Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Pamit


__ADS_3

...πŸ¦‹πŸ¦‹πŸ¦‹πŸ¦‹...


"Tan,"


"Heum?"


"Udahan mainnya, aku nggak kuat pyton udah jadi kobra, Ntar kamu di muntahin mau?" ucapnya ambigu.


Intan hanya mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Udah lah, kamu belum ngerti. Nanti aku kenalin pelan-pelan,"


Lalu tiba-tiba Intan menabrakan tubuhnya dan memeluk Bintang, "makasih. Aku ngerasa lebih tenang."


Bintang yang kaget dan tak menyangka akan mendapatkan sebuah pelukan dari wanita di depannya, langsung membalas pelukan itu.


"Jadi sekarang kita jadian?"


"Aku minta waktu seminggu,"


Bintang masih memeluk nya, lalu tiba-tiba menunduk dan mencium kepala Intan.


"Ok, aku tunggu seminggu."


"Sekarang, Bapak pulang."


"Ck, Tan... Tadi udah Mas, balik lagi ke Pak guru." katanya ketus.


Intan mendongak menatap wajah Bintang yang babak belur akibat ulah kakangnya.


"Iya, Mas. Maaf ya soal luka-luka ini, aku obatin ya?"


"Jangan pake obat!" bantahnya.


"Terus?"


"Pake kecupan kamu dong? biar nyess ampe masuk pori-pori lapisan terakhir," ucapnya sambil menggodanya dengan alis mata yang bergerak naik turun.


Intan yang merasa sedang di gombali, malah tersenyum malu.


"Ayo, obatin!" Bintang menundukan wajahnya.


Lalu dengan ragu Intan mendekatkan wajah nya, lalu cup ... cup ... cup, Intan mengecup luka lebam di pelipis kiri, bawah mata dan ujung bibir nya.


Saat bibit Intan di pinggir Bibir Bintang yang luka, lelaki itu sengaja menggerakan wajahnya hingga bibir Intan yang tadi akan mengecup luka malah menempel di bibirnya.


Dan pautan itu kembali terjadi, lebihh lama dan dalam.


Hingga tubuh mereka sama-sama menjadi berbaring. "Tan, bales dong!" ucap Bintang saat bibir mereka terlepas.


Bintang mengusap bibir tipis itu yang sedikit merah dan bengkak karena hisapan kuat yang dia lakukan.


"Nggak bisa, i- ini pertama!" Intan menangkup wajah nya malu.


Bintang terdiam dengan wajah kagetnya.


"Gokilll, ni mahluk cewek purbakala harus di lestarikan. Keren gue dapet yang orisinal pabrikan kek nya cuma kurang buble wrap aja nih." gumamnya pada dirinya sendiri.


"Serius?" Bintang menyakinkan.


Intan mengangguk pelan.


"Kamu keren,"


"Mas Dani bener-bener menjaga aku, nggak pernah mau sentuh aku. Selain pegangan tangan dan pelukan!"


Kata-kata Intan malah seolah mencambuk nya.


"Masa?"

__ADS_1


"Ah, bodoamat. Dani sama aku beda, nggak udah di samain. Pasti kamu nggak akan nyesel deh jadi pasangan aku," Bintang kembali memeluk Intan.


Mereka tertidur dalam posisi berpelukan, tapi asli hanya pelukan saling menenangkan dan saling mengeratakan pelukan.


Dengan posisi Bintang yang menjauhkan bagian tubuh bawah nya agar tidak terlalu dekat dan menempel pada Intan. Dia takut kalau si pyton ingin segera berkenalan dengan Intan saat itu juga, atau bahkan dia takut tidak bisa menahan semburan cobra nya.


"Mas,"


"Ya?"


"Kenapa nggak bales waktu tadi kakang aku gebukin kamu?"


Bintang menunduk agar bisa menatap wajah manis dan terasa semakin sensual di kelopak matanya.


"Aku pernah ada di posisi Kakang kamu, waktu mati-matian misahin Mentari sama suaminya. Dan waktu dulu Dia nggak pernah ngelawan. Padahal dia juara boxing, dah kayaknya kalo sedikit dia gerak aku mampus langsung, dan anehnya dia diem aja. Katanya buat ngeyakinin keluarga kita bahwa dia serius sama Mentari," terangnya.


Intan mengangguk paham, " Iya, banyak banget piala dan medali di rumah Pak Dafa. Keren ya?" ujarnya tanpa sadar malah membuat Bintang tidak suka.


"Aku juga banyak piala dan piagam,"


"Oh, Iya?" tanya Intan dengan antusias


"Iya, ada piala juara bakiak, lomba makan kerupuk se kelurahan, terus ada piagam makan ayam preet chiken satu bucket. Terus ada lagi piala yang lebih besar!"


"Apa?" Intan masih berharap ada prestasi yang benar-benar di kuasai lelaki yang tengah gencar mengajaknya pacaran itu.


"Juara sedot mindahin air se galon ke ember! pialanya gede segede galon." Dia merasa bangga atas semua prestasi yang dia capai.


Intan menghela nafasnya.


"Pantesan ini ke sedot nya kenceng," Intan memegang bibir nya yang masih terasa kebas.


