
...--oOo--...
Waktu berlalu dengan cepat kini usia kehamilan Intan hampir menginjak sembilan bulan
Bintang? sudah baik-baik saja setelah menginjak usia kandungan Intan ke lima bulan. Dia tidak mengalami mual muntah lagi. Malah sekarang Intan yang di kehamilan kali ini naik BB hanya 9 kg, lain hal nya dengan Bintang yang sudah naik hingga 14kg. Menjadi bulan-bulanan keluarga sudah biasa untuknya. Bahkan saat dia sedang masanya mabuk mual. Bisa-bisanya keluarga besar membuat acara barbeque di rumah Ayah Gunawan. Dan dia tidak berani mendekat karena rasa mual hebat, berakhir dengan dia memandang dari pintu kaca. Memandang miris istri dan keluarga besarnya tertawa bahagia sambil makan berbagai macam makanan.
Dia hanya duduk di sofa memandangi keluar, sambil menggerogoti blimbing asam yang dia petik dari halaman rumah.
*
*
Sore itu Bintang pulang lebih cepat. Rencananya mereka akan kumpul keluarga di rumah Ayah. Merayakan ulang tahun Bunda yang ke 55 tahun.
Memarkirkan mobil di depan pagar. Bintang masuk ke rumah, memberi salam namun tidak ada yang menjawab. Saat membuka pintu rumah ternyata tidak terkunci.
Pemandangan indah luar biasa di mana di karpet depan TV. Intan, Altaf dan si kembar tidur di sana.
Tersenyum sambil mengabadikan momen lucu namun menghangatkan jiwa.
Intan yang tertidur terlentang dengan Si kembar di kedua sisinya. Dan Altaf yang memegangi tangan mungil Wulan.
Pandangan nya tertuju pada kancing piyama yang Intan kenakan. Sedikit terbuka padahal dia sudah tidak menyusui si kembar dari kehamilan nya menginjak tujuh bulan.
Bintang membenarkan letak kancing yang terbuka itu. "Pamer, mentang-menang makin gede. Biar apa? biar aku pengen?" dia berucap sendiri seraya menciumi pipi istrinya dan anak-anak nya. Tak terkecuali Altaf, yang begitu menyayangi adik-adiknya.
Berjalan memindahkan anak-anak nya satu persatu ke dalam kamar. Dan berakhir dia yang berbaring tepat di sebelah si istri. Memandang wajah yang semakin cantik dengan aura kehamilannya. Membuat Bintang sering merasa gemas. Tak jarang dia mencubit atau menciumi dengan gemasnya si istri. Tangannya terulur mengusap perut intan yang sudah besar maksimal. "Makin seksihhh, kamu!" bisiknya, wajahnya dia tenggelamkan di ceruk leher Intan.
Menghirup aroma parfum, keringat, dan wangi bayi menjadi satu. Segar, begitu yang ada di otak Bintang. Hingga tiba-tiba sesuatu terpancing bangun. Memang sudah beberapa hari ini dia tidak melakukan aktivitas karena istrinya sering mengeluh sakit pinggang tiap malam. Tega? tentu saja tidak. Membayangkan hamil besar di usia bayi kembar mereka yang baru bisa berjalan dan sedang aktif-aktifnya. Membuat jangankan wanita hamil, dia saja jika sedang berada di rumah merasa tak sanggup dan kadang angkat bendera putih tanda menyerah, jika di tugaskan mengganti pengasuhan sebentar saja.
Tangannya yang sedang mengusap perut besar itu semakin turun ke area paha. Nafasnya sudah berat, dia merindukan si istri.
"Nah, itu. Iya, pegel!" Intan menggumam dalam tidurnya.
Bintang yang sedang menaikan undakan naf*unya, malah tercengang dengan kalimat yang barusan dia dengar.
Tak sabar ingin segera menuntaskan keinginannya. Bintang sedikit bangkit dan menempelkan bibirnya tepat di atas bibir si istri. Awalnya tak ada pergerakan hanya menempelkan saja. Tapi lama kelamaan sesapan mulai dia luncurkan.
