Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Undangan


__ADS_3

...---OoO--...


Eh, maaf Bang. Malah di tinggalin," Intan datang menghampiri.


Bintang mengikuti dari belakang, "biasa obrolan calon pengantin," sambar nya.


Edo hanya tersenyum canggung, tanpa Intan sadari Bintang memberikan sebuah tanda merah di lehernya.


Bintang bersorak puas di dalam hati saat melihat Edo menatap leher Intan dengan sangat intens.


"Bang,"


"Eh, iya. Kayaknya Pak Dafa masih lama, mungkin saya tunggu di kantor aja,"


"Iya, mending tunggu di sana aja!" Bintang menyahuti nya.


Intan menatapnya dengan tatapan sinis, rasanya tidak sopan saat tamu pemilik rumah di usir. Padahal ini jelas bukan rumah mereka.


"Katanya nunggu tukang bubur, bukannya kita mau sarapan bareng," Intan mengingatkan.


Bintang mendengus kesal, merasa ingin menarik Intan saat itu juga, dan dia kunci dalam kamar.


"Nggak jualan kali, sayang. Masa udah jam segini belum lewat," Bintang mencoba mengompori Intan.


Intan terlihat celingukan dari pagar.


"Eh, itu ada. Mangggg ... bubur," panggilnya berteriak.


Bintang mendengus kesal saat melihat wajah Edo di samping nya yang terlihat berbinar entah karena kedatangan tukang penjual bubur ayam atau bisa lebih lama berdiam di sana.


Intan terlihat antusias di depan pagar, Edo yang sudah berdiri terlihat akan menghampiri Intan. Dan Bintang tentu saja mendahului langkah kaki pria di sebelah nya.


"Mana sayang?" tanya Bintang berbasa-basi sambil merangkul pundak Intan.


Seorang penjual mendorong rodanya mendekat ke arah mereka.


"Makan di mangkok dari mamang atau bawa dari rumah neng?" tanya si penjual saat memberhentikan rodanya.


"Dari mang aja, calon istri saya nggak boleh capek-capek menuju halal harus fit," Bintang kembali berucap dengan sombongnya.


Intan sudah tidak bisa berkutik dan menimpali perkataan Bintang. Dia hanya mampu tersenyum saat Edo dan si mamang penjual melihat ke arahnya.


*


*


Mereka tengah memakan bubur milik masing-masing, di teras rumah. Saat Mobil SUV hitam berhenti di depan pagar.


Terlihat Mentari yang menggendong Shera dan Helen yang berlarian menghambur ke pelukan Intan.


Dafa masuk dengan sebuah mangkuk bubur ayam. Ternyata si pemilik rumah ikut memesan bubur.


Dan akhirnya Mentari ikut memesan juga.


Semua makan di teras, duduk di lantai dengan seru nya. Sesekali Helen meminta suapan bubur Ibu nya. Dan Shera tidur di gendongan Intan yang sudah selesai makan dari tadi.


"Teh, fitting kebayanya sekarang aja yuk!" Mentari mengajaknya.


"Aku ke kantor sekarang ya, sayang. Udah siang banget ini," Dafa masuk setelah memberikan mangkuknya dan juga milik istrinya.


"Intan pergi bareng gue," Bintang bangun merogoh kunci mobil Ayah nya.


Mentari menatap kakaknya, "emangnya boleh sama Bunda?" tanyanya memastikan.


Bintang mengangguk pasti.


"Sayang ... kayaknya aku harus ke luar kota nih," Dafa datang setelah menerima sebuah panggilan.


"Kenapa?"


"Dadakan ah, aku nggak suka!" Mentari bangun dari duduknya dan menghampiri suaminya.


"Iya, yang di Lampung ada sedikit masalah. Ayo bantuin aku siapin baju," titahnya.


Mentari masuk mengekor suaminya, sedangkan Helen bermain bersama Bintang, dan Edo baru saja pamit pergi duluan menuju kantor Dafa.


"Eh, bentar aku ambil dulu undangan di mobil." Bintang berjalan ke luar pagar di mana mobil Ayah nya dia parkirkan.


Datang dengan satu buah kantong keresek putih yang cukup besar.


"Ini undangan jatah kita, kita cuma ngundang 200 orang, yang seratus di pintar Bunda buat kolega Ayah sama temennya Bunda.


" Ini, yang seratus buat kita. Kamu yakin nggak ada yang mau kamu undang?" Bintang menyimpan keresek itu di atas meja teras.

__ADS_1


Intan hanya mengangguk pasti.


"Aku nggak punya temen yang dekat banget!"


"Kenapa?" Bintang duduk di kursi sambil mengangkat Helen agar duduk di pangkuannya.


