
...--oOo--...
Berjalan perlahan mendekati ranjang berisikan tubuh suaminya.
Intan duduk di kursi yang tepat ada di sebelah nya.
Menghadap ke si suami. Dia meremat ke sepuluh jarinya. Menundukkan kepalanya dengan tubuh yang bergetar dan suara isak tangis yang semakin kencang. Tak berani untuk sekedar menatap tubuh apalagi menyentuh tubuh yang terbujur itu.
Dia memilih tenggelam dalam semua pikiran menakutkan yang akan dia hadapi kedepannya.
Membayangkan akan melahirkan tanpa Bintang sang Papi dari anak-anak nya.
Ya Tuhan, mimpi apa dia semalam? jika saja pagi tadi dia merengek lebih keras agar suaminya tidak pergi ke kantor. Mungkin sekarang dia masih bisa mendekap tubuh panas Bintang. Atau bahkan mungkin si suami sudah sembuh dari demamnya, dan bertingkah konyol seperti biasa.
Lebih baik di buat kesal seumur hidup daripada harus di tinggal seperti ini. Selalu ingin pergi menghindar ocehan gila suaminya. Namun ternyata di tinggalkan lebih menyakitkan.
"Ang ... "
"Sayang?"
"Kamu tega? ngga mau nemenin aku lahiran?" Intan mendekap perut besarnya. Seolah memeluk anak-anak nya yang sekarang menjadi sumber kekuatan.
"Jahat, dari awal kenal sampai akhir. Ternyata kamu memang lelaki jahat. Selalu nyakitin aku ... " perkataannya terhenti karena isak tangis yang semakin jadi.
melipatkan kedua tangannya sebagai tumpuan kepala. Intan menangis sejadi-jadinya.
"Bangun, Ang. Maafin aku ya, selalu bikin kamu susah, selalu ngerepotin, bikin kamu kesel. tau nggak kayaknya sifat menyebalkan itu menular. Dulu kamu kan, yang nyebelin luar biasa! atau karena aku hamil anak-anak kamu ya? jadi ikut nyebelin. Aku pernah denger kamu ngedumel waktu bikinin aku seblak jam dua pagi. Aku tau kamu sayang banget sama aku dan anak-anak. Tapi nggak tau kenapa, aku malah semakin giat bikin kamu kesel. Bangun. Aku nggak akan ngeselin lagi, kamu aja yang nyebelin ... Ang, katanya kangen sofa gaya? ayok kita cobain sebelum aku lahiran." Intan semakin tergugu, sebuah tangan menepuk pundaknya.
"Sabar!" ucapnya.
Intan semakin terisak, kini naik ke atas tempat tidur dan memeluk erat tubuh itu.
*
*
Pukulan bertubi-tubi dia daratkan untuk si suami.
"Jahat. Keterlaluan. Kurang ajar!" makinya dengan di sertai tangisan.
"Aduh. Aku sakit nih, malah di pukulin." Bintang mengaduh.
Lelaki itu ternyata tidak seperti dugaan Intan.
"Tadi, kata Abang kamu ... "
"Mati?" potong Bintang.
Intan langsung mendaratkan jari jemarinya untuk mengapit bibir yang sedang mengeluarkan kata yang sangat dia takuti.
"Jangan pernah ngomong kayak gitu!" Intan kembali memeluk tubuh si suami dengan sangat erat.
Bintang tersenyum. Memang ini rencananya, ingin mengetahui apa isi hati si istri yang sudah dia nikahi hampir dua tahun itu. Intan tidak pernah mengatakan perasaannya. Sebagai seorang lelaki dia juga ingin mendapatkan pengakuan bahwa dia juga di cintai.
"Masih demam?" Intan memegang kening suaminya.
Bintang hanya mengangguk. Tangannya yang merangkul si istri dia usap-usap punggung si istri.
"Sakit apa katanya?"
"Gejala typus. Tapi kayaknya bakal lebih cepet sehat!" Bintang menunduk mata mereka bertemu.
"Iya, harus cepet sembuh. HPL aku minggu besok, bisa maju bisa mundur!" katanya.
