Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Kecemasan


__ADS_3

Sudah beberapa hari Bintang sakit. Badannya panas dan menggigil. Bahkan dia tidak kuat untuk sekedar bangun dari tempat tidur.


"Ang, ke dokter yuk? udah tiga hari kamu masih gini-gini aja. Bentar lagi aku lahiran, kamu harus sehat dong. Ang!" Intan merengek di tepian tempat tidur.


Kesal dan cemas menjadi satu. Kesal karena suaminya keukeh tidak mau ke dokter, dan cemas karena panasnya tidak turun-turun.


"Aku panggil Abang langit ya buat bawa kamu ke dokter? duh kalo gini suka nyesel waktu itu nggak ngelanjutin belajar mobil!" Intan masih mengusap-usap punggung Bintang yang meringkuk di bawah selimut.


"Nggak, bawel dia. Nanti aku makin sakit. Udah besok pasti enakkan!"


Intan semakin mengusap-usap punggung Bintang. Wajah suaminya yang putih terlihat merona karena suhu badan yang tinggi.


"Mau aku balur lagi punggungnya pake minyak gosok?" Intan kembali menawari kebiasaan Bintang selama sakit ini.


Bintang tidak menjawab, sepertinya suaminya itu tidur. Intan mengusap kening Bintang yang masih terasa panas.


Menghela nafasnya dia pun membenahi selimut yang di pakai membelit tubuh suaminya. Dia berjalan keluar kamar berniat membuat bubur kaldu ayam untuk si suami.


"Gimana Bu?" tanya si Bibik.


"Masih, panas. Bik!" katanya menjawab.


Lalu berjalan ke arah dapur, sesekali mengusap perutnya yang terasa kencang.


"Bikin wedang jahe Bu, mungkin Bapak masuk angin!"


"Udah, Bik. Emang waktu itu Bapak pulang kerja pake motor kehujanan. Saat itu juga saya langsung bikin teh manis panas. Tapi malah jadi panas sampai sekarang!" sahutnya.


Intan mengeluarkan bahan untuk membuat bubur. Lalu terdengar suara pintu kamar terbuka.


"Ang?" Panggilnya heran saat melihat suaminya sudah rapi dengan kemeja lengan panjang yang di lapisi rompi rajut.


"Kemana?" Intan menghampiri.


"Mau ke market, katanya ada yang mau Teken kontrak. Aku disuruh hadir, Abang masih di jalan abis meeting di Jakarta. Ayah lagi kurang enak badan," Bintang berjalan menuju rak sepatu di dekat halaman belakang.


Intan mengekori. "Kamu juga kan lagi sakit," Intan berdiri menatap si suami yang sedang memakai kaos kaki. Melihat wajah pucat suaminya dengan titik-titik keringat di keningnya. Menandakan si suami yang tidak sehat.


Bintang menyandarkan tubuhnya di kursi besi di teras taman itu. Sedikit memejamkan mata saat rasa sakit kepala dan tubuhnya yang menggigil menjadi satu dengan kesempurnaan omelan sangat istri.


"Biar aku aja, yang bilang ke Abang kalau kamu lagi sakit, Ang!" Intan hendak berjalan menuju ponselnya. Namun tangannya Bintang cekal.


"Nggak apa-apa, cuma tandatangan nanti aku langsung pulang lagi. Abang jiga lagi di jalan kok, udah tau aku lagi kurang sehat!" Katanya menjelaskan.


Intan menghela nafasnya, memang ini kewajiban suaminya. Dan akhir-akhir ini suaminya sibuk, karena ingin mengambil cuti kerja untuk mendampingi nya melahirkan yang tinggal menghitung hari.


"Makan dulu tapi. Janji ya langsung pulang!" Intan kembali mengingatkan.


Bintang mengangguk dan tersenyum.


*


*


Intan makin menjadi mengerucutkan bibirnya saat mengetahui si suami keukeuh ingin mengendarai motor.

__ADS_1


"Biar cepet, Yank. Jadi aku bisa langsung pulang dan cepet balik tidur!" Katanya.


Intan mencebik dan matanya di buat se sinis mungkin. "Tapi angin malah bikin kamu makin sakit nanti!" Perempuan itu terlihat gemas sendiri.


Bintang yang sedang memakai jaket tebalnya, menoleh. "Ngga akan, Sayang. Biar aku cepet pulang, kalo pake mobil nanti aku malah kena macet terus pingsan di ... " Dia tak selesai dengan kalimat nya. Jemari istrinya menempel mengatupkan bibirnya yang sedang berkata.


"Kalo ngomong suka kemana aja. Ya, udah. Sana jalan, cepet pulang!" katanya lagi akhirnya pasrah membiarkan suaminya pergi mengendarai motor.


"Padahal, naik taksi online bisa. Kesel aku,"


"Biarin kesel, asal masih cinta. Aku biasa kok bikin kesel sama marah kamu, kan?" Bintang memakai helm nya.


