Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Pertemuan


__ADS_3

...---oOo---...


"Nggak apa-apa, Bunda yang kenapaa?" Bintang bingung sendiri, saat mendengar Bunda nya menangis.


"Nyalain lampu nya, dong Yah... Gelap gini! kakak mau makan bubur lagend Bunda," pintanya pada sang Ayah.


Ayah memucat duduk di tepian tempat tidur anaknya itu.


"Ngomong apa kamu?"


"Nyalain lampu, Yah. Gelap gini, jam berapa sih ini? masih subuh?" tanyanya lagi.


Ayah langsung memandang nanar sang istri yang masih menangis sambil menutup mulutnya agar tak terlalu di dengar putranya.


"Lampu nyala, Kak. Ini bahkan udah jam delapan. Mata kamu kenapa?"


Bintang melamun sesaat, "Kakak nggak bisa lihat apa-apa,Yah.. gelap, " ucapnya yang kini berusaha mengucek-ucek matanya.


"Ayah... kakak nggak bercanda, ini gelap semua nggak keliatan, kenapa ini? Ayah... " Bintang histeris.


Dan Ayah langsung menelpon Langit agar segera datang ke rumahnya.


*


*


Pria beranak satu itu berlari masuk ke dalam rumah, Ayah sudah menunggu di ruang keluarga.


"Gimana?" Langit langsung duduk di sebelah sang Ayah.


"Kamu ingat beberapa bulan yang lalu adik kamu pernah kecelakaan dan kepala nya luka?"


Langit mengangguk ingat, bagaimana pun dia yang mengurus asuransi itu hingga mobil sang adik laku terjual.


"Ayah curiga dari situ, karena dia nggak mau di bawa ke dokter. Hanya di obatin sama Bunda kamu seadanya," ujar sang Ayah.


"Sekarang?"


"Lagi sama Bunda, coba di tenangin. Tadi udah di periksa dokter, dan dokter nyuruh dia buat ke rumah sakit, tapi tetep ngeyel nggak mau," Ayah terlihat frustasi dengan keadaan sang anak. Segalak apapun dirinya memperlakukan sang anak tapi hatinya begitu menyayangi putra ke dua nya itu.


"Abang lihat dulu," timpalnya langsung menaiki tangga menuju kamar adiknya.


Saat membuka kamar itu, dia melihat Bintang tengah tidur dengan kepala berada di pangkuan Bundanya.


Terlihat Bintang seperti tidur biasa, namun badannya seperti menggigil dan wajahnya pucat.


"Bun?" panggilnya pelan.


Wanita paruh baya itu menatapnya dengan mata sembab dan bibir melengkung menahan tangis.


Langit menghela nafasnya saat melihat miris nya nasib sang adik.


Baru beberapa bulan ini adiknya terlihat sangat bersemangat dengan usaha baru nyadar yang sedang naik pamor, namun malah kini adiknya terbaring tak bertenaga di pangkuan Bunda nya.


*

__ADS_1


*


Malam itu seluruh keluarga berkumpul di rumah Ayah bahkan Mentari terus saja menangisi keadaan sang kakak.


"Bujuk kakak, Masa Ayah nggak bisa? kasian chaca nggak tega liat nya." Mentari kembali meraung membayangkan keadaan kakaknya itu.


Lelaki menyebalkan namun memiliki kasih sayang yang begitu luas. Kakanya yang selalu membela nya sejak dulu, selalu ada di kala dia membutuhkan pertolongan.


"Susah, kIta semua udah coba bujuk. Tapi kayaknya dia butuh semangat hidup lain," ujar Langit.


"Intan, kalo tau Intan di mana, lebih baik kita coba aja. Siapa tau semangat Bintang naik,"Bunda menatap ke semua anggota keluarganya.


Mentari pun menangis, karena sudah lama dia kehilangan kontak Intan, no nya yang lama sudah tidak aktif.


" Cari ke Jakarta juga nggak tau nyarinya ke mana!" ujar nya.


Bunda kembali menunduk menahan kening dengan tangan yang mengepal.


"Bun, tenang. Kita pikirin , sekarang yang penting Bintang mau makan obatnya. Udah dua hari masih panas, mana nggak mau makan lagi!"


Semua orang dibuat sedih oleh sakitnya orang yang di nilai paling ceria di rumah itu.


*


*


Bunda masuk ke kamar anaknya, membawa bubur dan air putih hangat.