Bintang tiba-tiba tergelak pelan.
"Kenapa?" Intan bertanya tak mengerti.
"Enak dong maju mundur!"
Si istri diam sesaat untuk mencerna, hingga hari lentiknya terulur untuk mencubit perut si suami.
"Tawaran kamu yang tadi, aku denger loh!"
__ADS_1
"Jadi, aku bakal cepet sembuh buat nagih janji."
Intan hanya mengangguk dengan memeluk tubuh si suami, menenggelamkan wajahnya yang sedari tadi menangis.
*
*
Pintu terbuka sedikit. Terlihat Langit mengintip melihat keadaan kamar rawat adiknya. Dia tertawa saat si adik sedang menepuk-nepuk si istri yang memeluk nya erat.
Tadi dia ragu mengabulkan permintaan si adik. Membuat sebuah drama demi ingin tau isi hati si adik ipar.
"Gue, pulang!" katanya tanpa bersuara.
Bintang hanya mengacungkan jempol pada Langit yang mengintip di ujung pintu.
Merasa lega, dan sangat begitu bahagia. Akhirnya dia tau apa isi hati si istri. Yang dari dulu dia merasa begitu penasaran, dan seolah cinta nya berdiri sendiri.
Bintang pun ikut terlelap. Siang itu menjadi jam tidur siang pasangan suami istri yang sedang di landa cinta yang semakin besar, dan juga kuat.
*
*
Pagi itu mereka sudah berada di mobil.
Bintang bersikeras ingin istirahat di rumah. Melihat Intan yang begitu kepayahan. Hanya untuk membeli minuman dan makanan ringan ke cafetaria rumah sakit.
"Ang, ish.. aku pengen deh belajar mobil lagi, di seriusin lah!"
"Nanti udah lahiran!"
"Ck. Udah ada si kembar aku pasti nggak akan punya waktu," ucapnya mengeluh. Membayangkan kesibukannya jika si kembar sudah lahir.
"Aku udah minta buat yang bantu-bantu jaga si kembar nanti. Biar kamu nggak sibuk!"
"Kalo buat belajar nyetir. Teori nya dulu aja, ntar udah di rumah juga bisa!"
Intan menoleh dengan mata yang sinis dan bibir yang berdecak kesal.
*
*
Sesampainya di rumah.
Bintang berbaring di sofa ruang TV. Sedangkan Intan mengeluarkan beberapa menu masakan yang mereka beli di jalan pulang tadi.
"Ang, mau makan sekarang?" tanyanya.
Tak ada jawaban, Intan mendekat dengan sepotong apel yang tengah dia makan.
"Ang?"
"Tidur?" tanyanya mengusap kening suaminya yang memang sudah tidak terlalu panas.
Intan berjalan memulai aktivitas mulai dari memberi makan genk peliharaan nya. Sambil merebus ayam ungkep. Sambil menyapu teras.
Intan merasakan pinggangnya yang sakit dan terasa panas. Dia terus saja berjalan hilir mudik. Teringat ucapan dokter jika dirinya harus sering berjalan agar mempermudah proses kelahiran yang mereka rencanakan secara normal.
Selesai semua, Intan pergi mandi.
Mulai dari luluran, memakai masker rambut. Dan saat dia menunduk melihat rambut yang menutupi jalan lahir. Dia mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka.
Wajah bantal suaminya terlihat muncul. Tanpa rasa canggung si suami buang air kecil di hadapannya.
"Ang, is jorok!"
Bintang yang masih sedikit mengantuk menoleh kaget ke arah suara.
"Aku kira nggak ada kamu!" katanya dengan mata menyipit.
Intan mencebik. " Segede gini nggak kelihatan? aneh!" katanya.
__ADS_1
Bintang setelah membersihkan diri langsung menghampiri dan tertawa.
"Lagi ngapain?" tanyanya sambil membenarkan celananya.
"Lagi, ngelamun!" jawab Intan sekenanya.
Bintang malah tertawa, namun matanya menatap alat cukur di tangan si istri.
"Mau apa?"
