
...--oOo--...
Di mobil
"Kita ke rumah sakit lagi," Bintang berucap sambil memasangkan sabuk pengaman dengan sangat pendek perlahan pada Intan.
Intan menggeleng kecil. "Pulang. Aku mau pulang aja," bantahnya.
Bintang mendengus kesal, seperti biasa istrinya akan keras kepala dan selalu memancing emosinya.
"Pulang?"
"Iya, mau di rumah aja. Minum obat dan tidur!" jawabnya sambil memalingkan wajahnya dari sang suami.
Bintang yang baru melajukan mobil, sesaat menatap istrinya itu. Si keras kepala dan perempuan yang sulit mengekspresikan diri. Persis perkataan alm Adit.
"Ada sesuatu itu tanya langsung ke yang bersangkutan, bukaannya sok jadi detektif Conan. Apa-apa langsung tanya sama aku. Apalagi ini fatal, gimana kalo kamu percaya sama ucapan sundel tadi?"
"Aku pergi, nggak mau ngerebut kamu dari seorang anak yang menjadi tanggungjawab kamu!" jawab nya lemas.
Bintang memukul kemudi dengan keras sambil menginjak rem dengan tiba-tiba.
Intan sedikit terbanting ke depan namun tertahan seatbelt.
"Selalu, kamu selalu memutuskan suatu masalah dengan cara pergi. Ya, bicarakan baik-baik. Punya mulut kan untuk ngomong?" Bintang kembali membentak nya.
Intan diam, hanya meringis memandang keluar jendela.
"Tan .... "
Tidak ada jawaban dari gadis itu.
"Intan ... " Bintang merasakan tubuhnya bergetar, dia ingin mengamuk dan meluapkan emosinya.
"Apa? terus aku harus apa? otak sama hati aku nggak di set untuk berbagi hati. Kalo kamu punya anak, ya udah aku yang pergi!" Intan tak kalah emosi. Emosi yang dia tahan sejak malam, akhirnya siang itu dia luapkan.
Saat sedang saling menatap penuh emosi ponsel Intan berdering.
"Jangan angkat," titah Bintang.
Intan tetap merogoh ponselnya yang ada di tas kecil miliknya.
"Dari Bunda, kamu mau jadi anak durhaka?" matanya melengos.
"Assalammualaikum. Iya, Bun?" suaranya terdengar begitu ramah dan lembut. Beda sekali dengan suara dan intonasinya barusan, pikir Bintang.
"... "
"Udah enakkan, iya. Oh, nggak usah Bun. Mas Bintang ada kok, nemenin."
"... "
"Makasih Bun. Iya, nanti aku makan semua."
"... "
"Iya, Bun. Waalaikumsalam," panggilan pun berakhir.
Lalu Intan kembali menyimpan ponselnya.
Tanpa menoleh ke arah suaminya, yang terlihat begitu menyebalkan.
"Liat aku dulu? kita harus selesaiin masalah ini, sebelum berlarut," Bintang sedikit menurunkan volume suaranya.
"Aku mau pulang, nggak kuat lemes!" alasannya.
Bintang yang seperti biasa tidak menerima bantahan, langsung mengatur jok yang di duduki istrinya menjadi terlentang.
Intan yang kaget, reflek memegang kedua lengan suaminya itu.
"Gimana?nyaman?" Bintang masih begitu dekat dengan wajah Istrinya itu.
Lagi-lagi Intan tidak menjawab. Dan kembali memancing emosi suaminya.
"Ayo, tanya aku? apa yang mau kamu tau dari aku?"
"Kenapa bukan kamu yang cerita sama aku?" Intan menatapnya dengan mata memerah menahan tangis.
"Apa? aku harus cerita apa?"
"Kamu bohong, katanya tidur pertama sama aku!"
Akhirnya pertahanan air mata itu runtuh juga, dan tetesan air mata Intan langsung berjatuhan
__ADS_1
Bintang mengusak rambutnya frustasi.
"Memang pertama sama kamu, kamu nggak percaya?" tanyanya.
