Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Tak di anggap


__ADS_3

...----oOo----...


Bintang langsung bangkit dan ikut masuk ke ruangan Intan.


Terlihat Intan sedang menangis kesakitan.


"Sakit ... sakit, perut aku sakit." Terdengar rintihan kesakitan dari Intan.


Bintang mematung tak jauh dari pintu.


Terlihat suster itu memeriksa Intan dengan seksama, lalu tak lama seorang dokter masuk.


Memberi titah dan pada suster, dan sang suster lalu menuliskan sesuatu dan segera berlari ke luar.


Bintang menahan nafas melihat Intan kesakitan.


"Maafin gue, Tan.. " bisiknya lirih.


Tanpa dia sadari Faisal berada di belakangnya. "Lihat apa yang udah lu lakuin, lihat seorang gadis yang punya banyak mimpi hampir meregang nyawa gara-gara lu," Faisal berkata tepat di belakang punggung Bintang.


Lelaki itu memejamkan mata dan mengepalkan telapak tangannya. Hatinya mencelos tentu saja, tapi dia tidak Terima di salahkan oleh seorang yang baru mengenal Intan.


Lalu Bintang berbalik dan menabrakkan tubuhnya pada Faisal dan mendorong nya kuat hingga membawa mereka keluar dari kamar.


"Lu nggak tau apa-apa, jadi lu nggak usah sok tau sama masalah yang tengah gue dan Intan hadapi."


Bintang mengeratkan rahang nya sambil dada nya membusung menekan tubuh lelaki di depannya.


Sebuah deheman terdengar di belakang Bintang, saat menoleh ternyata itu dokter yang tadi memeriksa Intan.


"Jadi saya bisa bicara dengan siapa? untuk membicarakan keadaan pasien." tanyanya.


Bintang mendekat dengan raut wajah khawatir.


"Saya, dok. Saya calon suaminya," akunya.


(Lagi-lagi kepedean πŸ™„)


Dokter mengangguk, "Baik. Mari ikut saya," ajaknya sambil berjalan melewati lorong.


Meninggalkan Faisal yang tengah tersenyum sinis ke arahnya.


"Calon suami, nggak mungkin segila itu." Cibir nya.


Tanpa Intan dan Bintang ketahui, Faisal melihat semua kegiatan yang Bintang lakukan pada Inta di dalam mobil tadi.


Namun dia sengaja terus memanas-manasi Bintang, ingin tau sejauh mana lelaki itu mencintai Intan.


Ponselnya berdering.


"Halo, iya sayang. Foto dekorasi yang aku kirim tadi bagus kayaknya. Iya, itu aja dekorasi untuk pelaminan kita. Ok, aku serahin semua sama kamu. Iya minggu depan aku pulang. Sehat-sehat ya calon manten." Ucapnya menggoda seseorang di sebrang telpon sana.


...****...


Di ruang dokter

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya, dok?" Bintang bertanya tentang Intan saat sudah duduk berhadapan dengan sang dokter.


"Gejala overdosis paracetamol/acetaminophen.


Selain depresan dan obat stimulan seperti amfetamin, parasetamol merupakan obat penghilang rasa sakit. Parasetamol juga biasa diminum oleh orang-orang yang berniat untuk menyakiti diri mereka sendiri (usaha bunuh diri). Tanda-tanda overdosis parasetamol termasuk mengantuk, koma, kejang, nyeri perut, serta mual dan muntah. Nama lain untuk parasetamol adalah acetaminophen (sering dikenal dengan nama merek, Panidil) . Hanya ada perbedaan kecil antara dosis maksimum harian parasetamol dan overdosis obat, yang dapat menyebabkan kerusakan hati.


Jadi reaksi nyeri perut serta keram perut seperti yang nona Intan kini sedang rasakan termasuk normal. Dan kami sudah memberikan penanggulangan nya." Terang sang dokter.


Bintang mengangguk paham.


"Mungkin, sedang ada masalah dengan nona Intan?" tanya lagi dokter berusia awal lima puluhan tahun itu.


Bintang hanya mengangguk kecil. "Ada sedikit kesalahpahaman antara kami, juga masalah dengan kakaknya. Mungkin dia sedang dalam fase lelah." Ucapnya sok tau.


"Coba dekati perlahan, dan buat pasien senyaman mungkin. Jangan ada tekanan sedikitpun," ucap sang dokter.


Bintang mengangguk paham dan berpamitan keluar dengan pikiran yang sesak bagaimana cara dia mendekatkan diri pada Intan.


Berjalan lunglai ke arah kamar yang Intan tinggali.