"Ngejaga hati, biar mental tetep sehat. Aku pernah kecewa dengan teman yang aku kira benar tulus dia berteman sama aku, nyatanya muka nya dua. Di depan baik di belakang isshhh busuk!" ucapnya.


Bintang meringis. "Tapi kamu butuh temen, ngga semuanya gitu pasti ada yang tulus juga!" ucapnya.


Intan mengangguk, " aku cari temen online aja, kayak itti." Sahutnya.


Bintang mencibir, "dia mah emang baperan kalo temenan. Baik emang tapi kalo di usik ngamuk,"


me: ya emang Virgo mah baik ya di bales baik, lah masa iya lu jahat we diem bae nggak gitu konsepnya fulgoso 😝😝🏃‍♀🏃‍♀🏃‍♀.


"Iya, lagian lebih enak temenan online, kalo mereka nyakitin kita nggak usah capek liat mukanya," Intan kembali berpendapat.


"Si itti ngehasut," seloroh nya.


Intan hanya terkikik mendengar cibiran Bintang.


Saat sedang tertawa ponselnya yang di atas meja bergetar. Sebuah pesan dari kakangnya.


"Kenapa?" Bintang melihat perubahan raut wajah Intan.


"Di suruh ketemu sama kakang, mau apa ya?" Intan seperti berpikir keras.


Tumben kakangnya minta ketemuan dan memberikan sebuah alamat.


"Ya udah nanti pulang dari butik kita ke sana!"


"Nanti kok, abis Magrib. Nggak tau mau ngapain!" terangnya.


"Oh, ya udah kita bisa ngisi nama undangan dulu,"


Intan pun mengangguk setuju.


*


*


Tiba di butik dengan dua krucil yang menempel, Bintang mendengus kesal karena adiknya tidak melarang Helen dan Shera ikut yang seakan menjadi anak-anak mereka.


"Liat tuh mak nya kek gadis aja turun dari mobil, melenggang masuk tanpa liat kita yang repot!" gerutunya saat memangku Helen yang tidur di jok belakang.


"Teh," Mentari memanggilnya dari lantai dua tempat di mana ruangannya berada.


Intan pun menghampiri nya.


"Shera nya dudukin di box nya aja. Teteh coba baju ini!" Mentari menarik dua buah gaun yang ada di manekin beroda.


Intan takjub melihat gaun indah di depannya.


"Teteh, cocok kayaknya pake gaun ini. Aku buatin sesuai karakter teteh yang kalem tapi tetep elegan. Tapi kebaya nya buat resepsi belum selesai pasang payet nya, " terangnya.


Intan mengangguk dan langsung masuk ke sebuah ruangan yang terdapat di pojokan yang tertutup tirai panjang.


Terdengar suara Bintang yang marah-marah, dengan Helen yang menangis di pangkuannya.


"Kenapa anak Ibu?"


"Papi nakal, mba pengen main liat ikan. Papi malah bawa mba ke sini," jawab Helen di tengah isak tangisnya.


Bintang menjatuhkan pan*tat nya di sofa, yang tak jauh dari meja kerja Mentari.


Saat suara tirai terdengar di buka, Bintang dan Mentari sontak menoleh ke sumber suara. Tampak Intan dengan balutan gaun yang sangat pas di tubuhnya. Bintang hanya mampu memandang tanpa berkedip, mulutnya setengah terbuka.


"Pas banget, keren kan?" Mentari tampak puas dengan hasil karyanya.


" Coba yang satu lagi teh, kalo itu udah ada jas nya. Sebentar aku panggilin dulu Iki buat ngambil jas nya di bawah." Mentari berjalan ke luar ruangan nya.


Bintang datang mendekat, "cakep banget kamu, Yang. Duh makin nggak kuat aku," ucapnya sambil memeluk gemas Intan. Membawa tubuh itu bergoyang ke kanan dan ke kiri.


Intan hanya tertawa.


Lalu pelukan itu terlepas saat suara pintu terdengar di buka. Mentari datang dengan sebuah hanger jas di tangannya.


"Cobain dulu," tangannya terulur pada Kakaknya.


Dan intan kembali masuk ke dalam tirai untuk mengganti baju yang ke dua.


Dengan polosnya Bintang mengikuti Intan menuju ruang ganti.

__ADS_1


"Kak... mau ngapain?" Mentari menarik kemeja kakaknya dari belakang.


Bintang yang di tarik mundur beberapa langkah .


"Kan di suruh coba jas,"


"Ya, bisa di sini kan?" Mentari menatapnya kesal.


Bintang tertawa dan berjalan ke arah sofa sambil membuka kemejanya mengganti stelan jas itu.


****


Selesai dengan fitting baju, dan semua puas. Intan dan Bintang kembali ke rumah Mentari.


Adiknya itu merasa lega, karena baru saja si pengasuh anaknya memberi pesan sudah sampai di rumah setelah dua hari libur.


