
❤❤❤
Wulan tiba di kontrakan itu, tangannya merogoh tas kecilnya. Dia menemukan sebuah kunci dengan gantungan kunci berinisial W.
Dia masuk tergesa-gesa dan langsung memasukan barang-barang nya, mulai dari pakaian, alat mandi.
Sebuah notif pesan dia dapatkan. Sedikit merangkak menuju ponselnya berada. Dia berharap itu Dewa, dia akan meminta lelaki itu menjemputnya.
Ternyata sebuah pesan gambar dari Amih nya. Foto Papi nya yang tertidur dengan bersandar. Di bawah nya bertuliskan sebuah kalimat ancaman.
"Terimakasih sudah membuat Papi mu mengerang kesakitan, sakit nya kumat dan dia begitu sedih atas kelakuan kamu. Jika ada apa-apa dengan Papi, Amih nggak akan pernah maafin kamu!"
Wulan meringkuk, tubuhnya lemas. Kenapa dia yang di salahkan? ini semua juga menyiksanya. Lalu, yang memikirkan dia siapa? Dia menangis, hatinya kesal, marah, dan sedih. Semua serba salah dan begitu mengekang hati dan pikirannya.
Hampir satu jam menangis, akhirnya Wulan tertidur dengan keadaan kamar yang acak-acakan.
Dengan terburu-buru Altaf pulang ke kontrakan, setelah menyelesaikan tugas pengirimannya. Setelah sebelumnya Amih menelpon jika Wulan pulang dalam keadaan menangis.
Altaf menyempatkan membeli nasi bungkus untuk sang istri. Hari sudah sore dan biasanya orderan semakin malam akan semakin ramai. Dia yakin tidak akan sempat pulang ke kontrakan untuk sekedar memberikan makan malam untuk Wulan.
Membuka pintu kontrakan itu. Dia mendapatkan si istri yang meringkuk tertidur. Dengan barang-barang nya yang berantakan. Altaf merapikan kembali barang-barang itu ketempat semula. Baju yang dia susun kembali di sudut kamar. Berjajar dengan tumpukan pakaian nya. Tidak terlalu rapi karena dia berniat secepatnya pindah dari sana. Mungkin lingkungan di sana membuat istrinya tidak betah.
Besok hari jumat di mana dia memiliki jatah libur di restoran. Pulang dari club subuh nanti, dia akan langsung membersihkan rumah milik Amih nya itu.
Duduk menghadap Wulan, wajah cantik itu sendu. Mata yang sembab, hidung merah dan pipi yang masih terlihat basah. Altaf menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajah Wulan. Menggulung asal rambut itu dan dia selipkan di atas kepala sang istri.
Mengusap lembut pipi itu, dan dengan sebuah keberanian dia mendekatkan wajahnya. Dia mengecup kening itu. Lalu berbisik. "Abang, sayang kamu. Dek!" katanya lalu dia bangun dan berjalan ke arah pintu. Sebelum pintu itu dia tutup ada sesuatu yang dia lihat mengintip dari paha Wulan yang memakai dress.
Kembali untuk memastikan, Altaf berjongkok dengan tangan yang ragu-ragu menyingkap rok itu. Dan matanya membulat saat gambar tato dua kupu-kupu berukuran kecil . "Astaga," Batinnya. Matanya memejam ingin rasanya dia marah. Namun siapa dia? seorang suami yang tidak di anggap.
Menghela nafasnya yang terasa semakin sakit dan sesak. Seolah ruangan itu tak beroksigen. Altaf keluar dari kamar itu dengan terburu-buru.
*
*
Wulan terbangun saat matanya merasakan tak ada cahaya, keadaan kamar sudah gelap, hanya cahaya yang masuk dari celah jendela. "Aduh, jam berapa ini?" Dia bangun meraba-raba mencari ponselnya.
Saat melihat jam di ponselnya dia terkejut, ternyata sudah jam delapan malam. Bangun dengan ponsel yang menyala mencari saklar lampu. Saat lampu nyala, keadaan kamar yang acak-acakan tadi sudah berubah rapi kembali. Baju yang sudah kembali menumpuk di pojok kamar, alat-alat mandi dan kecantikannya sudah berada di kotak tak jauh dari bajunya. "Ck, keukeuh banget mempertahankan hubungan ini!" Wulan kembali duduk di kasur lipat itu.
Perutnya berbunyi nyaring, memang terakhir makan saat siang tadi bersama Amih nya di Mall. Perutnya lapar, saat akan membuka aplikasi pesan. Dia melihat bungkusan plastik putih, dengan di alasi piring melamin di dekat galon.
__ADS_1
Bangun dan mendekat, dia buka bungkusan itu. Ada nasi, ayam balado dan sup bakso. Dalam plastik yang berbeda. Dia meraihnya, ragu tapi dia lapar.
Mulai memakannya sambil menangis. Tak bisa membayangkan dia harus hidup bersama Altaf. Sampai kapan? sampai kapan dia atau Altaf yang akan menyerah dengan hubungan pernikahan ini.
