
...---oOo---...
Waktu berlalu begitu cepat drama ngidam Intan sudah tidak se intens dulu.
Dia harus menghadapi tingkah ngidam si istri yang luar biasa. Mulai dari ingin minum kelapa muda di pinggir pantai sambil di temani kumang laut.(tau ngga? yang suka ada di SD yang kayak keong tapi ada kakinya yang ngeluarin nya harus di kasih nafas buatan, Hah begitu baru keluar, tau kan?)
Ada juga beberapa hari istrinya hanya ingin makan masakan yang di buat tetangga. Dan dengan wajah terpaksa Bintang meminta makanan tetangga, para tetangga pun bak menjadi pengusaha Catering. Bergiliran memberi menu masakan mereka pada si ibu hamil itu. Tenang ini bukan mengemis, Bintang mengeluarkan kocek untuk setiap masakan yang para tetangganya itu berikan untuk si istri.
Dan sudah satu minggu ini, Istrinya hilang saat jam makan siang. Ada kebiasaan baru yang di lakukan istrinya. Jajan di depan sebuah SD tim yang berjarak tak lebih dari 200m dari rumah mereka.
Istrinya itu membeli jajanan khas anak SD, seperti martabak leker, cilok, cimol, telor gulung, es susu, dan berbagai macam jajanan. Beberapa kali suaminya itu mengingatkan untuk tidak jajan sembarangan tapi istrinya itu berkata. Anak-anak SD aja nggak kenapa-kenapa, berarti anak kita juga nggak akan apa-apa. Selalu itu yang dia katakan balik untuk menyanggah larangan jajan sembarangan dari suaminya.
Seperti saat ini, Bintang tengah memandangi istrinya dari kejauhan. Dia mengulas senyum saat Intan yang tengah memakan sesuatu duduk di sebelah si ibu penjual, mereka terlihat berbincang-bincang. Seorang anak perempuan berjalan mendekat, gadis kecil dengan kunciran rambut terlihat lucu mengajak Intan berbicara.
Lagi-lagi Bintang tersenyum, dia sudah ntar sabar menyaksikan pemandangan Intan dan anak-anak nya nanti. Istrinya yang keibuan itu akan menjadi pemandangan miliknya hanya miliknya.
Si gadis kecil terlihat mengelus-elus perut Intan yang besarnya memang di atas normal karena memang berisikan dua bayi. Yang ternyata setelah di telusuri berasal dari neneknya Intan, memang kembar namun salah satunya meninggal saat bayi.
Matanya tiba-tiba membola dan tubuhnya yang sedang bersandar langsung tegak. Saat seorang pria berkemeja abu-abu, memakai kacamata dengan tatanan rambut rapi mendekat dan terlihat berbincang dengan si istri.
"Hadeuh, baru aja duduk. Suka ada aja yang ngegoda, apalagi sekarang aura kamu lagi manis-manisnya." Bintang menggerutu sambil keluar dari mobil, yang diam-diam mengikuti Intan saat si perempuan itu berjalan menuju sekolah dasar itu.
Semakin dekat Bintang bisa mendengar canda tawa dari istrinya. Tangannya semakin bergetar ingin segera menarik si istri.
"Eghhmm ... " Bintang berdehem saat sudah berada di belakang lelaki necis itu.
Intan menoleh.
"Ang? kamu jemput aku?" katanya dengan wajah ceria.
Bintang mengangguk lalu matanya menatap ke arah lelaki yang baru saja menoleh ke arahnya.
"Ang, kenalin. Ini Wahyu, temen SD aku."
"Wahyu, kenalin ini suami aku."
Kedua lelaki itu yang sedang saling pandang kemudian mulai mengulurkan tangan mereka untuk berjabat.
"Udah jajannya? yuk kita pulang!" Ajaknya.
Intan mengangguk dengan prentelan keresek di tangannya. Dia bangkit lalu anak kecil ber kuncir itu menahan ujung cardigan nya.
