
...---oOo---...
Intan semakin bingung saat memasuki rumah yang dia kenal sebagai rumah orang tua dari mantan majikannya. Wanita paruh baya itu seketika menghambur memeluknya, dan berucap syukur.
Ada apa ini? sebenarnya sakit apa si cowok sumbu pendek bermulut pedas itu, terakhir dia melihat seperti tidak ada apa-apa selain tubuhnya sedikit kurus dan rambut agak panjang.
"Makasih kamu mau dateng, ayo kita lihat keadaan Bintang." Wanita itu segera menarik Intan ke kamar Bintang.
Saat masuk menguar bau obat gosok dan terlihat Bintang meringkuk di bawah selimut tebal.
Terdapat sebuah tiang infus tapi tidak ada infus yang menggantung. Lalu sebuah ember kecil terdapat tepat di bawah tempat tidur.
"Kak? muntah lagi?" Bunda berkata sembari duduk di pinggir tempat tidur.
Bintang mengerjap lalu mengangguk.
"Perut kakak mual lagi Bun," ucapnya lemah.
Bunda menatap ke belakang di mana Intan masih mematung. Lalu melambaikan tangan nya. Intan pun mendekat dengan ragu, dia belum tau keadaan Bintang yang tidak bisa melihat.
"Kalo, Bunda pake jasa perawat gimana?"
Bintang diam, matanya membuka tapi tidak dapat memandang Intan yang berada tepat di depannya.
"Bunda capek ya? maafin kakak ya Bun!" Bintang merayapi mencari tangan sang Bunda.
Intan tercekat saat melihat itu, Bunda menatapnya dengan anggukan kecil sambil matanya berkaca-kaca.
Intan segera menutup mulutnya karena kaget dan sedih menjadi satu.
Melihat lelaki yang begitu dia rindukan nyatanya sedang dalam keadaan yang sangat miris, tidak bisa melihat.
Intan berlari ke luar kamar, dan mendapatkan Mentari yang sedang menangis di ambang pintu.
"Kasihani kakak saya teh! kasih dia semangat hidup, saya nggak kuat liatnya. Apalagi Bunda, beberapa kali sampai drop dan di bawa ke rumah sakit karena melihat anaknya sendiri lemah itu." Mentari menautkan tangannya di depan dada nya seolah memohon.
Intan masih mematung bingung, namun air matanya tidak berhenti.
"Awal nya bagaimana hingga Pak Bintang seperti ini?" tanyanya penasaran. Setelah mereka duduk di ruang keluarga.
"Kata Bunda dulu kakak kecelakaan setelah menunggui teteh di rumah sakit, kepalanya ada luka. Dan kemarin kakak pulang dari Jakarta dalam keadaan demam dan mengeluh dada nya sakit. Setelah di periksa kakak gejala typus, asam lambung sama darah rendah. Namun yang membuat semua kaget besoknya kakak tiba-tiba nggak bisa liat sampe sekarang hampir tiga minggu," Mentari menceritakan semua yang dia tau dari sang Bunda dengan berurai air mata.
Intan semakin menangis, menyesal dulu dia yang memang mengusir Bintang mati-matian, mungkin itu penyebab Bintang kecelakaan.
"Saya bisa bantu apa?" tanyanya lirih.
"Kalo untuk langsung mengaku kehadiran teteh, Kakak pasti nggak mau, dia malu katanya. Nggak mau teteh datang karena iba dia mau teteh karena cinta." Mentari kembali mengusap air matanya.
"Jadi saya mengaku sebagai?"
"Perawat aja teh, pelan-pelan teteh bujuk kak Bintang supaya mau untuk melakukan pengobatan, " Mentari langsung menyahuti pertanyaan Intan.
Intan hanya mengangguk sambil sesekali mengusap air matanya.
__ADS_1
Terlihat Bunda menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.
"Kenapa Bun?' Mentari melihat Bunda nya yang terlihat panik.
" Kakak kamu mual lagi, Bunda mau ngambil minuman hangat sama bubur,"
Intan menghampiri wanita paruh baya itu.
"Bunda... " panggil nya.
Bunda yang sedang menghadap kompor seketika menoleh, "Ya?" lalu beliau tersenyum.
"Biar saya bantu," ujarnya.
Beliau hanya tersenyum lalu memberikan satu mangkuk kecil bubur.
"Ini?"
"Iya, itu bubur tepung beras yang di kasih sedikit air gula merah buat tenaga. Bintang belum boleh makan yang agak keras, dia lambung dan typus. Kondisi perutnya sedang tidak baik." terangnya sambil menuntun Intan menuju lantai atas, melewati Mentari yang sedang menimang Shera.
*
*
Degup jantung intan berdetak tak karuan, dia merasa seperti akan melaksanakan Ujian.
