
...---oOo---...
Bintang baru saja keluar ruang meeting, tepat dua jam di dalam ruangan mendengar berbagai macam keluhan dan usulan.
Masuk ke dalam ruangan nya, Bintang melihat jam di tangannya hampir pukul satu. Tapi Kakak nya memberikan beberapa dokumen agar seger di selesaikan.
Meminum teh dengan irisan strawberry mahal tadi. Dia langsung memejam menikmati segarnya buah strawberry yang dia kunyah.
Prakkk ...
Tiba-tiba gelas berisikan teh strawberry itu jatuh dan hancur berkeping-keping.
Bintang menatap aneh, merasa menyimpan gelas itu sudah benar. Tapi entah mengapa gelas itu jatuh.
Perasaannya seketika gelisah dan teringat pada Intan.
Mencoba mengirimkan pesan. Namun hampir setengah jam tidak mendapat balasan.
Di tempelkan nya ponsel itu di telinga, mencoba menghubungi sang istri.
Namun setelah menunggu cukup lama akhirnya panggilannya pun mendapatkan jawaban.
Tapi itu bukan suara istrinya, suara seorang anak laki-laki.
"Kak Intan nya nggak ada! Pergi." ucap suara di sebrang sana.
"Pergi? kemana?" Tanya Bintang penasaran. Rasanya degup jantungnya terasa tidak biasa. Tiba-tiba dia teringat sang istri, dan merasa khawatir.
"Ke tukang urut sama Umi, tadi kak Intan jatuh di kamar ... "
"Apa?" Bintang sontak bangkit dan menyambar ransel dan kunci mobilnya tanpa memutus panggilan telepon nya.
Masa bodoh dengan semua pekerjaan yang abangnya berikan.
*
*
Mobil itu melesat membelah jalanan macet Kota Bandung di siang hari.
Bintang memberhentikan mobilnya dan seolah loncat, dia keluar dari mobil secepat kilat.
"Tan ... " Dia masuk ke dalam rumah.
Bocah gendut yang pagi tadi berdebat dengannya, muncul.
"Belum pulang!" katanya.
Bintang gelisah, dia tidak bisa berpikir.
"Kenapa, kak Intan bisa jatoh?" tanyanya tatapannya tajam dan lipatan dahi nya mengerut dalam.
Nggak tau tadi lagi di kamar kak Dani, terus tiba-tiba ada suara barang jatuh. Pas kita pada liat, kak Intan udah duduk di bawah megangin kakinya.
"Kamar siapa?" tanyanya ulang.
"Kamar, Kak Dani."
Bintang menegang, ngapain istrinya itu masih penasaran dan berurusan dengan orang yang sudah tidak ada. Malah tidak mengindahkan janin calon buah hati mereka.
"Biasa aja. Om, mukanya takut!" Lutfi duduk di sofa tepat di depan Bintang yang sedang gelisah.
"Brisik, Lu." Gertaknya.
"Eh, kamarnya Dani di mana? tunjukkin!" tanyanya pada bocah gendut itu.
"Aduh, jauh. Harus pake ojeg!" tangannya membuat gerakan jempol dan telunjuk yang dia gesekan.
"Ck, matre lu! iya ntar gue kasih buat naik ojeg. Buruan di mana?" tanya Bintang tak sabar.
"Lu gedenya mau jadi apa sih? duit mulu." Bintang menggerutu sambil merogoh dompet di saku celananya.
"Mau kuliah, terus mau kerja kayak Kak Dani. Biar bisa bangun Panti sama kirim uang banyak ke Umi!"
Jawaban Lutfi seolah menampar Bintang. Se menakjubkan itu lelaki yang sudah menyatu dengan tanah itu. Di benak anak kecil saja begitu membekas, apalagi di hati istrinya yang jelas hati mereka sudah menyatu.
__ADS_1
"Sial," gumam Bintang pelan.
"Siapa? om, yang sial?" sambar Lutfi.
Bintang berdecak kesal sambil menjulurkan selembar uang berwarna biru.
"Sial. Ketemu tukang palak kayak, Lu!"
Lutfi hanya tertawa sambil berjalan menuju lorong di bangunan belakang Panti itu.
"Oh, ada taman belakang?" Bintang memandang takjub Panti bagian belakang yang luas dan indah.
"Iya, bagus ya? ini yang nge rancang nya Kak Dani. Dulu kak Intan kalo ke sini pasti ngobrol sama Kak Dani di kursi itu!" tunjuknya pada bangku di bawah pohon sukun.
"Om, mau nyoba duduk di sana?"
"Kenapa? biar apa?" tanya Bintang heran.
"Biar ketimpa buah sukun!" Lutfi berlari ketakutan saat melihat reaksi geram Bintang.
Hingga dia berhenti di sebuah pintu yang menghadap langsung ke taman.
"Ini, kamar Kak Dani. Sekarang di isi kak Dudung sama Dion!" katanya menjelaskan.
Bintang masuk ke kamar itu yang memang dalam keadaan terbuka.
Mengamati ke sekeliling kamar itu yang terlihat rapi.
"Kok, sepi?" tanyanya, baru tersadar keadaan Panti yang sepi.
"Ck, baru nanya!"
"Kalo yang besar-besar belum pulang sekolah, yang kecil pada ngaji. Kalo kamar anak bayi kan di paviliun depan. Kata Umi biar nggak ganggu kakak-kakaknya!" terangnya.
Bintang mengangguk mengerti.
"Nih, tapi pas kita dateng. Kak Intan udah duduk di bawah sambil megang kakinya." Lutfi menerangkan semua kejadian yang menimpa Intan.