"Bohong, mana mungkin dua orang dewasa satu ranjang nggak ngapa-ngapain," katanya sambil terisak.
Bintang membuka seatbelt nya yang membuatnya semakin sesak.
"Ya kamu berharap aku ngapain?"
"Ya, kalo ada anak kalian ngapain?" Intan balik bertanya.
"Sulap, kita main sulap. Nggak nyelup juga tiba-tiba hamil, tuh masuk dari mana?" Bintang balik bertanya.
"Lagian, aku mabok dikit. Nggak ampe dua gelas,"
"Iya, tapi sampai nggak sadar tidur di hotel!" Intan mencibir.
Bingung, Bintang pusing sendiri dengan permainan tebak-sangka nya sang istri.
"Dengerin, celana aku dalam keadaan rapi. Kamu pikir deh, abis capek gitu. Rajin banget ya celana in aku? kamu aja abis capek suka lupa sama celana sendiri. Masa iya kamu sibuk pakein celana aku, terus baru tidur, gitu?" ucapnya memberi sebuah contoh yang memang masuk akal.
Intan masih diam mencermati.
"Dengan tubuh cungkring ... Eh, kurus kelontang kek si sundel bisa dengan sangat rapi pakein celana sama sabuk aku, apalagi kalo iya memang aku mabok. Orang mabok nggak ada tenaganya, berarti kayak orang tidur. Berat kan?" terangnya.
"Ck, bisa aja cuma di intipin keluar. Itunya!" Intan melipat tangannya di dada.
Bintang sedikit menyunggingkan senyuman.
"Itunya?" dia membeo.
"Emang enak, nggak full? pernah nggak aku cuma ngintipin itunya?" Bintang lagi-lagi memutar balikkan pertanyaan.
"Ya nggak lah, kamu kan nggak cukup sekali." Intan melipat bibirnya merasa ucapannya salah.
"Nah ... Fakta baru, aku emang nggak bisa sekali. Itu kamu tau kebiasaan aku. Dan satu lagi, aku selalu ninggalin tanda tiap abis main. Kamu tau kan?"
"Terus? emang dia bersih?"
"Bersih tanpa noda, mulus!"
Intan membulat kan matanya menatap sang suami.
"Eh, kamu yang paksa aku buat reka adegan kan?"
"Iya, nggak usah dijelasin sedetail itu!"
Bintang meraup wajahnya serbasalah. Lalu kembali memakai seatbelt nya dan menyalakan mobil itu melesat menuju rumah mereka.
*
*
Intan tertidur di mobil, saat sebuah tepukkan membangunkannya.
"Yank ... "
Intan mengerjap dan memandang sekeliling, ternyata mereka sudah tiba dirumah.
Intan bangun dengan sedikit meringis. Bintang dengan sigap membantu nya.
Mereka turun dari mobil saat sepeda motor berhenti tepat di depan rumah mereka.
Keduanya diam di teras memperhatikan laki-laki di balik helm itu.
"Eh, Mang Asep!" Intan menyapanya dengan ramah.
"Iya, Neng. Ini nganterin titipan Ibu," sambil mengulurkan sebuah kantung saat pagar Intan buka
"Makasih, Mang. Titip salam buat Bunda, bilang makasih dari aku," katanya saat menerima kantung berisi masakan Bunda nya itu.
Setelah selesai, Mang Asep pun pamit pulang.
Intan langsung masuk karena suaminya sudah dulu memasuki rumah.
Membuka kantung itu dan mengambil beberapa wadah untuk tempat lauk pauk yang Bunda kirimkan.
Bintang keluar sudah dengan celana boxer dan kaos tanpa lengan. Mendekat masih dengan wajah kesalnya.
Menatap wajah istrinya yang belum mau memberikan senyuman, dia kesal, marah, dan merasa bersalah menjadi satu.
"Bantuin donk, aku lemes!" Intan mendorong beberapa kotak makanan yang belum di pindahkan ke dalam mangkuk yang dia ambil dari dalam rak piring.
__ADS_1
Sedikit menahan senyum, Bintang mendekat.
