
...---ooo---...
Intan berjalan ke arah meja kecil yang terdapat sebuah teko listrik dan satu kotak kecil berisikan teh, gula, kopi sachet berbagai merk yang di sediakan pihak hotel.
Lalu menyalakan teko itu agar air di dalamnya panas. Intan menuangkan sebungkus gula sachet ke dalam gelas yang sudah berisi teh celup di dalamnya.
Pandangannya mengarah pada lelaki yang tengah meringkuk di atas kasur. Dia pulang ngapel jam berapa? tanyanya dalam hati.
Setelah air panas dia langsung menuangkannya ke dalam gelas. Berjalan sambil mengocek sendok dalam gelas itu.
"Pak... "Panggil nya.
Bintang tak bereaksi matanya masih terpejam dan badannya menggigil.
"Pak, ini teh nya." Intan sedikit mengguncangkan tubuh lelaki itu.
Hanya gumaman yang keluar dari mulut si bapak rombeng itu.
Intan menyimpan gelas teh itu di nakas sebelah Bintang, dia bingung harus bagaimana merawat lelaki itu.
Di pegang memang panas sekali tubuhnya.
Intan berjalan ke arah koper anak-anak mencari sesuatu untuk bisa dia jadikan sebagai kain kompres.
Dia mendapatkan handuk kecil milik Shera. kemudian dia berjalan ke kamar mandi untuk membasahi handuk itu.
Mendekati lelaki yang tengah menggigil itu, dengan ragu namun tak tega, dan akhirnya berniat untuk merawatnya.
Intan tempelkan handuk basah di kening Bintang. Sedikit terlonjak karena dingin, Bintang membuka matanya yang terlihat merah.
"Tan... kepala gue pusing," ucapnya manja.
"Iya, soalnya bapak panas," ujarnya.
"Badan gue meriang... "
"Pegel semua, sakit.. "
Intan menyimak mendengar semua keluhan Bintang, laki-laki manja di depannya seperti seorang anak balita merengek hanya karena demam.
Di ambil gelas teh panas itu, lalu dia membantu Bintang sedikit menaikan kepalanya agar bisa segera meminumnya.
*
*
Intan keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang sudah rapi.
Saat sedang mengumpulkan pakaian kotor miliknya dan anak-anak bekas semalam.
Tiba-tiba Brooottt... terdengar suara menggelegar hingga Shera menangis kejer karena kaget.
Intan yang sedang di kamar mandi berlari ke arah Shera. Langsung menggendong bayi cantik itu.
"Sayang... "
Broottt... Lagi-lagi terdengar suara kentut yang menggema.
Intan mendengus kesal menghampiri Bintang, dan memukul tubuh yang meringkuk di bawah selimut itu.
"Aww... apa sih?" Bintang mengusak wajahnya.
"Kentut Bapak kenceng banget, Shera sampai nangis kejer," gerutunya.
"Ya bagus, berarti angin penyakit yang ada dalam badan gue keluar semua, berkat teh manis lu pasti. Kalo nggak keluar lu mau apa ngurus gue sakit?" tanyanya sambil membenahi selimut dan memutar tubuhnya menghadap Helen yang masih pulas.
Intan menggelengkan kepalanya, kesal namun tak bisa berbuat apa-apa. Lama suara brobot itu kembali terdengar.
"Pak.. udah berisik mana bau lagi," Intan mendengus kesal sambil membawa Shera berjemur di balkon.
Bintang tak menanggapi dia tertawa sambil mengeratkan selimut nya.
***
Siang hari
Intan sedang menyuapi Helen di balkon dengan Shera di gendongannya. Mengurus dua anak sekaligus sangat melelahkan.
__ADS_1
Bintang masih tertidur pulas entah karena sakitnya atau memang dia tukang tidur.
Terdengar bunyi ponsel dari dalam kamar, Intan masuk menuntun Helen. Melihat ponsel di atas nakas menyala menampilkan nama Chaca,
"Pakkk.. pak... "
"Hemmm... "
"Itu telpon dari Ibu nya Helen," katanya sambil mengguncang tubuh lelaki itu.
