Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Pekerjaan


__ADS_3

...OoO...


… Aku sedang ingin bercinta karena


Mungkin ada kamu di sini aku ingin


Aku sedang ingin bercinta karena


Mungkin ada kamu di sini aku ingin...


sedang ingin bercinta by: dewa 19


Ringtone ponsel yang memekakkan telinga terdengar, membangunkan pasangan tapi bukan pasangan itu.


Bintang mengoreh sesuatu yang bergetar di sakunya.


"Njir... nyangkut," gerutunya dengan mata yang menyipit.


Intan ikut terbangun, "Ya ampun itu ringtone nya, mencerminkan isi otak si punya hp." gumamnya dalam hati.


Matanya membola saat melihat langit sudah gelap,


jam di ponselnya menunjukan hampir jam 7 malam, berarti mereka tertidur hampir 3 jam.


"Hemmm.... " suara Bintang menjawab panggilan itu.


"Kakak dimana?" Mentari sedikit berteriak di sana.


"Di rest area, gue ketiduran. Sakit perut mules, bulak -balik ke toilet. Jadi gue tidur,"


"Ya ampun, orang suruhan Mas Dafa udah nyampe di rumah kita dua jam lalu buat ngambil mobil." Gerutu sang adik.


"Terus gimana? tungguin aja, gue ke sana sekarang."


"Nggak usah, jadinya Mas Dafa beli ngegantiin mobil aku yang kemaren ringsek."


"Njir... sultan sesungguhnya,"


"Iya lah, kerja yang bener makannya. Jangan nge rombeng mulu tuh mulut nya," ucap sang adik.


Bintang menggelengkan kepalanya merasa tertampar oleh perkataan sang adik.


"Jadi gimana?" Bintang kembali bertanya.


"Ya udah, tapi buruan pulang. Bawa anak gadis orang," titah sang adik.


Bintang memutuskan panggilan itu. Saat dia menoleh matanya bersitatap dengan mata gadis yang dia kira masih tertidur.


"Udah malem ini. Pak," suaranya terdengar ketus.


Bintang menggeliat kan tubuhnya hingga kepalan tangannya mengenai pipi Intan.


"Ck, nggak sopan." Intan menepis tangan Bintang.


"Hehehehe sorry Tan, bangun tidur dah marah-marah. Gue masih lemes nih, cari makan dulu yuk!" ajaknya namun sambil keluar dari mobil tak menunggu jawaban dari Intan.


Dari depan mobil dia mengedikkan dagu nya, seolah mengajak Intan mengikutinya.


*


*


Mereka tengah duduk di meja salah satu restoran yang terdapat di sekitar rest area.

__ADS_1


Bintang memilih menu soto ayam, sedangkan Intan memilih bakso.


"Yang kenyang, Tan. Badan lu makin kurus makannya nggak ada yang gizi nya bener," omelnya.


Intan seperti biasa diam, dia tidak menanggapi ocehan lelaki di depannya. Jarinya sibuk mengulir layar ponselnya mencari lowongan pekerjaan di situs loker online.


"Intan, surIntan... " Bintang memanggilnya namun masih tak di hiraukan gadis di depannya.


Dengan kesal dia mengambil ponsel yang Intan pegang, ingin tau apa yang tengah di lihatnya.


"Lowongan? lu nyari kerja lain? kenapa? gaji dari adek gue kecil? adek gue galak?" Bintang memberondong nya dengan pertanyaan.


Intan diam dengan tatapan tajamnya.


"Udah? soal pertanyaannya beres? mau yg mana dulu yang harus saya jawab?" Intan balik mencecarnya.


Bintang diam merasa malu, tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sorry... " Bintang tersenyum ke arahnya.


"Saya lagi butuh tambahan, sebenarnya gaji dari Pak Dafa cukup besar kalo di pake saya sendiri, UMR loh. Tapi sayang dengan ijazah Sarjana saya... "


"Apa? lu Sarjana?" Bintang memotong perkataan Intan.


Intan hanya mengangguk sambil meminum teh dalam botol kaca yang dia pesan tadi.


"Jurusan apa? " Bintang kembali bertanya sambil menggeser tangan nya dari meja saat soto ayam pesanannya datang.


"Manajemen bisnis," Intan mengambil mangkuk berisi bakso nya lebih dekat sambil mengambil mangkuk sambal.


Bintang mengangguk kecil, sesaat tadi dia merasa takjub, tak sangka perempuan yang sering dia ledek dan ia rendahkan adalah seorang Sarjana.


Intan yang tengah memberikan saos dan sambal, pandangan nya menangkap Bintang yang melamun sambil tak berkedip melihat ke arah nya.


"Pak... "


"Pak... "


"Eh, i-iya. Kenapa?" tanyanya gugup.


"Ayo di makan, biar cepet pulang. Saya capek," ucap Intan tangannya lihai mengaduk kuah bakso di depannya.


