
...-----OOO-----...
Bintang berlari ke arah kamar Intan saat mendengar suara rintihan. Dia khawatir dengan gadis cungkring itu.
"Heii... hei... kenapaa?" Bintang duduk di pinggir tempat tidur berukuran single itu.
Intan tak menjawab tubuhnya bergetar mengigil, giginya bergemeletuk.
"Aduh, makin panas." Dia meraih obat yang berada di atas nakas, lalu dengan gerakan cepat dia menyobek bungkusnya, memasukan paksa obat itu ke dalam mulut gadis yang tengah menggigil.
Intan meronta namun mulutnya di tutup paksa oleh Bintang, setelah dia memasukan se butir obat penurun panas dan langsung mencekok air masuk ke dalam mulut Intan.
Di sangka Intan sudah menelan obat itu, Bintang membuka tangannya yang menahan mulut Intan.
Namun naas, Intan setengah bangkit dan memuntahkan obat itu beserta bubur telor yang membuat baju Bintang kotor.
"Ck, sialan. Di urus malah lu bales dengan muntahan." Dengan cuek nya dia membuka kaos dan celana chinos yang dia pakai, menyisakan boxer ketat yang membungkus pyton beserta hutan rimbanya.
Saat sedang menungging memungut bajunya yang terkena muntahan, Intan menarik tangannya.
"Mas... jangan tinggalin aku, aku capek!" Intan menggumam.
Bintang hanya bisa mengerutkan keningnya heran. "Lu, masakin gue ayam capek?" Bintang mengomel.
"Mas... " Intan kembali menggumam.
"Peluk aku, aku kangen."
Bintang yang duduk di pinggir kasur dengan hanya mengenakan boxer seketika terhenyak, saat gadis cungkring di depannya minta di peluk.
"Lu ngigo?" Bintang menepuk pelan pipi Intan.
Intan semakin menggigil.
"Duh, gue cari pisang kemana biar lu bisa makan obat? adanya pisang tanduk punya gue!" dia tertawa pelan. Merasa geli dengan ucapannya sendiri.
"Mas... "
"Iya, sini gue peluk!"
Akhirnya Bintang ikut merebahkan tubuhnya dengan hanya memakai boxer ketatnya. Berdalil merasa iba dan niatnya untuk menurunkan panas tubuh Intan dengan metode skin to shirt.
Merasa kaku saat mencoba memeluk tubuh kurus itu, walaupun mulut menggerutu tapi ada rasa aneh di dadanya.
Kenapa gue? gumamnya.
Lalu intan menelusuk merapatkan tubuh panasnya pada dada Bintang.
Dada yang polos itu menempel dengan sempurna pada dada empuk berlapis kaos murahan yang tipis itu.
"Anjirr, lu panas banget?" gerutunya namun tak ayal tangannya malah melingkari pundak Intan dan menjadikannya bantalan kepala gadis itu..
Tiba-tiba dia merasa kaku, tak bisa nafas.
"Tan... Intan, gue sesek!" Bisiknya dari atas kepala Intan yang tak sadar tidur dalam pelukan nya.
"Mas... "
"I-iya... "
"Mas, aku capek. Kakang jahat sama aku. Aku harus gimana?" gumam gadis itu dalam tidur nya.
Bintang terus menyimak apa yang di ucapkan tak sadar dari bibir gadis cungkring itu.
Apa sih? gue kagak ngarti. Dia curhat pacarnya ke gue? perasaan kita nggak se deket itu?batinnya.
"Mas, bawa aku pergi?"
__ADS_1
"Hah... kemana?" Dia bertanya dengan polosnya.
"Mas... I love you... " Intan seperti menangis dalam tidur nya.
"Hah... Apa? A... aku udah punya Naya, Tan... "
Suara tangis itu semakin keras, dan pelukan itu pun mengencang.
Mati gue sesek.... sesek atas bawah, bintang mengangkat sedikit kepalanya dan menunduk menatap pytonnya yang bereaksi bangkit menjelma menjadi kobra yang siap menyemburkan bisa nya.
"Anjirrr... pake bangun lu! denger aja ada yg bilang lope ke gue!" geramnya pada sang pyton.
"Mas... aku cinta kamu... " Intan kembali bersuara.
"Aku belum cinta... nggak tau besok. Eh... "
"Mas Dani... aku kangen."
Bintang terlonjak kaget, kesadarannya seolah jatuh dari gedung tinggi dan mblesek ke tanah berlumpur.
"Anjir... jadi lope bukan buat gue?" Dia membentak namun percuma Intan tak sadar hanya menggumam sesekali karena suhu tubuh nya yang kelewat panas.
Dia merasa malu, ada rasa sakit hati yang dia rasakan. Untungnya gadis itu tidak sadar dan pasti tidak akan mendengar semua kata-kata ke ge-er an dirinya tadi.
Rasa kesal dan sakit hati menjalar di dadanya, rasa sesak pun hanya tinggal di dada, si pyton langsung terkulai lemas seolah urat tegangnya di putus se pihak. Pytonnya loyo sebelum berpetualang.
Dengan rasa sesak di dada Bintang pun tertidur masih dengan posisi memeluk dan di peluk Intan.
*
*
Pagi hari....
"Arggggggghhhhh.... "
"Aduh... " Bintang mengaduh saat dirinya jatuh ke lantai.
"Bapak ngapain di sini? ngapain di kamar saya? dan ngapain tidur nggak pake baju sambil memeluk saya? bapak ngapain saya?" Intan menarik selimut menutupi tubuhnya.
