Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
tragedi siomay


__ADS_3

...--oOo--...


Siang ini Bintang sedang membereskan barang bawaan istrinya ke dalam sebuah tas kecil. Setelah menghabiskan cairan infusan Intan di perbolehkan pulang.


"Ang... "


"Apa? ngga puas kamu aku di marahin Bunda?"


"Ish, kok nyalahin? itu kan salah kamu. Lagian ngapain lelehin mentega di upilware Bunda." Intan yang sedang duduk di tepi ranjang tertawa sambil mengelus perutnya yang selalu bereaksi jika dia tertawa. Apalagi menertawakan Bintang yang notabene nya adalah Ayah dari bayi-bayi yang sedang bergerak lincah di dalam perutnya.


"Aneh, aku kalah saing sama tuh wadah plastik."


Intan semakin tertawa melihat suaminya beres-beres sambil menggerutu. "Inget, itu bukan plastik sembarang plastik!" dia menepuk lengan si suami yang sedang menjejalkan bantal leher y ag sering istrinya pakai jika menaiki mobil.


"Iya tau itu upilware mahal, tapi masa lebih berharga dari anak cucu?" katanya membela diri.


Bintang lalu menuntun si istri melangkah meninggalkan kamar rawat yang semalam mereka tempati.


Memasuki mobil, Bintang menyetel posisi duduk si istri agar nyaman. Mulai dari bantal kecil di pinggang, bantal leher untuk tidur yang nyenyak. Tak lupa kain batik untuk selimut yang selalu istri nya minta.


"Ang,"


"Ishh, merinding nih!" Bintang mengusap-usap lengannya seolah menenangkan bulu kuduk nya yang berdiri tegak.


Intan langsung tertawa. "Pengen siomay .... "


Bintang menoleh dan tertawa jumawa. "Gampil, kita cari. Tumben Anak-anak Papi mintanya yang gampang?" Dia menunduk mengusap perut besar istrinya.


Intan mengangguk tersenyum.


"Ayo, kita cari siomay!" Bintang menyalakan mesin mobilnya.


"Tapi yang di kebun Binatang," Intan berkata dengan santainya.


Bintang langsung menginjak remaja saat mendengar permintaan si istri. "Apa? apa Yank?" tanyanya memperjelas pendengaran nya.


"Iya, yang suka ada di pintu masuk Kebun Binatang. Dulu aku suka beli itu sama Mas Dank kalo kita mau masuk ke kebun Binatang!" katanya lagi dengan sengaja memancing si suami.


Bintang menatapnya kesal. "Ya udah, ayok ke sana. Emangnya dia aja yang bisa bawa kamu makan siomay BonBin." Sahutnya ketus.


Mobil pun meluncur menuju Kebun Binatang .


*


*


Mereka turun dari mobil sengaja memasukan mobilnya ke area parkir Kebun Binatang. Karena tidak mungkin parkir di pinggir jalan yang memang lalu lintas ramai.


"Intan berjalan ke penjual Siomay atau yang orang Sunda bilang baso tahu. Berlari kecil yang membuat Bintang sesekali meringis ngeri melihat istrinya berlari dengan perut sebesar semangka raksasa.


Duh ... ngilu sendiri gue liat perut gede kek mau jatoh. Gumamnya sambil meringis ikut berlari mengejar Intan.


" Mang. Pengen siomay, tahu putih, kol, kentang, sama pare," Intan menyebutkan pesanannya.


"Bilang aja campur, Yank. Orang itu semua kamu sebut!" Bintang berkata setelah menyimak pesanan saat istri.


Intan menoleh dengan raut wajah tak suka. "Nggak ya, aku nggak pesen tahu Sumedang nya." cicitnya.


Bintang tergelak. "Satu doang yang nggak di absen kasian," tawa meledek nya.


Intan mencibir lalu mengambil piring yang berisi pesanan nya dengan bumbu kacang dan irisan jeruk limau yang menggugah selera.


Bintang pun memesan dan berjalan mendekati si istri yang memakan di pinggir trotoar dengan wajah sumringah namun tatapan sinis melirik ke arahnya.


Bintang tertawa merasa gemas dengan kelakuan Intan yang semenjak hamil sering melakukan hal aneh dan ajaib.


Mereka menikmati dengan tenang, walaupun siomay itu identik dengan siomay kampung yang jauh dari rasa ikan namun itu khas nya. Khas kenyal aci atau sagu.


"Enak, ya?" Intan berkata sambil menyandarkan punggungnya di benteng tinggi salah satu tempat wisata di kota Bandung itu.


Bintang mengangguk masih mengunyah siomay miliknya. "Kenyang. Yuk, pulang!" ajaknya sambil bangkit.