Bintang mengangguk kecil, mulai menyuapkan makanannya, sambil memikirkan sesuatu.


*


*


Mereka kini sudah dalam perjalanan kembali menuju Bandung.


"Tan.. "


"Ya?" Intan tumben menjawab panggilan nya dengan cepat.


Gadis itu melihat gerakan tangan Bintang yang memasukan tangannya ke dalam kaos. Terus didalamnya gerak-gerak entah apa yang di kerjakan lelaki rombeng itu.


"Pak, ngapain sih tangannya? jangan aneh-aneh," Intan beringsut menjauhkan tubuhnya hingga menempel di pintu mobil.


Bintang menatapnya sambil menautkan alisnya.


"Ngomong apa sih lu?" sungut nya kesal.


"Itu gerak-gerak, bapak ngapain? saya teriak kalo bapak macem-macem," ancamnya.


Bintang menatap ke arah tangannya yang sedang bergerak secara teratur.

__ADS_1


"Teriak aja sono? paling petugas derek yang nyamperin. Ini tol tan-tan,"


"Lagian nih liat tangan gue main dimana? di puser tau bukannya sejengkal di bawah puser. Kalo gue nahan mules harus mainin puser, tapi suka jadi pengen pipis," Bintang meringis.


"Puser nya di apain? kok tangan bapak gerak-gerak gitu?" tanyanya merasa aneh dengan tingkah Bintang.


Bintang sedikit menarik kaosnya, hingga puser nya terlihat, dan satu jari dia korek-korek memutari lubang puser itu.


"Emang ngaruh?" Intan menahan tawanya.


Bintang mengangguk, "ngaruh, tapi konsekuensinya jadi pengen pipis, cuma mulesnya bisa di tahan." terangnya.


"Nanti, bikinin lagi air rebusan daun kutukan." Pintanya pada Intan.


"Rebusan daun jambu kelutuk," Intan memperbaiki kata yang Bintang ucapkan.


"Iya, pokoknya itu. Perut gue masih melilit," terangnya sambil meringis.


...****...


Tepat jam 11 malam mereka sampai di rumah Mentari.


Intan keluar terlebih dahulu, membuka pagar lalu Mobil milik Dafa yang di kendarai Bintang masuk ke carpot rumah itu.


"Tutup pagernya. Kunci," titah Bintang sambil masuk ke dalam rumah yang pintunya baru saja Intan buka.


"Kan bapak mau pulang!"


"Nanti, bikinin dulu air rebusan daun kutuk."


"Daun jambu kelutuk pak, jangan ampe kedengeran orang, nanti di kiranya saya dukun yang suka kutuk orang." Dia menggerutu sambil mengunci pagar.


Lalu masuk ke dalam dimana Bintang telah merebahkan tubuhnya di sofa depan TV.


Intan membuka pintu ke halaman belakang, tapi sebelum ke arah pohon jambu di ujung dekat mesin cuci. Intan memberi dulu makan ikan.


Bintang yang menoleh, bangun dan berdiri menghampiri. "Buruan Tan. Melilit nih, " keluhnya manja.


Intan tak lama berjalan ke arah pohon setinggi dada orang dewasa. Lalu memetik beberapa lembar daunnya.


Bintang duduk di meja makan, menunggu ramuan herbal untuk sakit perutnya.


"Tan, lu mau nyari kerja kemana?" tanyanya kepo.


Intan menggelengkan kepalanya, dia juga bingung sebenarnya.


"Pokoknya saya harus dapet tambahan, biar nggak di teror kakang saya di suruh kerja di panti pijat," jawabnya dengan jujur.


Deg...


Bintang terpaku sesaat, saat mendengar kata panti pijat. Dimana Naya bekerja juga di tempat serupa itu.


"Emangnya kenapa?" Bintang bertanya dengan wajah khawatir.


"Iya, soalnya tamunya ada perempuan atau laki-laki bebas gitu, kebayang harus mijit badan laki-laki, saya nggak bisa. " Intan menyodorkan segelas air godokan daun jambu kelutuk.


Bintang diam, pikirannya berlari menuju arah Jakarta, dia membayangkan Naya dalam posisi memijat laki-laki tua, hitam, perut buncit. Baru membayangkan nya saja darahnya mendidih. Dia harus segera melamar dan menikahi kekasihnya itu, agar tidak perlu cemas dengan keadaan Naya.


"Makasih, Tan. Gue pamit pulang ya, hati-hati pintu semua di kunci," katanya lalu meneguk isi gelas itu sampai habis lalu menyambar kunci motor nya dan dia berjalan ke arah luar di ikuti Intan yang akan mengunci pagar.


Bersambung ❀❀❀


Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naik🀣🀣🀣

__ADS_1


jangan lupa like... komen... dan masukin ke favorit yaπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


Sehat buat kalian semua😘😘


__ADS_2