Dia masuk ke dalam kamar itu, dan melihat Faisal tengah duduk di sofa yang tak jauh dari pintu.


Bintang ikut duduk di sebelah nya.


"Lu pulang aja, makasih udah bawa Intan ke rumah sakit," katanya tanpa melihat ke arah Faisal.


Terdengar tawa renyah dari lelaki di sebelah nya, "gue pulang, kalo Intan yang nyuruh gue pulang."


Bintang menggeleng kecil setelah mendapat penolakan.


Terlihat pergerakan dari Intan, Bintang dan Faisal bangkit dan mendekat.


Lalu dia melengos malas tak ingin melihat wajah yang membuat dadanya kembali sesak karena sakit hati.


"Tan ... " Panggil Bintang dengan sangat lembut.


"Aku haus ... " Intan mengeluarkan suara lemah nya.


Bintang langsung mengambil sebotol air mineral dengan sedotan. Langsung menyodorkan nya mendekati mulut Intan, namun gadis yang masih terlihat lemas dan pucat itu memalingkan wajahnya.


Botol itu Faisal ambil alih.


"Nih, tan. Mau aku bantu bangun?" katanya


Intan membalikan wajahnya menatap Faisal.


"Tapi, aku masih lemes," jawabnya.


Bintang menghela nafasnya, dia tau ini akan sulit. Kata Maaf nya akan sangat sulit dia dapatkan.


Bintang mundur saat Faisal melayani Intan.


Hatinya sakit dan hancur, merasa dirinya tak di anggap oleh Intan.


Satu jam itu terasa begitu lama, melihat Intan yang hanya ingin di layani Faisal dari mulai membenarkan posisi tempat tidur, makan, bahkan mengikat rambut pun harus lelaki itu yang mengerjakan.

__ADS_1


Bintang benar-benar tersiksa, berada di sana. Namun enggan untuk meninggalkan nya sebelum kata maaf itu dia dapatkan.


*


*


Intan kembali tertidur setelah makan dan minum obat, Faisal tengah pulang untuk berganti baju.


Bintang duduk di pinggir ranjang yang di tiduri Intan.


Menatap wajah pucat Intan, membuat Hatinya semakin di lingkupi rasa bersalah.


Di usapnya wajah yang tengah tertidur itu, "maafin aku, Tan. Maafin semua yang udah aku lakuin sama kamu, aku juga sama sakitnya sama kamu, tapi kamu tidak menjelaskan apa-apa dan malah memilih pergi meninggalkan aku. Maaf aku yang terlalu mudah emosi, tapi di balik itu semua aku cinta sama kamu benar-benar cinta." Ujarnya.


Bintang mendekat dan mengecup kening Intan.


"Aku nggak tau kalo sampai sesuatu terjadi sama kamu, aku nggak bisa bayangin. Aku takut, maafin aku ya sayang," tambahnya lagi.


Intan terlihat menggerakan tubuhnya, Bintang yang panik karena Intan yang masih marah padanya langsung menjauh.


Tanpa dia tau, Intan mendengar semua apa yang di katakannya.


Intan terlihat gelisah, namun Bintang tak berani mendekat. Bukan apa-apa, dia mencoba menghindari emosi Intan yang harus dia jaga.


Bersamaan dengan Faisal yang datang.


"Aku mau ke kamar mandi," ucap Intan lemas


Bintang langsung mendekat.


"Faisal?"


"Tan ... please," Bintang memohon, dia tidak rela Lelaki yang baru di kenal Intan akan menjadi penopang tubuh Intan menuju kamar mandi yang berada di ujung ruangan.


"Faisal ... " pangilnya lagi.


Lelaki yang di panggil itu mendekat namun dia merasa canggung.


"Tapi ... " ucapnya.


"Sampai pintu aja, aku bisa kok. Cuma lemes kalo untuk jalan sejauh itu," Intan menatap mata pria yang baru dia kenal. Mengacuhkan Bintang yang ada di sebelah nya.


Akhirnya Faisal membopong Intan dengan pelan, menuju pintu kamar mandi.


Bintang mendengus kesal, dan air mata tiba-tiba menetes di pipinya. Dia mengusap nya kasar sembari duduk kembali di sofa.


Dia merutuki semua kelakuannya hingga mendapatkan kemarahan Intan yang luar biasa dia rasakan.


Bersambung ❀❀


Like


Komen


Favoritnya

__ADS_1


Boleh banget promoin ke temennya


Bagian sedih aja komen nya banyak πŸ™„, masa harus sedih terus 🀧 pak bin kuk kasianπŸ˜–πŸ˜–πŸƒβ€β™€πŸƒβ€β™€


__ADS_2