Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Jasa antar


__ADS_3

...🦋🦋🦋🦋...


"Kurang deket? hemm?" ucap Bintang beberapa centi dari wajah Intan.


"Lepas nggak? atau aku teriak? Intan mengancam.


Seringai Bintang membuat Intan semakin takut, lelaki di hadapan nya memang terbilang berani dalam bertindak.


Saat wajah mereka semakin dekat, tiba-tiba Bintang menarik wajahnya. Dan...


Preet... pretttt...


Bintang berlari sambil memegangi perutnya yang kembali terasa mulas melilit.


Intan menghela nafasnya namun langsung menjepit hidungnya saat mencium bau khas dari suara-suara yang barusan dia dengar.


"Ampun gusti, bau banget ... yang di makan nasi goreng yang keluar bau ban"gke," Intan berlari keluar dari lorong pemisah toilet itu.


Dia langsung duduk di sebelah Edo yang tersenyum ramah padanya.


"Bener nggak mau aku anter?" Edo meyakinkannya.


Intan hanya mengangguk.


Tiba-tiba Bintang datang dengan wajah di buat se cool mungkin.


"Telpon sama siapa kak? lama amat!" Mentari bertanya.


Bintang yang baru duduk seolah tak nyaman, iya abis telponan sama keran air. Gumamnya dalam hati.


"Biasalah, telpon kerjaan." ucapnya bohong.


Intan hanya menatapnya sinis. Bokis lagi kan? padahal mah mules tuh. cibir nya dalam hati.


Bintang meringis tapi alisnya bergerak menggodanya.


Intan langsung mengalihkan pandangannya, hal tersebut tak lepas dari perhatian Dafa dan Mentari yang duduk tepat di hadapannya.


"Kalo gitu, kita pulang sekarang. Kasian Edo takut kemaleman pulangnya," Dafa bangun dengan membawa sebuah nomor meja untuk di bawanya ke kasir.


Mentari bangun dengan Shera yang tertidur di gendongan nya sementara Helen di gendong Intan.


Mereka berjalan dan Intan di tarik ke belakang oleh Intan.


"Apa sih, Pak?" Intan melepaskan pegangan Bintang.


"Bareng jalannya, lu gue anter pulang ke Jakarta."


"Nggak usah, saya mu ke makam Mas Dani dulu, terus pulangnya mau beli oleh2. Buat Kak Putri," ucapnya menolak.


"Siapa Putri?"


"Itu yang di kamar sebelah,"


"Dia yang kamu bilang tadi lagi ngidam?"


Intan mengangguk.


"Nggak aneh sih, tato Macan tutul nya banyak."


"Tapi kasian, laki-laki nya ilang!"


Bintang menoleh dengan kening mengerut, "Ilang kabur?" tanyanya.


"Iyalah, masa laki-laki ilang di culik. Emang kalo nyulik laki ada gunanya?"


"Ck, lu bener ya. Ngerendahin cowok," Bintang menyentil kening Intan pelan.


Lalu suara bariton Edo terdengar, "Tan ... "


Intan menoleh ke arah Edo.


"Ya, Bang?" tanyanya.


Bintang melongo mendengar panggilan Intan pada Edo.


"Abang ... abang bakso? si persia bener-bener ngelunjak," Gerutunya kesal.

__ADS_1


Terlihat Edo yang memang tinggi menunduk berbisik ke telinga Intan. Dan wanita itu tertawa dengan renyahnya.


Bintang yang geram langsung menyela pembicaraan mereka dengan dalih mengambil Helen dari gendongan Intan.


"Sorry, ponakan gue kejepit." Katanya dengan wajah menatap sinis ke arah Intan.


*


*


Tiba di rumah Mentari, Bintang terlihat tak bisa diam.


"Buruan buka, ishhh lama." ucapnya pada sang adik yang tengah membuka kunci pagar.


"Kenapa sih?"


"Pengen midillll ... buruan, aduhhh... mau jatoh ini," Bintang memegangi perut dan area belakang nya.


Mentari tertawa sambil membuka kunci ruang tamunya.


Bintang terbirit-birit masuk ke rumah menuju kamar mandi.


Dafa masuk dengan Helen yang tertidur, dia mengambilnya dari pangkuan Intan.


"Kenapa kakak mu, Bu?" tanyanya saat mereka masuk kamar.


"Sakit perut,"


"Banyak gaya. Nggak bisa makan pedes sok2 an," ujarnya sambil menidurkan Helen.


Mereka kembali ke luar kamar, karena Edo belum pulang.


Intan masih terlihat berbincang dengan Edo di bangku teras rumah.


"Aku kayaknya pulang sekarang deh, kalo ke sorean takutnya arus balik ke Jakarta makin malem makin macet!" Pamit lelaki gagah blasteran itu.


Intan mengangguk lalu ikut masuk ke dalam rumah bos nya saat Edo akan berpamitan pada bos besarnya.