Bintang menyipitkan matanya, tangannya menengadah meminta ponselnya.
"Hemm, apa?"
"... "
"Belum bangun, kalo lu nggak nelpon." Suaranya terdengar serak dan matanya yang terasa lengket.
"... "
"Iya, gue ke sono."
Panggilan pun berakhir, Bintang merenggang kan tubuhnya yang terasa pegal.
"Duh... " Dia menggeliat.
Intan diam di depan TV sambil mengayunkan tubuhnya agar Shera tertidur. Sedangkan Helen bermain di atas sofa.
Bintang berjalan mendekat, mencium Helen dan kemudian menciumi Shera yang berada di gendongan Intan.
Saat Bintang melepaskan bibirnya dari pipi halus Shera, dia tersadar wajahnya tepat berada di dua buah benda yang terlihat besar di tubuh yang terbilang cungkring itu.
Intan menyadari tatapan Bintang ke bagian tubuhnya, dengan telunjuknya dia menjauhkan kepala Bintang dari hadapan nya.
"Kurang ajar lu... tuh telunjuk make noyor pala gua!" sungut nya kesal tak terima.
Intan mengerlingkan matanya kesal, "Bapak yang kurang ajar, itu matanya ngeliatin apa? nggak sopan!" dia balas tak kalah sinis.
"Lu... "
Bintang terdiam, perempuan di depannya itu akhir-akhir ini selalu bisa melawannya. Awalnya terlihat kalem dan malu-malu, ternyata bisa galak dan judes juga. Pikirnya.
"Lu, mah pikiran nya jelek mulu ke gue. Udahlah gue mau mandi dulu." Bintang melenggang masuk ke dalam kamar mandi.
Saat masuk dia kaget, "Si norak, make jemur baju di kamar mandi!" sungut nya sambil melepaskan pakaiannya, dia melihat banyak hanger baju yang menggantung dari mulai tempat handuk sampai gagang tirai pemisah bathtub penuh oleh pakaian basah.
Saat selesai membersihkan tubuhnya dia menarik sebuah handuk, dan tanpa sengaja br* berwarna hitam milik Intan terjatuh.
Bintang memungutnya lalu melihat ukuran itu yang memang terlihat besar.
"Gede banget," tangannya tanpa sadar menangkup cup br* itu dan merema*nya. "Anjir... " Dia buru-buru membalikan ke posisi semula, otaknya langsung di penuhi berbagai macam bayangan tak seharusnya.
Dan membuat si pyton bereaksi, "duh... sabar ton, bentar lagi Naya milik lu sepenuhnya. Nanti kita beli br* yang ada jendela nya," katanya pada si pyton.
Namun sialnya itu tak mempengaruhi si pyton tak tau diri itu, dia malah semakin tegak bak ular kobra siap mematuk.
Dirinya bingung bagaimana menidurkan kembali, sementara dirinya harus cepat ke rumah sakit mengambil asi adiknya untuk Shera.
Bintang mencoba terlihat biasa saja, walaupun tubuhnya menegang ingin melakukan pelepasan.
*
*
Dia melenggang keluar kamar mandi dengan hanya memakai handuk. Terlihat bayangan si pyton yang sedang songong di balik handuk itu, walaupun sudah di marahi dan di sentil berkali-kali namun nyatanya si pyton memang keras kepala. Dia egois dan bikin malu.
Tiba-tiba tubuhnya semakin menegang saat melihat Intan tengah tertidur sambil memeluk Shera, gadis itu mengenakan celana kulot di bawah lutut, namun tersingkap hingga betis kecil nan mukus itu terpampang jelas.
Bintang menggelengkan kepalanya berharap semua pikiran kotornya akan berjatuhan seiring kepala nya bergerak.
Langsung menuju tas nya dimana berisi pakaian yang selalu dia bawa di dalam mobil.
Setelah selesai berpakaian dia pergi menuju rumah sakit.
*
*
__ADS_1
Sesampainya di sana dia melihat adik ipar nya sudah lebih baik, namun terlihat masih lemas.
