
...----oOo----...
Waktu berjalan sangat cepat.
Hampir dua bulan Intan kembali ke rumah mereka. Melakukan aktivitas seperti biasa. Namun memang kebanyakan di rumah, apalagi jika suaminya itu ada pekerjaan di market dia hanya berdiam diri di rumah.
Keluar hanya jika mengecek usaha mereka.
Intan melakukan apa yang di inginkan suaminya. Bintang ingin seorang istri yang berdiam diri di rumah, ingin pulang lelah di sambut seorang istri. Pengalaman nya yang di urus hanya oleh Ayah membuatnya kehilangan momen berharga dari seorang wanita. Dan kini dia menerapkan itu pada istri nya.
Sedangkan di dalam lubuk hati Intan merasa jenuh. Dia yang terbiasa bebas ke sana kemari. Bekerja keras atau melakukan aktivitas lincah lainnya. Hanya mampu mematuhi apa keinginan suaminya.
Hingga seminggu ini dia mendiamkan suaminya.
"Yank, jaket aku yang item mana sih?" Bintang berdiri di depan lemari pakaian mereka.
Intan yang sedang membereskan tempat tidur seketika menoleh. Berjalan ke arah lemari di mana suaminya itu tengah mematung.
Mengulurkan tangannya tepat di depan Bintang.
Bintang menyeringai. "Ya, ampun. Mata aku di mana?" katanya. Terkekeh tanpa dosa.
"Ketutup cinta kamu kayaknya," gombalnya sambil mengenakan jaket miliknya.
Intan kembali diam. Duduk di tepian tempat tidur mereka.
Yank, kamu kenapa sih?" tannyanya ikut duduk di sebelah sang istri.
Intan bangun dari duduknya. "Nggak apa-apa," katanya dan berjalan keluar kamar.
Bintang menghela nafasnya kasar. "Nggak apa-apa, muka di lipet kek origami, bibir di maju-majuin, ngomong kayak yg lagi puasa, irit banget." keluhnya sambil mengikuti langkah sang istri yang menuju meja makan.
"Yank?" panggilnya. Tentu saja tanpa ada jawaban dari sang Istri.
"Nggak mungkin nggak apa-apa. Kamu ngomong deh, aku paling nggak bisa nebak dan emang nggak peka. Oon emang kalo masalah gini!" Bintang menerima sepiring nasi goreng dari Intan.
"Yank, udah bener hari ini kamu beda. Kenapa? aku salah apa? yang malem nggak enak? karena di kursi bergelombang ya?" lelaki itu mencoba menebak apa penyebab istrinya seperti itu.
Intan menatapnya judes.
"Harus, ngomong begitu pas lagi makan?"
Belum menjawabnya Bintang di kagetkan oleh tangisan istrinya.
"Loh, kok malah nangis? kamu kunaon sih? kenapa?" Bintang mendekati istrinya. Berjongkok di sebelah kursi nyangka di duduki istrinya.
"Mau apa?"
"Aku, jenuh. Kamu enak keluar, aku di dalem terus!" katanya sambil tersedu.
Demi apapun Bintang bingung, maksud dari ucapan istrinya itu apa?
"Ini apa sih?"
"Pengen keluar!" katanya lagi.
"Keluar? malem kan udah." Bintang malah berpikir ke kegiatan malam mereka.
"Selalu, selalu ke arah itu pikiran kamu. Nggak ada lagi gitu?" Intan memukul pundak Bintang di bawahnya.
Bintang terkekeh, "gimana? yang jelas." katanya lagi.
Intan menundukan kepalanya di dua tangan yang di lipat di atas meja makan.
"Jenuh, pengen main. Pengen punya aktivitas. Kalo cuma di rumah nungguin kamu kesel tau, apalagi mingu-minggu ini kamu sibuk banget di market. Sampai pulang selalu di atas jam sepuluh. Nggak mikirin perasaan aku di rumah gitu?" katanya masih dengan isak tangis.
Bintang sekarang mengerti arah pembicaraan istrinya.
"Ok, kamu boleh keluar rumah. Tapi tiap jam harus ngasih kabar, sore harus udah ada di rumah lagi. Terserah mau ke mana, ke rumah Bunda atau ke tempat yang kamu mau. Sekarang kedai kamu yang pantau. Jadi pulang dari market aku langsung pulang." Usulnya. "Mau?" tanyanya yang tentu saja di angguki antusias oleh Intan.
"Mau, serius?" ucapnya memastikan.
"Iya, apapun buat kamu. Tapi inget kalo kamu hamil, semua stop. Fokus ya?" ancam Bintang.
__ADS_1
Mereka pun kembali melanjutkan sarapan, kini dengan kelegaan hati Bintang dan hati Intan yang merasa bebas.
...**---**...
Bintang terus melirik ke arah jam yang menempel di tangannya.
Namun sebuah tendangan di kakinya dia dapatkan.
Saat akan memaki dia sadar ternyata Abang nya yang melakukan itu.
"Fokus," katanya tanpa bersuara.
Mereka sedang meeting dengan perwakilan divisi.
Bintang kemudian kembali mencoba memfokuskan dirinya pada lelaki berkacamata yang tengah menyampaikan beberapa poin penting.
Setelah hampir tiga jam berada di ruang meeting. Akhirnya meeting pun selesai. Bintang dengan tergesa-gesa membereskan laptop dan beberapa map yang harus dia kerjakan.
Melesat tanpa pamit, dia ingin segera menghubungi istrinya. Tidak sesuai ekspetasi nya, istrinya itu tidak menghubungi dirinya bahkan sedari pagi pesannya itu tidak dia balas.