"Nggak tau mau ngambil apa di atas lemari!" Lutfi dan Bintang mendongak bersamaan ke atas lemari jati jadul yang menjulang tinggi.
Bintang mendekat lalu tangannya menggapai tepian atas lemari itu. Dia meraba mencari ada apa di atas sana. Hingga sang istri penasaran dan hampir mencelakai calon anak meraka.
Dapat ...
Tangannya menyentuh sesuatu, dan berhasil menariknya.
Sebuah bingkai foto. Foto yang berisikan dua manusia yang saling mencintai.
Matanya berembun , sesekali memejam menetralisir rasa sakit seperti sayatan di dadanya.
Saat melihat foto wisuda Dani yang di dampingi Intan istrinya.
Begitu serasi, begitu romantis. Dengan Dani yang memegang bunga dan map kelulusan tengah di cium pipinya oleh Intan.
Sakit pasti, istrinya masih memendam rasa untuk orang yang sudah tidak ada di dunia ini. Bagaimanapun dia tidak akan berhasil bersaing dengan orang yang sudah tidak ada.
Kalo masih ada, ingin dia mengajak tanding atau adu ketangkasan. Siapa yang menang dia akan mendapatkan Intan, dan siapa yang kalah harus mau pergi menjauh dari hidup Intan.
Hanya helaan nafas berat yang kini mampu Bintang lakukan. Mau bagaimana lagi, Dani memang manusia yang tidak bisa terkalahkan dan yang pasti tidak bisa di lawan.
"Om," Lutfi membuyarkan lamunannya.
Bintang menatapnya dan menggerakkan dagunya.
"Ayo, aku lagi nonton kartun!" tangannya menarik Bintang keluar dari kamar itu.
Dengan langkah muntah memendam rasa sakit hati, Bintang mengikuti Lutfi. Tangannya masih memegang bingkai foto itu.
Dia akan memberikan nya pada sang Istri di waktu yang tepat.
Berjalan masuk ke dalam mobil, menyimpan foto itu ke dalam ransel hitamnya.
*
*
__ADS_1
Saat baru keluar dari mobilnya, sebuah mobil berhenti di belakang mobilnya. Terlihat Umi turun lebih dulu. Umi menatapnya penuh rasa bersalah.
"Umi?" Bintang mendekat.
Dia melongok kan kepalanya ke dalam. Di lihat istri nya itu pucat matanya merah seperti sudah menangis.
"Yank?"
"Ang ... sakit!" keluhnya.
Bintang memandang mata kaki hingga tumit kaki istrinya itu di balut perban elastis.
Ingin rasanya dia memaki sang istri, mengeluarkan semua rasa sakit dan unek-unek nya. Namun teringat bayi yang tengah di kandung sang istri.
"Baby? gimana ? nggak ada keluhan kan?" tanyanya panik. Seraya menuntun sang istri menuruni taksi online itu.
"Nggak apa-apa, nggak ada yang sakit!" Intan menjawab.
Bintang terlihat lega, dan mengelus perut Intan.
"Sehat terus ya, Nak." Katanya.
"Kita pulang ya?" ajaknya dan di angguki Intan.
*
*
Jam dua malam.
Intan terbangun dengan wajah gelisah, Bintang ikut bangun karena kaget, takut terjadi sesuatu.
"Kenapa?"
"Aku mimpi bisa nyetir mobil!" Intan terduduk dengan wajah ceria.
Bintang yang belum tersadar penuh hanya bisa menyipitkan matanya ke arah sang istri.
"Mau belajar nyetir, "
"Ck, jangan aneh-aneh. Yank, tidur lagi. Jam berapa ini?" Bintang hampir kembali merebahkan tubuhnya saat di tahan sang istri.
"Ang ... mungkin ini ngidam, aku pengen banget gerakin persneling, mindahin gigi. Ish... tadi di mimpi enak banget!" rengeknya.
"Jam 2 pagi?"
Intan hanya mengangguk, sedikit memajukan bibir bawahnya yang membuat Bintang sedikit merinding.
Membayangkan mengecupi bibir manis itu.
"Kalo, materinya dulu mau nggak? aku punya yang mirip gagang persneling. Kalo kamu mau!" tawarnya.
Intan langsung mengangguk antusias.
"Mau, mau. Mana? ayo kita latihan!" ucapnya semangat.
Bintang menarik ujung bibirnya.
Tangan nya terulur ke bawah. "Nih, buat latihan lumayan, mirip-mirip dikit sama gagang persneling!"
Intan hanya mematung ...
"Se putus asa itu kamu, Ang. Ampe modus pengen di pegang?" Matanya menatap iba pada sang suami.
Bintang melipat bibirnya hingga menjadi garis tipis, menahan ledakan tawa di tengah malam itu. Karena melihat reaksi dari sang istri.
Bersambung 🥰🥰🥰
Hai kesayangan binbin ðŸ¤ðŸ¤
Sehat semua kan?
Maaf ya, aku agak keder di sebelah. Sebenarnya salah aku juga sih telat baca e-mail yang dari akhir bulan kemarin, baru kebaca di pertengahan bulan ini. Jadi mau nggak mau harus ngejar kata 30 k buat bulan ini, dalam waktu 10 hari. 😖😖 gimana nggak keder dong. Ampe jari aku yang gede2 kelas ruas jahe makin gede kek ruas lengkuas 🤣🤣🤣.
Banyak yang PC, WA, dan DM ig. Nanyain Bin2.
__ADS_1
Tenang aku terusin kok. Aku nggak akan kacang lupa kulit🤣🤣. Di sana nyari jajan doang. Rumah utama tetep di sini, sodaraku di sini semua🥰🥰
Pokoknya sayang kalian banget 😘😘😘