Bintang yang sedang menyusun roh nya agar masuk sempurna ke dalam tubuhnya, masih meringis mengusap pantatnya yang membentur lantai dengan keras.
"Heh... " Bentak nya.
Intan diam seketika saat Bintang membentak nya.
"Bukannya makasih udah gue rawat semaleman, gue kasih bubur pake telor, gue udah cekokin obat penurun panas, balasannya apa? lu muntahin gue dan sekarang lu nendang gue ampe jatoh ke lantai." terangnya.
Intan terdiam, namun masih dengan raut wajah bertanya-tanya dan ketakutan.
"Kenapa Bapak nggak pake baju?" tanya Intan pelan.
"Udah gue bilang, lu muntahin baju gue! tuh liat baju gue yang lu muntahin bubur telor." tunjuknya pada baju yang menumpuk di dekat pintu.
Intan menatap ke dalam selimut yang membungkus tubuhnya.
"Jangan mikir yang aneh-aneh! Kalo mau lu udah gue telen idup2 dari semalem, gue punya pyton yang bisa berubah jadi anaconda."
"Bapak punya ular?"
"Iya, anak ku... Bapak mu ini punya ular, jadi jangan mikir aneh-aneh, kalo nggak mau anaconda peliharaan bapak mu ini makan kamu bulet-bulet!" ancamnya.
Intan mengangguk takut, dalam bayangan nya melihat ular hijau kecil saja sudah ngeri, bagaimana ular anaconda yang ada di film J-Lo dia merinding bukan main, Intan bergidik ngeri. Bintang yang melihat nya menahan tawa agar ancamannya bisa di cerna oleh gadis cungkring di depannya.
"Kenapa, Bapak nggak ngambil baju punya Ayah nya Helen?" kembali bertanya.
"Woyyy... siapa yang narik tangan bapak mu ini semalem nakkk? minta peluk... " Bintang meninggikan suaranya.
__ADS_1
"Bapak... bapak terus! kapan gue kawin sama ibu lu?" gertaknya.
Intan menggeleng "Saya harus panggil apa? lagian nggak mungkin, saya nggak mungkin gitu!"
"Halah, udah lah nggak ada bukti. Coba ada cctv atau malem gue selfie.. " Dengusnya kesal.
"Panggil gue, Mas kek, atau kakak kek!"
Gadis di depannya seperti sedang berpikir tentang semua ucapan lelaki slengean di depannya, benar atau hanya bualan saja. Batinnya.
Mas ku cuma mas Dani, nggak ada yang bisa gantiin panggilan itu. hatinya tiba-tiba sangat merindukan kekasih nya yang sudah meninggal setahun labih itu.
"Ambilin baju si borokokok," Perintah Bintang.
"Nggak... Pak, saya takut!"
"Ck, nggak ada rasa berterimakasih nya lu, ke gue." Bintang bangkit dengan celana boxer nya yg sesak karena penyakit pria di pagi hari adalah tidur sendiri dan bangun berdua dengan si boy mini.
Intan menutup wajah nya melihat Bintang begitu cuek melenggang dengan sebuah boxer ketat.
Tunggu apa itu yang mengembung di tengah? astaga... laki-laki mesum.Batinnya, dia semakin takut pada Bintang. Belum tau jika hal seperti itu lumrah terjadi pada lelaki di pagi hari terutama saat bangun tidur.
*
*
"Tan... tan... Bikinin gue sarapan." Bintang memanggilnya saat dirinya keluar dari kamar adiknya setelah mandi dan meminjam pakaian Dafa.
Celana yang sedikit longgar milik Dafa harus sering dia tarik ke atas karena terus merosot.
Bintang melakukan panggilan tlp pada Naya di pagi hari itu, sambil terus memperhatikan aktivitas Intan membuat sarapan untuk nya.
Sungguh obrolan itu tidak fokus, karena fokusnya pada gadis kurus dengan rambut basah yang tergulung asal, mengenakan kaos maroon longgar dan celana leging hitam se lutut. Yang ada di hadapannya.
"Cantik... " tanpa sadar Bintang menggumam.
Intan menoleh sesaat, lalu kembali lagi ke aktivitas di depan kompornya mengaduk nasi goreng.
Bintang mengalihkan pujiannya pada Naya, yang sebenarnya dia tujukan pada intan.
Setelah Intan menyimpan piring berisi nasi goreng dengan topping sosis dan telur mata sapi, dia membalikkan tubuhnya.
Bintang memutuskan panggilan dengan Naya, lalu tangannya menahan tangan Intan.
"Temenin gue makan!" pintanya.
Intan duduk dengan terpaksa, dia takut jika membantah lelaki sarkas du depannya akan marah.
"Kenapa nggak ikut makan?"
Bintang mulai menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Saya mual, perut saya nggak enak!"
"Hamil kali lu?" Bintang berkata asal.
Intan membolakan matanya saat mendengar tuduhan Bintang padanya. Hatinya begitu sakit.
"Kalo ngomong di jaga ya, jangan sok kenal dan sok tau tentang kehidupan saya." Intan bangun dari duduknya dan pergi ke kamarnya dengan menghentakkan kaki pertanda dia kesal.
"Njirrr, mulut gue. lemesss nya kebangetan." Bintang memukul pelan bibirnya. Saat sadar kata-kata nya menyinggung gadis yang dia jaga semalaman.
Bersambung ❤❤❤
Nggak banyak minta, cuma minta like, komen, dan lope nya ya, kalo suka kasih tau temen-temennya boleh 🥰🥰🥰.
Sehat dan bahagia selalu 🥳🥳🥳
__ADS_1