Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Pengusik


__ADS_3

...--oOo--...


Bintang sedikit berlari masuk ke dalam kedainya yang tak terlalu besar namun nyaman itu.


"Pak," Obi mendekat.


"Kenapa? ada masalah apa?" tanyanya penasaran.


"Udah dua kali ada kejadian di kedai!"


Bintang mengernyit. "Kejadian? kejadian apa?" tanyanya semakin serius.


"Pertama ada yang naburin kayak pupuk kompos di halaman kedai kita. Kita masih bisa atasin, dan hanya beranggapan ini hanya iseng. Dan tadi pagi ada yang buang kayak darah, Pak. Di sepanjang teras masuk." Katanya menerangkan.


"Apa?" Bintang tercekat dengan mata yang membola. "Siapa, yang berani-beraninya mengusik usahanya!" pikirnya dalam hati.


"CCTV?" tanyanya lagi.


"Ada, sekitar jam 3 subuh. Tapi nggak jelas wajahnya, Pak. Pake jaket terus topi," katanya lagi.


"Breng*sek. Siapa sih?"


Lalu Bintang masuk ke dalam ruangan saat pengunjung mulai ramai karena ini memang waktu jam makan siang.


Di dalam ruangannya dia berpikir siapa yang merasa terusik dengan kedainya.


Daerah itu memang daerah strategis dengan banyaknya kantor, dan beberapa sekolah. Bahkan hotel pun ada tak jauh dari tempatnya membuka kedai mie kekinian itu.


Mau menyangka pun rasanya sulit, karena memang di daerah itu banyak juga cafe dan tempat makan yang menyajikan berbagai jenis makanan.


Sedikit berpikir tiba-tiba dia teringat perempuan-perempuan masa lalu nya. Yang mungkin akan mengusik kehidupan yang sudah bahagia.


Tak apa, asal tidak mengganggu istrinya. Jika mengusik istrinya walaupun secuil. Dia tidak akan tinggal diam,


Saat sedang berpikir ponselnya berdering.


"Naya?" gumamnya.


Dia membuka pesan yang mantan kekasih nya itu kirimkan.


"Apa kabar, Mas?"


Bintang diam, memandangi layar ponselnya. Namun tiba-tiba rahangnya mengeras dan dia langsung bangkit menyambar kunci mobilnya. Sedikit berlari menuju parkiran.


Mengemudikan nya dengan kecepatan penuh. Pikirannya tertuju pada wanita yang dia hina dulu. Apakah dia ingin balas dendam? Ok, tidak apa-apa. Dia terima,asal jangan pernah ada niatan mengusik istrinya. Apalagi sekarang sedang hamil besar. Tak akan dia biarkan seujung jari pun, bagi siapa saja yang berani menyakiti Intan.


*


*


Berdiri di sebuah tempat makan. Sesuai yang perempuan itu sebutkan tadi.


Bintang sudah siap dengan makian, jika benar perempuan di dalam yang mengirimkan teror di kedainya. Dan sebuah peringatan untuk tidak mengganggu istrinya.


Masuk dengan dada yang berdembum penuh emosi, juga nafas yang sudah semakin sesak karena meredam amarah yang siap kapan saja dia ledakkan.


Pandangan nya tertuju pada seorang wanita yang tengah menggendong seorang bayi laki-laki. Dan seorang anak lelaki yang duduk di sebelah nya. Dia ingat itu adalah Altaf, anak lelaki yang hampir saja menjadi anak sambungnya. Anak itu semakin tampan saja.


Bintang mendekat dengan sorot mata dingin.


Perempuan itu mendongak. Lalu sebuah senyum dari wajahnya terlihat tulus, namun pengalaman nya yang di khianati membuat Bintang tidak menganggap nya.


"Mas, apa kabar?" Naya mengulurkan tangannya.


Bintang tidak menanggapi, dia langsung duduk di kursi sebrang Naya.


"Langsung aja. Aku cuma mau peringatan kamu! jangan pernah sekalipun kamu mengusik keluarga aku. Apalagi mengusik istriku, seujung kulit yang kau sentuh, aku habisin kamu." Gertak nya dengan suara rendah namun mengintimidasi.


Perempuan di depannya, terpaku. Diam, tak mampu berkata-kata.


"Kamu pasti sakit hati, dengan makian ku dulu? ok, aku minta maaf. Tapi dengan cara picik kamu yang meneror kedai ku, membuat kamu semakin hina di mataku, perempuan picik." Kata-kata nya semakin tidak terkontrol. Niat meminta maaf namun malah semakin menyakiti wanita yang pernah singgah di hatinya.

__ADS_1


"Tunggu, sebentar. Apa yang kamu bicarakan sih, Mas? aku nggak ngerti. Sama sekali nggak ngerti, apa yang kamu bicarakan?"


Bintang berdecak.


"Munafik, kamu butuh uang untuk membiayai anak-anak kamu? butuh berapa? asal jangan pernah usik ketenangan keluarga aku!" Lagi-lagi hinaan dia lontarkan dengan nada rendah.


"Cukup, kamu ini ngomong apa?" perempuan itu menangis, hingga dua anaknya pun ikut menangis.


"Sial," Bintang langsung menarik Naya keluar dari restoran itu.


Perempuan itu terseok-seok dengan tangan yang menggendong anaknya yang masih bayi. Sedangkan Altaf berlari mengikuti langkah Ibu nya.


"Lepas ... "


"Breng*sek. Apa sih maksud kamu? aku emang pernah ngehianatin kamu. Tapi nggak bisa ya, kamu nuduh aku sehina itu. Emangnya kamu itu lebih suci dari aku? laki-laki mesum, slengean, gila!" Naya akhirnya meledakkan emosinya.