"Makanya, sakit itu diem. Bukan keluyuran jadi detektif!" Sindirnya.
Intan berlalu masuk ke dalam kamar berniat mengganti pakaian.
*
*
Mereka makan dengan tenang, dengan menu cah brokoli, perkedel kentang kornet, macaroni schotel dan satu loyang penuh puding buah.
Bintang makan dengan lahap, sementara Intan santai seperti biasa.
"Makan yang banyak, biar cepet sembuh."
"Jangan lupa, tuh kepala isinya jangan prasangka buruk terus, percuma nggak akan jadi daging!" tambahnya lagi.
Intan diam hanya mendelik malas.
"Selesai makan, kita ngobrol."
"Aku mau tidur," alasannya.
"Ya udah ngobrol nya di kasur,"
"Nggak," tolak nya.
"Nggak bisa nolak," Bintang mengangkat piring nya ke bakal cuci piring.
Lalu tangan nya dia selipkan di bawah lipatan tangan dan kaki istrinya, dia mengangkut nya masuk ke dalam kamar.
Mereka kini berbaring dengan saling berhadapan. Walaupun sesekali Intan berusaha membalikkan badan, tapi Bintang menahannya.
"Keluarin unek-unek kamu!"
"Aku, kesel sama kamu!"
"Kapan si sundel ngehubungin kamu?"
"Kemarin, waktu kita makan bubur!"
"Terus,. kamu percaya dia ketimbang aku suami kamu?"
"Kamu banyak modus, dan pasti bela diri!"
"Hahahaha ... Ya, pasti. Kalo aku bener ngapain aku ngeiyain sebuah fitnah?" Bintang mendekatkan tubuhnya kini jarak mereka semakin dekat.
Intan sedikit memundurkan tubuhnya, "Mau ngapain?"
"Nggak? mau liat detektif abal-abal dari deket. Bisa-bisanya percaya sama omongan sundel. Banyak model begitu pasti, yang berusaha ngerusak rumah tangan kita. Dan aku mau jujur sama kamu."
Perempuan itu diam mencermati apa yang di ucapkan suaminya.
"Aku bukan orang suci, tapi asli aku sayang dan cinta banget sama kamu . Nggak ada yang lain, cukup itu yang harus kamu tau dan percaya. Apapun yang aku lakuin dan ucapin bakal percuma kalo kamu nggak percaya, inget perjalanan kita nggak gampang. Jangan sampai kamu kabur meninggalkan masalah yang bahkan jawabannya aja kamu nggak tau. Kita bukan Abg lagi, aku serius banget menua sama kamu. Kehilangan kemarin juga bikin aku hancur banget, tapi kalo aku juga sedih kayak kamu siapa yang mau nguatin kamu?" Bintang bercerita panjang lebar.
Intan hanya mampu menangis tersedu, menangkup wajahnya dan meraung semakin keras.
Bintang merentangkan tangannya dan membawa Intan ke dalam pelukannya.
Sebuah kecupan dia rasakan di keningnya, Intan membuka mata lalu sedikit menjauhkan wajahnya.
"Kalo itu bener anak kamu?"
Bintang menunduk menatap wajah istrinya.
"Nggak mungkin, aku brekele? mata aku sipit? liat dong ada mirip akunya nggak?"
Tangannya menangkup untuk mengecup bibit yang sudah sangat dia rindukan beberapa hari tidak menyesap bulatan lembut itu membuatnya rindu kegiatan itu.
"Jangan deketin aku sebelum anak itu terbukti bukan anak kamu!" Intan mendorong tubuh suaminya.
Bintang mengangguk, lalu tangannya mengambil ponsel yang berada di nakas. Tangannya mengulir layar.
Intan hanya diam melihat apa yang di lakukan suaminya, hingga akhirnya dia tertidur karena lelah dan rasa lega karena telah mengeluarkan segala unek-unek nya pada sang suami.
Bersambung
like
komen
Sehat dan lancar puasanya man teman , bagi yang menjalankan. Sehat dan bahagia buat semuanya πππ
__ADS_1