuk, kita ke dokter lagi!" kekehnya membujuk.
Intan berbalik, "peluk ... " ucapnya lirih.
Bintang pun ikut berbaring dan memeluk istrinya.
Intan mengendus aroma tubuh sang suami, yang selalu membuatnya nyaman. Pelukan itu semakin menguat, dan jarak tubuh mereka menghilang.
Bintang hanya mampu menghela nafas, dia sudah libur selama seminggu dari kegiatan yang paling dia suka. Karena tidak tega memintanya pada Intan.
"Yank , jangan gini!" saat dia merasakan Intan terus menciumi dadanya, desiran-desiran halus di tubuhnya seolah membangunkan si pyton yang sudah sangat dia usahakan untuk selalu tertidur.
"Apa? nggak boleh, aku gini?" Intan mendongak menatap suaminya.
Bintang menunduk memandang wajah cemberut istrinya, walau sedikit pucat tapi bulu mata lentik, mata bulat tajam dan bibir penuh karena mengerucut. Membuat istrinya semakin terlihat gemas.
Lelaki itu tersenyum lalu sedikit menundukkan wajahnya untuk sedikit mengecup bibir yang terlihat menggoda itu.
Setelah mendapatkan sedikit kecupan, Intan kembali menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.
"Kita, ke rumah Bunda. Mau?" ajak Bintang.
"Kenapa?"
"Besok, aku ada meeting. Nggak mungkin ninggalin kamu sendiri, atau Bunda aku suruh ke sini?" tawarnya.
Intan langsung menggeleng, "jangan kasian Bunda, aku nggak mau ngerepotin!" katanya.
"Jadi? kita ke sana aja?"
"Iya, sekarang yuk. Aku pengen sirsak di halaman Bunda, kayaknya seger!" Intan tiba-tiba membayangkan segarnya memakan buah sirsak yang di petik langsung.
"Emang ada?" Bintang bertanya.
"Ada, waktu itu aku liat di deket kandang burung. Ayah!"
Bintang masih terus mengelus punggung istrinya.
"Ang ... lepasin," Intan mencoba menarik tubuhnya dari delapan suaminya itu.
"Sebentar, aku kangen." Bisik Bintang parau dari atas kepala istrinya itu.
Intan pun diam, saat usapan Bintang turun ke pinggangnya. Dia mengetahui suaminya menginginkan kegiatan yang sudah cukup lama tak dia minta.
"Mau?" tanyanya.
Bintang hanya tersenyum, "nggak. Kamu sehat dulu aja, biar nanti aku tenang. Nggak ngerasa bersalah!"
"Mau, aku bantu aja?" Intan kembali menawari.
Bintang malah memeluknya gemas, "nggak usah, nggak apa-apa!" jawabnya.
Intan merasa bersyukur sekaligus kasian. Tapi asli, dia tidak bertenaga dan memang takut malah akan menyakiti calon anak mereka.
Mereka pun bersiap untuk pergi ke rumah Bunda.
*
__ADS_1
*
Di sambut oleh Bunda dan Ayah yang sedang duduk di teras rumah besar itu.
Bintang dan Intan turun dari mobil dengan sebuah tas berisi beberapa peralatan dan obat-obatan yang harus di konsumsi Intan.
"Bun," Intan menghampiri Bunda yang sudah berdiri di anak tangga teras untuk menyambut mereka.
"Gimana?"
"Masih, belum bisa ada yang masuk. Mual banget Bun!" keluh Intan.
"Biasa, sabar ya. Bunda juga dulu gitu, waktu hamil Abang mungkin karena pengalaman pertama jadi masih asing tapi ya di jalani aja. Ada apa-apa atau pengen apa jangan ragu minta sama Bintang, bikin dia tanggung jawab sama perbuatannya!" Bunda melirik anaknya yang tengah mendongak di bawah pohon sirsak.
"Mau apa kak?" tanya Bunda.
"Aku, pengen sirsak Bun!" Intan tersenyum melihat ke arah Ibu mertuanya itu.
Bunda mengangguk dan menghampiri anaknya yang sedang memilah-milah buah sirsak mana yang matang.
Suaminya sudah berada di sana, sedang menunjuk-nunjuk mana buah yang kiranya sudah matang.
Akhirnya Bintang memutuskan untuk memanjat pohon sirsak itu, batang yang tidak terlalu besar namun tinggi. Membuat dirinya sangat berhati-hati saat menginjak dahan kecil itu.
Intan dan Bunda duduk di kursi taman sedangkan Ayah memberi makan burung bawel kesayangannya.
"Ini ya?" tanya Bintang dari atas pohon.
Semua orang melihat ke atas pohon.
"Bukan, yang sebelah kiri kepala kamu." Ayah berkata sambil menunjuk buah sirsak cukup besar di dekat kepala anaknya.
Bintang yang memutarkan kepalanya langsung berhadapan langsung dengan buah yang di tuju.
Saat berhasil memegangnya kakinya yang berpijak pada sebuah ranting sebesar betis nya. Merasakan ada suara seperti patahan.
Brugghhhh...
Suara berdebum dengan bintang yang memekik keras. Langsung membuat tiga orang itu berlari ke arahnya.
Mang Asep berlari menghampiri saat mendengar suara jatuh yang berdebum.
"Sakit, aduh ... " Bintang meringis dengan memegang telapak tangannya.
Ayah yang berjongkok di dekatnya ikut memegangi tangan anaknya.
"Mana, sirsaknya?" Bintang masih mengingat buah yang dia ambil demi istrinya itu.