Bintang diam, masih dengan dadanya yang naik turun karena emosi, rahang nya yang masih mengeras.


"Terus, kalo bukan kamu yang neror kedai aku siapa? cuma kamu ...


" Apa? yakin cuma aku perempuan masa lalu kamu wahai playboy cap cicak." Kini Naya lebih berani menimpali semua perkataan yang di tuduhkan padanya.


Bintang diam, mencerna semua ucapan perempuan beranak dua di depannya.


"Jangan asal nuduh, tanpa bukti."


"Terus ngapain kamu tiba-tiba nanya kabar?"


Naya menatap nya sinis. "Ngga boleh aku nanya kabar kamu? aku cuma mau minta maaf atas nama ibu dan adik aku. Takutnya mereka punya salah sama kamu," katanya. Kini suaranya terdengar parau.


"Kenapa kamu yang wakilin mereka?"


Naya menunduk menahan air mata yang siap meloloskan diri dari kelopak mata yang sudah menggenang.


"Adik ku. Adik ku meninggal bulan lalu karena sebuah kecelakaan, Ibu kaget dan dua hari berikutnya menyusul." ya, akhirnya air mata pun lolos.


Bintang yang juga kaget dengan berita duka yang baru saja dia dengar, langsung menarik perempuan itu ke dalam pelukan nya.


"Aku sendiri sekarang, ngga ada keluarga."


"Ada anak-anak kamu kan?"


Naya masih menenggelamkan wajahnya di dada Bintang, terasa nyaman. Akhirnya ada orang tempat dia mencurahkan sedikit kesedihan nya di tinggal dua orang yang penting untuknya.


Bintang tak membalas, hanya menepuk pelan punggung Naya. "Sabar," katanya menghibur.


Naya mengangguk kecil, tangisan nya sudah reda. Dia melepaskan pelukannya terhadap Bintang.


"Maaf, maafin semua kesalahan aku sama kamu. Tapi demi apapun, aku ngga ada niat buat ngeganggu kalian yang udah bahagia.


Bintang mengangguk.


Lalu ponselnya berbunyi.


Di lihatnya nama si pemanggil.


" Ya, Yank?"


"... "


"Apa? kenapa? jangan di buka dulu. Biarin,"


"..."


"iya, aku pulang sekarang!"


Panggilan pun terputus.


"Sorry, gue harus pulang Ternyata bener bukan kamu yang neror keluarga, Aku!"


Intan dengan raut wajah bingung pun, hanya mengangguk kecil.

__ADS_1


"Titip salam, buat istri kamu. Semoga sehat dan selamat sampai lahiran nanti,"


Bintang tersenyum, "Amin. Makasih, maaf soal kesalahan pahaman ini."


"Boleh aku peluk, buat perpisahan." Mohon nya.


Bintang lalu merentang kan tangannya.


Naya langsung memeluk, menghirup aroma lelaki yang dia sia-siakan dulu. "Makasih," ucapnya pelan.


Tangan kecil memegang kemejanya.


"Om," suara kecil memanggilnya.


Bintang yang sedang di peluk Naya langsung menunduk.


"Hey, Boy?"


"Mau peluk juga?" tawarnya.


Altaf terlihat sumringah lalu dia mengulurkan tangan agar di peluk Bintang.


Acara saling peluk itu puji selesai, dan Bintang langsung pamit. Sebuah mobil melesat kencang dari arah kiri. Bintang yang akan menyebrangi jalan menuju mobilnya, menoleh saat sebuah klakson panjang melengking di telinganya.


Brugghh...


...***...


Di Lian tempat.


Intan dan si bibik pekerja masih menelisik sebuha kardus, yang baru saja mereka terima.


"Bik, tapi kenapa dus nya gerak-gerak ya?"


"Bu, inget pesan bapak barusan. Nggak boleh di buka sebelum Bapak pulang!" Katanya mengingatkan.


Intan terlihat berjongkok.


Kepalanya menunduk, dia menempelkan telinganya di kotak itu.


"Aduh ... Ada suara kresek-kresek. Mungkin Bapak beli binatang, buat saya. Bantu buka Bik, kasian. Pasti pengap, takutnya nunggu bapak malah mati!" Intan langsung membuka lakban yang melilit kardus itu.


Saat berhasil membukanya.


"Arggghhh ... " Intan menjerit, tubuhnya sedikit menjungkal ke belakang. Dia langsung memegangi perutnya yang tiba-tiba mengeras dan terasa sakit.


"Bu?" si Bibik langsung membantu Intan yang meringis kesakitan.


"Telpon suami saya, Bik!" suruhnya sambil meringis kesakitan.


Dengan bergetar dia langsung menghubungi Bintang dengan ponsel cinitnit(ponsel jadul)


"Pak ... ini, Ibu." suaranya bergetar.


"... "


"Ini, paketnya. Paketnya berisi ... "


"... "


"Pak. Halo, Pak!"


Bersambung ❤❤❤


Banyak yang minta Intan di bikin cemburu, emang kalo di masukin cewek, ngga akan kayak ftv ikan terbang?? di sini kan jerat cinta Cowok slengean. Jadi yang terjerat kan Intan. Udah pasti yang lebih besar cinta kan Bintang 🤭. Terjerat kan kayak ikan terpaksa kan masuk ke dalam jaring? 🤭🤣🤣


Bener ngga sih🤣🤔🤣. Dah lah aku coba, tapi kalo jelek jangan protes 🤭. Ngga ada pengalaman orang ketiga, amit2 deh🤣🤣.


Makasih ya masukan kalian, ide untuk ku. Jadi jangan males komen ok🤭🤭.


Sehat dan bahagia buat kita semua

__ADS_1


__ADS_2