Intan yang sedang terduduk di pinggir bathtub langsung mendongak. "Mau cukur ini, tapi kehalang perut!" katanya.
"Ngomong, dong. Bangun!" titahnya.
Bintang berjongkok di bawah kaki si istri. Menaikan sebelah kaki Intan ke atas bathtub. Mulai mengerjakan tugas yang membuat adrenalin nya terpacu. Jantung nya berdebar tak karuan.
"Aduh!" Dia mengaduh.
"Kenapa?" Intan menunduk menatap wajah suaminya.
"Ini. Kok, bangun ya si pyton?" tanyanya dengan wajah yang memerah karena menahan sesuatu. Tangannya memegang pyton yang sudah bertransformasi menjadi kobra itu.
Intan memukul pundaknya keras. "Kebiasaan, dasar otaknya gampang kepancing!" gerutunya.
Bintang menyeringai lalu bangkit. "Yuk, sebentar. Nanti aku sambung lagi!" Bintang memegangi tangan si istri yang dia giring menuju kamar.
"Di sofa, aku kangen banget di sana!"
Intan menghela nafasnya dan menurut apa yang di pintar si suami.
Berjalan ke arah sofa berbentuk aneh itu.
Bintang membuka pakaian yang melekat dengan tergesa-gesa. Si pyton memang sudah benar tegak menantang. Dia segera duduk dan menarik Intan agar duduk di pangkuannya.
Kedua bibir itu saling mengecap dengan lembut dan penuh penghayatan.
Tangannya sudah merajalela menelusuri tubuh sangat istri.
Suara decakan dan leng*uhan terdengar bersahutan di kamar itu. Saat dia meng*ulum puncak dada Intan yang menegang itu.
Intan langsung mere*mat rambut suaminya.
"Yank, udah ada air susunya. Aku nggak tega, tapi pengen!" katanya. Wajahnya mendongak menatap wajah istrinya yang memejam, dengan titik keringat yang terlihat di area keningnya.
"Pinggang aku sakit," Intan mengeluh sambil memijat pinggangnya.
Bintang langsung menyadari, terlihat cemas.
"Ya udah, aku bakal sebentar kok. Aku masukin si pyton ya?" ijin nya sambil mengarahkan miliknya untuk memasuki inti Intan.
"Ehm ... mulutnya menggeram nikmat. Saat miliknya terbenam sempurna memenuhi inti tubuh itu.
" Ahh ... " Intan yang berada di atas pangkuannya langsung berpegangan ke pundak sang suami. Si suami bergerak agak kencang dari bawah tubuh istrinya bermaksud agar kegiatan ini tak berlangsung lama. Walaupun memang jarang lama.
"Ehmm ... " Dia mende*sah saat tengah menikmati kegiatannya yang hampir mencapai puncak.
"Arrrggghhh ... " Intan menjerit dan menjambak rambut suaminya kuat. Sebelum Intan bangun dari posisinya.
"Kok? pecah? aku belum kok!" Bintang menatap ke arah bawah tubuhnya yang basah.
"Ketuban! itu air ketuban aku. Aku mau lahiran, cepet. Mules ini," Intan merintih dengan posisi berdiri dengan tangan bertumpu pada kepala sofa.
"A-apa?" Bintang bangun dengan paniknya. Dia mengabaikan si pyton yang masih tegak. Berjalan hilir mudik mencari pakaian yang akan di pergunakan si istri.
"Sabar, sabar ... Yank." Dia memakai kaosnya asal.
Lalu menuntun si istri yang telah dia Pakaikan selamat daster dan kain jarik yang dia lilitkan sesuai permintaan Intan. Berjalan perlahan menuju mobil.
Bersambung ❤❤❤
Maaaf terbengkalai ya di sini🙏🙏🙏
Udah pada bosen ya? makin dikit yang like😭😭
__ADS_1
tenang kayaknya beberapa partai lagi mereka bakal end. Tapi di ganti nanti sama kisah anaknya bin2 kok. Semoga suka ya🤭 tapi entah di simpan di mana🤭🤣🤣
Makasih yang masih setia 🙏🙏🥰🥰😘😘