Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Brojol


__ADS_3

...---oOo---...


"Ayok. Pelan-pelan naiknya!" Bintang berkata setelah membukakan pintu mobilnya.


"Nggak bisa, kakinya nggak bisa kebuka lebar. Ini ada .... ada yang ganjel!" Intan menahan intinya dengan tangannya sebelah nya mencengkram pundak si suami.


Bintang mencerna ucapan si istri.


"Nggak. Jangan. Jangan lahiran di sini, aku bisa pingsan atau mati berdiri. Yank, please." wajahnya sudah pucat dengan titik keringat melebihi si istri yang sedang kontraksi.


Intan menggeleng pelan. "Aku masih bisa nahan. Tapi nggak kuat buat nge langkahin kaki!" katanya sambil meringis.


Bintang berinisiatif untuk mengangkat tubuh istrinya. Dengan tenaga yang dia keluarkan maksimal hingga tubuhnya bergetar hebat. Tapi tidak bisa membuat istrinya masuk.


Seketika dia menyesali mobil gagah yang dia pilih itu. Nyatanya malah menyusahkannya di saat genting seperti ini.


"Susah ... aku kalo buka kaki takut brojol!" Intan masih meringis. Kepalanya mendongak sambil menjambak rambut suaminya spontan.


Bintang terlihat frustasi. Tangannya merogoh ponsel yang tadi sempat dia sambar dari atas nakas.


"Bun ... Tolong,"


"Tolong, Intan mau lahiran. Ketuban nya udah pecah!"


"Di mana kamu?" suara Bunda terdengar panik di sebrang sana.


"Masih di rumah Bun."


"Kenapa? buruan ke rumah sakit!" Wanita yang melahirkan nya itu sedikit meninggikan suaranya.


"Nggak bisa masuk mobil, Bun. Katanya ada yang ganjel, kakinya nggak bisa ngelangkah!"


"Gusti, itu bayinya udah mau brojol. Kalian ngapain aja? buruan. Manggil taksi kek, atau ambulance ya? Bunda pesenin!" tawarnya.


"Ja-jangan. Ngga mau!" Intan menggeleng kuat.


Bintang memandang wajah istrinya yang hampir menangis.


"Terus mau kamu apa?"


"Mau lahirin. Ini udah nggak kuat, sakit!" Intaneringis dengan lelehan keringat di sekujur tubuhnya.


"Kalo itu juga aku tau, terus naik nya gimana?"


"Mikir dong, aku lagi sakit gini. Kamu masih nyuruh aku mikir?" Intan sudah tidak kuat dan semakin kesal dengan suaminya.


Bintang bingung lalu matanya menatap sebuah bangku kecil tempat pijakan nya saat mencuci mobil jero prot nya itu.


Bintang berlari tergesa dan mengambil bangku kecil itu. "Naik sedikit ke situ, aku bantu!" Bintang memegangi tangan si istri dan menuntunnya masuk.


Intan menuruti apa yang di titah kan suaminya. Kakinya dia pijak kan ke atas kursi kecil itu.

__ADS_1


Intan merasakan sesuatu kembali mengaliri paha dalamnya. "Ang," Intan menunduk sambil mengangkat daster dan kain jarik yang membelit tubuhnya. Cairan merah terlihat di sela kakinya.


Bintang dengan panik mendorong si istri agar masuk sempurna agar secepatnya bisa dia bawa ke rumah sakit.


Intan memekik saat Bintang terburu memasukannya ke dalam mobil.


"Ngga tau apa, aku bawa dua nyawa yang mau keluar?" katanya sambil memukul suaminya yang baru duduk di belakang kemudi.


"Iya, aku tau. Tau banget, makanya pengen cepet bawa kalian ke rumah sakit. Masa kamu mau brojol di mobil? bisa pingsan aku. Terus siapa yang nolongin kamu?" marahnya sambil menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi.


*


*


Laju mobil terhenti saat lampu merah menyala.


"Awas aja kalo lama, gue terobos juga nih." Gerutunya kesal dan panik menjadi satu.


Tidak mendengar suara si istri menimpali ucapannya. Bintang menoleh, wajahnya pias langsung dan jantung nya terasa berpacu kencang nyaris lepas dari gantungan nya.


"Yank?"


Intan yang tengah memejam dengan keningnya yang mengerut, juga tangan yang mencengkram lilitan kain jarik. Merupakan pemandangan horor untuk Bintang.


"Yank, "


"Hemmmm ... " dia hanya menggumam. Seolah sedang mengirit tenaganya.


"Ang," Intan tergesa-gesa mengangkat roknya, dan tangannya terulur sambil mengejan kuat.


