Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Ziarah


__ADS_3

...🦋🦋🦋🦋...


Beberapa hari kemudian.


Mereka tiba di sebuah pemakaman di daerah Bandung.


Intan membawa satu kantung plastik berisikan bunga tujuh rupa, Bintang membawa sebuah botol air mineral.


Mereka berjalan bersisian sepanjang jalan setapak yang memisahkan blok2 pemakaman itu.


Intan berhenti di sebuah makam berselimut kan hamparan rumput hijau yang rapi.


Bintang menatap ukiran nama di atas nisan baru itu.


Ina Yulianti, "Tan?" panggilnya.


Intan menoleh dan mengangguk. "Ini makam Mamah aku, Mas!" jawabnya.


Lalu mereka duduk Intan menyapa seolah akan mendapatkan jawaban dari si pemilik tanah itu,


Bintang yang berada di sebelah nya hanya menyimak Intan bercerita pada almarhum calon mertuanya itu.


Merasa cuaca panas dan tenggorokannya kering Bintang membuka botol air mineral itu dan meminumnya.


Setelah selesai bercerita, meminta ijin pada almarhum Mama nya, Intan langsung berdoa dan menaburkan bunga yang dia bawa saat meminta botol air itu dia kaget karena air itu hanya tersisa setengahnya saja.


"Kemana?" dia mengacungkan botol itu


"Aku minum, haus banget." Dafa berkata dengan polosnya.


"Ishh... ini buat siram makam, mana dua makam kan yang bakal kita datengin." Intan menggerutu kesal.


Bintang hanya cengar cengir tanpa dosa.


"Aku haus, Sayang ... "


Intan cemberut sambil menuangkan sedikit air di atas nisan sang Mama.


"Bu, ijinin aku nikah sama Mas Bintang ya. Walaupun sifatnya agak luar biasa tapi dia baik bu," ucapnya pelan namun masih jelas di telinga Bintang.


"Apa itu?"


"Mama mertua, Terima saya jadi menantu Mama. Walaupun saya hanya seorang pengusaha mie rebus kekinian tapi saya punya banyak cabang dan rencana bikin cafe nya juga, pokoknya anak Mama nggak akan pernah saya beri makan cuma nasi sama kerupuk aja, tapi saya usahakan di bawah kerupuk itu ada rendang atau daging ayam. Saya nggak akan bawa sengsara anak Mama, saya udah sering bikin sakit hati dia. Maafin sifat saya kemarin-kemarin ya Mah, itu mah setan lewat...


" Mas... ini di mana? ngomong nya begitu banget, ngerayu Mama ku kok bawa2 cerita serem," Intan berbisik.


Bintang lupa kalo calon istrinya itu penakut.


"Eh, maaf... "


"Pokoknya, intinya saya akan bahagiain Intan, saya nggak akan ngecewain dia, saya akan selalu melindungi putri Mama, sebagaimana saya melindungi aset pyton saya,"


"Massss... ya ampun, pake pyton segala di bawa!" geramnya kesal.


Bintang kembali cengar-cengir.


"Iya, biar Mama tau aku jaga kamu betul !"


Intan mencium nisan batu itu lalu bangkit menuju satu makam lagi.


Mereka duduk di depan makam milik Dani.


Intan mengusap nisan itu.


"Mas... "


"Iya,"

__ADS_1


Intan menoleh, "Bukan kamu, tapi Mas Dani!"


Bintang langsung terdiam kikuk.


"Ganti lah panggilannya, jangan Mas. Bingung sendiri aku,"


Intan masih fokus berkata dalam hatinya, sesekali tersenyum dan kembali mengusap nisan itu.


"Ngomong apa? ucapin jangan di hati. aku jadi nggak tau yang kamu omongin, Jangan-jangan kamu ngomongin aku?"


Intan menatapnya kesal. "Nyesel aku ke sini sama kamu, berisik . Aku jadi nggak fokus," omel Intan sambil menabur kan sisa bunga yang ada di plastik yang dia pegang.


"Eh, kalo di makam jangan serius kamu nanti kemasukan ... "


Intan menatapnya dengan wajah kesal.


"Tuh, kan... matanya udah kayak Barongsai." Bintang menggodanya dengan menjawil dagu lancip milik calon istri nya itu.


Lalu Intan menuangkan air yang hanya tinggal sedikit saja, dan mendekatkan wajahnya akan mengecup nisan Dani seperti yang dia lakukan di makam Mama nya tadi.


"Nggak usah, di cium. Pamit biasa aja,"


"Ini kecupan seorang adik pada kakaknya,"


"Kan ada kakang," Bintang seolah mematahkan alasan Intan.


Intan memicingkan matanya merasa gemas dengan calon suaminya yang masih mencemburui orang yang sudah tidak ada.


...~...


"Seandainya, Mas Dani masih ada. Mungkin aku sekarang udah punya anak lucu ... " ujarnya saat mereka berjalan menuju mobil.


Bintang merasa kesal dan gemas dengan perkataan Intan.