Saat pintu di ketuk yang pertama dia lihat adalah Bintang yang tengah meringis menyandarkan tubuhnya.
"Kak, Bunda bawa perawat buat kakak."
"Namanya I... "
"Indah," Intan langsung memotong ucapan Bunda takutnya beliau kelepasan mengatakan nama sebenarnya.
Intan sengaja mengenakan masker agar menyamarkan suaranya yang pasti Bintang hafal.
"Semoga kamu betah, Ya. Maaf kalo saya bakalan banyak ngerepotin kamu!" Bintang berkata dengan lembut.
Intan seperti tidak mengenali sosok di depannya itu.
Sosok lelaki penuh semangat, ceria , manja dan bermulut pedas dengan semua keinginan yang tidak bisa di bantah hilang di gantikan dengan seorang lelaki lemah dan terlihat pasrah dengan keadaan. Sama sekali bukan karakter Bintang.
Bunda mengusap bahu Intan sambil mengangguk dan kemudian pamit.
Intan mendekat dengan sebuah nampan.
"Saya suapin?"
"Oh, nggak usah. Saya sendiri aja, sini mangkuk nya!" Bintang menolak tawaran Intan.
Jelas dia merasa canggung dengan orang baru, walaupun biasanya Bunda yang menyuapi nya, namun kali ini dia ingin mencobanya sendiri.
Bintang makan dengan perlahan sesekali Intan membenarkan sendok yang menyerong salah arah.
__ADS_1
Suapan itu hanya mampu di telan sampai sendok ke lima, Bintang menggeleng tanda menyerah. Dia meringis memegangi perutnya yang kembali sakit setelah di isi sedikit bubur.
Intan mengambil obat-obatan yang tadi di terangkan Bunda sebelum keluar dari kamar.
Lima macam obat dan vitamin telah di minum Bintang dengan Bantuan Intan. Kini lelaki itu kembali merebahkan tubuhnya.
"Kamu nggak jijik an kan?" tanyanya tiba-tiba.
Intan yang masih berdiri membereskan peralatan, langsung menoleh pandangan nya bertemu dengan mata tajam Bintang yang biasa menatapnya. Lagi-lagi hatinya terasa perih, benar-benar miris melihat keadaan lelaki yang dia kira baik-baik saja nyatanya sedang terpuruk dalam keadaan sakit.
"Nggak, Pak. Kenapa?"
"Saya sering muntah, perut lagi bener-bener nggak enak," Bintang berkata sambil tangannya meraba nakas di sebelah nya.
"Cari apa Pak?" Intan bertanya.
"Minyak gosok, biasanya Bunda naro nya di sini!"
Air mata Intan menetes begitu saja, dia melihat keadaan Bintang yang menyedihkan.
Ingin rasanya dia menabrakkan tubuhnya pada pelukan lelaki itu, dan memberikan nya kekuatan untuk sembuh.
Tangan Intan terulur mengambil botol minyak gosok itu.
"Ini, Pak!" Dia menyentuh kan nya pada tangan Bintang yang masih meraba mencarinya.
Bintang tersenyum, "Makasih,"
Lalu dia membuka sedikit kaos yang menutupi perutnya, dia menuangkan minyak itu dan menggosok nya di sekitar perutnya.
Intan masih terus memandangi nya dengan air mata yang sesekali menetes.
Tak lama dari itu Bintang tertidur.
Intan membenarkan letak selimut yang membungkus tubuh Bintang. Lalu dia keluar dari kamar itu. Tubuhnya merosot, Intan menangis di balik pintu kamar itu.
****
Setelah mengobrol dengan Bunda agak lama, Intan di suruh tidur di kamar Mentari, kamar sebelah Bintang. Karena Bunda berkata Bintang akan seringai bangun entah karena muntah, perutnya yang sakit, atau hanya sekedar ingin minuman hangat. Bunda juga berpesan agar pintu kamar Bintang jangan di tutup rapat agar suara Bintang bisa di dengar oleh siapa saja.
Intan sedikit mengintip ke kamar Bintang, lelaki itu masih tidur. Dia hanya mampu berdoa semoga keadaan Bintang cepat membaik.
Dia pun pergi ke kamar Mentari untuk tidur, mempersiapkan tubuhnya untuk misi-misi mengurus Bintang.
Bersambung ❤❤
Like
Komen
Favoritnya
Maaf ya yang komennya belum di bales, pasti di bales kok tapi yang paragraf kadang cuma aku like doang soalnya manjat nya jauh😁
__ADS_1
ini asli badan makin nggak enak, tapi ini tulisan udah dari sore jadi itti nambahin dikit doang, semoga besok mendingan dan bisa up agak panjang. Maaf kalo ada typo harap maklum🤧
Semoga sehat dan bahagia selalu 😘😘