Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Sebuah Bukti


__ADS_3

...--oOo--...


Pagi buta Intan sudah gelisah di atas tempat tidur, sedikit melirik suaminya yang masih pulas tertidur. Setelah semalam dia mengacuhkan suaminya karena rasa kesal dan penasaran dengan si pengirim pesan.


Dia mengambil ponselnya, membuka aplikasi pesan dan melihat no wanita bernama Dinda itu.


Intan sengaja mengganti foto profilnya yang tadinya fotonya berdua bersama sang suami, dengan foto suaminya yang sedang sendiri.


Dia berulangkali menghapus pesan yang sudah mulai dia ketikkan.


Dia tidak tau bahasa suaminya terhadap wanita itu seperti apa, apa akrab atau seperti teman biasa.


Dia tertawa miris, "teman biasa? ampe hamil!" bibirnya mencebik sambil menoleh ke arah suaminya yang masih terlelap dengan mendekap guling di sebelah nya.


"Pagi Din, ini no baru aku. Kita ketemu di Bandara jam berapa? di mananya?" pesan itu pun Intan kirimkan pada seseorang yang mengaku hamil dan mempunyai anak dari suaminya. Dia ingin semua jelas dan terselesaikan.


Intan mendekap ponselnya, takut . Tapi dia ingin semua nya jelas, tanpa bertanya pada suaminya yang ia pastikan akan membela diri.


Sedikit terlonjak saat ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk terlihat di layar.


"Ini kamu, Bintang?" isi pesan itu.


Intan melipat bibirnya dan kembali menoleh ke arah suaminya yang sedikit menggerakan tubuhnya.


Lalu dia langsung mengirim pesan balasan. Dan sebuah tempat makan cepat saji menjadi tempat mereka bertemu nanti.


Wanita yang masih bergelung di bawah selimut itu memejamkan matanya. Ini harus di lakukan apapun kebenarannya, dia harus hadapi. Pikiran negatif nya semakin berdesakan. Apalagi tuduhannya soal sang suami yang terlihat biasa pada dirinya yang sedang berduka kehilangan calon bayi mereka. Semakin menguatkan prasangka buruk jika suaminya memang tidak terlalu berharap banyak soal momongan.


**


Intan bergegas membuat sarapan untuk suaminya, dia ingin hari ini suaminya itu berangkat keluar beraktivitas entah ke market atau memeriksa cabang kedai makanan mereka.


Dua piring nasi goreng bakso sudah tertata rapi di atas meja makan kecil yang terletak di pojokan dapur. Dua gelas jeruk peras pun sudah tertata di dalam gelas yang sudah berembun karena dua kotak es batu yang mengambang di atas larutan air jeruk peras yang segar.


Masuk ke dalam kamar, Intan langsung membersihkan dirinya, sambil sesekali memanggil suaminya agar bangun.


Saat keluar dari kamar mandi, dia melihat Bintang sudah terduduk di tepi kasur sambil mengulir layar ponselnya.


"Sayang, udah seger aja?" Bintang menyimpan ponselnya di atas nakas lalu berjalan mendekat ke arah Intan yang sedang memilih baju.


Di peluknya dari belakang, lalu mencium pipi Intan yang masih terasa dingin.


"Mau kemana?" Bintang bertanya saat melihat istrinya mengambil sebuah dress tunik selutut.


Intan sedikit tegang dan tak berani memandang wajah suaminya.


"Ehmm ... nggak kemana-mana, nggak boleh emang aku rapi di rumah?" Intan balik bertanya .


Bintang tersenyum lalu mengangguk.


"Nanya doang, nggak pake gas. Yank!" tangannya mencubit pipi istrinya.


"Buruan mandi, aku udah bikin nasi goreng. Terus kamu pergi ke market, jangan libur terlalu lama."


"Nggak, kamu kok nyuruh aku pergi? aku ngga mau ninggalin kamu. Kamu masih belum pulih!" ucapnya tegas.

__ADS_1


Intan menoleh saat sedang memakai pakaian nya.


"Aku udah sehat, udah nggak terlalu sakit kok." Intan menimpali.


"Tapi, aku yang agak lemes ini!" Bintang kembali duduk di tepian ranjang mereka.


"Oh, ya udah kamu yang istirahat. Aku aja yang check kedai!"


Bintang terlonjak, "Apa? nggak. Kamu mau ngapain sih?" kamu nggak boleh keluar sebelum bener-bener sehat." bentaknya tak terima.


Intan membuka gulungan handuk yang melilit rambutnya. lalu mulai menyisir dan mengeringkan nya dengan hairdryer.


"Kenapa? aku udah sehat kok. Lagian liat kedai nggak akan lama kan?" tantangnya.


Sebenarnya Intan merasa berdosa karena menyuruh suaminya pergi padahal suaminya terlihat kurang enak badan. Tapi sikap egoisnya ingin seger mengetahui semuanya. Tentang siapa wanita bernama Dinda dan masa lalu suaminya.


Bintang mendengus kesal sambil masuk ke dalam kamar mandi. "Ok, aku pergi." Katanya seraya membanting pintu kamar mandi.


Intan memejam saat suara pintu terdengar berdebum di telinganya.


Helaan nafas berat dia keluarkan. Sudah cukup terbiasa dengan sifat sumbu pendeknya sang suami, yang emosinya mudah meledak.