"Oh, maaf. Kekencengan? nanti kalo mau aku tanya deh mau yang easy, medium atau hard." Ucapnya sambil ikut mengelus bibir Intan.


"Ck, kayak game!" Intan menggerutu.


"Aduh, jantung nya berdebar gini?" Intan menatap Bintang yang masih menunduk memamdangi nya.


"Ya bagus, tandanya aku masih hidup. Kalo udah nggak ada suaranya berarti kamu lagi meluk orang meninggal," ucap Bintang mengalihkan rasa malunya karena ketahuan sedang berdebar.


"Tapi yang aku nggak deh kayaknya,"


"Mas?"


"Iya, nih dengar?" Intan menantangnya.


Dengan bersemangat Bintang langsung menempelkan telinganya tepat di atas dada Intan yang mo*tok dan hangat. "Gustiii, mantap gini. Empuk, anget, wangi. Bakpao isi daging panas aja kalah sama ini," bintang menggumam dalam hati dengan susah payah menelan saliva nya yang hampir menetes membayangkan bakpao isi daging itu.


Intan menyadari kekonyolan dirinya, dan seketika langsung menoyor kepala Bintang sampai menjauh.


"Modus kan!" Gertaknya kesal.


Bintang yang kaget namun kemudian tertawa, "kan kamu yang nyuruh aku?"


Intan membalikkan tubuhnya menghadap tembok.


Lalu Bintang tersenyum dan menyurungkan kepalanya mencium kepala belakang dan pundak Intan. Dan mereka pun tertidur.


...πŸ’πŸ’πŸ’...


Pagi sekali Bintang bangun, bukan karena semangat namun karena lapar.


"Tan ... " bisiknya.


Intan belum bangun hanya menggumam kecil.


"Intan, sayang!"


"Iya," akhirnya dia membuka mata.

__ADS_1


"Aku laper," ujarnya.


Intan mengucek matanya lalu melihat ke arah jam kecil di atas TV, "jam 3?" Ucapnya.


"Iya, aku pulang ke Bandung jam 4 . Ada meeting di market nanti bos besar marah gaji ku di potong," kekehnya.


"Ya, udah. Mas mandi, aku bikinin sarapan. Masih ada mie, mau?"


Bintang mengangguk.


Intan membuat mie tek-tek ala2 dengan bahan mie instan dan telur, yang dia pinjam dari Putri yang baru saja terdengar pulang dengan suara muntah-muntah di teras.


"Kasian yang hamil!" gumanya sambil memasak.


Bintang yang baru keluar dari kamar mandi bertanya, "siapa?"


"Kak putri, dia baru pulang abis nyari pacar nya yang tiba-tiba ilang saat tau dia hamil. Kasian, ngebayangin dalam posisi hamil dan nggak dapet pertanggungjawaban rasanya, ishhh ngeri." Intan bergidik.


"Aku pasti tanggungjawab, Tan. Belum ngapain juga aku mau tanggungjawab," Bintang dengan yakinnya berucap.


"Saya belum siap," Intan menunduk malu.


"Aku udah pengen, Tan."


"Iya, aku tau. Makan dulu aja lah sekarang," Intan membawa dua piring berisikan mie tek-tek ala-ala nya.


Mereka duduk di karpet, dengan siaran TV yang menayangkan tentang flora dan fauna.


"Kita kayak yang sahur ya?" Intan terkikik geli.


"Huum, bangun tidur mandi terus langsung makan," Bintang membenarkan.


Mereka pun tertawa bersama sambil makan.


"Aku pulang, ya! jaga diri baik-baik. Minggu depan aku tunggu jawaban kamu buat jadi pacar aku, atau perlu aku lamar kamu?"


"Kenapa sih seneng buru-buru gitu?"


"Ya, karena yang Baik jangan di tunda-tunda," Bintang menarik Intan dalam pelukannya.


Sebuah kecupan dia berikan pada puncak kepala Intan.


"Dah ... "


Saat Bintang melangkah menjauhi teras.


Intan terus menatapnya sambil melambaikan tangannya.


"Selamat tinggal, Mas. Terimakasih ... " ucapnya pelan.



(contohnya mie tek2 ala Intan, tapi ini ala itti. Moodbooster mak2 selain komen2 indah dari kalian)


Bersambung ❀❀❀


Like nya...


Komentar nya...


dan favoritnya ya...


Ancaman ku buat nunggu komen banyak nggak berlaku, eh baru inget aku kan otor bubuk yang belum banyak peminatπŸ™„πŸ˜ŒπŸ€§πŸ€§. Amnesia padahal yang komennya itu-itu aja. Tapi aku seneng banget.


Mau tanya kalo aku balesin komen2 kalian, keganggu nggak sih? soalnya sebelum jadi othorrr jadi2an, aku pembaca dulu kalo ada othorrr yg bales komen tuh aku seneng, tapi nggak tau kalian takut nya nyangka aku sksd 😁, padahal emang tapi asli aku seneng balesin komen πŸ₯°.


Makasih, sehat dan bahagia buat kita semua😘😘


semoga menghibur, 😘😘.

__ADS_1


__ADS_2