Intan melihat di piring si suami masih tersisa beberapa potong lagi tahu dan kentang.


Tak menjawab ajakan si suami, dia fokus menarik dan menghabiskan sisa makanan si suami.


"Ampun, Yank. Kurang? aku pesenin lagi, mau?" Bintang kembali duduk di sebelah si istri.


Intan menggeleng. "Jangan, aku udah kenyang. Cuma sayang ini, mubadzir." lalu memberikan piring kosong pada si suami.


"Minum, mau minum!" pintanya dengan mulut penuh.


Bintang terkikik geli dengan tingkah si istri. Lalu mendekati gerobak penjual berbagai macam minuman botol.


"Mang, pulpi oren sama teh ucuk." katanya sambil merogoh saku celananya.


Setelah mendapatkan minuman itu, dia kaget tidak mendapati si istri yang tadi duduk di dekat gerobak siomay.


"Mang, istri saya kemana?" tanyanya pada si mamang penjual yang sedang mencuci piring bekas para pelanggan nya.

__ADS_1


"Itu?" tunjuk nya pada Intan yang sedang mengintip di dekat pintu tempat pembelian tiket.


Haduh, tuh bumil. Bikin jantung disko bae. Bintang hendak melangkah namun panggilan si mamang penjual siomay memekakan telinga.


"A, belum bayar ini."


Bintang berbalik dan tertawa malu, karena beberapa orang melihat ke arahnya.


"Berapa mang?" katanya.


"Empat puluh lima ribu,"


Bintang membola, kaget saat mendengar nominal siomay kampung yang dia makan.


"Mahal, Mang. Ikan nya juga nggak kerasa, itu mah aci doang!" katanya menggerutu.


"Eh , jangan menghina jualan saya. Seporsi lima belas ribu itu standar di tempat wisata kayak gini,"


"Nah, ini. Lima belas ribu di kali dua kan Tigapuluh ribu. Kenapa jadi empat puluh lima ribu?" Bintang mendebat.


Wajah si penjual itu terlihat mulai terpancing.


"Tuh, istrinya nambah seporsi di bungkus. Tuh liat lagi dia ken*yot plastik nya. Walaupun siomay aci, tuh istrinya sampai nambah. Berarti enak," ucapnya bangga.


Bintang yang merasa malu langsung mengeluarkan uang lima puluh ribu dari dompetnya.


"Aduh, ngga ada kembalian. Nggak ada receh," Si penjual siomay yang dia hina menunjukkan dompet yang penuh dengan pecahan uang berwarna biru dan pink.


Bintang meringis. Ck, sombong. Katanya dalam hati.


"Ya udah, kena siomay ini ya dua." Si mamang mengambil plastik dan memasukan satu siomay dan satu tahu ke dalam plastik itu.


"Bumbuan, Mang." katanya tak tau malu,


"Geus moyokan, beuki!" (udah ngehina, tapi doyan!") gerutu si mang siomay.


Bintang berjalan sambil memakan siomay dua bijinya.


"Yank, ampun. Aku cariin. Mana bikin malu lagi,"


"Ang, pengen masuk." Intan merengek dengan tatapan wajah memelas nya.


"Heh, lagi hamil." Bintang menolak.


Intan langsung mengerucutkan bibirnya.


"Mau naik perahu kuda Nil, tuh lucu. " Tunjuk nya pada gampar di spanduk yang membentang.


*


*


Intan berjalan dengan antusias. Mereka masuk setelah sebelumnya membeli kacang kulit di dekat tempat tiket untuk pakan monyet.


"Yank, jangan petakilan!" Ancam Intan.


Bintang yang sedang meneguk pulpi oren langsung menoleh.


"Aku? petakilan?"


Intan mengangguk. "Nggak gitu?" tanyanya balik.


"Aku, handsome. Tangguh, pokoknya limited dah. Kamu nggak akan nemu aku di versi laki-laki manapun." Katanya bangga menepuk dadanya.


Tepat mereka melewati kandang orang utan besar.


"Dih, kamu niruin dia ya?" Intan terbahak.


Bintang langsung menarik tubuh si istri dan mengapit lehernya. Lalu mengacak rambut Intan.


"Lagi, hamil. Jangan suka aneh-aneh," bisiknya.


Lalu mereka mengusap perut Intan, dan sama-sama mengucapkan amit-amit.


Sesekali mereka berhenti untuk istirahat.


"Capek kan?" Bintang bertanya saat Intan kembali duduk untuk ke lima kalinya. Sekarang di dekat kandang berbagai macam burung langka.


Intan mengangguk lalu meminum teh ucuknya hingga habis.