*


*


Mereka makan sarapan dengan sunyi.


Lalu tak lama Bintang pamit pergi, sebelum masuk ke dalam mobil dia mengatakan rentetan aturan yang harus di patuhi istrinya.


"Inget, istirahat istirahat istirahat." Bintang mengecup lembut kening Intan.


Intan langsung masuk ke dalam rumah, memesan ojek online .


Tak lama sebuah ketukan di pagar rumah mereka terdengar.. Sudah di pastikan itu adalah ojek pesanannya. Dia langsung memasukkan ponsel dan dompet pada tas kecil yang dia sambar asal di atas rak.


Dia langsung menaiki ojek itu, dengan sedikit meringis karena rasa tidak nyaman masih terasa di daerah bawah perutnya.


Setelah memberikan pesan untuk tidak terlalu kencang, motor yang membawanya langsung jalan menuju tempat dia janjian bertemu dengan wanita masa lalu suaminya.


*


*


Berjalan ke restoran cepat saji, dia melihat seorang wanita cantik, berpakaian modis dengan rambut panjang yang di cat pirang. Jangan lupa seorang anak laki-laki duduk di sebelahnya sedang di suapi seorang gadis muda berseragam babysitter.


Intan mendekat dengan degup jantungnya yang semakin kencang.


"Permis?"


Wanita cantik itu menoleh dan mengangguk, wajah cantik itu jelas memancarkan raut wajah sombong.


"Ya?" dia menjawab sambil menelisik penampilan Intan dari atas sampai bawah.


"Dengan Mbak Dinda?" Intan bertanya masih dengan nada lembut dan seramah mungkin.

__ADS_1


"Iya, Sorry tapi saya nggak kenal kamu!" ucapnya dengan wajah mencibir.


Intan masih berusaha sabar dan menahan emosi marah juga emosi tangis yang siap pecah kapan saja.


"Boleh saya duduk?" Intan menunjuk kursi di sebrang wanita masa lalu suaminya itu.


"Tapi saya nggak kenal kamu. Dan, lagian saya lagi nunggu bapaknya anak saya!" ucapnya.


Intan seolah mendapat sebuah tusukan di jantung nya. Serasa sakit dan membuat sesak.


"Siapa? Bintang? dia suami saya Mbak!" akhirnya Intan tak kuat untuk menahan terlalu lama, dia ingin memulai semua dengan segera. Agar semua cepat ter jelaskan dan akan menemui titik akhir.


Wanita seksi di depannya hanya diam memandang kaget tak percaya dengan yang di ucapkan gadis sederhana di depannya.


"Hahahaha ... kamu ngelindur?" tawanya melecehkan.


Intan dengan sekali gerakan menarik kursi itu dan segera duduk.


"Saya sudah menikah hampir 3 Bulan. Langsung aja, ada hubungan apa anda dengan suami saya?"


"Istri? nggak mungkin. Kamu bukan selera dia banget!" Dinda tertawa sinis.


Intan tangannya sudah meremat tas yang berada di. atas pahanya.


"Itu bukan urusan Mbak, yang jelas dia suami saya. Dan, ada apa anda menghubungi suami saya?" ucapan Intan seolah menunjukkan bahwa dia berani dan tidak ingin ada yang mengganggu rumah tangganya, yang baru mulai di bangun tapi sudah melalui banyak rintangan.


"Saya, cuma minta ketemu dia untuk melihat anaknya yang belum pernah dia lihat sedari lahir. Dia juga lepas tanggungjawab. Soal nafkah mungkin keluarga saya masih bisa menanggung. Tapi untuk berbagai macam berkas dan mental anak, tidak bisa di wakilkan."


"Apa yakin itu anak suami saya?"


"Kamu?"


"Maksudnya apa? kamu kira saya apa?"


"Mbak, tolong bawa Denis main!" ucapnya pada pengasuh anaknya itu.


Setelah anaknya di bawa jauh bermain di area bermain, Dinda kembali menatap marah pada Intan.


"Sebentar, saya punya bukti yang memperlihatkan malam indah kami di salah satu hotel. Di mana setelah itu saya nggak pernah tidur dengan lelaki mana pun, dan di bulan berikutnya saya dinyatakan positif hamil." Wanita itu mengoceh sambil mengulir ponselnya.


Lalu menunjukkan sebuah foto di mana dirinya dan Bintang sang suami tengah tidur di bawah selimut dengan bagian dada seperti tak memakai apapun.


Seketika Intan lemas, perutnya kembali sakit, dan kepalanya berputar hebat. Seolah dirinya akan terjatuh saat itu juga.


"Bagaimana?" tanya Dinda merasa puas dan sudah menggengam kemenangan.


Sebenarnya Intan menerima masa lalu suaminya, segalanya. Tapi jika untuk menelantarkan seorang anak rasanya dia tidak bisa mentolerir. Hatinya sakit dan dadanya seakan di remas.


Tangannya yang sedang memegang ponsel kini bergetar.


Sebuah tangan menyambar ponsel yang sedang di pegang nya.


Prakkkk ....


Semua orang kaget, terutama Intan dan Dinda yang sedang berdebat.

__ADS_1


Bersambung ❤❤


Like, komennya. Maaf telat, siang laper nggak bisa mikir 🤭🤣🤣🤣


__ADS_2