
...--oOo--...
Dua bulan berlalu.
Altaf begitu di terima di keluarga besar Bintang. Tak ada perbedaan, Pak Gunawan pun begitu dekat dan suka dengan sikap Altaf.
Intan begitu lega, awalnya dia memohon-mohon kepada suaminya untuk mengadopsi Altaf. Namun bintang keukeuh ingin mencari pihak keluarga dari Naya yang berada di sebuah daerah di Malang. Namun nihil, dia tidak menemukan jejak keluarga Naya. Mungkin karena petunjuk yang kurang memadai sehingga dia tak mendapatkan arah yang jelas.
Dan akhirnya dengan bantuan Dafa, akhirnya Altaf resmi menjadi anak adopsi an Bintang dan Intan.
Mengurus semua surat-surat Dafa turun tangan langsung demi sang kakak ipar. Hingga semua dokumen menyatakan bahwa Altaf sah menjadi putra dari Bintang dan Intan.
Satu pagi Bintang sedang sarapan bersama Altaf. Dua bayi Damar dan Wulan sedang berada di stroller dekat mereka.
"Amih, mana Pih?" tanya Altaf sambil menggigit roti bakar yang Intan buat.
Bintang menoleh ke pintu kamar nya. Benar, kenapa istrinya yang hanya pamit untuk ke kamar mandi lama sekali.
"Bentar," Bintang bangun menuju kamarnya.
Keningnya mengerut saat melihat si istri yang tidur berselimut. "Yank?" katanya duduk di tepian tempat tidur.
"Sakit?"
Tak ada jawaban, Bintang mengulurkan punggung tangannya ke arah kening Intan. "Nggak panas, kamu kenapa?"
Suara desisan terdengar. "Aku ngantuk, nggak boleh aku tidur?" Intan merengek sebal.
Bintang seolah angkat tangan. Lalu berbisik, " aku mau meeting. Jangan bikin aku malah meeting sama kamu di bawah selimut ini,"
Intan menatapnya . "Ngantuk, ngerti nggak sih?" Intan marah.
Bintang bingung, kenapa istrinya tiba-tiba marah hanya karena masalah kantuk yang sudah mereka lalui beberapa bulan ini. Malahan sekarang mulai teratur si kembar bangun malam nya. Hanya jam 11 malam dan jam 3 malam. Itu juga tidak lama kurang dari satu jam si kembar sudah kembali nyenyak.
"Kenapa? sakit?" Bintang mengusap punggung si istri yang sedang membelakangi nya.
Intan hanya mengedikkan bahunya, kepalanya dia tenggelamkan di bawah selimut.
"Terus aku meeting di market gimana?" Bintang mengecup kepala Intan dari balik selimut.
"Aku kayaknya nggak enak badan. Lemes, ngantuk, badan kayak yang meriang!"
"Aku meeting sebentar, nanti aku langsung pulang kita ke dokter ya?"
Intan mengangguk pelan.
Pintu kamar terdengar di ketuk. Lalu pintu terbuka, Altaf masuk dengan stroller berisi si kembar yang sudah tertidur.
Bintang dengan sigap memindahkan si kembar ke dalam box. Altaf naik ke atas kasur.
"Amih sakit?" tanyanya lembut namun begitu manis dan menggemaskan.
Intan mengangguk pelan.
__ADS_1
"Biar abang yang jagain adik kembar, sekarang Amih abang pijit biar cepet sembuh. Kata Ibu pijitan Abang enak." Tangan mungil itu mulai mengulur dan memijit kecil betis Intan.
Intan memejam sambil tersenyum. "Iya, pijatan Abang enak. Aduh ... Amih bakalan cepet sembuh!"
katanya memuji.
Si yang di puji semakin semangat, dengan wajah sumringah karena bisa meringankan beban Intan. Si ibu angkat.
Bintang mengusap kepala anak mantan kekasihnya itu. "Hebat. Ayah tinggal ke kantor sebentar nggak apa-apa?"
Altaf mengangguk pasti. "Abang bisa pijitin Amih, sama jagain adik kembar. Tapi, Abang nggak bisa masak!" ucapnya polos. Bintang dan Intan saling pandang dan tertawa.
"Nggak usah, nanti sebentar lagi ada bibik. Abang di bantu Bibik nanti!" Bintang kembali mengusap.
"Mau, Papi bawain apa buat hadiah. Abang yang udah jadi penolong?" tawarnya.
Si anak hanya diam berpikir. "Kalo jus mangga boleh?" matanya bulat bercahaya. Khas tatapan tulus seorang anak.
Bintang mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.
*
*
Bintang pulang ke rumah dengan wajah pucat pasi. Mendapatkan telpon dari Altaf kalo Intan sakit dan menangis.