Jadi dirinya merasa tenang, setidaknya kakaknya yang beralasan akan menulis undangan itu, tidak bisa macem-macem.


Bintang dan Intan hanya pulang dengan Shera, Helen merengek ingin bersama Ibu nya.


Sesampainya di rumah, Bintang langsung meminta telur Negro.


Intan berkutat di dapur sedangkan Bintang mulai mengeluarkan tumpukkan undangan.


Intan datang dengan piring nasi dan telur Negro.


Bintang langsung menerima dan memakannya dengan lahap.


Intan duduk di karpet memandang tumpukan undangan yang telah bertuliskan nama si penerima.


"Ini siapa dua namanya pake hurup tebel gini?" Intan mengacungkan dua kartu undangan ke arah Bintang.


"Oh itu, undangan buat guru besar, Mak FitTri sama Mak Chida, kata itti mereka guru besar yang nggak pelit ilmu," jawabnya sambil memakan nasi telor nya.


Intan hanya mengangguk paham, lalu beralih ke tumpukan kartu undangan yang sudah tertulis nama si penerima.


Ce-je, Anies, Miradenay, Enisensi Klara, Yunda putri, Permen karet, Aulia, Bunda A&M, Risya/hujan, Mantan terindah, Berbunga rindu, Alaiqa, Arfia,Hertie Daffazka, umie Arbie,Samitha, Ella Reina, Rahayu Widodo, Lunna, May, Anggit, Rostina Lamba, Reni Apriliani, Khasma, Emi wash, Zahro unafista, Anne, ka khumah, Eka AE ofaradio, Triw, novie Lauretta, triple A, Incess aisyah, honey nie, Bie mi Amore, Vievienuphy, Becky D'lafonte, Nurlela Nurlela Noey, Nurlaila sofian, Murshanti dharmastuti, Ina inoy, Okta via, Hyuga Hinata, phitaloka, Aziz Robitah, Chacamarichahehe, Biru, Dan Rini janardhani, Ndhe nii, Vania, Vika, Nani setyarsi, Nur Yanti, Erna ernita, lilis Yuanita, R'stcha mbu nya Ditha, kinaka, Nun Umshor, Fara nurhyna Reepox, Yati suyati, Firasan, ayucla, Fiendry, Tien doang, Nan kediri, Endah setyowati.


"Mereka siapa?" Intan bertanya.


"Mereka sebagian kecil yang suka komen dan sekaligus ngebully aku, bahkan ada beberapa yang setia dari jaman cerita nya Mentari,"


"Komen? komen apa? "


"Ya, banyak tentang aku, kita, dan kadang ada yang cuma terus atau lanjut, lanjut ngapain coba?" Bintang terkikik geli.


"Yang ngelike juga banyak kan?"


"Iya, Aku belum sempet nulis. Tapi mereka terpatri kok di dalam hati," Bintang menempuk dadanya.


"Bagaimana pun, mereka yang dukung kamu sampai titik ini, inget kalo gajian🤧🤧"


Me: nyindir, belum bisa di ambil masih puluhan ribu dari dua karya🤧🤧. Eh tapi alhamdulillah 🥰🥰.


Lama-lama jadi milyar 🤗🤗.


"Terus, yang like doang?"


"Iya, mau aku tulis itu masih ada undangan sisa. pokoknya nggak akan lupain mereka,"


Intan mengacungkan jempol nya.


" Selesai ini, aku mau tidur sebentar. Nanti malem kan ketemu kakang kamu?" Bintang kembali mulai menulis sisa kartu undangan.


Intan mengangguk, lalu terdengar Shera menangis dari dalam kamar nya. Dia pun segera berlari menuju suara Shera.


Bersambung


Like


Komen


Favoritnya.


Maaf ya, ini buat seru2 an aja. Bukan apa2 pake nama kalian, tapi serius nama2 itu selalu menemani kehaluan ini🥰🥰. Lope2 banyak buat kalian 😘😘


Salam cium dari Bandung 💋💋


Yang nggak ketulis jangan sedih, kalian tetep dalam hati Bintang 😘😘🥳🥳


Aku do'a in, semoga kalian selalu sehat dan bahagia, biar bisa terus dukung karya receh ini.


Maaf telat, tadi ada insiden kehapus🤧, jadi aku ulang lagi😭😭. Ini up dari jam 9 malem aku hapus lagi, terus ku kirim ulang semoga cepet lolos

__ADS_1


Undangan otw ya, tapi dalam kehaluan🤭🤭🌺🌺


Harusnya ada foto mereka, tapi gagal terus loh pas aku kirim, pas aku coba hapus eh bisa ke kirim. Apa sekarang nggak boleh pake visual?


__ADS_2