"Ntar aku bikinin yang banyak,"


Bintang menarik tangannya, lalu menekankan pada badan mobil. "Kamu nggak percaya aku bisa ngasih anak banyak sama kamu?" ketusnya sambil merapatkan tubuhnya hingga tubuhnya mereka saling menempel.


"E- enggak, bukan gitu. Mas... lepasin, nanti ada orang liat!" Intan berusaha mendorong tubuh Bintang.


"Biarin, aku sebel. Kamu selalu mancing-mancing aku emosi terus, kayak ngeraguin kemampuan aku!"


Intan menggeleng ketakutan, dia melihat tatapan kesal Bintang.


"Mass ... ampun," lirihnya.


Bintang tersenyum, "belum juga aku apa-apain!"


Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka.


"Heh... budak geloo, oh nu basa eta ek mesum di dieu nya? balik deui maneh? ek mesum di kuburan teu boga duit ka hotel?" (heh.. anak gila, oh yang waktu itu mau mesum di sini ya? balik lagi kamu? mau mesum di kuburan? nggak punya duit buat ke hotel?)


Bintang dan Intan menoleh seketika saat seorang nenek marah-marah sambil mengacungkan sapu lidi lebih arah mereka.


"Henteu ari Emak, iyeu tos nyekar!" ( nggak kok nek, ini abis Ziarah)


"Maeunya? pa adeuk kitu? ek nanaonan siah?" ( masa? pada dempetan gitu? mau pada ngapain loh?)


"Wadul, kaditu siah indit. Bisi di seblak ku cai komberan," (Bohong, sana pergi. Nanti di siram pake air selokan)


Bintang dan Intan saling menatap dan mereka bergegas masuk ke dalam mobil.


Mobil pun dia lajukan dengan kencang keluar dari area pemakaman.


*


*

__ADS_1


Mereka masih terdiam hingga Bintang memberhentikan mobilnya di depan sebuah minimarket, yang kebetulan ada stand makanannya.


Masih terdiam di dalam mobil. Saat mereka saling tatap keduanya tersenyum dan tiba-tiba tertawa, menertawakan pengalaman mereka yang di marahi oleh penjaga makam.


"Aku udah dua kali loh di marahin sama emak-emak itu, dulu waktu kamu pingsan. Kaca mobil aku di gedor sama dia, nge marahin nya persis kayak tadi. Mana waktu itu mau magrib aku kira nenek gayung, mana dateng laki-laki bawa cangkul. Ngeri pokoknya,"


Intan malah semakin terbahak-bahak, "muka kamu emang keliatan kayak penjahat me*sum. Jadi pasti di curigai,"


Bintang langsung mengusak puncak kepala Intan dengan gemas.


"Yuk, turun."


"Bentar aku dulu, aku bukain pintunya." Saat Bintang berlari memutari bagian depan mobilnya dia kecewa saat Intan ternyata sudah keluar dengan sendirinya.


"Ck, aku bilang tunggu aku bukain,"


"Aku bisa,"


"Tapi aku pengen romantis kayak di novel-novel sebelah,"


"Ck, nggak pantes." Intan tertawa sambil tangannya memeluk lengan Bintang menuju stand mie instan kekinian.


"Silahkan mau pesan apa?" tanya si pegawai dengan ramah.


"Eh, Pak Bin. Maaf saya nggak tau!" Dia langsung sedikit mengangguk memberi hormat.


Intan membaca menu-menu di stand makanan bercat kuning itu.


"Mau mie goreng dower pake toping sosis sama kulit ayam krispi. Eh ini ... " Intan menunjuk pada menu nasi telor Negro.


"Iya, inspirasi nya kan dari kamu!" Bintang merangkul bahu itu dan mencium kening Intan di depan pegawainya.


"Ya Allah gusti... Pak... apa ini? mata saya kecolok yang uwuuu!" si pegawai itu histeris.


"Hussss .. ini calon Ibu Bin, dia calon istri saya," Pamernya dengan jumawa.


Si pegawai hanya mengangguk mengerti.


Lalu tak lama pesanan mereka datang. Intan dengan mie dower nya dan Bintang dengan nasi telor Negro nya.


Mereka makan di dalam mobil yang jendelanya di buka.


"Mas, beli minuman. Nggak enak kita parkir di sini tapi nggak jajan di minimarket itu," Intan berucap.


"Mau apa?"


"Teh aja,"


Bintang mengangguk dan segera keluar dari mobilnya.


Intan tersenyum sambil kembali makan.


Hatinya merasa tak karuan karena akan bertemu dengan kakang nya sore nanti.


"Semoga kakang nggak berulah, aku males!" cicitnya.


Bersambung ❤❤❤


Like


komen


favoritnya


Pokoknya aku makasih banyak buat kian yang udah setia, makasih makin sini makin banyak yang komen. Kan aku seneng bisa nyapa kalian, biar kita kek keluarga 😘😘😘


Sehat dan bahagia selalu.

__ADS_1


Maaf2 kalo ada typo udah aku benerin kok tapi masih review 🤣🤣🤣 semoga mengerti


__ADS_2