Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Ular tangga


__ADS_3

...🦋🦋🦋🦋🦋...


Bintang mengerjap kaget, saat sesuatu menimpa pyton nya.


"Ck, si cungkring napa posisi tidurnya begini sih?" dia menggerutu saat mendapati Intan tidur di bawah dekat kakinya tapi tangannya menimpa pyton nya.


Di geser tangan itu lalu dia menghela nafas, setelah berhasil menyingkirkan tangan Intan yang menimpa pyton kesayangannya.


"Tuh kan, ketindihan jadi nya dia sesek." Gumamnya pelan.


Sesaat dia termenung, kenapa pyton nya bangun di waktu yang dia pikir salah. Apa karena kesenggol Intan atau karena dia baru bangun dari tidur yang biasanya memang terbiasa bangun berdua.


Dia menepis semua kemungkinan, saat Intan bergerak dan membalikan tubuhnya lehernya yang putih dan tengkuknya yang kecil malah membuat jakun nya naik turun.


"Sial, kenapa ini? masa liat leher si cungkring ngerasa gerah?" dia menggerutu sendiri.


Bintang bangun dari posisinya, beranjak ke kamar mandi. Melewati Intan yang tidur menyamping badannya di lantai sedangkan hanya kepala nya saja di kasur.


Merasa tak tega karena memang cuaca di luar dingin, Bintang mengguncang tubuh Intan.


"Tan ... woy, naik sono ke kasur. Ntar malah masuk angin di hari pertama lu kerja," Bintang menepuk lengan Intan.


Perempuan itu beringsut naik ke atas kasur, dengan


kesadaran yang minim.


Bintang tertawa sambil masuk ke dalam kamar mandi.


Di kamar mandi dia tertegun saat melihat kacamata dada berwarna merah menggantung di sebelah handuk.


"Dih, seneng banget lu gantungin jeroan di kamar mandi," gerutunya sambil membasuh wajahnya.


Bintang keluar dari kamar mandi, merasa lapar namun tidak ada apa-apa di sana.


Dia mencoba keluar, langit yang gelap dengan sisa-sisa air hujan yang berjatuhan dari sisi genteng menambah hawa dingin di malam itu.


"Mas, maaf numpang tanya kalo warung di sini di mana ya?" tanyanya pada penghuni kamar sebelah yang baru keluar.


"Maaf, kurang tau. Saya tamu di sini," ucapnya dengan wajah segar serta rambut basah.


"Ayankk ... " seorang perempuan keluar dengan keadaan yang sama, segar dengan rambut sebahu nya yg juga basah.


"Udah?" tanya lelaki itu, dan di angguki kekasihnya.


Bintang mengeluarkan rokoknya lalu mencoba menyalakannya.


"Yank, kalo warung di sini di mana? Mas itu nanyain!"


"Uhm, Mas baru ya?" tanya perempuan itu dengan tangan menggandeng tangan laki-laki kurus sebelah nya.


"Iya,"


"Kost sendiri?" tanyanya lagi.


"Oh, bukan saya yang kost di sini!" Bintang dengan cepat membantah sambil menggerakan tangannya.


"Oh, pacarnya?" sekarang giliran lelaki kurus di depannya yang berbicara.


Bintang geram, bertanya warung saja harus di interogasi sepanjang ini.

__ADS_1


"Bu-bukan juga, itu ehm... adik saya," jawabnya asal.


Pasangan itu mengangguk paham.


"Warungnya ada di sebelah kiri. Keluar dari gerbang jalan sedikit sebelah kiri ada warung kelontong cukup kumplit sih, sebrang nya warung sayuran kalo mau masak di situ bahannya kumplit murah bisa beli cabe rawit dua rebu nggak harus di kilo kek warung sayur di tempat lain.Terus agak jalan ke sebelah kanan nya ada apotek, ada kang pulsa juga."


"Yank, udah komplit banget. Nanya warung doang," potong pacarnya, saat sang kekasih terus nyerocos seolah sebagai operator aplikasi penunjuk jalan.


"Biar jelas, sayang... " ucapnya manja.


Bintang tersenyum geli melihat tingkah laku pasangan itu.


Lalu mereka melewati nya begitu saja.


"Buruan aku lapar, ngeganti tenaga yang tadi di keluarin sekalian ngisi buat nanti main lagi!"


"Ahh ... ayank, aku udah capek. Kamu prasmanan aja lah, aku pasrah." Rengek si perempuan berambut sebahu itu.


Bintang hanya mematung sambil telinganya mencuri dengar percakapan ++ di depannya.


"Anjim, banyak yang main ular tangga. Si cungkring salah nyari kostan. Bahaya, dia kan tipe gampang di modusin, ntar ah... " Bintang mendumel sambil berjalan menuju warung untuk membeli makanan.


*


*


Intan mengerjap, tangannya merayap mencari ponselnya yang berbunyi.


Dia menatap layar ponselnya dengan mata yang masih menyipit.


"Iya, halo Bu?"


"Eum, kakak saya masih di sana Teh?" Mentari bertanya soal kakak nya.


"Uhm, Bunda saya khawatir. Soalnya, ponselnya mati katanya. Ya udah nanti saya coba tlp lagi. Makasih ya, Teh. Maaf ngeganggu pasti ya?" ucap perempuan yang selalu berkata lembut itu.


"Nggak , Bu. Iya sama-sama, mungkin di jalan pulang atau lagi ngapel pacarnya." Ujarnya.