"Tuh deket kaki kamu," Ayah menimpali.
Bintang langsung beringsut bangun.
"Ini, sayang. Buah nya, makan gih. Takut anak kita udah nggak tahan!" Bintang mengulurkan buah sirsak yang lumayan besar.
"Ang, nggak apa-apa? maaf ya, aku ngerepotin. Malah bikin celaka!" Intan duduk di dekat suaminya.
"Nggak lah, paling ke kilir sedikit." Ayah yang menjawab.
Mereka semua pun bangun dan menuju kursi taman yang melingkari sebuah meja bulat.
Bunda datang dengan wadah, pisau dan gula merah. Tak lupa minyak gosok untuk putranya.
Intan langsung antusias dengan buah sirsak yang sudah di idam-idamkan nya sedari pagi tadi.
"Enak?" tanya Bintang melihat istrinya memejam dengan kepala yang di gerak-gerakan.
"Seger banget, " katanya.
Bintang mengangguk puas, walaupun sambil menggosok tangannya yang terasa sakit.
Lalu Intan yang duduk di sebrang nya, melihat nya dengan kening mengerut.
"Kenapa?" Bunda bertanya saat melihat raut wajah menantunya.
Bintang sudah tersipu malu, karena dia mengira Intan tengah mengagumi dirinya yang terlihat maskulin karena terjatuh demi menuruti keinginannya.
__ADS_1
"Itu, itu apa sih Bun?"
"Apa? di mana?"
"Itu, di deket leher kak Bintang!" tunjuk nya.
Bintang yang langsung menoleh ke kiri kanan nya langsung menjerit saat melihat ulat besar ada di pundaknya.
"Bun ..... "
"Arghhh ... " Bunda yang di dekati Putranya berlari menjauh.
"Ayah .... Mang Asepppp.... " Wanita tua berdaster sebetis itu berlari di kejar anaknya yang meminta pertolongan.
Intan yang sedang memakan buah sirsak hasil petikan suaminya. Malah terkikik geli sambil terus memakan suap demi suap sirsak yang berada di mangkuk penuh serutan gula merah.
Ayah datang dari arah ruang tamu, dan mang Asep datang dari arah pintu samping.
Bunda langsung berlari berlindung ke belakang tubuh suaminya.
Bintang yang masih berlari meminta pertolongan untuk mengambil ulat di pundaknya. Dengan sekali gerakan telapak tangan Ayah di wajahnya langsung menghentikan langkah kakinya.
Mang Asep langsung mendekat.
"Oh, hileud orok!" (oh, ulet bayi!"
"Mang, buruan ambil ... ihhhhh," Bintang bergidik, begitu pun Bunda yang bersembunyi di tubuh suaminya.
Mang Asep mengambil nya dengan tangan kosong.
"Ulet sirsak mah emang gini, gede kayak bayi. Mana matanya belo!" ucapnya sambil mengacungkan ulat yang sudah berada di tangannya.
Bintang langsung melepas bajunya. Dan bergidik ngeri.
Drama ulat bayi pohon sirsak pun selesai, Bunda masuk untuk memasak menu makan malam, Ayah ke kamar nya. Dan Bintang kembali menghampiri istrinya yang sedang sibuk tertawa di kursi taman.
...****...
"Kamu, seneng banget!" Bintang dudul di sebelah istrinya, tanpa mengenakan kaos yang tadi dia pakai.
Intan malah terbahak-bahak lucu mengingat kejadian suaminya yang mengejar-ngejar mertuanya.
"Lucu, ya ampun. Kok bisa itu ulet gede banget nempel kamu nggak ngerasa, Ang?" tanyanya masih terus tertawa.
Lelaki itu menggelengkan kepalanya. "Mana, matanya melotot keknya kita sama-sama nengok,"
ucapnya bergidik, saat mengingat dirinya bersitatap dengan ulat besar tadi.
"Gede banget loh, Ang ... segede punya kamu!" Intan berbisik.
"Punya aku?" Bintang membeo.
Intan mengangguk menahan senyum.
"Punya aku pas bangun apa lagi tidur?"
Istrinya itu diam seperti berpikir.
"Baru seminggu, yank. Udah lupa? yuk aku liatin lagi?" godanya.
Intan tersipu memukul pelan dada suaminya.
"Ang ... kamu seksi!" bisiknya sambil mencubit put*ing suaminya yang kecil mencuat.
"Dih, mancing-mancing. Sini, aku bales punya kamu!" Bintang seolah akan membalas hal yang barusan istrinya itu.
"Di kamar yuk?" Intan berbisik lalu berjalan melenggang melewati suaminya yang masih terpaku akan bisikan me*sum nya.
Bintang tertawa lalu mengepalkan tangannya senang. "makasih ulet, berkat kamu. Istriku jadi ngajak ngamar," ucapnya pada pohon sirsak di pojokan rumah orang tuanya itu.
Bersambung.
Cerita ini di sponsori misua dengan hadiah keyboard nya🤭. Dan lumpia basah tak lupa es jeruk. Aku masih di sponsori pak su, dengan bayaran luar biasa melelahkan. Dan perjanjian untuk nggak begadang, karena stock cemilan di kulkas sekarang jarang ada. Anaknya ngadu kalo siang mak nya tidur mulu karena malemnya suka begadang 🤣🤣🤣. Padahal ide lancar itu tengah malem🤭.
Udahlah jangan lupa like, komen yang makin hari makin sedikit 🤧
__ADS_1
Gimana ini🤧🤧.