"Lama... kasian Shera," Mentari mengomeli kakaknya.
"Semalem badan gue meriang Cha, abis ngelamar cewek di bawah rintik hujan. Romantis pokoknya, nggak di gerebek." Sindirnya.
Mentari dan Dafa hanya mencibir mendengar sindiran yang di tujukan pada mereka.
"Yang penting hasil," ujar Dafa dengan suara lemah.
"Alah, kek kucing tiap tahun?" timpalnya.
"Yey... sirik, kakak bisa nggak?" Mentari tak terima ledekan kakaknya.
"Kita liat ntar ya, bibit unggul gue kek gimana,"
Mereka pun larut dalam segala pembahasan receh Bintang.
"Aduh, gue belum ngasih makan si cungkring!" katanya panik.
Mentari menggerutu kesal atas kelalaian kakaknya, membayangkan mengurus dua anak-anak nya dengan perut lapar.
"Ih, kesell. Kakak niat nggak sih bantuin aku? kakak megang kartu aku juga, nanti nggak aku ijinin kalo kakak minjem sama Mas Dafa."
"Eh... eh, ini cuma lupa makan Cha, semua nya gue tanggung ampe daleman nya aja malem gue beliin," ucapnya dengan enteng.
"Daleman?" Mentari membeli
"Iya, dia lupa nggak bawa daleman. Gue beliin dua model yang biasa sama yang ada jendela nya," Bintang terkikik geli membayangkan semua itu.
Sementara pasangan suami istri itu hanya terdiam tidak mengerti apa yang di bicarakan kakak slengean nya.
"Jendela apa sih?"
"Itu, yang ada tutupnya. Yang di ginii in," jelasnya sambil tangannya membuat satu gerakan memperagakan.
"Ya ampun, kak... itu mah buat aku, buat menyusui ngapain beli yang begituan?" Mentari terbahak mendengar penjelasan kakaknya.
"Iya, SPG nya ngira si cungkring ibu menyusui soalnya gendong Shera. " kekehnya.
Mentari hanya menggeleng tak percaya akan semua tingkah laku kakaknya.
Bintang pun pamit kembali ke hotel dengan 6 kantung asi yang di bawanya.
"Mas... kok aku ngerasa kak Bintang ada rasa ya sama teh Intan!"
Dafa yang sedang membenahi letak duduknya, hanya tersenyum. "Kan tadi bilang habis ngelamar pacarnya."
"Tapi aku kurang sreg, masa kak Bintang mau minjem uang ke kamu dua ratus juta buat modal usaha pacarnya."
"Hah... usaha apa?" tanya Dafa
"Nggak tau, katanya buat sewa ruko sama modal entah hijab atau apa lah belum pasti."
"Kenapa nggak ngambil barang dari butik kamu, terus dia jualin online dari rumah kan bisa?"
Mentari menatap suaminya, "iya, ya.. nanti aku bilang deh sama kak Bintang, kasian kalo dia harus ngutang apalagi kalo ketauan Ayah pasti di amuk."
"Atau kalo mau kerja mungkin ada lowongan di kantor cabang yang di Jakarta," Dafa menawarkan.
"Ck dia perawat."
"Ya nggak apa-apa, sekarang banyak kok yang kerja nggak sesuai jurusan sekolah nya," katanya lagi.
Mentari pun mengangguk membenarkan apa yang suaminya katakan.
Dirinya memang merasa kurang sreg dengan kekasih kakaknya itu, agak menor terlihat nakal pikirnya.
Bersambung β€β€β€
Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naikπ€£π€£π€£
aku juga udah ngajuin kontrak, siapa tau ada rejekinya, tolong bantuannya ya, buat yang udah like dan komen aku ucapin makasih banyakππ, yang baru like doang komen nya dong aku pengen nyapa kalian susah atau kalian emang nggak mau aku sapa π€ siapa aku?? ππ₯Ί. aku kang nulis yang baik dan semoxxxx π€π€
jangan lupa like... komen... dan masukin ke favorit yaπ€π€π€ππππππ
Sehat buat kalian semuaππ
__ADS_1