Bintang yang baru kembali melajukan mobilnya, berkali-kali menoleh apa yang di lakukan istri nya.


"Mau apa, Yank?" paniknya.


"Bentar, ini udah mau nyampe tahan sebentar. Jangan lahiran di sini!" ucapnya melarang, tangan yang sedang memegang kemudi itu bergetar hebat.


Intan terus mengejan dan memekik kesakitan.


"Di tahan? aku udah nggak tahan." Teriak nya kuat.


Bintang mengangguk pasrah. Terserah istrinya itu, tubuhnya juga sudah di rasa tak karuan hanya karena cemas. Apalagi si istri.


"Ok, aku harus gimana?" tanyanya gugup.


"Berhenti," katanya dengan tegas.


Seketika Bintang menginjak pedal rem dengan sekali pijak.


Bintang membuka sabuk pengaman nya. Dia langsung mencondongkan tubuhnya ke arah si istri.


Intan yang sedang mengejan. Reflek langsung merangkul pundak suaminya. "Sakit ... Ang," erangnya.

__ADS_1


Bintang mengangguk, wajahnya pucat penuh dengan keringat menyamai raut wajah si ibu yang tengah berjuang antara hidup dan mati itu.


Suara klakson di belakang memekakkan telinga.


Bintang menulikan pendengaran dan berpusat pada si istri. Terdengar klakson bergantian berbunyi. Hingga sebuah mobil polisi berhenti di depannya.


Suara ketukkan kaca terdengar, Bintang menoleh dan tersentak saat dua orang polisi berdiri tepat di samping mobilnya.


Bintang yang sedang di jambak dan menjadi tumpuan sang istri, bersusah payah membuka kaca jendela mobilnya.


"Selamat siang, Pak!" seorang polisi memberi hormat.


"Si-siang.Pak!" Bintang menjawab dengan keadaan rambut yang sedang di jambak kuat oleh si istri.


"Mohon ... oh, ada apa Pak?" polisi itu bertanya saat melihat posisi Bintang yang tidak baik-baik saja.


"I-ini, istri saya mau lahiran. Tadi nggak kuat terus saya ngerem kaget!" Bintang sedikit menggeser tubuhnya agar Intan dapat terlihat oleh dua orang polisi itu.


"Oh, maaf. Biar kami kawal, Pak!" timpal salah satu polisi.


"Nggak bisa justru, Pak. Istri saya udah nggak tahan. Ini saya susah kalo buat kembali nyetir!" Keluhnya.


Si polisi saling pandang.


"Baik, saya hubungi ambulans!" katanya dan di angguki Bintang tanpa penolakan dari Intan seperti tadi.


"Arghhh ... ini. Ini , kepalanya... babynya mau ke-keluar. Ank .... " Intan menjerit, tangan Bintang reflek terulur ke bawah. Dan benar saja tangannya mendapati sesuatu meluncur. Matanya takjub, dan sekali hembusan nafas dan beberapa kali dorongan sang istri. Mahluk kecil meluncur sempurna di kedua tangannya.


Bintang bergetar, ke dua polisi itu mengatur lalu lintas agar ambulans yang datang tidak terhalang.


Bintang yang masih menatap takjub ke arah tangannya yang memangku bayi merah berselimut lendir dan darah.


"Yank," Bintang memanggil istrinya dengan isak tangis bombaynya. Tak kalah histeris dengan si bayi yang berada di pelukannya.


Intan yang sedang mengatur nafasnya dan kembali merasakan kontraksi berikutnya tak bisa menjawab suaminya. Dia hanya menunduk melihat bayinya.


"Sini, " Intan membuka kancing dasternya perlahan. Dan menarik keluar buah dadanya. Lalu dia berikan pada si buah hati.


Bintang masih terisak, melihat istrinya ternyata begitu siap menjadi seorang ibu. Tanpa panik dan terlihat seperti sudah berpengalaman.


"Ang. Mules lagi!" Intan kembali memejam dengan kening yang kembali mengerut merasakan sakit kuat biasa yang masih berlanjut.


"Sabar. Ambulans nya belum sampe! itu dia udah lihai aja ngisepnya. Loh ... lucu, Yank!" matanya yang penuh air mata terlihat menyipit tertarik bibirnya yang melengkung.


Bintang membuka kaki si bayi mungil itu. "Hei ... boy? jagoan Papi!" bisiknya saat melihat anak pyton kecil di sela paha sang buah hati.


Sedang menciumi si bayi merah yang hanya terbalut selembar kain jarik milik si ibu. Bintang terhenyak saat jambakan kembali dia rasakan.


"Sakittt ... " Intan kembali mengerang. Bertepatan dengan ketukan polisi bahwa ambulans sudah tiba.


Bersambung ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2