"Tante?" panggilnya dengan suara kecil.
Intan menunduk menatap gadis kecil yang memanggilnya.
"Ya, Sayang?"
"Boleh, Aku. Cium tante sama dedek bayi?" tanyanya memohon.
Intan mengangguk dengan seulas senyum. "Boleh, dong!" Dia sedikit berjongkok agar menyamai tinggi gadis kecil cantik itu.
"Pa, boleh aku cium tante cantik? Tasya kangen Mama!" tanyanya pada sang Ayah yang tak lain Wahyu teman Intan.
Bintang menatap interaksi istrinya dengan anak dari lelaki gagah di depannya. Ada hati yang bergetar hangat sekaligus kesal.
Tasya mencium pipi Intan lalu tersenyum. "Dulu, waktu Mama ada dedek di perutnya. Aku sering ciumin, tapi Mama bohong. Katanya mau pulang bawa dedek bayi, tapi Mama malah bawa dedek di tanah," gadis kecil itu mulai sendu dan langsung Intan peluk.
__ADS_1
"Sayang, nggak boleh gitu. Nanti Mama sama adik sedih. Liat kakaknya sedih kayak gini," Intan mengusap lembut punggung gadis kecil itu.
Terlihat Wahyu ikut berjongkok. "Tasya, sudah. Ayo kita pulang, kasian tante cantiknya mau pulang, kan ada dedek bayi nya. Jadi harus banyak istirahat," Wahyu mencoba membujuk anaknya yang menempel pada Intan teman masa kecilnya.
"Tante, kayak Mama ya? kalo ada dedek bayi harus banyak tidur?" tanyanya dari balik punggung Intan.
Bintang hanya mampu menatap interaksi di depannya dengan rahang mengeras, ingin marah namun tak mungkin, dia hanya anak kecil. Bagaimanapun dia tidak bisa memarahi gadis kecil anak dari teman istrinya. Walaupun alarm di otaknya berbunyi nyaring saat mengetahui lelaki necis di depannya adalah seorang duda.
"Besok, tante ke sini lagi kan?" tanyanya setelah melepas pelukannya dari Intan.
"Iya, soalnya jajanan di sini enak-enak. Bayi-bayi tante suka," ucapnya.
"Bayi-bayi?" Ayah dan anak itu membeo.
Intan hanya mengangguk kecil sambil tersenyum.
"Iya, di sini ada dua bayi." Tangannya mengusap perutnya yang besar.
"Tante, tante jangan sakit kayak Mama ya!"
Intan mengangguk, "Pasti.Tante bakal sehat dan kuat, karena ada Om yang selalu jagain dan sayang sama tante," katanya mendongak tersenyum ke arah si suami yang dia tau wajahnya sudah terlihat kesal.
Tasya dan Wahyu ikut menoleh ke arah Bintang.
Bintang langsung merasa tersanjung, di puji oleh sang istri adalah hal yang jarang sekali terjadi. Apalagi di depan orang asing. Seolah mendapatkan lotre dalam hatinya dia berjingkrak dan bersorak-sorai. Ingin rasanya menarik si istri dan memberikan kecupan membabibuta.
*
Saat Intan akan bangun dari posisi jongkok nya dia kesusahan karena tubuhnya yang sudah naik 20kg di kehamilan masuk usia 8bulan.
Dengan tangan yang dia ulurkan pada sang suami, meminta bantuan Bintang untuk membangunkan nya. Naas bagi Bintang tangan si istri yang belum sempat dia raih ternyata terlebih dulu Wahyu pegang dan bantu.
Intan yang canggung langsung melepaskan tangannya. "Makasih, Yu." katanya gugup.
Dia langsung melangkah mendekati si suami, yang jika dapat terlihat kepalanya sudah mengepulkan asap emosi, dan api cemburu.