Panggilan pun terputus. Baru saja Intan menyimpan ponselnya dan menarik sebuah baju tidur minimal dari lemarinya yang selama kerja di rumah Mentari jarang di pakai karena merasa tidak enak.


Intan keluar dari kamar mandi dengan baju yang sudah di ganti dan kacamata dada yang sudah terlepas dari tubuhnya.


"Argghhh ..." dia menjerit saat melihat Bintang sudah duduk di sebelah kasurnya, dengan beberapa bungkusan keresek di depannya.


Bintang yang sedang menetap TV langsung melirik ikut kaget dengan teriakan Intan.


"Lu kenapa?" tanyanya sambil memegangi dadanya.


"Gue kaget, gimana kalo jantung gue lepas turun ke bawah, ntar biji jadi tiga. Mau lu nge benerinnya?" ucapnya ambigu seperti biasa.


"Emang saya nggak kaget, liat Bapak?"


"Kirain udah pulang, atau ngapel. Malah masih ada di sini. Itu Ibu nya nyariin, barusan Bu Mentari nelpon nanyain Bapak masih ada di sini nggak?" ucapnya sinis.


Bintang yang tengah menyimak omelan Intan, seketika pandangan nya terpaku di area bulat yang ujungnya yang gelap membayang di dress tidur berwarna coklat muda itu.


Lagi-lagi dia menelan ludahnya yang seketika banjir di dalam mulutnya. "Anjirr ... nyiksa banget si cungkring," batinnya memaki-maki Intan.


Intan baru tersadar dan segera masuk kembali ke kamar mandi. Dia merutuki kebodohannya di dalam kamar mandi, tapi di pikir lagi memang bukan salah dia, mana dia tau lelaki itu berada di sana. Yang dia takuti Bintang berpikiran buruk tentangnya.

__ADS_1


Intan keluar dengan baju lengkap seperti tadi sebelum dia menggantinya dengan dress tidur yang minim.


"Makan dulu, gue laper. Ada warung sebelah kiri, di depannya tukang sayur sapa tau Lu mau masak, jalan sedikit ke sebelah kanan ada warung nasi sama kang pulsa." Dia menjelaskan sesuai dengan yang tetangganya itu sebutkan dan telah lolos survei dirinya.


Intan mengangguk canggung, namun semua nya dia serap dalam ingatannya.


"Nih, gue beli nasi bungkus. Ada ati ampela balado, sayur sop anget nih enak, ayam serundeng sama nasi ini gue sengaja pisahin. Buat lu sarapan besok," ucapnya menerangkan.


"Bapak makan apa?" tanyanya saat Bintang malah meminum sebuah jamu sachet cap tolak tornado.


"Gue nggak enak makan, agak meriang nih badan." jawabnya setelah meminum habis jamu sachet itu.


"Kecapean mungkin Pak, maaf ya saya ngerepotin." Intan merasa bersalah, laki-laki rombeng di depannya itu ternyata sangat baik dan perhatian padanya. Benar kata adiknya laki-laki di depannya itu memang menyebalkan di luar tapi baik hati.


"Tan, keknya lu harus cari kostan lain deh," ucapnya sambil memegang remot TV.


Intan yang tengah makan, langsung menatapnya.


"Kenapa Pak?"


"Gue liat banyak pasangan yang ... dua jarinya membentuk gerakan tanda kutip.


" Kata siapa? Bapak sok tau!" Intan kembali memakan nasi nya.


"Ck, nggak percaya ... Tadi gue denger sendiri, aduh percakapan nya menjurus ke main uler tangga!" dia kekeh.


"Uler tangga?" Intan membeo dengan kening mengerut.


"Iya, permainan uler yang naik turun- naik turun. Dih jangan bilang lu kagak ngarti ya apa yang gue omongin, harus di perjelas?" Bintang menepuk-nepukan telapak tangannya seolah sedang memperagakan gerakan ... (you know lah, pasti tau😝)


"Ya, biarin yang penting saya nggak!"


"Iya, sekarang gimana kalo nanti kamu masuk angin ? perut melendung kemasukan angin?" Bintang sudah geram karena Intan susah di peringatkan.


"Ya tinggal kerokan terus minum obat tolak tornado kayak yang bapak minum!" Jawabnya asal, dia jelas tau arah pembicaraan Bintang. Namun seperti biasa dia malas meladeni pembicaraan yang berbau dewasa dengan laki-laki.


"Ck, lu mah susah di kasih tau. Ya udah gue mau ngapel, mumpung baru jam 7." Bintang bangun dan hanya mengangguk berpamitan pada Intan.


Saat dirinya sudah sampai pintu.


"Pak,"


"Ya?" Bintang menoleh.


"Makasih banyak, buat semua!" ucapnya malu.


Bintang hanya mengangguk.


"Kunci nih pintu, kalo ada yang ngetok intip dulu dari jendela. Jangan main buka aja,"


Intan tersenyum dan mengangguk seperti anak kecil yang di beri petuah oleh orang tuanya.


Bintang pun hilang di balik pintu yang dia tutup sendiri.


"Makasih banyak Pak' Bin." Ucapnya sangat pelan sambil tersenyum.


Bersambung ❤❤❤


Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naik🤣🤣🤣

__ADS_1


jangan lupa like... komen... dan masukin ke favorit ya🤗🤗🤗🙏🙏🙏😘😘😘 kalo udah di klik love jangan di klik lagi dong zeyenkkk... haduh php kan udah nambah turun lagi nambah lagi kalian apa2an🤧🤧 eh bebas deng nggak maksa🤭🤭


Sehat buat kalian semua😘😘


__ADS_2