Intan mengerjap saat merasai bibirnya terhisap sesuatu, dia mengira itu mimpi. Hingga matanya membuka lebar dan mendapati si suami dengan segala aktivitasnya di atas tubuhnya.
Sedikit meronta hingga pautan terlepas. Intan yang nafasnya tersenggal langsung memukul keras dada si suami. Menoleh ke kiri dan kanan mencari anak-anak nya. Yang seingat nya tadi ada di sana.
"Anak-anak?"
Bintang tersenyum, "aku pindahin. Biar bisa lepas kangen sama kamu!" Dia kembali mengecup wajah si istri dan turun ke dada yang kancing nya sudah terbuka itu. Intan kembali mendorong si suami.
Menatap keadaan dirinya yang sudah tak karuan. Mulai dari kancing dress rumahnya yang sudah terbuka menyembulkan sesuatu yang bulat dan semakin hari semakin besar. Bagian bawah dress yang sudah menggulung di perutnya. Hingga bibir yang sudah mulai terasa kebas. Dari kapan suaminya menggerayangi tubuhnya? pikirnya kesal. Bisa-bisanya dia tidak menyadari itu semua.
Bintang menarik turun kacamata dada itu hingga si bulatan menyembul keluar. Tanpa meminta ijin dia hisap dan memainkan lidahnya di atas puncak merah kecoklatan itu.
Intan yang masih sibuk dengan pemikirannya, tiba-tiba Bintang bawa melanglang buana menuju puncak kenik*matan. Tangannya otomatis mengusak rambut si suami. Dan kedua kakinya terbuka lebar tanpa di minta.
__ADS_1
"Ehm ... " hanya suara leng*han tertahan yang keluar dari mulut Intan.
Bintang masih menyibukkan diri di bulatan indah itu. Menyesap, memainkannya dengan tangan dan lidah bergantian.
Bintang menekankan sesuatu yang sudah sangat mengeras di bawah sana. Nafasnya pun semakin memburu. Dia bangkit melepaskan kemejanya menyisakan kaos polos putih, menarik turun celananya dan si cobra sudah tegak menantang.
Kembali ke posisinya tadi. Bintang kembali dengan aktivitas nya. Bersiap menarik turun kain segitiga milik si istri. Intan menahannya, "Kenapa?" Bintang menatapnya bingung.
"Lamaan dikit foreplay nya!" bisiknya menggoda, tangannya terulur mengusap leher hingga menggaruk kecil punggung Bintang.
Mengangguk mengerti. Bintang kembali menyesap bibir itu, cumb*an mereka semakin liar, keras dan menggebu.
Hingga akhirnya Intan membola, saat Bintang terasa menekan kuat miliknya dan tak lama berkedut. Dan Basah. Terdengar nafas Bintang yang kepayahan di lehernya. Lelaki itu masih menenggelamkan wajahnya di sana.
Intan mendorong kuat tubuh itu dan menunduk.
Si kain segitiga berwarna peach itu basah. Pandangan nya tertuju pada si suami yang sedang nyengir kuda tanpa dosa.
"Belum masuk loh?"
"Abis, kamu tahan-tahan. Itu efek kangen beberapa hari, aku nggak kuat lagi." Katanya membela diri.
Intan merasa di hempaskan ke tanah. Marah? iya jelas. Dia masih menanjak naik tapi si suami sudah kembali menariknya turun. Dongkol sudah hatinya.
Intan bangun dengan susah payah.
"Ngotorin, doang." Gerutunya lalu masuk ke dalam kamar.
Lelaki itu beranjak bangun, memunguti semua pakainya dan sedikit berlari menyusul si istri.
*
*
Bintang masuk ke dalam kamar mandi.
Tatapan Intan yang sedang membuka baju menjadi pemandangan mengerikan, seolah dia melihat wajah preman yang ingin mencelakai nya.
"Yank, aku bisa jelasin!" Katanya sambil mendekat.
Intan tak menggubris, dia masih anteng dengan sabunnya.
"Ini, bisa di usahain lagi bangun. Yuk, kita bangunin sama-sama!" rayu nya.