"Pulang, yuk. Udah mau tutup. Ini mau jam empat!" Bintang melihat jam di ponselnya.


"Pengen, naik dulu perahu kuda nil." rengeknya.


Bintang pun memapah si istri, menuruti permintaannya di waktu-waktu mepet.


"Buruan, udah sepi. Nggak takut?" Bintang melirik ke sekeliling yang memang sudah terlihat sepi.


"Nggak lah, tuh masih banyak pasangan yang pada mojok."

__ADS_1


Bintang melirik ke beberapa titik yang memang terlihat pasangan muda yang sedang bercanda gurau.


"Dulu kamu ngapain di sini, sama ... "


"Ya, kayak mereka!" Jawab intan langsung.


Bintang membayangkan dengan rasa panas di dada.


"Makanya jangan kepo kalo nggak mau cemburu," Intan terkikik kecil. Sambil mengatur nafas saat menuruni tangga yang terjal menuju kolam besar tempat perahu lucu berada.


Setelah memilih perahu berbentuk kuda Nil sesuai permintaan sang istri. Bintang dan Intan menaiki perahu itu.


Kemudi nya hanya di sebelah Bintang, otomatis dia yang menggoes pijakan di kakinya agar perahu itu jalan.


Intan terlihat senang dan sesekali berswafoto.


Bintang kesusahan beberapa kali menabrak tepian kolam. Hingga mereka berhasil memutari kolam dan keluar dari perahu itu.


Setelah selesai mereka hendak pulang. Namun Intan menahan lengannya.


"Pengen, pup." Katanya pelan.


"Apa?"


Intan meringis.


"Kebanyakan makan siomay? apa pertanda kamu betah di sini?" Bintang bertanya serius namun terdengar meledek oleh Intan.


Intan berlari kecil menuju toilet kecil tak jauh dari sana. Bintang berdecak kesal namun tetap mengikuti si istri.


Sambil menunggu, beberapa orang terlihat melewati nya dengan berlari.


"Kenapa, Pak?" tanyanya mencegat.


"Mau tutup sepuluh menit lagi!" katanya lalu kembali berlari mengikuti dua anaknya yang berlarian.


Bintang tak begitu gelisah karena memang pintu keluar sudah terlihat walaupun sedikit menanjak ke atas. Gua dorong aja dia ke atas kek gelindingan. Gumamnya tentu saja dalam hati.


"Ang?"


"Ya? buruan udah mau tutup!" katanya.


"Ambilin, baju ganti ini kesiram. Belakang nya basah!"


Bintang meninju tembok merasa kesal dan gemas dengan si istri.


"Biarin, udah mau tutup ini. Nggak ada yang liat," nadanya sedikit meninggi.


Tidak ada jawaban pas si istri sedang mengerucutkan bibirnya.


"Yaudah, tunggu. Aku ambil salin ke mobil,"


"Buruan," Intan menjerit dari dalam toilet umum itu.


Tak butuh waktu lama, lagian dia juga sudah di peringati oleh beberapa petugas bahwa pintu akan segera di tutup.


Bintang mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam membantu istrinya agar lebih cepat. Dan segera keluar dari Kebun binatang sebelum gerbang di tutup.


Saat sedang membantu istrinya menggantikan dress yang basah itu.


Ketukan keras terdengar.


"Woy, mesum ya? buka?" suara seorang pria terdengar di luar.


Bintang dan Intan saling menoleh kaget.


"Ini, istri saya. Pak." Bintang menjawab, belum membuka pintu karena Intan belum selesai mengganti bajunya.


"Alah, semua yang keciduk bilangnya pasti gitu.Buka nggak? atau kami dobrak!" terdengar ancaman.


Bintang langsung keluar, namun dia menahan pintu agar Intan menyelesaikan berpakaiannya.


"Tuh, kan. Mesum ya?" tanya petugas tinggi tegap.


"Bukan, istri saya basah bajunya. Jadi sedang saya bantu," jelasnya.


Kedua penjaga itu saling pandang. "Lagu lama, alasan yang basi!" kata si petugas bertubuh agak kurus.


"Ayo, ikut kami ke pos. Panggil pacarnya, suruh keluar!" kata penjaga satunya.


Lalu pintu terbuka dan Intan keluar dengan dress pink yang membuat perut buncit nya terlihat semakin besar.


"Gimana pak? mesum instan ya? masuk sebentar keluar langsung melendung gitu?" Bintang tertawa sinis. "Mana atasannya? saya mau komplain!" ancamnya.


Kedua penjaga itu terlihat pucat.


Bersambung ❤❤


Maaf lama up nya. Masih ada yang nungguin tang kah?

__ADS_1


Sehat dan bahagia ya buat kalian 😘😘😘


__ADS_2