"Ang, yuk. Pulang," tangannya sudah merangkul lengan si suami. Dengan sigap Bintang merangkul pinggang si istri, walaupun tidak bisa memutari karena semakin lebar.
"Ayo,"
Mereka pun berjalan menuju mobil setelah berpamitan pada Ayah dan anak perempuan itu.
*
*
Intan merasa Aura mencekam di dalam mobil, perjalanan menuju rumah pun seakan lama padahal jarak dekat.
"Kenal siapa duluan?" Bintang akhirnya bersuara.
"A-apa?" Intan bingung.
"Kamu, kenal duluan bapak nya atau anak nya?" dia memperjelas pertanyannya.
"Ya, bapak nya lah. Kan dia temen SD aku," jawabnya.
Bintang menginjak rem mobil walaupun tinggal beberapa rumah sampai ke rumah mereka.
__ADS_1
"Apa?" tanyanya kaget.
"Apa?" Intan balik bertanya.
"Kamu hubungan sama laki-laki di belakang aku?"
Intan langsung menepuk paha si suami.
"Bukan, itu kan dulu. Aku ketemu Tasya dua hari lalu. Awalnya dia cuma nungguin Papanya jemput, tapi tatapannya itu aku nggak ngerti. Kayak tatapan takut gitu, aku tanya ternyata Mama nya meninggal waktu melahirkan. Jadi dia takut liat yang hamil, aku kasih pengertian, bahwa nggak semenakutkan yang dia bayangin. Dia cerita kalo Papanya dokter, mana aku tau itu Wahyu, temen SD aku." wanita hamil itu menjelaskan.
"Interaksi kalian kayak keluarga bahagia banget," cibir lelaki yang sedang tersulut cemburu itu.
Intan menoleh "Ang, lebay. Kenapa kamu ngga ikutan aja!"
"Ck, pokoknya aku ngga mau liat kamu kayak gitu lagi. Udahan lah ngidam jajanan SD nya, atau aku aja yang beli."
"Ang, aku lagi ngasih perhatian buat Tasya, kasian dia trauma. Kamu bisa bayangin ngga kalo itu ada di posisi anak kita?"
"Khus, kamu ngomong apa sih?" Bintang sedikit meninggikan suaranya.
Intan terlonjak kaget. "Aduh, kalian kaget?" katanya sambil mengelus perutnya.
Bintang yang tersadar langsung ikut mengusap perut besar itu di mana anak-anak nya berada.
"Maaf, maafin Papi ya?" katanya.
Intan mengulas senyum, merasa puas sudah berhasil meluluhkan suaminya dengan mengandalkan anak-anak nya.
Sesaat berlalu mobil kembali Bintang lajukan menuju rumah mereka.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Yank. Ambilin ponsel, susah ini," Bintang sedikit memiringkan duduknya agar bisa leluasa tangan si istri merogoh saku celananya.
"Dari Obi," Intan melihat nama si pemanggil.
Bintang menghentikan mobilnya tepat di depan rumah mereka.
"Ya, Bi?"
"Pak, bisa ke kedai sekarang?"
"Kenapa? kan besok jadwal saya ke sana!"
"Ada ... Pokoknya Bapak, ke sini dulu."
Bintang sedikit aneh, dan perasaannya tiba-tiba tidak enak.
"Ok, saya ke sana sekarang!"
Panggilan pun terputus.
"Kenapa?" Intan menangkap raut wajah tegang suaminya.
"Kamu, istirahat . Aku liat kedai sebentar," Bintang menarik tengkuk si istri untuk dia kecup kening dan bibirnya sekilas."
Intan pun turun dan berjalan masuk, Bintang setelah memastikan istrinya masuk ke dalam rumah. Langsung melajukan mobilnya menuju kedai mie kekinian miliknya.
__ADS_1
Bersambung ❤❤
Makasih wan kawan yang masih mau baca cerita Ang Bin. Sehat2 buat semua😘😘😘