Melambaikan tangan dan tersenyum. Intan dengan raut masam menyembunyikan kecemasan luar biasa. Pasalnya baru kali ini selama nikah suaminya sakit, mana tidak mau di ajak berobat lagi. Berdalih hanya masuk angin dan lambung nya yang sedikit kambuh. Bintang hanya mengkonsumsi obat yang ada di kotak obat yang ada di rumahnya.


*


*


Bintang memejamkan matanya saat keluar dari ruangan nya. Kepalanya berputar dan tubuh nya yang sedari tadi mengigil sekarang lemas luar biasa.


Berjalan perlahan dengan tas ransel dan jaket yang dia jinjing. Tangannya merayap dinding menahan tubuh yang semakin kondusif.


Saat salah satu pegawainya melewati. Dan melihat bahwa bos mereka terlihat tidak baik. Langsung mendekat. "Pak? bapak ngga apa-apa?" Tanyanya pada Bintang yang memejamkan dengan tubuh yang bersender di dinding.


"Kepala saya pusing. Bisa kamu bawa saya balik ke ruangan?"


Saat berbalik hendak kembali ke ruangan untuk merebahkan tubuhnya di sofa. Pandangan nya tiba-tiba gelap dan tubuhnya limbung.


"Pak ... Bapak? tolong ... tolong ... " Pegawai itu langsung berteriak minta tolong pada rekan kerjanya yang lain.


"Tang? lu kenapa?" Langit pun terlihat panik melihat adiknya lemas.


"Gimana ini, Pak?" tanya si pegawai yang masih menahan tubuh Bintang.


"Bawa ke rumah sakit. Ayo, bantu saya bawa ke mobil!" katanya memerintah.


Kedua pria itu membopong Bintang menuju parkiran. Untuk membawa calon Papi itu ke rumah sakit.


*


*


Sudah mau jam makan siang Intan cemas, apalagi suaminya belum menjawab atau membalas pesannya.


Mondar-mandir dari teras dan ruang tamu, malah membuat kakinya pegal dan perutnya menegang. Anak-anak nya pun sepertinya ikut mencemaskan Papi mereka.


"Bu, saya pulang aja?" tanya si Bibik.


Intan menoleh. "Iya, nggak apa-apa. Pulang aja, Bik. Saya nungguin Bapak buat makan siang!" katanya.


Setelah di tinggal pulang, Intan sendiri di rumah. Sambil menonton TV dia terus memeriksa ponselnya masih menunggu kabar dari si suami.


Ketika sedang melamun. Suara motor suaminya terdengar di depan pagar.


Intan tersenyum lega, akan mengomeli si suami karena membuatnya cemas. Namun saat membuka pagar senyum lega nya hilang. Di sambut raut kaget.

__ADS_1


Itu motor suaminya namun di kendarai orang lain.


"Suami saya?" tanya Intan penasaran.


"Ehhm. Maaf, Bu. Saya cuma di suruh simpen motor, di suruh ganti pake mobil,"


"Terus. Pak Bintang?" Intan semakin cemas. Lalu ponselnya yang dia gengam berbunyi.


Terlihat nama sang kakak ipar.


"Ya, Bang?"


"Bisa ke rumah sakit?"


"Apa? siapa yang sakit?"


"Suami kamu tadi pingsan di kantor, sekarang di rumah sakit nggak sadar demam tinggi."


Intan langsung memeluk perutnya sendiri merasa lemas dan tubuhnya bergetar takut.


"I-iya, saya ke sana sekarang. Bang!" Intan mematikan ponselnya dan masuk ke dalam rumah.


Mengambil dompet dan cardigan yang menggantung di belakang pintu.


"Mas, anterin saya ke rumah sakit!" katanya pada si pengantar motor salah satu karyawan di market.


Lelaki itu hanya mengangguk dan menerima kunci mobil yang Intan berikan.


*


*


Intan berjalan tergesa menyusuri lorong rumah sakit. Setelah mendapatkan no kamar yang di tempati si suami.


Saat sedang berjalan dia melihat Abang iparnya nya sedang duduk menunduk di kursi besi depan pintu ruangan.


"Abang?" panggilnya.


Langit menoleh dan memandang wajah adik iparnya dengan tatapan susah di mengerti. Dia hanya menggelengkan kepalanya.


Apa? maksudnya apa? Intan menerka-nerka. Tidak mungkin terjadi suami nya pergi tadi pagi. emang sedang demam. Tapi nggak mungkin jika terjadi yang lebih parah dari itu.


Intan langsung berlari masuk ke dalam ruangan itu.


Memang sepi. Dia mematung sesak melihat pemandangan tubuh di atas ranjang itu yang tertutup selimut menutupi seluruh tubuh hingga wajah.


Air mata pun berjatuhan tak tertahan.


Ini lelucon, tidak mungkin suaminya pergi meninggalkan dia yang sebentar lagi akan melahirkan dua bayi sekaligus.


Tangan menepuk nya.


"Sabar!" Itu suara Langit yang berdiri di belakang tubuhnya.


Intan menoleh. "Kenapa bisa?" tanyanya dengan suara parau. Langit hanya menggeleng pelan, lalu keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Bersambung ❤❤❤


__ADS_2