Selesai makan, dia bangun dan berniat ganti baju. Seperti biasa dia takut ke kamar mandi yang terlihat gelap sekali.
Saat dirinya akan berganti baju, ponselnya berbunyi.
Di lihat nama si pemanggil. "Dewa?"
"Kamu di mana?"
"A-aku ... "
"Share alamat nya, aku jemput kamu sekarang!" katanya.
Wulan bimbang, ingin pergi tapi dia mengingat ancaman Amih nya, takut jika Altaf akan mengadu.
Sedetik kemudian dia sudah menyambar celana jins, tanktop hitam yang dia pakai hanya dia lapisi dengan kemeja over size.
Wulan keluar dari kamar kontrakan nya tepat pukul sembilan malam.
Keadaan kontrakan yang sepi, membuat langkah nya semakin pasti.
Tak lama bunyi klakson terdengar memekik, dengan sebuah mobil sedan mewah berhenti di depannya.
Kaca terbuka, dan Wulan menyunggingkan sebuah senyuman terbaiknya.
"Nunggu lama?" Dewa bertanya saat sudah keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Wulan.
Dada Wulan seolah berdebar sekaligus hatinya yang meleleh.
"Nggak, baru aja."
"Kok, alamat nya sekarang di sini?" Tanya Dewa, yang memang tahu alamat rumah orang tua Wulan bukan di sini.
"Cerita nya, panjang!"
"Ok, mending kita lewati malam panjang, ini!" Godanya.
"Yuk, kita berpetualang!" Ujar Dewa sambil menutup pintu mobilnya, berlari memutari mobilnya. Dewa tersenyum tampan pada Wulan. Mereka saling pandang dengan sama-sama membalas senyum.
__ADS_1
"Apa kabar? Seminggu lebih kamu nggak pernah ke sekolah, Ya?" tanyanya. Tubuhnya menghadap ke arah Wulan.
Wulan mengangguk pelan. "Iya, ada beberapa urusan yang harus di selesai kan." jawabnya.
"Ehm, kita mau kemana?" Wulan bertanya memastikan soalnya ini sudah malam.
"Ke tempat makan favorit, aku."
"Tapi, aku udah makan!" Tolak nya.
"Di sana kopinya juga enak," katanya.
Lalu Wulan mengangguk pasrah, bagaikan kerbau yang di cocok hidungnya. Apalagi saat tangan kekar itu mengusap lembut pipinya.
"Kamu, cantik banget!" Katanya.
Wulan tersipu malu.
"Oh, iya. Ke rumah temen ku dulu, Ya. Mau ngambil flashdisk." Dewa berucap sambil menyalakan mesin mobil mewek nya. Mobil pun berjalan di kecepatan sedang.
*
*
"Kok, gelap?" Wulan berdiri di sebelah Dewa yang sedang membuka kunci pagar.
"Iya, emang lagi pada nggak ada. Tapi aku tau tempat nyimpen kuncinya."
"Lan ... Ayo, temanin aku. Takut ada Barang yang hilang, kamu jadi saksi!"
Wulan yang masih mematung di dekat pagar, sebenarnya ketakutan. Dia takut, melihat rumah yang gelap dan seperti tidak berpenghuni. Terlihat dari rerumputan liar yang tumbuh di sekitar halaman.
Juga lantai yang terlihat kotor berdebu.
Wulan jalan sambil mengamati jalan dan rumah sekitar. Terlihat Rumah-rumah besar berpagar tinggi, perumahan itu cukup sepi. Hanya beberapa motor yang melintas di sana. Pedagang pun tak terlihat melewati jalan perumahan itu sedari tadi dia masuk dari gerbang komplek itu.
"Lan ... Wulan. Tolong aku, ini susah!" Dewa berteriak dari dalam rumah yang keadaannya gelap gulita.
Wulan ragu-ragu mendekat. Hingga dia berteriak saat tangannya di tarik.
❤❤
__ADS_1
Ini cerita anaknya Pak Bintang ya, nyeritain Wulan yang sifatnya ajaib kayak Bapak nya. Jangan mencari karakter sempurna di cerita itti 🤭. Cari di novel yang lain🤣🤣. karena hidup tidak sesempurna dan se wow di novel, nggak mau membodohi reader 🤭🤣🤣. Jadi yg nyata2 wae lah😝. Aku tunggu kalian di rumah Wulan. Gonjang-ganjing nya wanita bermulut mercon 🤣
Di rumah sebelah, kalo mau nanya PC aja boleh banget. Cuma mau ngasih tau bakal ada GA kecil-kecilan di akhir (iyalah, aku kan penulis ecek-ecek, masa gedean🤭. Eh tapi nggak menutup kemungkinan kalo gajinya gede ya, timbal balik rasa terimakasih sama kalian. Dan ungkapan rasa syukur aja sih. Semoga ya🤲🤲) Jadi aku tunggu kalian di sana beserta, komen dan ke konsistensi kalian membaca. Love you ❤😘😘😘 sehat dan bahagia selalu buat kita🥰🥰