"Yank?" Bintang masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa.
Intan sedang duduk baru selesai memberi asi.
"Kenapa? apa yang sakit?" tanyanya.
Intan bangun dari duduknya dan menidurkan Damar yang telah nyenyak di pelukan nya ke dalama box.
Bintang masih mengekorinya. "Yank? jangan bikin aku panik!"
Intan berbalik dengan mata yang membulat penuh kekesalan.
"Jangan bikin kamu panik? tapi kamu bikin aku hamil lagi! si kembar baru mau lima bulan dan aku hamil lagi," Intan mendekat dan memukuli dada si suami meluapkan semua kekesalannya. Peringatannya untuk menggunakan pengaman dan alat kontrasepsi di tolak mentah-mentah oleh si suami.
Bintang mengerjap. "Apa? kamu hamil lagi?" tanyanya tak percaya. Raut wajahnya begitu ceria dan bangga. Bisa banget muntahan si pyton miliknya selalu terdepan.
"Rasanya segala mual dan pusing kemarin masih membekas. Sakitnya kontraksi kemarin masih terasa, aku hamil lagi!" keluhnya dengan merengek.
Bintang tertawa jumawa. "Biarin. Kalo bisa aku yang mual, pusingnya. Aku bantuin mulesnya." Katanya sambil tertawa karena merasa tak mungkin hal itu terjadi.
Intan mengaminkan dan mendengus kesal.
*
*
Intan terbangun saat telinganya menangkap suara berisik dari kamar mandi. Menyipitkan matanya dan menajamkan pendengaran. Wanita itu turun dari tempat tidur saat tak mendapatkan si suami yang biasanya meringkuk di sebelah nya.
__ADS_1
"Ang," Intan memanggil tangannya memutar pegangan pintu kamar mandi.
Mulutnya sedikit menganga karena kaget. "Kenapa?" tanyanya saat menemukan si suami terduduk di lantai dengan kepala hampir masuk ke dalam lubang kloset.
"Aku mual. Dari jam dua, Yank." suaranya mengeluh dengan lemas.
"Sekarang?"
"Masih,"
"Iyalah, pasti. Orang muka ampe nyium lubang kloset. Ish, tambah mual pasti!" Intan menarik kepala si suami.
"Salah makan kali," Intan berasumsi.
Bintang menyandarkan kepalanya pada sangat istri.
"Kamu ngeracunin aku? gara-gara aku hamilin kku lagi? dendam kamu sama aku?"
Bukan jawaban tapi sebuah pukulan Intan hadiahkan untuk si suami.
"Kalo aku niat jahat sama kamu, nanti siapa yang mau biayain aku sama anak-anak. Pampers nya aja udah seharga gaji aku waktu kerja di kantornya Mas Dafa. Ini malah mau nambah lagi, kalo. aku jadi janda emang ada yang mau sama janda anak banyak ... "
"Yank, ishhhh. Ngomong apa?" Bintang membekap mulut si istri yang ngomel tak beraturan.
"Maaf," Intan masuk ke kamar memapah si suami kembali ke tempat tidur.
"Bikin mie goreng, ayank. Aku lapar," katanya.
Intan melihat jam, baru jam 4. Namun dia tetap mengerjakan apa yang di minta si suami.
"Yank, sekalian. Sama es coklat ya!" Bintang meminta sambil kembali meringkuk.
Sudah seminggu berlalu, Bintang semakin parah, bahkan sekarang tiap makan akan kembali dia muntah kan. Yang masuk hanya buah-buahan dan air dingin saja.
Keluarga besar Gunawan datang menjenguk Bintang yang beberapa hari ini tidak datang ke market.
"Kenapa?" Bunda masuk ke dalam kamar.
"Nggak tau, Bun. Semenjak aku kasih tau, Mas Bintang kalo aku ham_ hamil lagi. Dia jadi gini,"
ucap Intan terbata-bata. Merasa malu akan kehamilan nya ini.
Bunda dan Mentari sontak menatap Intan.
"Hamil lagi?" Tanya Mentari dan Bunda bersamaan.
Intan mengangguk kecil, malu. Tapi bagaimana lagi, semua sudah terjadi.
Semua keluarga heboh, menertawakan nasib Bintang yang merasakan kehamilan simpatik. Di mana si Ayah merasakan apa yang biasanya si Ibu yang mengalami.
Mereka semua tertawa bahagia, di atas penderitaan Bintang yang sedang mual, pusing, meriang.
"Kalian tertawa kayak lagi jalan-jalan di pasar malam, sedangkan aku yang jadi kolecer (komedi putar)." keluhnya sambil meringkuk di ujung sofa, menggerogoti biji mangga muda yang habis dia makan.
__ADS_1
Bersambung , masih bersambung ❤❤🤣🤣