
...---oOo---...
Seminggu berlalu
Mereka baru saja sampai rumah dan Intan langsung berlari ke kamar mandi hanya karena memakan satu buah cireng yang sangat dia inginkan, saat melewati jalan pulang dari rumah sakit.
Bintang menghampiri dengan segelas air hangat sambil mengusap punggung istrinya yang sedang menunduk di atas wastafel.
Intan membasuh wajahnya dan tatapan mereka bertemu di cermin yang berada di depan mereka.
"Udah?" Bintang menatap iba istrinya.
Intan mengangguk lemas dan berbalik ke arah suaminya.
"Minum?" Bintang menyodorkan gelas air di tangannya itu. Dengan perlahan Intan meminumnya.
Mereka berjalan ke arah kamar, Intan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Ambilin daster!" katanya menyuruh sang suami yang juga sedang memilah baju yang akan dia kenakan.
Lalu Bintang datang dengan satu daster berwarna coklat dengan corak kupu-kupu. Intan bangun dengan perlahan. Dari semalam dia merasakan bagian perut bawahnya menegang dan sedikit tidak nyaman.
"Kenapa?" Bintang yang juga sedang membuka baju bertanya.
"Nggak," ucap Intan tak jujur.
Bintang melihat ada raut berbeda dari istrinya, semalam juga dia mendengar istrinya meringis saat tidur.
"Sakit?" Bintang mendekat dan mengusap perut istrinya.
"Cuma agak tegang aja. Anak kamu udah mau dua bulan. Jadi mungkin memang seperti ini!" ucapnya mencoba menenangkan hati suaminya.
"Kamu, kecapean. Bolak-balik rumah sakit," keluh nya.
Intan yang sedang melepaskan celananya langsung menatap Bintang yang sedang memakai celana jersey favoritnya.
"Kalo nggak aku siapa? cuma aku saudara Kakang. Kita cuma berdua di dunia ini. Kalo nggak saling memiliki dan menjaga mau sama siapa?" Katanya marah. Intan tak Terima saat kegiatan menunggui kakangnya itu, seakan menjadi masalah untuk suaminya.
"Kok jadi marah? aku cuma ngingetin kalo kamu juga harus memikirkan kesehatan kamu, ada anak kita di dalam sana!" Bintang tak kalah emosi.
"Aku juga tau, nggak usah kamu kasih tau setiap waktu. Seolah aku ini nggak becus jaga dia!" Intan yang berjalan ke arah keranjang cucian di dekat pintu kamar mandi, langsung melempar asal pakaian kotor yang di pegangnya.
"Siapa yang bilang kamu nggak becus? aku cuma ngingetin. Kamu jangan terlalu capek. Salah, aku bicara kayak gitu ke kamu?" bentaknya lagi.
Intan tak mendengarkan dan langsung naik ke atas tempat tidur menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
Bintang masih mematung di tepian tempat tidur, merasa segala nasihat tak di anggap. Dia langsung mendengus kesal, menyambar jaketnya yang menggantung di balik pintu. lalu dengan sedikit bantingan keras dia menutup pintu kamar.
Intan terhenyak di dalam selimut mendengar pintu yang di banting cukup keras oleh suaminya itu.
__ADS_1
*
*
Bintang keluar rumah, berjalan menyusuri jalan komplek mereka. Sebenarnya dia lelah ingin istirahat dengan tenang, dia baru saja pulang dari Jakarta untuk mengecek beberapa market Ayah di sana. Langsung menjemput istrinya yang ternyata masih ada di rumah sakit. Menunggui kakak iparnya yang semakin terlihat parah, bahkan kini Adit berada di ruang ICU, karena dua hari lalu sempat gagal nafas. Operasi pun belum bisa di laksanakan karena harus menunggu keadaan Adit yang stabil.
"Duh, laper!" gumamnya sambil mengusap perutnya yang terdengar berisik. Melihat ada gerobak tukang bakso di depan pos kamling, Bintang pun sumringah menghampiri. Ada dua orang yang sedang bermain catur di pos itu.
Ternyata salah satunya adalah Pak Herman tetangga sebelah rumah nya.
"Eh, Pak Bintang!" sapanya.
Bintang mengangguk dan ikut duduk bergabung di sana.
"Mas, baksonya satu. Bapak-bapak mau pesan juga sekalian?" tawarnya.
Kedua orang itu lalu mengangguk antusias.
Mereka pun makan bakso bersama, di pos kamling itu. Sesekali candaan dan obrolan ringan menemani acara makan bersama itu.
"Makasih loh, Pak Bin. Traktirannya, jadi malu kita!" ucap salah seorang pria yang terbilang paling tua di antara mereka bertiga.
Bintang mengangguk dan tersenyum, " Nggak apa-apa malu, yang penting enak. Iya nggak Mas?" tanyanya pada si penjual bakso yang sedang membereskan mangkuk bekas mereka makan. Dia hanya mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.
Lalu pamit untuk kembali berkeliling menjajakan dagangannya yang tinggal sedikit lagi.
Mereka bertiga bermain catur dengan canda tawa. Hawa dingin, perut kenyang oleh bakso dan tubuh yang lelah. Membuat Bintang yang sedang menunggu antrian giliran bermain catur malah tertidur.