"Makasih, ya Do. Jadi ngerepotin kalian." Dafa menghampiri mereka saling bersalaman melepas kepulangan Edo.


Setelah selesai berpamitan, Intan mengikuti Edo ke arah mobilnya terparkir.


Bintang yang baru keluar dari kamar mandi, keluar dan pandangan nya mencari keberadaan orang-orang.


Saat dia ke teras pandangan mengesalkan lagi-lagi dia temui, di mana Intan tengah bercakap dengan Edo di depan mobil lelaki itu.


"Eh.. belum pulang?" tanyanya basa-basi.


"Iya, ini mau pulang."


Bintang mengangguk, " Ok, gue mau ngeluarin mobil, mobil lu ngalangin." katanya lagi.


Edo pun mengangguk pada Intan, lalu memegang pundak Intan.


"Aku pulang duluan ya. Hati-hati besok pulangnya!"


"Jangan lupa pesenan aku yang tadi," tambahnya lagi.


Intan tersenyum dan melambaikan tangan pada mobil SUV abu milik Edo.


"Ck, sok cool." Bintang mencibir.


"Emang," Intan berlalu masuk ke dalam rumah.


Bintang di tinggalkan di luar pagar dengan pandangan nya pada mobil abu yang hilang di tikungan jalan.


***


"Eh, kirain si cungkring masih si sini,"


Lalu dia masuk ke dalam rumah, melihat Intan tengah duduk dengan Mentari di meja makan.


"Kayaknya saya pergi sekarang, Bu."


"Ya, terserah teteh. Hati-hati ya," Mentari memeluk mantan pengasuh anaknya yang kini menjadi karyawan suaminya.


"Gue anter!" Bintang berkata saat melihat Intan sudah memakai tasnya.

__ADS_1


"Mau ke makam,"


"Iya, gue tau kan."


"Terus mau nyari oleh-oleh, baru ke tempat travel."


"Iya, Intan. Gue anter nggak pake argo. Lu make urai semua tempat yang mau lu kunjungi."


Mentari tersenyum melihat Bintang dan Intan yang selalu terlibat adu mulut.


*


*


Selesai dari makam


Kini mereka sudah berada di tempat membeli oleh-oleh.


Intan mengambil beberapa bungkus keripik tempe, menimbang tape singkong, lalu memilih beberapa manisan buah seperti mangga, salak dan kedongdong.


Selesai berbelanja, mereka kembali ke dalam mobil. Dan Bintang melajukan nya dengan perlahan, bahkan menurut Intan terlalu pelan.


"Loh kok, ini bukan ke tempat travel, ini arah ke gerbang tol!" Teriak nya pada Bintang.


"Emang, gue mau nganterin lu. Sekalian mau ngambil baju," Alasanya


Intan hanya menatapnya dengan wajah kesal seperti biasa.


Lelaki di sebelah nya tidak pernah mau di bantah dan selalu melakukan apa dengan seenaknya.


Intan tertidur karena rasa lelah dan perut yang kenyang.


Bintang tersenyum ke arahnya.


Lalu setelah melalui jalan tol hampir satu jam, Bintang membelokkan mobilnya pada rest area.


Dia langsung berlari ke arah toilet setelah sebelumnya membuka sedikit celah jendela, agar Intan masih bisa menghirup udara.


Intan mengerjap saat tersadar mobil diam.


"Hah, kemana Pak rombeng?" matanya mengelilingi rest area dan tak dapat menemukan lelaki itu.


Saat dia akan turun dari mobil, terlihat Bintang di kejauhan dengan menenteng sebuah bungkusan berlogo salah satu minimarket yang menjamur keberadaan nya di seluruh Indonesia.


"Lu bangun?"


"Nggak, masih mimpi." Jawab Intan kesal.


Bintang menyandarkan tubuhnya.


"Kenapa?" tanya Intan.


"Mules, terus celana aku basah kena siraman air waktu ce*bok." ucapnya lemas.


Intan terbahak dan menutup mulutnya seketika saat Bintang menatapnya dengan kesal.


"Terus?"


"Ya, kan emang mau ngambil baju di kostan. Lu, " ujarnya.


"Terus dalemannya?"


"Udah beli, tuh di keresek. Ada minuman sama cemilan juga." tunjuk nya pada bungkusan di jok belakang.


Intan merogoh isi keresek itu, ada minuman teh dalam kemasan kotak. Lalu dengan cepat dia meminumnya.


Bintang kembali melajukan mobil sedan nya, menuju Jakarta tempat kostan yang kini di tinggali Intan.


Tanpa mereka ketahui sebuah mobil yang di kendarai seseorang mengikuti mereka.


Bersambung ❤❤❤


Like nya...


Komentar nya...


dan favoritnya ya...

__ADS_1


Makasih, sehat dan bahagia buat kita semua😘😘


semoga menghibur, 😘😘.


__ADS_2