Lagi tatapan mata sinis itu dia dapatkan.
Intan yang sedang berdiri di bawah shower, Bintang tarik. Lelaki itu duduk di atas closet dan menarik si istri untuk duduk di atas paha nya. Awalnya Intan menolak namun satu gerakan jari Bintang membuatnya memejam. Dan akhirnya larut dalam suasana. Bintang terus menyesap si bulatan itu, dan seperti dugaannya si pyton kembali bereaksi.
Nafas Intan yang juga sudah terdengar semakin berat menandakan istrinya itu sudah siap untuk di masuki.
Bintang melepaskan bibirnya lalu menunduk mengarahkan si pyton agar lurus dengan pintu masuk.
__ADS_1
Ehmm ... Keduanya melenguh saat merasai terbenamnya sesuatu yang keras dan menyesakkan itu.
Pergerakan Intan tak luput dari bantuan Bintang. Dia tak ingin istrinya yang sedang hamil besar itu lelah sendiri.
Saat Intan sudah menegang dan mencengkram kuat pundak si suami. Bintang tau jika istri nya sudah mencapai puncak. Dia bantu sesap kuat puncak itu agar semakin nikmat pele*pasan si istri. Sehingga miliknya yang masih tertanam serasa makin di cengkram kuat.
"Amih,"
Mereka saling menatap. Saat suara Altaf di depan pintu kamar mandi.
"I-iya?" Intan menjawab.
Bintang tak mau kegiatan ini terhenti. Dia masih sibuk dengan dirinya yang masih tertanam.
"Ada, mobil Papi. Abang buka pagar?" suara Altaf membuyarkan semua kesenangan Intan.
tangannya menahan kuat pada pundak Bintang, saat lelaki itu tengah bergerak tak karuan.
"Ja-jangan. Papi udah di sini, lagi mandi. Amih lagi pup," katanya berbohong.
"Abang, Siap-siap aja. Kita kan mau ke rumah nenek!" titahnya. Dan tidak terdengar lagi suara bocah laki-laki yang baru masuk tk dua minggu terakhir.
Bintang menghentikan gerakannya. Lalu membantu si istri agar bangun, memutar tubuhnya hinga Intan menghadap cermin wastafel. Bintang sedikit menundukan posisi Intan hingga lebih rendah. Dan kembali menekankan miliknya masuk dengan posisi dari belakang.
Intan menahankan tangannya pada pinggir wastafel, saat suaminya itu menghentak kuat dan tak karuan.
Ya begitu, gerakan suaminya kadang tak bisa di prediksi. Bisa lembut, keras tak berperasaan, atau seperti tadi yang belum apa-apa sudah kalah.
Tangan Bintang tak diam, terulur dan memainkan tubuh bagian depan si istri. Hingga Intan merasai punggungnya di banjiri kecupan sebelum erangan kuat terdengar dari sang suami. Menandakan ronde ke dua selesai.
*
*
Keluar kamar mereka heran dengan box si kembar yang sudah kosong. Berjalan ke arah lemari dan memakai baju dengan segera, Bintang mendahului Intan keluar kamar untuk mengecek anak-anak mereka.
"Eh, Anak-anak Papi. Lagi apa?" tanyanya dengan wajah di buat gemas. Si kembar berlari ke arahnya. Altaf mengikuti di belakang dengan sebungkus biskuit di tangannya.
"Tadi kembar bangun, waktu Amih sama Papi di kamar mandi," jelasnya.
Bintang mengangguk dan tersenyum. "Makasih, ya. Abang hebat!" pujinya.
"Yuk, kita berangkat sekarang?" Intan keluar kamar dengan satu tas peralatan si kembar. Dan Altaf segera berlari ke kamar nya mengambil tas yang sudah dia siapkan.
Mereka pun pergi menuju rumah Ayah Gunawan.
Bersambung ❤❤ satu apa dua part lagi ya man teman🥰🥰
yang belum mampir di sebelah aku tunggu🥰🥰
Yang mau tau cerita Wulan anaknya Papi Bintang
__ADS_1
judulnya "Jebakan Cinta Cewek Judes"