Di rumah
Intan terisak menangis, dia kesal kenapa suaminya itu tidak mengerti keadaannya, tidak mengerti posisinya sekarang. Sebagai satu-satunya keluaran yang Adit miliki. Kenapa dia salah hanya karena mementingkan kakangnya. Dia juga tau dan menjaga betul bayi yang tengah tumbuh di dalam rahim nya, calon anak mereka.
Dia terus gelisah karena hampir tengah malam suaminya itu belum pulang dan entah pergi kemana.
Biasanya tengah malam seperti ini dirinya tengah di elus oleh tangan hangat suaminya yang sesekali jahil. Atau di buatkan minuman hangat untuk pengantar tidurnya agar perutnya nyaman.
Sesekali Intan mengintip di balik gorden ruang tamu mereka, berharap suaminya muncul dari balik pagar setinggi dadanya itu.
Intan semakin merasa sedih dan kesepian, suaminya pergi dalam keadaan marah tanpa memikirkan dirinya yang sendiri di rumah dalam keadaan hamil.
"Kalo ampe jam 12 kamu nggak pulang, pintu bakal aku kunci, Ang." gerutunya kesal sambil melongokkan kepalanya di pagar rumah mereka.
Saat kembali masuk ke dalam rumah, ponselnya di dalam kamar terdengar berbunyi.
Intan langsung tergesa menerima panggilan itu.
"Ya, malam?" jawabnya
"... "
__ADS_1
"Iya, baik. Saya ke sana sekarang!" ucapnya panik.
Intan langsung berjalan panik mengambil jaket di lemari untuk melapisi tubuhnya yang hanya berbalut daster se lutut. Intan menyambar kunci motor di dalam guci kecil tempat kunci motor dan mobil suaminya biasa di simpan.
Tanpa mengunci pintu dia langsung mengendarai motor itu menuju rumah sakit tempat kakangnya di rawat. Setelah mendapatkan kabar kalo kakangnya semakin drop.
Sepanjang jalan pun dia hanya mampu menangis sambil mengendarai sepeda motor nya.
Tak bisa menghubungi suami nya karena ponsel lelaki yang tengah. arah itu tergeletak di atas nakas kamar mereka. Intan merasa jantungnya berdegup kencang dan tubuhnya seakan lemas tak bertulang. Mencoba menyingkirkan jauh-jauh segala pemikiran buruk yang terjadi pada kakangnya.
*
*
"Pak... Pak Bin, nggak akan pulang?" tanya Pak Herman sambil menggoyang kan tubuh nyenyak Bintang.
Bintang menggeliat, "aduh. Saya ketiduran!" Bintang terduduk sambil mengusap wajahnya.
"Udah jam 1, kita mau langsung keliling buat ronda. Bapak mau pulang atau ikut?" tanyanya.
"Apa, sekarang jam 1?" Bintang langsung turun dari pos itu tergesa-gesa. Dia meninggalkan istrinya yang tengah marah di rumah sendirian.
"Aduh, mati. Dia pasti bakalan ngamuk!" gumamnya sambil sedikit berlari menuju rumah nya.
Saat sampai depan pagar, alangkah kagetnya dia melihat pagar terbuka dan motor istrinya tidak ada.
Dia berharap motor itu hilang dari pada membayangkan istrinya kabur tengah malam dalam keadaan hamil.
"Yank ... " panggil nya saat membuka pintu ruang tamu yang ternyata tidak terkunci.
Masuk kedalam rumah yang sepi, dia meyakini istrinya itu tidur, namun saat melihat pintu kamar mereka terbuka lebar. Jantungnya semakin tak karuan. Bintang berlari dan mengedarkan pandangan nya di kamar berluas 5×3 meter itu.
"Sayang?" dia membuka pintu kamar mandi, namun nihil istrinya tidak ada di sana.
Bintang memeriksa seisi rumah, namun istrinya tidak dia temukan.
"Kamu, kemana yank? tengah malem keadaan hamil! Astaga... " keluh nya menjambaki rambut kepala nya frustasi.
Bintang mengambil ponselnya dan segera melakukan panggilan, namun di panggilan ke sekian kalinya tetap tidak di jawab.
"Sayang, please jawab. Jantung aku mau copot, ampun. Mending kamu tinggalin lagi tegang-tegangnya. Dari pada kamu tinggalin dalam keadaan seperti ini. Situasi seperti ini bikin aku jantungan." dia mondar-mandir di dalam rumah sambil tangannya tak melepaskan ponsel yang menempeli telinganya.
Saat dia teringat, mungkin ke rumah sakit saat melihat koper masih ada. Tidak mungkin istrinya itu pergi tanpa membawa pakain.
Lalu ponselnya berdering dan nama istrinya yang tertera di layar.
"Yank ... kamu di mana, maaf aku tadi ketiduran di..."
"Ang ... Ang ke sini, ke rumah sakit ... Ka-kakang.. " terdengar suara istrinya itu tercekat, dia menangis. Tubuhnya semakin terasa menegang, tanpa memutus panggilan dia langsung menyambar kunci mobil dan melajukan mobilnya secepat kilat menuju rumah sakit.
__ADS_1
Bersambung ❤❤
like, komennya