Membuka pintu ruangannya, namun pintu itu sudah terbuka lebih dulu.
Sedetik dia kaget, namun tak lama berubah menjadi senyum sumringah.
"Yank, kamu ke sini?"
"Nggak boleh?" sahut Intan sewot.
"Mulai, uring-uringan. Kenapa sih? kamu ambek-ambekan mulu?" tanyanya sambil menggiring sang istri masuk ke dalam ruangan nya.
"Kamu nya, Ish ... nyebelin," rengeknya.
Bintang mengernyit bingung. " Nyebelin? dari mananya?" tanyanya serius.
Intan yang sudah duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan meja suaminya langsung menatapnya. Dan menggelengkan kepalanya.
"Nggak tau, tapi kesel banget kalo liat. Tapi kalo jauh keinget mulu."
"Cie ... kangen, tapi kenapa nggak balas pesan aku?"
"Tadi, aku main ke rumah Bunda, masak-masak di sana jadi ponsel aku simpen di tas. Nggak kedengeran. Maaf," katanya menyesal.
Bintang mengangguk, mendekat dan lalu mencuri sebuah ciuman.
Intan hanya diam atas tindakan suaminya.
"Ang," tangannya mendorong dada suaminya yang mendekat dan hampir menghimpit tubuhnya.
"Kamu, sengaja ke sini?"
Intan mengangguk malu, lalu tersenyum.
Bintang langsung memegang dadanya.
"Kenapa? Ang?"
"Dada aku sakit," Bintang meringis.
"kenapa? lambung kamu kumat?"
Bintang menggeleng pelan.
"Terpanah asmara .... cinta kamu buat Abang meletek. Godain Abang dong!" dia tertawa saat melihat raut wajah istrinya.
"Kamu, bikin aku kaget. Ang," Intan memukul pelan dada suaminya itu.
"Tuhan ... kamu gemesin banget," giginya menggeletuk sambil mencubit pipi istrinya yang terlihat semakin chubby.
"Aku gendut ya?" tanya Intan.
" Aduh, pertanyaan jebakan ini. Jujur salah bohong apalagi," gumamnya.
Intan hanya tertawa. "Biarin lah , aku nggak peduli pendapat kamu. Yang jelas aku happy, sehat juga."
__ADS_1
"Nah, itu. Jangan hiraukan penilaian orang terhadap kita. Jadilah diri sendiri, jangan ingin tempat bagus di depan orang, tapi terlihat indah di depan aku. Wajib itu," katanya.
Intan mengantuk sembari tersenyum. " Indah versi kamu pasti beda, Ang."
"Iya, indah buat aku tanpa ada yang nutupin. Polos-an. Indah banget itu," Bintang menarik istrinya hingga bangun, meraup pinggang nya untuk mendekat dan mengecup bibir itu lembut.
...****...
Mereka kini di mobil, setelah Intan muntah di kamar mandi setelah memakan asinan buah yang suaminya beli di market milik orang tuanya.
"Beneran nggak usah ke dokter?"
Intan yang merebahkan kepalanya di sandaran jok mobil. Menolak di bawa ke dokter, dia meyakini bahwa mungkin asam lambungnya naik.
"Hamil mungkin?" Bintang menebak.
"Dua minggu lalu kan aku baru beres halangan, masa iya positif!" timpal nya membantah.
Bintang menghentikan mobilnya saat lampu merah menyala.
Lalu lamunannya terhenti oleh tepukan dari istrinya.
"Ang, pengen gemblong." tunjuk Intan ke seorang pedagang gemblong yang sedang menawarkan dagangan nya ke tiap kendaraan.
Bintang membuka jendelanya dan memanggil si penjual gemblong itu.
"Mau berapa?" tanya suaminya saat si penjual sudah menghampiri.
"Lima aja," Intan menjawab.
"Sepuluh. Mang," ucapnya pada si pedagang.
Tersenyum sambil sigap melayani, si mamang itu pun lalu menyerahkan sepuluh gemblong yang sudah rapi di dalam plastik.
"Berapa?" Bintang mengeluarkan dompetnya.
"Dua puluh ribu, A." katanya ramah.
"Ulah duapuluh, ah!" (jangan duapuluh, dong!) katanya.
"Aduh punten, kasep. Tos harga pas," (Aduh maaf, ganteng. Udah harga pas,") kata si penjual itu.
"Ang, jangan di tawar. Kasian," Intan menarik lengan suaminya.
Bintang menoleh sebentar. Lalu mengeluarkan uang pecahan lima puluh ribu.
"Nih, Mang." Dia menyodorkan uang pada si penjual.
"Kembaliannya, buat Mamang." Katanya sambil mengambil plastik berisi gemblong itu.
Si penjual menyeringai bahagia. "Makasih, Alhamdulillah. Semoga enggal gaduh momongan," (semoga cepet punya momongan,) katanya dengan menempelkan uang itu di keningnya.
Intan tersenyum bangga melihat kelakuan suaminya.
"Aku kira kamu mau nawar, Ang. Baru tau deh ada nawar tapi lebih mahal." Intan mengusap pundak suaminya bangga.
"Cuma aku, nawar tapi lebih mahal."
"Kenapa?" tanya Intan.
"Pertama. Si bapak udah tua, tapi masih semangat cari uang,"
"Kedua. Si bapak manggil aku ganteng," Bintang tertawa dengan alis yang dia gerakan naik turun.
Intan menggeleng lemah. "Tetep aja narsis," keluhnya.
Mereka pun tertawa sepanjang jalan karena ocehan luar biasa berfaedah dari suaminya.
Bersambung❤❤
Sehat dan bahagia selalu kalian😘😘
__ADS_1