"Kakak nggak lapar, Bun... " tolak nya saat mendengar kalimat ajakan Bunda nya untuk makan.


Bintang masih bergelung di bawah selimut.


"Nggak apa-apa kalo Tuhan mau ngambil warna hidup kakak, kakak udah cukup puas dengan apa yang sudah kakak lihat selama ini."


"Shhhttt, kenapa kakak ngomong seputus asa itu? nggak boleh nyerah untuk sembuh nak... " Bunda mengusap wajah putranya.


Bintang meraup tangan Bunda nya lalu mengecupnya.


"Kakak iklas, Bun."


"Nggak, Bunda yang nggak ikhlas kalo kamu jadi orang yang putus asa seperti ini, Bunda cariin Intan ya? buat penyemangat kakak?"


"Jangan Bun, dia udah bahagia di sana. Kakak nggak mau dia kembali karena kasian bukan nya cinta!" tolak nya.


Bunda hanya memandang anaknya dengan rasa hancur di hatinya. Miris menyaksikan anak yang biasa terlihat ceria dan bersemangat, kini tiba-tiba harus berdiam diri di kamar dengan tubuh lemah dan tidak berdaya.


Selesai menyuapi Bintang makan dan memberikannya obat, Bunda kembali turun ke bawah.


Bunda mencampakkan nampan berisi sisa bubur di atas meja di ruang keluarga itu.


Semua orang yang ada di sana terperanjat kaget.


"Nggak kuat, Bunda nggak kuat liat Bintang kayak gitu. Cariin Intan, nggak mau tau Bunda. Pokoknya harus ketemu," ujarnya sembari menangis di pelukan suaminya.


Semua anak-anak nya pulang kerumah untuk mempersiapkan pencarian Intan.

__ADS_1


*


*


Dua minggu kemudian.


Intan menghitung uangnya semalam dan sudah lebih dari cukup. Dia bermaksud untuk pergi ke Bandung hari ini, sekalian dia ingin mengunjungi makam mamah dan Dani.


Intan turun dari bus yang membawanya dari tanah Jakarta. Turun di sebuah terminal, dia langsung memesan taksi online menuju market tempat Bintang bekerja.


Namun nihil, katanya sudah hampir tiga minggu Bintang tidak masuk bekerja, lalu Langit pun tak ada di tempat dia sedang rapat di luar kantor.


Intan berjalan keluar dari gedung market itu, sekarang dia hanya ingin cepat mengembalikan uang itu. Lalu terpikir untuk menemui Mentari, dia akan menitipkan nya saja pada Mentari.


Intan turun dari ojek yang membawanya.


Memencet bel rumah besar yang dulu pernah dia tinggali sembari bekerja di sana.


Suara anak kunci yang di putar terdengar dari dalam rumah itu.


Mentari keluar dengan seorang bayi cantik dan gemuk di pangkuannya, sepertinya shera tumbuh menjadi bayi gemoy.


Intan tersenyum ceria pada mantan majikannya itu, namun hal yang berbalik justru di perlihatkan Mentari padanya.


Ya, Mentari menangis sembari berlari mendekat ke arah pagar untuk segera membukanya.


"Teh ... syukur teteh ke sini," ucapnya histeris sambil menarik Intan dalam pelukannya.


Intan yang masih bingung hanya diam tanpa merespon apa yang di lakukan Mentari.


Mereka kini duduk di sofa ruang TV seperti biasa Helen selalu bergelayut manja pada Intan.


"Saya ke sini, nggak lama. Cuma mau titip ini buat Pak Bintang. Hutang saya sama beliau," ucapnya menyodorkan amplop berisikan uang sejumlah 10 juta.


Mentari malah semakin tergugu menangis.


"Kakak saya, sakit. Bisa nggak teteh liat dulu keadaannya! kasian kak Bin, Teh. Nggak punya semangat hidup,"


"Tapi maaf, nanti teteh bilang nya perawat aja." Mentari bangun sambil menyambar kunci mobilnya.


Intan masih tidak mengerti dengan semua keadaan ini, tapi tak ayal dia mengikuti kemana Mentari membawanya.


Memasuki mobil yang di kendarai Mentari, entah ke mana dia akan di bawa. Yang dia belum mengerti Mentari sedari tadi terus menangis.


Bersambung ❤❤❤


like


komen


favoritnya


Udah keliatan belum mau di bawa kemana ceritanya? 🤣🤣🤣


Kebaca lah pasti, ini kan karya bubuk peyek gampang ketebak 🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2